
"Tidak ada yang turun untuk sarapan?" Tanya Dad Liam saat mendapati meja makan yang kini hanya berisi dirinya dan Mom Yumi.
"Reina dan Angga pergi saat tengah malam dan belum pulang sampai sekarang--"
"Apa?" Dad Liam sudah menggebrak meja dengan emosi.
"Mereka sudah sah menjadi suami istri, Liam! Kenapa tingkahmu lebay?" Omel Mom Yumi yang langsung membuat Dad Liam seolah baru bangun dari tidurnya.
"Benar juga! Kenapa aku harus marah," gumam Dad Liam yang sudah kembali duduk dengan tenang.
"Lalu Iel kemana? Dia tidak mungkin pergi bersama istrinya juga, kan? Menikah saja belum," seloroh Dad Liam yang langsung membuat Mom Yumi berdecak.
"Iel sudah pergi sepertinya pagi-pagi tadi. Mobilnya tak ada di garasi," tukas Mom Yumi.
"Pergi kemana? Workaholic sekali kalau pagi-pagi sudah ke kantor!" Cecar Dad Liam seraya membuka ponselnya dan berusaha menelepon sang putra. Namun tak kunjung diangkat meskipun Dad Liam sudah mencoba berulang-ulang.
"Tidak diangkat," lapor Dad Liam pada Mom Yumi.
"Memang! Aku juga sudah mencoba menghubunginya pagi tadi dan tak diangkat juga." Tukas Mom Yumi.
"Lalu dia kemana?"
"Nanti juga pulang! Mungkin sedang menenangkan pikiran," ucap Mom Yumi yang kembali mengingat tentang cerita Aunty Anne semalam yang mengatakan kalau pernikahan Keano dan Rossie mungkin akan digelar satu atau dua bulan lagi.
Dan sepertinya Fairel turut mendengarnya, hingga mungkin putra sulung di keluarga Halley itu kembali merasa patah hati.
"Apa ini ada hubungannya dengan pernikahan Rossie dan Keano yang akan segera dilaksanakan--"
"Iel sudah move on!" Sergah Mom Yumi cepat seraya menatap tegas pada sang suami.
"Iel mendengar cerita Anne semalam, Yumi!" tukas Dad Liam lagi.
"Iya, aku tahu!"
"Dan kata Reina, Iel juga uring-uringan seminggu belakangan--"
"Berarti dia memamg belum move on!" Dad Liam mengepalkan tangannya.
"Lalu kita harus bagaimana, Liam? Iel dulu begitu tergila-gila pada Rossie dan pernikahan Keano dan Rossie pasti akan menjadi pukulan terberat untuk Iel." Wajah Mom Yumi sudah berubah menjadi sendu.
"Kita akan mencarikan seorang gadis--"
"Tapi, Liam!"
"Hanya mencarikan gadis yang sekiranya bisa mengobati luka hati Iel, Yum! Bukan menjodohkan!"
"Barangkali kau tahu gadis yang tepat?" Dad Liam meminta pendapat sang istri yang kini tampak berpikir.
"Entahlah aku bingung!" Jawab Mom Yumi yang sudah menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dad Liam langsung menghampiri istrinya tersebut dan mendekap serta menenangkannya.
"Kita akan menemukannya nanti!" Ucap Dad Liam optimis.
****
Tuk tuk!
Beth mengetuk sembari mengintip ke dalam mobil Fairel yang terparkir di depan kost-an Abang Timmy. Entah sudah sejak kapan Fairel berada disana. Tapi Beth hanya ingin bertanya barangkali Fairel melihat Abang Timmy saat tadi keluar.
Beth sudah menunggu sekitar tiga puluh menit dan abang Beth itu masih belum kembali. Jika Abang Timmy hanya membeli sarapan dan pergi jalan kaki, tak mungkin akan selama ini!
"Iel!" Panggil Beth masih sambil mengetuk kaca mobil Fairel.
Pria itu tampak tertidur di dalam mobil.
"Iel!" Panggil Beth lagi saat Fairel mulai menggeliat.
"Iel, bangun!" Beth mengetuk dan memanggil sekali lagi, hingga akhirnya Fairel membuka mata dan pria itu tampak linglung. Fairel lalu menatap pada Beth yang masih berdiri di luar mobil pria itu.
Tapi tatapan Fairel pada Beth mendadak jadi aneh dan cenderung marah.
Fairel segera membuka pintu mobilnya, dan Beth dengan cepat menyingkir.
"Iel, apa kau--"
"Sudah selesai menjadi teman tidur pria brengsek!" Gertak Fairel tiba-tiba saat Beth belum jadi bertanya.
Tentu saja gertakan Fairel tersebut langsung membuat Beth menatap bingung pada Fairel.
Teman tidur?
Pria brengsek?
Apa Fairel sedang mabuk?
"Apa maksudmu? Aku tak mengerti!" Tanya Beth bingung.
"Tidak usah pura-pura polos!"
"Atau mungkin kau itu memang hanya gadis polos tapi bodoh dan murahan-'
Plak!
Beth refleks menampar Fairel karena menyebutnya sebagai gadis murahan.
"Jaga ucapanmu!" Beth balik menggertak Fairel dengan galak. Namun kini Fairel malah tertawa sinis pada Beth.
"Aku mengatakan apa adanya!"
"Kau semalam pulang ke kost-an pria asing--"
"Itu kost-an Abang Timmy!" Sergah Beth membantah tuduhan ngawur Fairel.
"Aku pulang ke kost-an Abang Timmy semalam untuk menjaga Abang Timmy yang semalam sedang sakit! Tapi kau malah menuduhku macam-macam!" Ucap Beth yang kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Kau selalu menuduhku, mengataiku bodoh, menyebutku pembawa sial!"
"Tapi kau juga terus saja membuntutiku--'"
"Aku membuntutimu untuk--" Sergah Fairel menyela kalimat Beth, namun pria itu tak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Untuk apa? Untuk mengawasiku?" Bentak Beth galak.
"Untuk mengambil cincinku yang kau hilangkan!" Fairel balik mendelik pada Beth yang tadi membentaknya.
"Aku tidak pernah menghilangkan cincinmu! Berapa kali aku harus bilang!" Teriak Beth mulai hilang kesabaran.
"Tapi kau yang jelas-jelas mengambil bajuku malam itu! Jadi kau pasti yang mengambilnya!"
"Aku tidak mengambilnya!" Bantah Beth sembari menuding pada Fairel.
"Aku tak percaya!" Fairel balik menuding pada Beth.
"Kembalikan sekarang--"
"Aku tidak mengambilnya!" Beth mendorong kasar dada Fairel sebelum kemudian gadis itu berlalu dan meninggalkan Fairel.
Masih sempat Fairel lihat Beth yang menghapus kasar airmatanya, lalu masuk ke dalam kost-an yang kata Beth adalah kost-an Timmy tadi.
Dan benar saja, tak sampai lima menit, Beth sudah keluar lagi dari kost-an tadi seraya mengunci pintunya dari luar. Beth lalu melemparkan tatapan penuh kebencian pada Fairel, sebelum gadis itu memakai helmnya.
"Aku tak akan membantu, kalau dia tak bisa menyalakan motornya," gumam Fairel seraya bersedekap dan menunggu Beth yang tak akan bisa menyalakan mesin motornya seperti semalam.
Namun ternyata dugaan Fairel salah!
Motor Beth langsung menyala saat gadis itu menekan tombol starter satu kali.
"Hanya beruntung saja!" Guman Fairel yang masih melemparkan tatapannya pada Beth yang kini sudah melajukan motornya keluar dari pagar kost-an.
Beth lalu menutup pagar dan sama sekali tak menggubris Fairel yang masih berdiri dan bersedekap di dekat mobil.
"Aku bahkan tak melihat Abang Timmy-mu keluar dari sana!"
"Masih mau bilang itu kost-an Abangmu? Kenapa tak jujur saja?" Ucap Fairel dengan nada menyindir yang masih saja tak digubris oleh Beth.
Beth bahkan tak berucap satu patah katapun, dan gadis itu langsung melaju pergi meninggalkan Fairel yang langsung meninju kap depan mobil demi meluapkan kekesalannya.
"Hhhh! Menyebalkan!" Teriak Fairel kesal.
Setelah Beth pergi, Fairel langsung masuk ke dalam pagar tempat kost-an yang kata Beth adalah milik Timmy tadi berada. Ada sebuah motor yang terparkir di teras kost-an dan Fairel segera memeriksa nomor plat yang tertera.
"Kita lihat! Apa benar ini kost-an milik...."
Fairel membaca data dari pemilik sepeda motor yang ia periksa nomor platnya barusan.
"Timothy Atmadja?" Gumam Fairel setelah membaca dengan detail informasi pemilik sepeda motor tersebut. Fairel lalu merogoh ponselnya dari saku dan segera menghubungi Angga.
Persetan kalau sekarang Angga masih dikekepi oleh Reina! Fairel sedang butuh jawaban.
"Halo, Iel--"
"Sorry! Maksudku Bang Iel!" Suara Angga terdengar serak di ujung telepon dan sepertinya pria itu baru saja bangun.
"Ada apa, Bang?"
"Maaf aku mengganggu pagi-pagi. Tapi aku butuh informasi penting!" Ucap Fairel sok diplomatis.
"Informasi apa?"
"Kau tahu abangnya Beth, kan?"
"Bethany maksudku," Fairel berusaha menjaga nada bicaranya senormal mungkin.
"Maksudnya Timmy?"
"Iya, itu! Timmy!" Fairel sedikit berdecak.
"Timmy kenapa, Bang?"
"Tidak kenapa-kenapa! Hanya saja aku ada keperluan dengannya dan butuh alamat lengkapnya--"
"Abang bisa tanya pada Beth! Karena setahuku Timmy tinggal di kost dan jarang pulang ke rumah kedua orang tuanya."
"Kost? Kau tahu alamat kost-annya Timmy?" Fairel bertanya sekali lagi.
"Aku lupa-lupa ingat, Bang! Dulu Om Will pernah memberitahu tapi tidak aku catat."
"Payah!" Gerutu Fairel serata berdecak. Entah bagaimana sekarang ekspresi adik ipar Fairel itu setelah ia katai payah.
"Abang tanya saja pada Beth! Kata Rossie Abang sekarang dekat dengan Beth--"
"Kata siapa?" Sergah Fairel pura-pura tak dengar.
"Kata Rossie, Bang! Tapi sepertinya hanya sebuah pendapat."
"Pendapat yang salah besar!" Ucap Fairel tegas. Langsung terdengar kekehan Angga di ujung telepon.
Dasar!
"Jadi, Bang Iel tadi telepon hanya untuk menanyakan hal tersebut?"
"Tentu saja tidak!" Sanggah Fairel cepat.
"Lalu?"
"Nama panjang Timmy! Kau tahu?" Tanya Fairel lagi.
"Timothy At--" Angga sepertinya sedang mengingat-ingat.
"At siapa?" Tanya Fairel tak sabar. Nama depannya sudah sesuai. Tapi nama belakang Timmy masih dipertanyakan.
"Ah, iya! Atmadja, Bang!"
"Timothy Atmadja? Itu nama panjangnya?" Fairel memastikan sekali lagi.
"Iya, Bang!"
"Baiklah! Bye!" Ucap Fairel kemudian seraya menutup teleponnya pada Angga.
"Ya! Ini memang motornya Timmy!" Gumam Fairel yang kemudian ganti mengintip ke dalam, lewat jendela di dekat pintu.
Sudah seperti mau maling saja!
"Cari siapa, Mas?" Sebuah teguran langsung membuatmu jantung Fairel nyaris melompat keluar.
Sialan!
"Masnya cari siapa?" Tanya seorang pemuda lagi yang sepertinya baru keluar dari kost-an sebelah.
"Yang punya kost-an kemana?" Fairel sedikit berbasa-basi sembari menunjuk ke kost-an Timmy.
"Oh, Mas Timmy. Masih tidur sepertinya, Mas! Kan biasanya kerja malam dan pulang sebelum subuh," terang pemuda tersebut.
"Itu motornya juga ada," imbuh pemuda itu lagi.
"Jadi memang ini kost-an Timmy, ya?" Fairel memastikan sekali lagi.
"Iya, Mas! Itu motornya motor Mas Timmy."
"Iya! Aku tahu!" Jawab Fairel ketus sebelum kemudian Fairel keluar dan meninggalkan kost-an Timmy.
Konyol!
Kenapa Fairel tadi tak percaya pada Beth?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.