
Fairel yang sudah sampai di depan Sweety Cake sejak lima menit lalu, masih menimbang-nimbang apa ia akan turun lalu menemui Beth menyebalkan itu hanya untuk membeberkan bukti perselingkuhan Reandra atau tidak.
"Kenapa aku seperti peduli sekali pada tukang kue menyebalkan itu?" Tanya Fairel pada dirinya sendiri.
Fairel menatap sekali lagi ke arah pintu masuk Sweety Cake yang tumben terlihat sepi. Motor matic milik Beth yang biasanya terparkir di depan toko juga tak ada!
Haish!
Kenapa juga Fairel hafal sekali dengan motor matic usang itu?
"Mungkin Beth sedang tak ada di toko." Fairel menerka-nerka sendiri.
"Baiklah, aku akan beli rollcake saja lalu pulang. Mumpung Beth tak ada juga," putus Fairel akhirnya seraya melepaskan sabuk pengaman. Fairel lalu turun dari mobilnya dan berjalan me arah toko Beth, saat teenyata karyawan toko Beth sedang mengunci pintu utama toko kue.
Apa?
"Loh, Mbak! Kok dikunci?" Protes Fairel cepat pada karyawan toko Beth yang Fairel lupa namanya tersebut.
"Toko sudah tutup, Pak!" Ujar karyawan wanita tersebut.
"Jam berapa memang? Baru jam empat!" Fairel menunjukkan jam di arlojinya.
"Kak Beth ada keperluan mendadak, jadi toko tutup lebih cepat. Bapak busa kembali besok," tukas karyawan tadi yang langsung membuat Fairel berdecak.
Keperluan apa memang yang membuat Beth menutup toko lebih cepat? Sudah seperti orang penting saja!
"Lalu Beth kemana? Di dalam?" Tanya Fairel lagi.
"Sudah pergi dari tadi, Pak! Mungkin sekitar lima belas menit yang lalu," terang karyawan itu lagi yang kembali membuat Fairel berdecak.
Karyawan yang Fairel masih belum ingat siapa namanya itu sudah ganti menutup rolling door, lalu menggemboknya dari luar.
"Saya permisi, Pak! Selamat sore!" Ucap karyawan tadi sembari berlalu meninggalkan Fairel yang kini hanya berkacak pinggang di depan toko kue Beth.
"Apa mungkin Beth pergi ke salon karena mau menghadiri pertunangan Reina dan Angga, ya?" Gumam Fairel menerka-nerka lagi kemana kiranya Beth pergu.
"Ah! Masa bodoh! Aku juga tak peduli!" Gumam Fairel kemudian seraya melangkah kembali ke mobilnya. Setelah memasang sabuk pengaman, Fairel lanjut melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan. Fairel akan berkeliling sebentar sekadar mencari angin.
****
"Abang melamun atau bagaimana? Kok bisa-bisanya menabrak ekor truk dan jatuh dari motor!" Omel Beth pada Timmy yang kini sedang meringis karena beberapa luka di tangan serta kakinya yang baru diobati oleh perawat.
Tak ada luka serius setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan. Hanya saja, tadi Timmy memang pingsan di lokasi kejadian karena terlempar ke atas aspal. Sedangkan motor Timmy bentuknya tak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata karena saat kejadian motor Timmy masuk ke kolong truk.
Beruntung beberapa saat setelah kejadian, mobil Yvone melintas di lokasi kejadian dan inisiatif memeriksa. Makanya mantan teman Beth itu bisa langsung memberikan kabar pada Beth.
"Diam dan jangan berisik!"
"Dan jangan bilang pada Mama dan Papa!" Timmy menuding pada Beth yang langsung merengut.
"Kata dokter bisa rawat jalan saja dan tak perlu rawat inap," tukas Yvone menjelaskan pada Beth meskipun sikapnya terlohat canggung.
Ya, mungkin masih terbawa suasana perdebatan panas mereka kemarin.
"Ya!"
"Terima kasih karena sudah membawa Abang Timmy ke rumah sakit, lalu mengabariku," ucap Beth akhirnya pada Yvone sambil hanya menatap sesekali pada mantan temannya tersebut.
Masih mantan!
Dan belum ada hilal untuk balikan! Entahlah, Beth masih kesal pada Yvone!
"Seharusnya kau tadi tak perlu membawaku kesini, Yv! Aku jadi disuntik begini!" Omel Timmy selanjutnya pada Yvone yang langsung mengernyit bingung. Berbeda dengan Beth yang malah menahan tawa.
"Kau tadi pingsan, jadi aku bawa ke UGD karena takutnya ada luka serius--"
"Aku baik-baik saja!" Sergah Timmy cepat.
"Bilang makasih, Bang!" Ucap Beth seolah sedang mengajari Timmy.
"Iya, terima kasih, Yv!" Ucap Timmy akhirnya pada Yvone yang langsung mengulas senyum.
"Sama-sama!"
"Aku akan langsung kembali ke--"
"Ke hotel!" Potong Beth melanjutkan kalimat pamitan Beth
Nada bicara Beth sedikit sinis.
"Aku bekerja di hotel sebagai wakil general manager dan bukan menjual diri apalagi merayu Reandra, Beth!" Ucap Yvone akhirnya yang langsung membuat Beth menatap heran pada Yvone.
"Tidak ada!" Yvone tertawa sumbang, sebelum kemudian gadis itu berpamitan sekali lagi.
"Aku pergi dulu."
"Cepat sembuh, Tim!" Ucap Yvone sembari menepuk punggung Timmy yang hanya mengangguk. Yvone tak berbasa-basi lagi pada Beth dan berlalu begitu saja.
"Kalian berdua sedang ribut?" Tebak Timmy setelah Yvone berlalu pergi.
"Yvone yang mulai!" Jawab Beth seraya bersedekap. Bibit gadis itu juga sudah merengut sekarang.
"Kekanak-kanakan sekali! Memang masalahnya apa?" Tanya Timmy yang mulai kepo. Perawat sudah selesai membersihkan serta mengobati luka-luka di tangan dan kaki pria itu.
"Bukan masalah apa-apa!" Jawab Beth malas.
"Yvone merebut pacau yang kemarin itu? Siapa namanya?" Timmy tampak mengingat-ingat.
"Reandra!" Jawab Beth tetap merengut.
"Iya, itu!"
"Bukankah katamu Reandra dan Yvone itu sepupu? Lalu kenapa--"
"Tapi Beth masih tidak yakin kalau mereka itu sepupu, Bang!" Sergah Beth cepat.
"Yvone juga mendadak menyuruh Beth menjauhi Reandra, terlebih setelah---" Beth langsung mengerem kalimatnya yang hampir kebablasan.
Perihal pelabrakan yang dilakukan Mamanya Reandra kemarin pada Beth memang belum ada yang tahu. Kalau sekarang Beth memberitahu Abang Timmy, bukan tak mungkin jika Abang Timmy juga akan langsung menentang hubungan Beth dan Reandra.
Tidak!
Pasti ada jalan keluar untuk hubungan Beth dan Reandra.
Bukankah mereka berdua saling mencintai. Beth akan membahasnya dulu bersama Reandra yang mungkin punya solusi terbaik.
"Setelah apa?" Tanya Timmy kepo karena Beth yang malah terlihat melamun.
"Setelah--"
"Setelah Beth dan Reandra jadian, Bang!" Ujar Beth akhirnya.
"Yvone seperti cemburu gitu," lanjut Beth lagi.
"Perasaanmu saja mungkin!" Pendapat Timmy sebelum kemudian pria itu memanggil perawat yang lupa melepaskan selang infus dari tangannya.
Timmy sedikit alergi pada infus, jarum suntik, dan peralatan medis lain sebenarnya. Memori tentang masa kecilnya yang begitu akrab dengan semua benda-benda menyebalkan itu penyebabnya.
Ya, dulu Timmy memang anak penyakitan yang kata dokter tak akan berumur panjang. Tapi nyatanya, Timmy masih hidup hingga sekarang usianya hampir kepala tiga! Ada-ada saja memang vonis dokter!
"Kita pulang ke rumah Mama--"
"Kau gila!" Sergah Timmy cepat.
"Ck! Lalu siapa yang akan merawat abang di kost-an kalah Abang pulang ke kost?" Cecar Beth sedikit kesal pada Timmy.
"Aku akan merawat diriku sendiri!"
"Lagipula, malam ini aku harus masuk--"
"Abang masih babak belur begini! Apa tidak bisa cuti kerja dulu?" Sergah Beth merasa keberatan.
"Aku sudah baik-baik saja dan ini hanya luka-luka ringan! Jika aku hanya berbaring di kost-an, aku akan bosan dan malah tak sembuh-sembuh!" Ujar Timmy beralasan.
"Baiklah, Beth ikut ke kost kalau begitu!" Putus Beth akhirnya.
"Mau apa? Kau kan harus menjaga toko?" Timmy menatap heran pada sang adik.
"Untuk menjaga Abang lah! Beth juga yang nanti malam akan mengantar Abang ke tempat kerja," tukas Bethany panjang lebar.
"Dasar keras kepala!", cibir Timmy seraya menoyor kepala Beth yang langsung merengut. Beth lalu mengikuti Abang Timmy yang sudah keluar duluan dari dalam UGD . Kakak beradik itu langsung menuju ke parkiran motor.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.