
"Selamat ulang tahun, Beth!"
Pweet!!
Fairel tiba-tiba sudah menembakkan confetti tepat disamping telinga Beth, yang tentu saja langsung membuat Beth sedikit terlonjak. Wanita itu juga langsung menggosok-gosok telinganya yang terasa pekak oleh suara confetti tadi.
"Ini apa, Iel?" Tanya Beth yang kini menatap linglung pada Fairel.
"Kejutan ulang tahunmu, Sayang!"
"Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun!"
"Selamat ulang tahun istriku sayang! Selamat ulang tahun!" Fairel menyanyikan lagu ulang tahun berulang-ulang sembari menciumi wajah Beth bertubi-tubi.
"Selamat ulang tahun, Bethany Atmadja Halley!" Ucap Fairel kemudian yang langsung membuat Beth tertawa kecil.
Beth lalu langsung menghambur ke pelukan Fairel dan menangis bahagia.
"Kau menyiapkan ini karena aku marah padamu tadi?" Tanya Beth yang masih membenamkan kepalanya di pelukan Fairel.
"Tentu saja tidak!" Kilah Fairel cepat.
"Aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari akrena aku selalu mengingat tanggal ulang tahunmu--"
"Iyalah! Kau juga berulang tahun hari ini!" Cibir Beth kemudian yang langsung membuat Fairel terkekeh.
"Tidak memberiku ucapan?" Tagih Fairel kemudian yang langsung membuat Beth mengangkat wajahnya dari pelukan Fairel.
"Selamat ulang tahun, Suamiku sayang!"
"Terima kasih untuk kejutan luar biasa ini! Aku benar-benar terkejut!" Ucap Beth sembari mencium pipi kanan Fairel.
"Satu lagi!" Fairel ganti menyodorkan pipi kirinya dan minta Beth untuk menciumnya juga.
"Mmmuaaah!"
"Aku belum sempat membelikanmu kado," ucap Beth berkata jujur, setelah wanita itu mencium pipi Fairel berulang kali.
"Tak masalah! Kado bisa menyusul, yang penting malam ini dobel dan jangan ada drama datang bulan!" Tukas Fairel yang langsung membuat Beth tergelak.
"Memang tidak lelah setelah resepsi tadi?" Tanya Beth kemudian.
"Lelah tinggal istirahat!" Jawab Fairel enteng. Fairel lalu merangkul pundak Beth dan mengeluarkan ponselnya.
"Ayo foto selfie dulu karena tak ada orang disini selain kita berdua," ajak Fairel kemudian yang sudah mengangkat ponselnya tinggi-tinggi lalu menrahkan kamera ke wajahnya dan wajah Beth, serta taburan bunga di atas kolam yang bertuliskan ucapan selamat ulang tahun untuk Beth.
"Seharusnya kau tadi bawa tongkat selfie," komentar Betg yang hanya membuat Fairel berdecak.
"Lupa!"
"Senyum, Istriku!" Seru Fairel kemudian sembari mengambil beberapa foto. Ada beberapa pose juga yang kompak dilakukan Beth dan Fairel teemasuk Beth yang mencium mesra pipi Fairel.
"Astaga!" Fairel tiba-tiba menepuk keningnya sendiri setelah sesi selfie barusan.
"Kenapa?" Tanya Beth bingung.
"Aku lupa hadiah untukmu!" Ujar Fairel yang langsung berjalan ke sudut rooftop dan mengambil sesuatu di sana.
"Aku tidak mau jika itu buket bunga raksasa!" Tukas Beth sembari mengekori Fairel.
"Kenapa memang? Kau tak suka bunga?" Tanya Fairel yang tak jadi mengambil hadiah Beth yang rupanya memanglah buket bunga mawar raksasa mirip yang pernah Fairel bawakan untuk Rossie.
Ya ampun!
"Rose, Rossie!" Rengut Beth seraya bersedekap dan berbalik membelakangi Fairel.
"Aku salah, ya?" Gumam Fairel kemudian sembari mendekap Beth dari belakang.
"Aku kan sudah bilang untuk tak usah membawakanku buket bunga lagi. Itu semua mengingatkan aku pada--"
"Aku minta maaf, Beth!" Sergah Fairel cepat sembari mengeratkan dekapannya pada Beth.
"Kau mau hadiah apa biar besok aku belikan!" Tanya Fairel kemudian sembari mencium tengkuk Beth berulang-ulang.
"Aku tak mau hadiah apa-apa!" Cicit Beth sembari menyeka airmatanya yang nendadak turun tanpa permisi.
Kenapa malam ini Beth cengeng sekali?
Beth menghela nafas berulang kali dan Fairel masih belum melepaskan dekapannya pada Beth.
"I love you, Beth!"
"Aku hanya mencintaimu!" Ucap Fairel berkali-kali.
"Jangan marah lagi, ya!" Pinta Fairel memelas.
Beth menghela nafas sekali lagi.
"Aku janji ini terakhir kali aku membuat kesalahan. Besok-besok aku akan memberikan hadiah yang soesial untukmu!"
"Parcel bahan kue misalnya," ucap Fairel kemudian yang langsung membuat Beth tertawa kecil.
"Atau satu set peralatan membuat kue--"
"Kau butuh uang untuk apa memangnya? Apa uang yang aku berikan sejak aku menjadi suamimu apa masih belum cukup?" Cecar Fairel seraya menatap tajam pada Beth.
"Lebih dari cukup," tukas Beth seraya mengendikkan kedua bahunya.
"Lalu kenapa minta perhiasan untuk dijual lagi?" Tanya Fairel lagi.
"Memang tak boleh minta perhiasan pada suami sendiri?" Jawab Beth dengan nada meninggi.
"Boleh, tapi bukan untik dijual lagi!" Jawab Fairel tegas.
"Aku belikan perhiasan satu toko kalau perlu, asal tidak untuk kau jual lagi--"
"Sesumbar! Memang punya uang?" Cibir Beth sangsi.
"Tentu saja punya!" Jawab Fairel bersungguh-sungguh sembari merengkuh kedua pundak Beth.
"Mau aku belikan perhiasan satu toko?" Tanya Fairel lagi.
"Tidak usah!" Tolak Beth seraya mengangkat tangannya.
"Aku hanya bercanda soal tadi, jadi lupakan saja! Aku juga tak suka memakai perhiasan kecuali cincin pernikahan kita ini!" Jawab Beth lagi sembari menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya.
Beth lalu menghampiri buket bunga raksasa yang tak kadi diambil Fairel tadi,dan Beth mengambil satu tangkai bunga mawar dari dalam buket tersebut.
"Jadi ingat dulu ada seorang pria pelit yang saat aku hebdak mengambil satu bunga dari buket yang dibawanya, aku malah langsung dibentak."
"Bukan untukmu!" Beth menirukan bentakan Fairel beberapa tahun silam yang masih saja melekat di benaknya. Wanita itu lalu tertawa renyah.
"Itu hanya masalalu, Beth!"
"Kenapa kau terus saja mengungkit semua masalaluku? Aku bahkan sudah mulai melupakan semuanya!" Sergah Fairel sembari mengambil kasar buket mawar tadi lalu melemparnya penuh emosi dan menginjak-nginjaknya.
"Lihat! Aku sudah menghancurkan semua hal yang mengingatkanmu pada kegilaanku pada Rossie!" Ucap Fairel kemudian berapi-api dan Beth langsung beringsut mundur.
"Seperti ini maumu, kan?"
"Seperti ini! Seperti ini!" Fairel menginjak-injak buket tadi debgan semakin emosi hingga akhirnya buket hancur dan tak berbentuk lagi.
"Kau senang sekarang?" Fairel menatap pada Beth dengan nafas terengah-engah, dan Beth seketika langsung membisu.
"Kau senang, kan?"
"Yang ini perlu aku--"
"Jangan!" Cegah Beth tegas, saat Fairel hendak mengambil bunga mawar yang berada di tangannya.
"Rose, Rossie!"
"Kau mau mengungkit itu sampai kapan, hah?" Cecar Fairel kemudian yang langsung membuat Beth menggeleng.
"Tidak semua Rose adalah Rossie!"
"Dan jika aku memberikanmu bunga mawar, bukan berarti karena aku menganggap kau adalah Rossie, Beth!"
"Sama sekali bukan!" Ujar Fairel lagi yang langsung membuat Beth menghampiri Fairel dengan cepat, lalu mendekap suaminya tersebut.
"Maaf, jika aku berlebihan!" Cicit Beth kemudian.
Fairel sendiri langsung menghela nafas berulang kali dan meraip Beth ke dalam pelukannya.
"Aku hanya mencintaimu, Beth! Aku sungguh-sungguh hanya mencintaimu!"
"Tolong jangan meragukan lagi perasaanku ini!" Pinta Fairel yang langsung membuat Beth mengangguk-angguk.
"Kau mau hadiah apa jadinya?" Tanya Fairel sekali lagi pada Beth, setelah dua sejoli itu berpelukan cukup lama.
"Belum tahu!" Beth menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nanti saja aku minta jika aku ingin sesuatu," imbuh Beth lagi yang langsung membuat Fairel mengangguk.
"Baiklah!"
"Ayo ke kamar!" Ajak Fairel kemudian yang masih mendekap Beth di dalam pelukannya.
"Gendong!" Rengek Beth manja dan Fairel langsung mengulas senyum. Fairel kemudian langsung berjongkok di depan Beth dan meminta istrinya tersebut untuk naik ke punggungnya.
"Besok jadi berangkat ke kota pesisir untuk honeymoon?" Tanya Beth saat Fairel sudah melangkahkan kakinya ke arah lift yang akan membawa mereka turun dari rooftop.
"Jadi! Kita istirahat dulu malam ini!" Tukas Fairel bersamaan dengan pintu lift yang sudah tertutup, dan lift yang perlahan mulai bergerak turun.
Beth tak bicara apa-apa lagi dan wanita itu hanya menyandarkan kepalanya di pundak Fairel hingga mereka tiba di kamar.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.