
"Sudah fix?" Tanya Tante Sita pada wanita paruh baya di sebelahnya.
Saat ini, Tante Sita bersama Tante Yumi memang sedang mengunjungi Sweety Cake untuk memesan kue untuk acara pertunangan Reina dan Angga akhir pekan nanti.
"Iya, sudah!" Tante Yumi mengangguk setuju.
"Jadi sudah sepakat kuenya yang ini, ya?" Beth memastikan sekali lagi seraya menatap bergantian pada dua wanita paruh baya di depannya. Tante Yumi dan Tante Sita sepertinya memang awet muda, karena keduanya sama-sama masih terlihat cantik di usia mereka saat ini.
"Iya, yang ini, Beth! Kau bisa menyelesaikannya di hari Sabtu, kan?" Tanya Mama Sita memastikan.
"Bisa, Tante! Nanti Beth yang akan mengantarnya ke rumah..." Beth menatap bergantian pada Tante Sita dan Tante Yumi. Beth bahkan belum bertanya acara pertunangan Reina dan Angga akan digelar dimana.
"Kau tahu rumahnya Reina?" Tanya Tante Sita menatap serius pada Beth yang langsung menggeleng.
"Nanti biar supir saja yang mengambil, Sita!"
"Atau Iel, barangkali dia juga sudah pulang," ujar Tante Yumi mencarikan solusi yang seketika langsung membuat Beth melebarkan kedua matanya.
Apa Tante Yumi baru saja menyebut nama Iel?
Iel bukan Fairel, kan?
Pasti bukan!
Mustahil pria galak dan menyebalkan itu adalah putra dari Tante Yumi yang baik dan kalem!
"Iel masih di luar kota?" Pertanyaan Tante Sita pada Tante Yumi langsung membuat Beth penasaran dan fokus menyimak.
"Iya!"
"Sebenarnya memang aku yang kemarin menyuruh Liam untuk mengirimnya ke luar kota sementara waktu agar Iel lupa pada Rossie." Tante Yumi terlihat menghela nafas dan Beth semakin penasaran tentang Iel, Iel yang disebut oleh Tante Yumi.
"Aku benar-benar minta maaf perihal Rossie, Yumi--"
"Tidak! Tidak perlu minta maaf!" Tante Yumi sudah menggenggam tangan Tante Sita sekarang.
"Sudah menjadi hak Rossie sepenuhnya untuk memilih siapa yang ingin ia jadikan pendamping hidup, Sita!"
"Aku juga turut senang kalau misalnya Rossie dan Keano sudah serius dan mereka akan segera menikah--"
"Rossie bukannya pacar Pak Fairel menyebalkan, Tante?" Celetuk Beth tiba-tiba, menyela kalimat Tante Yumi yang tentu saja langsung membuat Tante Sita sekaligus Tante Yumi menatap heran pada Beth.
"Eh, salah, ya?" Beth sudah meringis, sebelum kemudian lanjut menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Kau kenal Fairel, Beth?" Tanya Tante Yumi memastikan. Beth langsung menggeleng.
"Dia hanya pernah satu kali pesan kue disini, Tante."
"Mereka juga bertemu di acara ulang tahun Rossie kemarin, Yum! Beth malam itu tak sengaja membuat Fairel kepleset dan jatuh ke kolam--"
"Beth benar-benar tak sengaja, Tante!" Sergah Beth cepat, seraya menatap penuh sesal pada Tante Yumi.
"Dan Beth juga sudah minta maaf, meskipun Pak Fairel tidak mau memaafkan," ujar Beth lagi sembari tertawa sumbang.
"Tidak mau memaafkan bagaiamana?" Tanya Tante Yumi penuh selidik.
"Pak Fairel marah pada saya karena kata Pak Fairel, saya sudah membuat acara lamarannya pada Rossie gagal." Jelas Rossie yang kini sudah ganti meringis.
"Ieeelll! Kenapa berlebihan begitu?" gumam tante Yumi yang sepertinya terlihat geram.
"Maaf, Tante Yumi. Tapi apa Pak Fairel itu anaknya Tante?" Tanya Beth akhirnya untuk memastikan karena Beth tak mau menerka-nerka. Semoga Tante Yumi bilang bukan.
Mungkin Fairel hanya keponakan Tante Yumi atau anak hasil nemu. Secara Tante Yumi yang kalem masa iya punya anak galak dan ketus serupa Fairel.
"Iya! Dia anak sulung Tante, Beth! Iel itu abangnya Reina," jelas Tante Yumi panjang lebar yang benar-benar membuat Beth terkejut.
Kenyataan macam apa ini? Astaga!
"Tante benar-benar minta maaf atas nama Fairel, jika sikapnya mungkin ada yang ketus atau kurang berkenan padamu. Fairel memang begitu. Dia itu keras kepala dan maunya apa-apa itu harus sesuai keinginannya," tukas Tante Yumi kemudian yang malah membuat Beth jadi tak enak hati.
"Tidak ada, kok, Tante!" Ujar Beth cepat dengan wajah seyakin mungkin.
"Syukurlah kalau begitu." Tante Yumi sudah mengulas senyum sekarang.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, Yum! Aku masih ada keperluan," ujar Tante Sita kemudian.
"Baiklah! Sudah hampir sore juga dan Liam bisa mencak-mencak jika dia pulang aku tak ada di rumah," seloroh Tante Yumi seraya tertawa jecil yang langsung membuat Beth dan Tante Sita ikut tertawa.
"Kami pamit dulu, Beth! Semoga pengerjaan kuenya lancar dan selesai tepat waktu, ya!" Pamit Tante Sita selanjutnya seraya mengusap punggung Beth.
"Iya, Tante!"
"Hati-hati di jalan pulangnya," pesan Beth sembari mencium punggung tangan Tante Sita dan Tante Yumi secara bergantian. Beth lalu mengantar dua wanita paruh baya itu sampai ke depan toko, sebelum kemudian mobil Tante Sita dan Tante Yumi melaju pergi.
Beth baru saja akan masuk kembali ke dalam toko, saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan tokonya.
Beth langsung menghentikan sejenak langkahnya, saat dua pria berbaju serba hitam keluar dari mobil, lalu disusul oleh seorang wanita paruh baya....
Ya ampun! Dia lagi!
"Bethany Atmadja!"
"Putri dari Will Atmadja yang hidup miskin hingga kini dan tak mendapatkan sepeserpun harta warisan karena menentang kedua orang tuanya dan memilih untuk menikahi seorang wanita miskin dan murah--"
"Tutup mulutmu!" Gertak Beth yang sudah mengayunkan tangannya dan hendak menampar wanita paruh baya di hadapannya tersebut. Namun salah satu pria yang berpakaian serba hitam tadi sudah menangkis tangan Beth dengan cepat, lalu mencekalnya dengan kuat.
"Aku sudah memperingatkanmu kemarin, untuk menjauhi Reandra. Tapi sepertinya kau tidak mendengarkan peringatanku--"
"Akan aku kembalikan uangmu, Nyonya Kaya!" Sergah Beth seraya meronta karena tangannya yang kini dicekal oleh bodyguard nyonya kaya tersebut.
"Tidak usah!"
"Karena aku akan memberikan tambahan." Wanita paruh baya itu tiba-tiba sudah melemparkan lembaran-lembaran uang ke hadapan Beth dan membuatnya berserakan di sekeliling Beth.
"Tinggalkan Reandra sekarang atau--"
"Atau apa?" Gertak Beth berani.
"Atau aku akan menyingkirkanmu dengan cara yang tak pernah kau pikirkan sebelumnya."
"Kau itu tak selevel dengan Reandra!" Ucap wanita itu lagi sebelum ia berbalik dan masuk kembali ke dalam mobilnya.
Bodyguard yang tadi mencekal tangan Beth, juga sudah melepaskan Beth dengan gerakan kasar yang tentu saja langsung membuat Beth terhuyung dan jatuh terduduk di depan toko. Mobil si Nyonya kaya sudah melaju pergi, meninggalkan Beth yang masih terduduk di depan toko bersama lembaran-lembaran uang yang kini berserakan.
"Beth!" Yvone tiba-tiba sudah datang dan gadis itu langsung membantu Beth untuk bangun dan berdiri.
"Kau terluka--"
"Sedang apa kau disini?" Beth langsung menggertak Yvone yang hendak memeriksa tubuh Beth.
"Aku tadinya kesini karena ingin bicara padamu, Beth! Lalu aku melihat Aunty...." Yvone tak melanjutkan kalimatnya karena Beth yang kini malah mendelik pada Yvone.
"Beth, dengarkan dulu penjelasanku!" Yvone berusaha mengejar Beth yang sudah masuk ke dalam toko.
"Pergi dan jangan masuk ke tokoku!" Usir Beth kemudian pada Yvone yang terus mengekorinya.
"Pergi, kau!" Usir Beth sekali lagi pada Yvone sembari berteriak. Yvone tampak diam dan gadis itu menatap serius pada Beth.
"Ap--"
"Aku hanya ingin bilang kalau Reandra itu bukan pria baik-baik"
"Dia mendekatimu hanya demi satu tujuan--"
"Dasar sok tahu! Reandra mencintaiku dan kau hanya cemburu, kan?" Sela Beth memotong penjelasan Yvone.
"Aku tidak cemburu!"
"Aku tahu siapa sebenarnya Reandra dan sebaiknya kau berhati-hati pada pria itu!" Ucap Yvone dengan nada tegas.
"Aku tak akan mendengarkan peringatanmu!" Beth sudah menutup kedua telinganya dengan telapak tangan sekarang.
"Terserah saja! Sia-sia memang memperingatkan orang yang sedang bucin dan gila akan cinta--"
"Kau itu yang gila!" Sergah Beth membalikkan kata-kata Yvone.
"Pergi kau dari sini!" Usir Beth selanjut4pada Yvone.
"Aku memang mau pergi!"
"Semoga matamu lekas terbuka sebelum Reandra bertindak jauh terhadapmu!" Ucap Yvone sebelum kemudian gadis itu berbalik dan keluar dari toko Beth.
Di depan toko Beth sendiri sudah ramai beberapa orang yang sedang memunguti lembaran uang yang tadi terhambur. Yvone tak terlalu menggubrisnya dan gadis itu berlalu begitu saja, meninggalkan Beth yang kini menatap Yvone dari dalam toko.
"Aku tadinya kesini karena ingin bicara padamu, Beth! Lalu aku melihat Aunty--"
"Berarti benar kalau Nyonya kaya tadi adalah mamanya Reandra?" Gumam Beth seolah sedang memberitahu dirinya sendiri.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.