Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
TAK SENGAJA


Fairel baru menoleh sepersekian detik, saat sebuah bogem mentah mendadak sudah mendarat di wajahnya.


Bugh!


Fairel langsung terjengkang ke belakang dan terkapar di tanah. Puluhan bintang langsung terlihat berputar-putar di pandangan Fairel.


Ada apa ini?


Apa yang terjadi?


"Abang! Kenapa memukul Pak Iel?" Seru Beth yang buru-buru turun dari motor, lalu menghampiri Fairel yang masih terkapar seraya mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Aku pikir dia mengganggumu tadi, Beth!" Jawab Timmy beralasan.


"Ck! Abang salah paham!" Gerutu Beth yang langsung membantu Fairel untuk bangun dan duduk. Fairel masih terlihat linglung sekarang dan bogem mentah Timmy tadi rupanya mendarat tepat di mata Fairel sebelah kanan. Sekarang sekitar area mata Fairel tersebut tampak lebam kebiruan.


"Siapa yang memukulku tadi?" Tanya Fairel masih sambil mengerjap-ngerjapkan matanya yang buram separo. Fairel hebdak mengucek mata kanannya, saat Beth dengan cepat mencegah.


"Jangan digosok! Matamu lebam," ujar Beth memberitahu Fairel yang langsung mengernyit.


"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Fairel menatap tajam pada Beth.


"Abang Timmy yang memukulmu tadi, tapi dia tak sengaja dan ini hanya salah paham," jawab Beth sembari meringis dan tangannya menunjuk ke arah Abang Timmy yang masih berdiri di dekat motor.


Padahal tadi abang Beth itu sudah masuk ke dalam kelab, lalu kenapa sekarang malah keluar lagi dan memukul Fairel?


Fairel ganti menatap pada Abang Timmy yang langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Aku benar-benar minta maaf!"


"Tadi aku pikir kau mau melakukan hal jahat pada Beth," ucap Timmy penuh raut penyesalan.


"Apa wajahku mirip penjahat?" Sergah Fairel bersungut-sungut. Pria itu lalu berusaha untuk bangkit berdiri masih sambil dibantu oleh Beth tentu saja.


"Auuuwww! Sakit juga pukulanmu," keluh Fairel seraya meraba matanya yang terasa cenut-cenut.


"Jangan digosok!" Beth memperingatkan sekali lagi sembari mencekal tangan Fairel.


Namun Fairel menyentaknya dengan cepat.


"Aku hanya memeriksanya dan tak menggosok!" Sungut Fairel pada Beth.


"Hei! Bicara sopan sedikit pada adikku, Bung!" Gertak Timmy yang langsung menuding pada Fairel.


"Oh, kau abangnya Beth?" Fairel balik menuding pada Timmy.


"Ya! Apa ada masalah?" Jawab Timmy seraya menatap tajam pada Fairel.


"Tidak ada! Tapi sebaiknya kau jaga baik-baik adikmu ini dan jangan membiarkannya berpacaran dengan seorang pria brengsek!"


"Ck! Auuuw!" Fairel kembali mengaduk dan hebdak menggosok matanya lagi saat Beth sudah dengan cepat mencegah.


"Jangan digosok!"


"Ck! Iya!" Fairel menyentak tangan Beth sekali lagi.


"Aku akan menjaga Beth!"


"Dan sebaiknya lebammu itu dikompres es batu agar mendingan," ujar Timmy memberikan saran pada Fairel.


"Abang bisa mengambil es batu di dalam? Kenapa abang tadi keluar lagi? Apa ada yang ketinggalan?" Cecar Beth pada sang abang.


"Tidak ada! Aku memang disuruh pulang lagi karena jalanku masih pincang," jawab Timmy seraya menunjuk pada kakinya.


"Kau terlihat babak belur. Apa kau habis tawuran?" Tanya Fairel menyela dan sok tahu.


"Abang Timmy habis kecelakaan!" Ujar Beth yang langsung menjawab pertanyaan Fairel dengan cepat.


"Oh! Pasti naik motornya pecicilan!" Terka Fairel lagi masih sok tahu.


"Sok tahu!" Cibir Timmy yang langsung membuat Fairel balik mencibir.


"Jadi, Abang bisa mengambil es batu di dalam?" Tanya Beth sekali lagi.


"Tidak bisa!" Jawab Timmy cepat.


"Lalu lebamku bagaimana? Kau harus bertanggung jawab karena rasanya sakit sekali!" Sergah Fairel dengan ekspresi wajah lebay.


"Ayo, Beth!" Ajak Timmy kemudian pada sang adik.


"Sebentar, sebentar! Kau dan adikmu akan pergi meninggalkan aku? Kalian mau coba-coba kabur?" Cecar Fairel yang langsung menghadang motor Beth.


"Kami mau mencarikanmu es batu! Dan aku tak mungkin meninggalkan Beth dengan pria asing malam-malam begini," tukas Timmy seraya menatap aneh pada Fairel.


"Aku bukan pria asing!


"Dan salah satu dari kalian harus tetap disini sebagai jaminan kalian tidak akan kabur!"


"Mataku sakit sekali!" Keluh Fairel lagi.


"Biar Beth saja yang mencari, Bang!" Usul Beth cepat. Lagipula, mustahil juga menyuruh Abang Timmy naik motor sendiri. Jalan saja masih terpincang-pincang.


Tapi kok tadi bisa memukul Fairel sampai terjengkang, ya? Aneh!


"Ini hampir tengah malam, Beth! Bagaimana kalau terjadi sesuatu?" Tolak Timmy cepat.


"Lalu bagaimana--"


"Ssshhhh! Ssshhhh!" Fairel langsung menyela perdebatan Beth dan Timmy.


"Kita pergi bertiga!" Tukas Fairel cepat.


"Naik motor? Mana muat?" Tanya Beth yang sudah melebarkan kedua matanya dan sekarang wajah gadis itu benar-benar terlihat lucu.


"Naik mobil tentu saja! Aku bawa mobil tadi!" Jawab Fairel pongah


"Kenapa tidak bilanh dari tadi?" Decak Timmy yang malah dibalas Fairel dengan dengkusan.


"Kau juga tak bertanya!" Fairel mencari alasan dan pembenaran.


"Kau parkirkan motormu di kelab saja! Besok pagi baru kita ambil," titah Timmy akhirnya pada Beth yang langsung mengangguk patuh. Beth segeraembawa motornya ke parkiran kelabalam yang hanya berisi beberapa motor. Mayoritas pengunjung kelab tersebut memanglah orang-orang bermobil.


"Tapi aku rasa, aku tak bisa menyetir sekarang! Kau bisa bawa mobil, kan?" Tanya Fairel pada Timmy yang langsung mengangguk.


"Bisa--"


"Tapi Abang kan masih pincang!" Protes Beth cepat.


"Orang pincang juga bisa bawa mobil karena kaki tak perlu turun saat berhenti, Beth!"


"Begitu saja tidak tahu!" Cibir Fairel yang langsung membuat Beth merengut. Fairel lalu melemparkan kunci mobilnya ke arah Timmy, sebelum kemudian pria itu berjalan ke arah mobilnya.


"Awas!" Beth cepat-cepat membimbinh Fairel yang hampir ke tengah jalan karena pria itu berjalan dengan satu mata yang ia tutup memakai tangan.


"Ck! Ini semua gara-gara abangmu!' Gerutu Fairel yang masih saja menyalahkan Timmy yang kini berjalan di belakang Fairel dan Beth.


"Kan sudah minta maaf. Ini juga mau cari es batu buat mengompres."


"Atau kau mau ke UGD saja?" Tawar Beth yang langsung membuat Fairel berdecak.


"Lebay! Hanya lebam dan kau ingin membawaku ke UGD!" Omel Fairel kemudian.


"Tapi kau tadi mengeluh sakit--"


"Iya memang rasanya sakit dan nyut-nyutan! Tapi tak perlu juga harus ke UGD!" Sergah Fairel yang nada bicaranya sudah nge-gas.


"Iya, aku kan cuma menawarkan!" Tukas Beth tetao tak mau kalah. Beth sudah membantu Fairel masuk ke dalam mobil sekarang.


"Kita cari es batu dimana, Bang?" Tanya Beth yang memilih untuk duduk di jok belakang.


"Di angkringan dekat alun-alun," jawab Timmy seraya menyalakan mesin mobil Fairel.


"Jangan pecicilan mengemudinya! Nyawaku cuma ada satu!" Pesan Fairel sedikit ketus yang malah membuat Timmy terkekeh.


Dasar aneh!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.