Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
PERINGATAN


Fairel menghentikan mobilnya sejenak karena lampu lalu lintas yang kini berwarna merah. Pria itu lalu melihat plang penunjuk arah di atas lampu lalu lintas. Arah ke kanan yang langsung menuju ke Jalan Seroja, mendadak mengingatkan Fairel pada toko kue Beth.


"Ck! Aku mau beli hadiah ulang tahun untuk Rossie! Kenapa malah memikirkan si tukang kue itu lagi!" Gerutu Fairel kemudian seraya membentur-benturkan kepalanya ke stir mobil.


Lampu lalu lintas masih belum berubah menjadi hijau, namun perut Fairel malah sudah berbunyi nyaring.


Kruuuk!


"Ck! Kenapa pikiranku malah tertuju pada rollcake dari toko Beth yang rasa mocca, ya?" Fairel bergumam sendiri, lalu bayangan rollcake yang kerap dibeli oleh Mom Yumi dari toko Beth itu kembali berputar-putar di kepalanya.


"Sial! Aku ingin makan cake itu sekarang!" Fairel memukul stir mobilnya, namun sedikit kebablasan hingga ia tak sengaja menekan tombol klakson lumayan dalam.


Beeeeeep! Beeeeeeep!


"Astaga!" Fairel terlonjak sendiri, pun dengan pengendara motir di sebelah mobil Fairel yang sepertinya ikut kaget. Fairel benar-benar tak tahan untuk tak tertawa, meskipun pemotor di sebelahnya tampak mengomel.


"Baiklah, aku akan mampir sebentar ke toko kue Beth untuk membeli beberapa slices rollcake!" Putus Fairel akhirnya berbarengan dengan lampu lalu lintas yang sudah berubah warna menjadi hijau. Fairel tak menunggu lagi dan segera membelokkan mobilnya ke arah jalan Seroja atau lebih tepatnya ke toko kue Beth.


Semoga Beth tidak ada dan yang berjaga adalah karyawan Beth!


****


Tak sampai lima menit, Fairel sudah tiba di depan toko kue Beth yang tampak ramai.


Tapi kok pengunjung toko kue Beth sedikit aneh! Hampir semuanya bertubuh tegap dan berpakaian serba hitam mirip bodyguard.


Apa sedang ada artis yang berkunjung? Tapi mana kameramen dan wartawannya?


Tidak ada!


Meskipun sedikit ragu, Fairel akhirnya tetap turun dari mobil, dan para pria berpakaian serba hitam tadi langsung menyingkir, seolah memberikan jalan bagi Fairel untuk masuk ke dalam toko.


Bagus!


Fairel membuka pintu toko dan suara bel di atas pintu sudah langsung menyambutnya. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Fairel saat ini, melainkan sebuah kalimat yang mendadak mampir di telinga Fairel.


"Tinggalkan Reandra, dan ambil uang ini sebagai gantinya! Kau mendekati putraku hanya demi uang, kan?"


Fairel langsung mengernyit, dan pria itu melirik sedikit ke arah Beth yang terlihat diam di belakang meja kasir. Wanita paruh baya yang tadi melontarkan kalimat perintah pada Beth, melempar dengan kasar amplop coklat ke arah Beth.


Wow! Apa itu adalah mama dari Reandra? Sadis juga!


"Kau sedang apa disini?" Gertakan dari salah satu bodyguard, langsung membuat Fairel tersentak. Pun dengan Beth yang langsung menatap ke arah Fairel yang kini malah berdecak.


"Aku hanya ingin beli kue," jawab Fairel seraya membenarkan kerah kemejanya.


"Tapi sepertinya tak jadi," imbuh Fairel lagi yang langsung berbalik dan kembali ke arah pintu toko. Samar-samar telinga Fairel masih menangkap kalimat ancaman lanjutan yang dilontarkan oleh wanita paruh baya yang melabrak Beth tadi.


"Camkan itu dan segera lakukan! Atau aku akan bertindak lebih jauh lagi, jika kau masih nekat mendekati putraku!"


Fairel yang sempat memelankan langkahnya, langsung lanjut keluar dari toko, seolah tak tahu menahu tentang apa yang baru saja terjadi. Pria itu langsung masuk ke mobilnya sebelum si wanita paruh baya tukang mengancam tadi keluar bersama selusin bodyguard-nya.


Lebay sekali!


****


"Tinggalkan Reandra, dan ambil uang ini sebagai gantinya! Kau mendekati putraku hanya demi uang, kan?"


Kalimat dari wanita paruh baya yang mengaku sebagai ibu kandung Reandra tadi terus saja berkelebat di benak Beth. Gadis itu bahkan jadi tak fokus melakukan pekerjaannya.


"Ting!"


Beth terlonjak kaget, saat pintu toko dibuka dari luar. Fairel yang tadi sudah pergi rupanya kembali lagi dengan ekspresi wajah aneh. Pria itu langsung menghampiri Beth yang masih berdiri di belakang etalase.


"Jadi, kau dan Reandra itu berpacaran?" Tanya Fairel tiba-tiba yang langsung membuat Beth mendengus. Beth lalu segera berbalik dan hendak meninggalkan Fairel, saat tiba-tiba Fairel kembali melontarkan kalimat.


"Reandra itu playboy, Beth! Jadi lebih baik kamu jauh-jauh dari dia!" Ujar Fairel lagi yang hanya membuat Beth menghentikan langkahnya, namun tak menoleh pada Fairel.


"Sebelum aku melihat Reandra Reandra itu di acara malam itu, saat dia bersamamu. Aku sudah pernah melihatnya menggandeng gadis lain di acara serupa."


"Dan itu bukan hanya satu atau dua gadis. Tapi ada beberapa dan selalu gonta ganti!"


"Kau pasti salah lihat!" Jawab Beth ketus, sebelum kemudian gadis itu membuang nafas dengan kasar. Beth kemudian lanjut masuk ke dapur sembari memanggil karyawannya.


"Shanty! Ada customer!" Ucap Beth bersamaan dengan pintu dapur yang sudah kembali tertutup. Tak berselang lama, karyawan Beth yang ternyata bernama Shanty itu keluar untuk menemui Fairel.


"Diberitahu tidak percaya. Yasudah!" Gumam Fairel kesal.


"Mau beli cake, Pak?" Tanya Shanty ramah.


"Tentu saja mau beli cake! Memangnya disini jual makanan lain selain cake?" Jawab Fairel galak yang langsung membuat Shanty tampak segan.


"Owner kamu itu tadi menyebalkan!" Curhat Fairel kemudian yang hanya membuat Shanty mengangguk sembari meringis.


"Bungkuskan aku rollcake yang mocca dan blackforest masing-masing dua slices!" Perintah Fairel kemudian pada Shanty yang langsung bergerak cepat mengambil box untuk rollcake. Shanty juga langsung membungkus pesanan Fairel dan tak sampai lima menit, Fairel sudah selesai membayar.


****


[Reandra, kamu dimana?]


Beth mengirim pesan pada Reandra sekali lagi, meskipun pesan yang sebelumnya masih belum terkirim. Apa Reandra sedang sibuk?


"Tinggalkan Reandra!"


"Reandra itu playboy, Beth!"


"Sebelum aku melihat Reandra Reandra itu di acara malam itu, saat dia bersamamu. Aku sudah pernah melihatnya menggandeng gadis lain di acara serupa."


"Ck! Fairel pasti berbohong! Tidak mungkin Reandra seperti itu!" Beth bergumam sendiri dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau apa yang dikatakan oleh Fairel tadi hanya bualan belaka.


"Aku percaya pada Reandra," ucap Beth lagi pada dirinya sendiri, bersamaan dengan ponsel gadis itu yang tiba-tiba berdering.


Reandra menelepon!


Feeling Beth benar, kan?


"Halo, Rean!" Sambut Beth cepat dan penuh semangat.


"Hai! Kau mengirimiku banyak pesan tadi."


"Iya! Kau sedang dimana kenapa--"


"Aku baru tiba di airport, Beth! Aku ke luar kota mungkin selama dua pekan." Reandra langsung menyela kalimat Beth yang belum selesai.


"Begitu, ya! Aku tadinya mau bicara hal penting--"


"Nanti saja kalau aku sudah pulang, ya! Aku sibuk sekali disini." Lagi-lagi Reandra menyela kalimat Beth.


"Iya, baiklah," jawab Beth seraya mendes*h kecewa.


Tapi mungkin Reandra memang sedang sangat-sangat sibuk. Sebaiknya Beth memang menunggu Reandra pulang dan tidak mengganggu pria itu dulu. Perihal ancaman dari mama Reandra tadi, Beth sangat yakin kalau itu hanya gertakan semata. Reandra pasti punya solusi nantinya.


"Beth!"


"Iya!" Jawab Beth cepat yang tadi sempat larut dalam lamunannya.


"Aku tutup dulu teleponnya, ya! Aku mau bertemu klien penting."


"Iya. Jaga kesehatan disana!" Pesan Beth akhirnya memaksa untuk mengulas senyum.


"I love you!"


Beth seketika langsung mematung saat mendengar kalimat Reandra barusan. Apa Reandra baru sana mengatakan I love you pada Beth? Apa ini mimpi?


Ya ampun! Ya ampun! Ya ampun!


"I love you, Beth!"


"I---I--"


"I love you---too," jawab Beth akhirnya meskipun sedikit tergagap. Ya ampun, Beth mendadak grogi sekarang dan dada Beth rasanya ingin meledak saking bahagianya.


"Ya! I love--"


Tuut tuut!


Telepon sudah terputus, namun Beth seolah tak peduli dan gadis itu malah terus mengucapkan I love you too berulang-ulang, seolah Reandra sedang ada di depannya saat ini.


Hingga akhirnya teguran dari Shanty yang membuka pintu dapur, membuat Beth kaget.


"Kak Beth!"


"Iya!" Jawab Beth berusaha menormalkan ekspresi wajahnya yang entah mengapa bawaannya ingin tersenyum terus.


Ah, Beth sedang bahagia memang!


"Ada customer yang mau memesan custom cake,", ucap Shanty membuat laporan.


"Ya! Aku ke depan sekarang!" Jawab Beth penuh semangat, seraya melenggang keluar dari dapur untuk menemui customer.


Hati Beth sedang berbunga-bunga sekarang!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.