Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
MODE CEPAT


"Beth, kau kenapa?" Fairel bergegas menyusul Beth yang masih muntah-muntah di wastafel kamar mandi akibat benih-benih Fairel yang salah jalur tadi.


"Beth!" Fairel mengusap punggung Beth yang kini sudah ganti berkumur berulang kali.


"Kau kenapa? Bukankah rasanya enak?" Cecar Fairel seraya menatap tak mengerti pada Beth.


"Enak? Aku tak akan muntah-muntah kalau rasanya enak!" Sergah Beth dengan nada penuh emosi. Fairel sontak terkekeh mendengar pengakuan sang istri.


"Mana banyak sekali dan tadi sebagian sudah masuk ke tenggorokan," keluh Beth lagi sebelum kembali berkumur.


"Tak apa! Katanya itu bisa membuat awet muda," tukas Fairel yang malah mengungkapkan teori sesat. Masa iya menelan cairan penuh benih bisa membuat awet muda? Pasti yang membuat teori itu adalah kaum pria!


"Aku tak mau melakukannya lagi," ujar Beth kemudian sembari meraih tisu untuk menyeka sisa air di wajahnya.


"Jangan begitu, Istriku sayang! Kau tadi melakukannya dengan sangat baik dan aku benar-benar kecanduan," ungkap Fairel blak-blakan yang langsung membuat Beth merengut.


"Besok begitu lagi, ya!" Rayu Fairel kemudian seraya mencium ubun-ubun Beth.


"Asal tidak kau berikan semburan maut secara mendadak lagi!" Beth mengajukan sebuah syarat.


"Tidak akan! Aku janji!" Fairel mencium sekali lagi puncak kepala Beth.


"Sekarang sudah bisa tidur, kan?" Tanya Beth kemudian seraya wanita itu keluar dari kamar mandi. Fairel tentu saja langsung mengekori sembari memegang kedua pundak sang istri.


"Belum bisa, Beth! Kan belum dapat yang ini." Tangan Fairel sudah meraba milik Beth sekarang.


"Kok sudah basah?" Tanya Fairel kemudian yabg langsung membuat Beth berdecak.


"Hampir setengah jam aku mengul*m milikmu! Tentu saja basah!" Gumam Beth kemudian sedikit kesal.


"Berarti sekarang giliranku untuk memuaskanmu!" Bisik Fairel kemudian yang langsung membuat Beth menelan salivanya.


"Tapi bukankah bibirmu--" Suara Beth langsung tercekat, saat tangan Fairel sudah merem*s dadanya.


"Sudah tak sakit, " ungkap Fairel yang langsung membuat Beth memperhatikan bibir suaminya tersebut.


"Tapi masih terlihat bengkak, Iel!" Ujar Beth sembari mengusap lembut bibir Fairel.


"Coba dulu!" Fairel sudah langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Beth. Namun hanya beberapa detik dan Fairel sudah langsung mengumpat.


"Brengsek! Masih sakit!" Fairel meringis dan memegangi bibirnya sendiri. Sementara Beth malah tertawa kecil.


"Tunda dulu saja!" Usul Beth akhirnya yang langsung membuat Fairel berdecak.


"Tapi aku menginginkannya, Beth!" Rengek Fairel kemudian seperti bayi. Tapi mana ada bayi yang merengek minta anu-anu.


"Kan tadi sudah, Iel!"


"Beda rasa!" Sergah Fairel tak mau tahu. Fairel lalu segera menarik Beth kembali ke ranjang.


"Ck! Apa aku tidak bisa tidur dulu--"


"Hoaaaam!!" Beth sudah menguap lebar.


"Kenapa kau sudah mengantuk?" Protes Fairel tak terima.


"Aku belum tidur sejak tadi. Sedangkan kau kan tadi sudah tidur sebelum Abang Timmy datang membawa obat," ujar Beth beralasan.


"Aku tadi hanya tidur ayam!" Sergah Fairel cepat.


"Tidur ayam tapi tidur juga!" Cibir Beth yang langsung meraih guling kesayangannya, lalu berbaring miring dan memeluk benda tersebut.


"Beth!" Fairel sudah ikut berbaring dan mendekap Beth dari belakang.


"Aku ngantuk, Iel!" Beth kembali beralasan dan suaranya sedikit melas.


"Tapi jangan memunggungiku begini! Kita seperti musuh yang dipaksa menikah saja!" Protes Fairel yang langsung membuat Beth terkekeh, namun kedua mata Beth juga sudah terpejam saking ngantuknya.


"Berbalik sini!" Fairel langsung membalik tubuh Beth, dan menyingkirkan guling yang sejak tadi Beth peluk.


"Iel--"


"Peluk saja aku!" Sergah Fairel cepat memotong rengekan Beth.


Beth akhirnya tak protes lagi dan segera memeluk Fairel bak guling. Meskipun rasanya jadi seperti memeluk guling raksasa. Harusnya guling begini memang ditunggangi saja dan bukannya dipeluk.


"Tidur satu jam saja, lalu nanti bangun dan kita lanjut bercinta, ya!" Pesan Fairel sembari mengusap-usap kepala Beth.


"Hmmmm!" Jawab Beth yang hanya menggumam samar karena kini Beth sudah melayang ke dalam mimpi indahnya bersama....


Fairel juga!


Di dunia nyata Fairel, di dunia mimpi pun isinya juga Fairel.


Apa Beth memang sudah sebucin ini pada suaminya itu?


****


"Telepon dari Ryan!" Ucap Beth seraya menyodorkan ponsel pada Fairel yang belum sepenuhnya membuka mata. Fairel mengerjap-ngerjap lagi sambil berusaha mengumpulkan nyawanya.


"Siapa?" Tanya Fairel kemudian dengan suara serak khas orang bangun tidur. Fairel lalu bersandar di kepala ranjang dan mengucek-ngucek kedua matanya.


"Ryan Andreas," jawab Beth lengkap, setelah wanita itu membaca nama yang tertera di ponsel Fairel.


"Ck! Kenapa juga Ryan menelepon tengah malam begini? Apa dia tak mendapat jatah dari Nona?" Gerutu Fairel sembari menerima ponselnya yang sejaj tadi disodorkan oleh Beth.


"Tengah malam? Matahari sudah terbit dan dia masih ngelindur," kekeh Beth sembari membuka tirai jendela kamarnya. Fairel yang masih berusaha membuka mata, sontak membelalak dan berteriak tak percaya.


"Beth! Kenapa sudah pagi?" Pekik Fairel yang juga sudah mengangkat telepon dari Ryan.


"Iya, memang ini sudah pagi, Pengantin baru!" Suara Ryan terdengar meledek dari ujung telepon.


"Sial! Aku tak bicara denganmu!" Maki Fairel pada sang sepupu.


"Terserah saja! Aku hanya mau mengingatkan kalau kau ada meeting penting jam sepuluh--"


"Meeting lagi? Kenapa bukan kau yang menghadiri? Jabatan kita di kantor kan sama! Jangan makan gaji buta!" Cerocos Fairel yang langsung menyalak bertubi-tubi pada Ryan.


"Tentu saja aku tak akan meneleponmu, jika aku ada disana dan tak sedang di luar kota. Salahmu sendiri nikah dadakan saat aku di luar kota. Sekarang kau jadi tak bisa honeymoon karena pekerjaan menumpuk, kan?"


"Brengsek! Brengsek! Brengsek!" Fairel mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi.


"Mengumpat tak menyelesaikan masalah, Bung! Cepat bersiap dan lakukan saja mode cepat sebelum pergi ke kantor!"


"Mode cepat?" Fairel langsung mengernyit mendengar saran dari Ryan.


"Ya! Mode cepat plus serangan fajar. Good luck!"


Telepon sudah terputus dan Fairel langsung menatap Beth yang kini duduk di ujung ranjang dengan rambut basah.


Kenapa rambut Beth sudah basah? Bukannya Fairel belum melakukannya semalam?


"Apanya yang mode cepat tadi, Iel? Kau ada meeting lagi di kantor? Jam berapa?" Cecar Beth sembari bangkit perlahan dari duduknya karena kinj Fairel sudah menatap penuh gairah pada Beth.


Oh, sial!


"Masih jam sepuluh!" Fairel sudah dengan cepat meraih tangan Beth dan membuat istrinya itu tersentak kaget


"Kita bisa melakukannya mode cepat dulu kata Ryan, Beth!" Fairel ganti menaikturunkan alisnya ke arah Beth, serta menatap genit pada istrinya tersebut.


"Melakukannya? Maksud kamu bercinta?" Tanya Beth lagi memastikan.


"Ya! Semalam kan belum jadi karena kau tak membangunkan aku!" Fairel sudah ganti mengomeli Beth sekarang.


"Sudah aku bangunkan, tapi kau tak bangun dan malah mendengkur keras--"


"Mustahil! Aku tak pernah mendengkur saat tidur!" Kilah Fairel cepat.


"Oh, ya? Lalu ini apa?" Beth sudah mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan rekaman vudeo Fairel yang sedang tidur sembari mendengkur.


"Ini kau, kan?" Ledek Beth kemudian.


"Ck! Hapus!" Rengut Fairel kemudian yang langsung membuat Beth tertawa kecil. Fairel lalu menghapus sendiri videonya di ponsdl Beth.


"Biasanya aku mendengkur kalau kelelahan saja!" Tukas Fairel kemudian beralasan.


"Ooh!" Beth langsung membulatkan bibir dan pura-pura maklum, meskipun wanita itu kembali tertawa kecil dan meledek Fairel lagi.


"Sudah jangan tertawa dan ayo kita bercinta, sebelum aku ke kantor!" Fairel sudah menarik tubuh Beth ke dalam pangkuannya. Lalu tangan pria itu lanjht meraba milik Beth.


"Ini apa yang mengganjal?" Tanya Fairel saat mendapati sesuatu yang empuk dan tebal di pangkal paha Beth. Fairel merabanya lagi untuk memastikan.


"Itu pembalut," jawab Beth jujur yang langsung membuat Fairel membelalak.


"Kenapa kau pakai pembalut?"


"Tadi saat bangun tidur mendadak aku menstruasi, Iel! Jadi bercintanya kita tunda dulu sampai aku selesai, ya!" Ujar Beth enteng sembari mencium kening Fairel yang kini tampak shock dan ternganga.


"I love you, Suamiku Sayang!" Ucap Beth lagi seraya bangkit dari pangkuan Fairel yang kini ekspresinya tak lagi bisa dijelaskan ddngan kata-kata.


"I love you too, Beth!" Cicit Fairel sebelum kemudian pria itu mengacak rambutnya lagi dengan frustasi.


Fairel kan belum dapat jatah! Kenapa si tamu merah sudah datang?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.