
Fairel yang baru saja mendaratkan bokongnya di atas sofa, langsung meraih satu undangan pernikahan Reina dan Angga yang tertumpuk di sofa serta di meja.
"Bukankah kemarin sudah diumumkan, Mom? Kenapa harus repot-repot mengirim undangan ulang?" Tanya Fairel pada Mom Yumi yang masoh sibuk mencocokkan nama-nama yang tertera di undangan, dengan yang ada di list.
"Formalitas," jawab Mom Yumi tanpa menatap pada Fairel.
"Lagipula, beberapa tamu undangan juga tidak datang kemarin saat pertunangan."
"Sekretaris Angga misalnya," imbuh Mom Yumi lagi yang langsung membuat Fairel tak berkomentar apa-apa lagi. Fairel sudah meletakkan kembali undangan di tangannya tadi, bersamaan dengan Dad Liam yang juga sudah ikut bergabung.
"Kau sedang apa? Menggoda Mom?" Tuduh Dad Liam to the point pada Fairel yang langsung mendengkus.
"Kurang kerjaan!" Fairel menjawab ketus sembari bangkit berdiri.
"Apa tuduhan Dad tidak bisa lebih konyol lagi?"
"Iel tahu Dad itu bucin akut pada Mom! Tapi tidak perlu juga sedikit-sedikit menuduh--"
"Iel! Jangan membentak Dad!" Bentak Mom Yumi pada sang putra yang nada bicaranya sudah tak terkendali.
"Dad hanya bercanda dan kenapa kau marah-marah begitu?" Timpal Dad Liam ikut-ikutan menatap tak mengerti pada Fairel.
"Bukankah biasanya--"
"Sudahlah!" Decak Fairel yang langsung pergi meninggalkan Dad Liam dan Mom Yumi.
"Iel, mau kemana?" Tegur Mom Yumi karena Fairel yang pergi ke arah pintu depan alih-alih naik ke kamarnya di lantai dua.
"Cari angin!" Jawab Fairel yang nyaris tak terdengar oleh Mom Yumi yang hanya geleng-geleng kepala.
"Dia kenapa?" Tanya Dad Liam kemudian sedikit bingung.
"Mungkin patah hatinya pada Rossie sedang kambuh," pendapat Mom Yumi seraya menghela nafas.
"Aku pikir sudah move on?" Tanya Dad Liam lagi dan kali ini Mom Yumi hanya mengendikkan kedua bahunya.
"Apa kita perlu mencarikannya pasangan--"
"Tidak usah aneh-aneh, Liam!" Sergah Mom Yumi yang langsung mendelik pada sang suami.
"Biarkan Fairel memilih sendiri gadis yang akan menjadi pasangannya!" Imbuh Mom Yumi lagi yang langsung membuat Dad Liam mendekat, lalu merangkul istrinya tersebut.
"Hanya bercanda. Yang penting kan aku tetap memilihmu, Sayang!" Tukas Dad Liam dengan nada merayu.
"Mulai!" Decak Mom Yumi yang wajahnya langsung bersemu merah.
Disaat bersamaan, tiba-tiba terdengar suara Reina yang sepertinya sedang berdebat dengan Fairel di depan. Pasangan paruh baya itu lalu tergopoh-gopoh menghampiri kedua anaknya.
"Kenapa baru sampai di rumah? Kelayapan kemana dulu? Ke apartemen Angga?" Cecar Fairel pada Reina dengan nada emosi
"Kami mampir makan karena Angga kelaparan!" Sergah Reina ikut-ikutan meninggikan suaranya.
"Kan bisa makan di rumah!"
"Cari-cari alasan--"
"Bukan mencari alasan!" Sergah Reina menyangkal tuduhan Fairel.
"Reina! Iel!" Tegur Mom Yumi yang langsung membuat Reina dan Fairel sama-sama diam. Tapi kakak beradik itu masih saling melempar tatapan ketus.
"Sudah malam dan tak perlu teriak-teriak begitu!" Gantian Dad Liam yang menegur kedua anaknya tersebut dengan nada tegas.
"Dia yang mulai, Dad!" Reina langsung menuding pada Fairel yang masih menatapnya dengan ketus.
"Tadi juga saat di kantor ngamuk--"
"Tidak perlu dijabarkan!" Sergah Fairel dengan nada membentak pada Reina.
"Iel! Jangan membentak adikmu!" Dad Liam langsung refleks membentak Fairel.
"Semua orang benar-benar menyebalkan hari ini!" Dengkus Fairel seraya berlalu dari teras, lalu mengambil motornya dari garasi.
"Abang saja--"
"Reina, sudah!" Mom Yumi buru-buru membungkam bibir sang putri yang masih saja memancing kemarahan Fairel.
"Dia menyebalkan sejak tadi, Mom!" Adu Reina dengan nada merengut.
"Iya tidak perlu kamu tanggapi--""
Wreeeng!
Suara dari knalpot motor Fairel yang memang sudah dimodifikasi sedemikian rupa membuat Mom Yumi, Dad Liam, dan Reina terkejut bersamaan.
"Astaga!"
"Berisik sekali!" Gerutu Reina seraya menggosok-gosok telinganya.
Tak berselang lama, motor Fairel sidah melaju pergi meninggalkan kediaman Halley.
"Kenapa motor itu suaranya jadi berisik?" Tanya Dad Liam pada Mom Yumi.
"Mana aku tahu? Memangnya aku yang memodifikasi knalpotnya?" Jawab Mom Yumi yang malah balik menggerutu pada sang suami.
"Aku hanya bertanya. Kenapa kau malah marah-marah?" Sergah Dad Liam bingung.
"Mom! Dad!" Geram Reina yang akhirnya memilih untuk masuk saja ke dalam rumah dan meninggalkan kedua orang tuanya yang kini sibuk berdebat di teras.
Entah ada apa dengan semua orang malam ini!
Fairel terus melajukan motornya, menembus kemacetan jalan yang kini penuh oleh kuda-kuda besi. Sudah beberapa minggu Fairel tak naik motornya yang berisik ini.
Wreeeng! Wreeeng!
Fairel memainkan gas hingga suara motornya yang sudah nyaring terdengar semakin nyaring. Jika ada patroli polisi, sudah pasti Fairel akan langsung ditangkap.
Ah, tapi bukan motor Fairel saja yang berisik!
Di kota ini ada lusinan motor modifikasi yang sama berisiknya dengan motor Fairel.
"Aku akan ke kelab dan mabuk malam ini!" Gumam Fairel saat motornya berhenti sejenak di lampu merah. Tatapan Fairel seketika langsung tertuju pada mobil sport biru metallic, yang berhenti tepat di depannya.
Fairel membaca plat mobil mewah tersebut dan berpikir sejenak karena platnya terbaca tak asing.
"Reandra?" Gumam Fairel menerka-nerka.
Ingatan Fairel lalu melayang ke hari dimana ia datang ke toko Beth untuk minta maaf, namun saat itu Beth malah sedang tertawa bersama Reandra....
Dan mobil yang terparkir di depan toko Beth warnanya memang serupa dengan mobil di depan Fairel saat ini!
"Benar juga!" Gumam Fairel yang kemudian sangat yakin kalau mobil di depannya ini adalah mobil Reandra.
Beep! Beep!
Suara klakson langsung membuyarkan lamunan Fairel. Pria itu lantas segera melajukan motornya, mengikuti mobil Reandra yang juga sudah bergerak maju
Fairel sebenarnya tak ada niat untuk membuntuti motor Reandra. Toh kalaupun malam ini pria brengsek itu pergi bersama seorang gadis, lalu Fairel mengambil gambar atau video, lalu menunjukkannya pada Beth. Si tukang kue keras kepala itu juga paling tidak percaya!
Mobil Reandra terlihat berbelok ke sebuah hotel. Fairel tak ikut masuk ke halaman hotel, dan pria itu hanya melihat dari kejauhan, siapa yang bersama Reandra malam ini.
Jika benar itu adalah seorang gadis, mungkin Fairel akan menjemput Beth malam ini. Fairel lalu akan menunjukkan pada Beth keras kepala, bagaimana tingkah polah Reandra yang sebenarnya agar Beth terbuka matanya dan...
Fairel belum selesai memikirkan rencananya malam ini, saat ia melihat kalau yang turun dari dalam mobil Reandra tadi adalah Reandra bersama.....
"Beth?"
Emosi Fairel yang tadi sempat mereda mendadak kembali naik ke ubun-ubun.
"Brengsek!"
"Kenapa Beth masih saja buta dan bodoh?" Umpat Fairel kesal seraya membanting motornya serampangan. Fairel lalu melangkah masuk ke dalam hotel dan mengikuti Reandra serta Beth yang rupanya menuju ke resto hotel.
Fairel ikut masuk ke dalam resto, dan memperhatikan dari kejauhan, Beth yang kini duduk berhadapan dengan Reandra. Sebisa mungkin, Fairel juga menutupi wajahnya agar tak ketahuan.
"Sial!" Umpat Fairel yang buru-buru menutupi wajahnya dengan buku menu, saat Reandra sudah bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah Fairel duduk.
Jangan sampai Reandra tahu kalau sejak tadi Fairel membuntutinya.
Fairel masih terus menutupi wajahnya dengan buku menu, dan pria itu juga menaikkan hoodie jaketnya, saat telinganya samar-samar mendengar suara Reandra yang seperti sedang bicara pada seseorang.
"Masukkan di minuman untuk wanita itu!"
Fairel mengintip dari bawah buku menu, apa yang diangsurkan Reandra pada seseorang yang rupanya seorang waitress tadi. Sebuah bungkusan warna putih, serta beberapa lembar uang tip.
"Brengsek! Dia mau memberikan apa pada Beth?" Gumam Fairel yang kini kedua netranya mengikuti kemana waitres tadi pergi. Rupanya waitres tadi hendak masuk ke dapur. Segera Fairel bangkit dari duduknya dan mengejar waitres tadi, lalu pura-pura menabraknya, hingga bungkusan yang masih berada di tangan waitres tadi terjatuh.
"Maaf! Saya tak sengaja!" Ucap Fairel seraya mengangkat kedua tangannya. Sedangkan sepatu Fairel refleks mengamankan bungkusan berwarna putih tadi dan menendangnya ke kolong meja bar.
Fairel lalu kembali ke temoat duduknya, meninggalkan waitres yang tampak kebingungan mencari bungkusan putih tadi. Namun hal itu tak berlangsung lama, karena rekan waitres tadi sudah memanggil, lalu mengajaknya masuk ke dalam dapur.
Fairel kembali duduk dan menperhatikan Beth yang masoh terlihat mengobrol bersama Reandra. Beberapa kali Beth juga terlihat mengarahkan pandangannya ke pintu masuk resto, saat ada tamu yang datang.
Beth seperti sedang menunggu seseorang....
Waitres sudah datang membawa minuman untun Beth dan Reandra. Pun dengan Fairel yang juga sudah memesan minuman serta makanan ringan sambil matanya awas mengawasi Beth yang kini sedang menyesap minumannya.
Fairel masih menunggu pergerakan selanjutnya dari Reandra yang kini sudah pindah tempat duduk menjadi di samping Beth yang tetap celingukan ke arah pintu masuk resto setiap ada tamu yang datang.
Beth sebenarnya menunggu siapa?
Hingga arloji Fairel menunjukkan pukul sembilan malam, Beth dan Reandra masih saja duduk di tempatnya semula.
Namun kemudian Fairel bisa melihat Beth yang sudah bangkit dari duduknya dan seperti mengajak Reandra untuk pulang. Namun Reandra terlihat keberatan, hingga akhirnya Beth malah terlihat sedang menelepon seseorang. Sedangkan Reandra masih saja duduk santai di kursinya.
Beth sudah selesai menelepon dan gadis itu terlihat mengajak Reandra untuk pulang lagi, namun Reandra tetap keukeuh menolak, sampai akhirnya Beth menyampirkan tasnya di pundak, lalu hendak keluar dari resto.
"Brengsek! Kenapa Reandra tak mengantar Beth?" Fairel baru selesai mengumpat, saat Reandra terlihat sudah bangkit dari duduknya dan menyusul Beth. Namun alih-alih mengajak Beth keluar dari resto dan dari hotel, Reandra malah merangkul Beth dan memaksanya untuk pergi ke arah lift yang menuju ke kamar-kamar yang ada di hotel.
Beth tampak berontak saat Reandra hendak mengajaknya masuk ke dalam lift. Fairel yang masih memperhatikan dari kejauhan, bisa melihat Beth yang berulang kali menyentak tangan Reandra yang terus merangkul serta hendak mencium Beth.
"Brengsek!" Umpat Fairel yang akhirnya tak tahan lagi untuk tak keluar dari persembunyiannya. Fairel langsung menghampiri Beth dan Reandra yang masih tampak berdebat.
"Aku tidak mau! Aku mau pulang sekarang!"
"Kau sudah berbohong!"
"Aku tidak bohong, Beth! Aku mencintaimu dan aku akan membuktikan cintaku--" Reandra terus memaksa untuk mencium bibir Beth, saat bogem mentah Fairel sudah dengan cepat mendarat di wajah pria brengsek itu.
Bugh! Bugh!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.