
Fairel masih duduk di minibar dapur, sembari memutar kaleng soda di tangannya, saat tiba-tiba punggungnya ditepuk oleh seseorang dari belakang.
"Angga!"
Fairel refleks menoleh, dan ekspresi wajah Reina yang mengira Fairel adalah Angga seketika langsung berubah. Adik kandung Fairel itu tampak berdecak berulang-ulang.
"Amnesia lagi? Sudah dua kali kau memanggilku Angga!" Gerutu Fairel dengan raut wajah bersungut.
"Abang kenapa memakai baju Angga?" Tanya Reina yang kini sudah duduk di samping Fairel.
"Kau hafal kalau ini baju Angga? Apa kau yang mencuci baju-baju Angga, melipatnya, lalu menyusunnya ke almari juga?"
"Atau jangan-jangan kau juga yang kerap melepaskan kemeja-kemeja Angga dari tubuhnya?" Cecar Fairel dengan nada suara yang sudah meninggi. Fairel seolah sedang meluapkan rasa kesalnya sekarang.
"Ck!"
"Delapan tahun Reina jadi pacar Angga, Bang! Tentu saja Reina hafal baju-baju yang sering Angga kenakan!"
"Dan yang ini kan yang beliin Reina," ujar Reina panjang lebar yang bicaranya sudah ikut bersungut-sungut.
Fairel lantas diam dan tak menanggapi ocehan Reina. Pria itu hanya meneguk sisa soda di dalam kaleng, lalu kembali memainkannya.
"Abang kenapa murung? Apa ada masalah di acara ulang tahun Rossie tadi? Keano tadi juga menelepon Reina dan bertanya apa Abang sudah sampai rumah," cecar Reina selanjutnya yang sama sekali tak dijawab oleh Fairel. Abang kandung Reina itu hanya membisu dan tangannya tetap aktif memutar-mutar kaleng bekas soda tadi.
"Bang! Kok diam, sih?" Tanya Reina lagi yang tetap membuat Fairel membisu.
"Abang kenapa sebenarnya? Sudah mirip orang patah hati saja!" Kekeh Reina kemudian yang malah meledek Fairel.
Tapi tepat sasaran, sih!
"Memang!" Jawab Fairel akhirnya seraya bangkit berdiri dan melemparkan kaleng bekas soda tadi ke tempat sampah dengan serampangan hingga menimbulkan suara yang nyaring.
"Bang--"
"Aku mau tidur!" Tukas Fairel seraya keluar dari dapur dan meninggalkan Reina yang tampak bingung.
Fairel langsung naik ke kamarnya di lantai dua, lalu merebahkan tubuhnya disana.
"Rossie dan Bang Kean sudah berpacaran sejak Rossie masih di London, Bang!"
Kata-kata pengakuan dari Rossie terus saja berputar di kepala Fairel.
"Ini pasti hanya mimpi!" Gumam Fairel kemudian sembari memejamkan mata.
"Ini hanya mimpi dan besok pagi saat aku bangun, kejadian malam ini tak pernah terjadi!"
"Rossie hanya boleh menjadi milikku! Hanya milikku!"
****
"Itu baju siapa yang sedang kamu setrika, Beth?" Tanya Mama Tere saat Beth masih menyetrika kemeja dan celana Fairel yang semalam basah.
Setelah tadi malam Beth mencucinya, siang ini baju Fairel memang sudah kering. Dan Beth rencananya juga akan mengantar baju-baju ini ke tempat kerja Fairel. Beth sudah bertanya pada Abang Angga perihal tempat kerja Fairel, dan kata Abang Angga Fairel bekerja di Halley Development yang gedungnya berada di pusat kota itu.
Beth pernah beberapa kali kesana untuk mengantar kue.
"Punya teman, Ma!" Jawab Beth seraya melipat dengan hati-hati kemeja Fairel.
"Teman? Laki-laki? Itu kan kemeja dan celana laki-laki--"
"Dia temannya Rossie juga, Ma!" Sergah Beth cepat. Mama Tere semakin mengernyit.
"Jadi semalam di acara ulang tahun Rossie, Beth tak sengaja menabraknya dan membuat dia tercebut ke kolam." Beth mulai bercerita.
"Makanya Beth membawa pulang bajunya yang basah, llau mencucinya juga sebagai tanda permintaan maaf," ujar Beth lagi.
"Oh, begitu!" Mama Tere akhirnya paham dan mengangguk-angguk.
Beth sudah selesai menyetrika baju Fairel, lalu gadis itu memasukkannya ke dalam paperbag.
"Kau akan mengembalikannya?" Tanya Mama Tere memastikan.
"Iya, Ma! Dia kerja di Halley Development," jawab Beth cepat. Mama Tere kembali mengangguk.
"Hati-hati kalau begitu dan nanti segera kembali ke toko setelah mengembalikan baju itu," pesan Mama Tere yang langsung membuat Beth mengangguk patuh.
"Siap, Ma!"
****
[Beth, apa kau masih menjalin hubungan dengan Reandra?]-Yvone-
[Berhentilah, Beth! Sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan] -Yvone-
[Reandra bukan pria yang baik] -Yvone-
Beth baru sampai di Halley Development, saat deretan pesan dari Yvone mendadak masuk dan memenuhi ponsel Beth.
Sudah lama sekali memang Yvone tidak menghubungi Beth ataupun mengirim pesan, sejak pertikaian mereka kala itu.
Beth pikir, setelah sekian lama mereka saling diam, Yvone akan berubah, namun nyatanya mantan teman Beth itu sikapnya malah menjadi dan dia sekarang juga terang-terangan menyuruh Beth untuk menjauhi Reandra.
Dan apa tadi isi pesan Yvone?
Reandra bukan pria baik-baik? Dasar sok tahu!
Beth tak membalas pesan Yvone, dan gadis itu langsung menghapus deretan pesan dari mantan temannya tersebut.
Mantan?
Tentu saja mantan! Beth dan Yvone kan sudah tidak berteman sekarang!
Setelah menyimpan kembali ponselnya di saku baju overall yang ia kenakan, Beth lanjut turun dari motor seraya membawa paperbag yang berisi baju Fairel. Beth lalu masuk ke lobi utama kantor untuk menemui resepsionis.
Semoga Fairel masih di kantor dan belum keluar untuk makan siang!
"Selamat siang, Nona! Ada yang bisa dibantu?" Tanya resepsionist ramah.
"Selamat siang."
"Saya ingin bertemu Fairel..." Beth lupa bertanya pada Angga nama panjang Fairel siapa.
"Fairel...." Beth masih tampak berpikir.
"Pak Fairel Halley?" Tanya resepsionist memastikan.
"I---ya!" Jawab Beth ragu-ragu.
Kok nama belakang Fairel sama dengan nama perusahaan, ya? Apa mungkin ini memang perusahaan milik keluarganya Fairel?
"Ada?" Tanya Beth akhirnya setelah sejuta pertanyaan memenuhi kepalanya.
Entahlah! Beth tidak mau terlalu ambil pusing juga tentang Halley Development ini sebenarnya milik siapa. Beth hanya ingin bertemu Fairel, mengembalikan bajunya, sekalian minta maaf.
Semoga siang ini kepala Fairel sudah dingin dan pria itu mau memaafkan Beth!
"Ada, kebetulan belum keluar untuk makan siang. Silahkan duduk dulu, Nona!" Ucap resepsionist seraya menunjuk ke beberapa sofa yang memang ada di lobi. Beberapa orang juga terlihat duduk disana, jadi Beth ikut duduk saja, sembari menunggu resepsionist tadi memanggil Fairel.
Namun saat Beth baru beberapa menit mendaratkan bokongnya di sofa dan masih menyamankan diri, mendadak sudah terdengar suara ketus Fairel yang menggertaknya dari balik punggung.
Hah?
Cepat sekali datangnya.
"Sedang apa disini?" Tanya Fairel galak seperti biasa.
Beth langsung menoleh ke arah Fairel dan bangkit dari duduknya yang baru beberapa menit.
"Siang, Pak!"
"Maaf mengganggu." Beth menyapa Fairel terlebih dahulu sembari tersenyum manis, berharap Fairel tak akan emosi setelah ini.
Namun raut wajah Fairel masih tak berubah dan sepertinya pria itu memang pria yang pemarah. Aneh saja jika Rossie benar-benar mau menjadi pacar Fairel. Apa gadis itu tak merasa tersiksa?
"Sedang apa kau disini?" Tanya Fairel pada Beth yang malah larut dalam lamunannya, membayangkan Fairel adalah pacar Rossie.
Hihihi! Dasar aneh!
"Aku hanya ingin mengembalikan bajumu," ucap Beth akhirnya seraya menyodorkan paperbag yang sejak tadi oa bawa pada Fairel.
Fairel terlihat langsung memeriksa paperbag tersebut, sebelum kemudian pria itu mendelik tajam pada Beth.
Baiklah, apa salah Beth sekarang?
"Jadi tadi malam kau yang mencuri bajuku, hah?" Gertak Fairel kemudian dengan nada galak.
Oh, jadi semalam Fairel mencari bajunya yang ia tinggal di kamar mandi? Beth pikir Fairel tak mencarinya lagi dan malah sudah melupakannya.
"Kau mencuri bajuku, hah? Dasar pencuri!" Gertak Fairel sekali lagi yang langsung disanggah oleh Beth.
"Aku tak mencurinya!" Sergah Beth membela diri.
"Aku hanya mencucinya demi menebus rasa bersalahku karena sudah membuatmu kepleset dan jatuh ke kolam," ujar Beth lagi pada Fairel yang kini sibuk membuka celana panjang yang semalam pria itu kenakan sebelum terjun ke kolam. Sepertinya Fairel sedang mencari sesuatu.
Oh, iya! Mungkin Fairel sedang mencari kotak biri yang semalam Beth temukan di saku celananya. Segera Beth mengambil kotak itu dari tas dan menunjukkannya pada Fairel.
"Kau mencari ini?" Tanya Beth to the point yang langsung membuat Fairel terdiam beberapa saat.
Sebelum kemudian pria di depan Beth itu mengumpat kasar dan seperti sedang memaki seseorang bernama Keano.
Atau Beth salah dengar mungkin!
Fairel sudah menyambar dengan kasar kotak cincin biru tadi dari tangan Beth. Pria itu lalu membukanya dan wajah Fairel seketika berubah merah padam.
"Kosong! Tidak ada isinya saat aku temukan," ujar Beth cepat sebelum Fairel menuduhnya sekali lagi.
Tapi Beth memang berkata apa adanya karena kotak itu memang sudah kosong sejak semalam.
"Kau yang mengambilnya, kan?" Tuduh Fairel yang sudah langsung menuding pada Beth.
Kan, kan, kan! Dia tetap saja menuduh Beth!
Mungkin seharusnya Beth tidak usah mengembalikan baju pria ini dan juga kotak cincinnya.
"Kau yang mencurinya!" Bentak Fairel lagi lebih keras.
"Sama sekali tidak!" Sergah Beth menyangkal.
"Kembalikan cincinnya sekarang!" Bentak Fairel lagi lebih galak yang langsung membuat Beth beringsut mundur. Wajah Fairel benar-benar terlihat penuh emosi, dan sejujurnya Beth sedikit takut.
Tapi Beth harus bilang apa lagi? Cincinnya memang sudah tak ada saat Beth mencuci celana Fairel semalam. Apa mungkin cincinnya jatuh di kamar mandi di rumah Rossie....
"Kembalikan cincinnya!" Bentak Fairel lagi yang langsung membuat Beth geleng-geleng kepala dan terus beringsut mundur.
"Aku benar-benar tak tahu cincinnya dimana karena kotak itu sudah kosong-"
"Jangan bohong!" Fairel tiba-tiba sudah mencengkeram kedua pundak Beth yang tentu saja itu benar-benar diluar dugaan Beth. Bahkan delikan mata Fairel terlihat begitu menakutkan sekarang.
"Aku benar-benar tidak tahu," cicit Beth nyaris tanpa suara. Mata Beth mendadak terasa memanas karena cengkeraman Fairel di pundaknya yang terasa menyakitkan. Dan juga delikan mata Fairel yang sangat-sangat menakutkan.
Beth ingin menangis, tapi sekuat tenaga ia menahannya. Hingga akhirnya suara dari seorang pria membuat Fairel berhenti mendelik pada Beth serta melepaskan cengkeramannya di pundak Beth.
"Iel! Kau sedang apa?"
Disaat bersamaan, airmata Beth yang tadi sudah mendesak ingin keluar, mendadak langsung menetes begitu saja. Namun Beth yang tak mau Fairel melihat, segera berlari meninggalkan Fairel begitu saja.
Beth langsung menujunke tempat parkir, memakai helm dengan cepat dan bergegas meninggalkan Halley Development.
Semoga Beth tidak akan pernah bertemu dengan pria monster menyebalkan bernama Fairel itu lagi!
Selamanya!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.