
"Masih mau mengatakan kalau kau tak ada something padaku?" Ucapan serta tatapan tajam Fairel sontak langsung membuat Beth terdiam dan membisu. Gadis masih berusaha mencerna apa yang baru saja dilakukan oleh Fairel hingga apa yang dikatakan pria itu barusan.
"Ayo jujur!" Desak Fairel kemudian seraya menyatukan keningnya dengan kening Beth.
Beth berusaha untuk berontak, namun sia-sia karena kuncian Fairel rapat sekali.
"Jangan membuat aku harus menyakiti kamu lagi, Beth!" Ucap Fairel yang kini sudah ganti menangkup wajah Beth dengan satu tangannya.
"Cepat jujur!" Pinta Fairel sekali lagi.
"Jujur masalah apa? Bukankah aku tadi sudah mengatakannya?" Jawab Beth dengan suara yang sudah meninggi.
"Tapi kau tadi tak mengatakannya dengan jujur!" Sergah Fairel ikut-ikutan meninggikan suaranya.
"Aku sudah jujur! Aku memang tak ada something apapun padamu!" Ucap Beth tegas, yang langsung membuat Fairel mengendurkan kunciannya pada Beth.
"Kau sendiri bagaimana? Tadi sudah berkata jujur? Atau jangan-jangan kau itu yang ada something padaku!" Ujar Beth kemudian seraya bersedekap pada Fairel yang kini menatapnya dengan tajam.
"Ya! Aku memang ada something padamu!" Jawab Fairel akhirnya to the point sambil kembali mendekat ke arah Beth yang tampak kaget tak percaya.
"Kau pasti sedang bercanda, Iel!" Beth buru-buru mengangkat tangannya untuk menahan dada Fairel yang hendak menjepitnya ke dinding.
Lagi!
"Aku tidak bercanda, Beth Bethany!" Ucap Fairel membuat pengakuan.
"Aku ada something padamu dan aku rasa aku...." Fairel menatap Beth dengan tatapan yang aneh menurut Beth, karena ini sedikit berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.
Dan jantung Beth....
Astaga! Beth seolah lupa caranya bernafas.
"Aku rasa aku jatuh cinta padamu," ucap Fairel melanjutkan kalimatnya yang sontak langsung membuat Beth menelan ludah dengan susah payah.
"Kau jatuh cinta padaku juga, kan?" Tanya Fairel selanjutnya yang entah bagaimana ceritanya, pria itu sudah mendekap tubuh Beth sekarang.
"Mustahil..." gumam Beth masih tak percaya.
"Kau bahkan belum move on dari Rossie," cicit Beth lagi yang langsung membuat Fairel berdecak, lalu pria itu melepaskan dekapannya pada Beth dengan sedikit kasar.
"Aku sudah move on!" Sergah Fairel tegas.
"Tapi sikapmu pada Rossie dan Keano masih ketus kemarin--"
"Kemarin kapan? Aku hanya sedang badmood saat itu!" Sergah Fairel beralasan.
"Badmood kenapa?" Tanya Bety penasaran.
"Badmood karena kau yang terus-terusan mengajakku ribut dan berdebat!"
"Dan sekarang kau melakukannya lagi!"
"Kenapa kau itu keras kepala sekali dan sangat suka mengajakku berdebat? Mau membuatku mati muda karena darah tinggi?" Cecar Fairel panjang lebar yang langsung membuat Beth tertawa kecil.
"Kau saja yang menyebalkan dan kerap memancing," pendapat Beth di sela-sela tawanya.
"Dan kau juga lebih keras kepala dariku!" Imbuh Beth lagi yang kini sydah berhenti tertawa dan ganti menatap tajam.pada Fairel.
"Mau adu kepala untuk membuktikan kepala siapa yang paling keras, hah?" Fairel tiba-tiba sudah merangkul Beth dan menyatukan kepalanya dan kepala Beth.
"Apa, sih! Kurang kerjaan!"
"Kalau nanti aku gegar orak bagaimana?" seloroh Beth seraya menyikut dada Fairel. Namun kemudian Beth sedikit meringis karena lengannya kembali terasa nyeri.
"Sudah kubilang untuk ke UGD saja!" Fairel buru-buru mengusap lembut lengan Beth.
"Lebay! Seperti luka parah saja!" Gumam Beth serata berdecak.
"Jadi, kau ada something padaku, kan?" Tanya Fairel sekali lagi yangentah mengapa tak berhenti membahas hal tersebut.
"Tidak ada!" Jawab Beth cepat.
"Ck! Harus ada, Beth!" Geram Fairel yang kini sudah menangkup wajah Beth.
"Harus ada!" Tegas Fairel sekali lagi yang langsung membuat Beth merengut. Namun bukannya melepaskan tangkupannya pada wajah Beth, Fairel malah justru semakin menekan kedua pipi Beth hingga sekarang bibir Beth mirip ikan koi.
"Iel!" Gumam Beth dengan suara yang tak terlalu jelas.
"Bicara jujur kalau begitu!" Paksa Fairel seraya mengajukan syarat.
"Aku sudah jujur," ucap Beth tetap dengan suara yang tak jelas.
"Benar-benar kamu, Beth!!" Fairel benar-benar geregetan sekarang dan pria itu sudah menyatukan keningnya dengan kening Beth, sembari tangannya berada di tengkuk Beth.
"Mau apa?" Tanya Beth yang perasaannya mulai tak enak.
"Menciummu kalau kau masih tak bicara jujur," ucap Fairel blak-blakan.
"Kau tak akan melakukan--"
Kalimat Beth langsung terputus saat tiba-tiba Fairel sudah menyatukan bibirnya dengan bibir Beth. Kedua mata Beth sontak membelalak dan ini benar-benar di luar prediksi Beth.
Fairel mencium bibir Beth?
"Aku sudah melakukannya!" Ucap Fairel yang sudah melepaskan tautan bibirnya ke bibir Beth.
"Kau habis makan permen, ya? Bibirmu manis sekali!" Puji Fairel kemudian pada Beth yang masih mengerjap-ngerjapkan mata seolah baru mengumpulkan nyawa.
Tadi itu hanya mimpi, kan?
Fairel tak sungguh-sungguh mencium bibir Beth, kan?
Rasanya mustahil sekali!
Tapi kenapa rasanya begitu nyata?
Beth bahkan masih bisa merasakan hangat dan lembutnya bibir Fairel...
"Beth!" Fairel mengibaskan tangannya di depan Beth yang masih sibuk melamun.
Sekaligus memikirkan ciuman Fairel barusan!
"Beth!"
"Iya, apa?" Jawab Beth yang langsung tersentak kaget.
"Kenapa malah melamun? Mau aku cium lagi?" Tanya Fairel yang langsung membuat Beth membelalak dan meraba bibirnya sendiri.
"Kau tadi benar-benar menciumku?" Tanya Beth dengan raut wajah tak percaya.
"Aku tidak demam!" Beth langsung dengan cepat menyentak tangan Fairel.
"Lalu kenapa masih bertanya apa aku menciummu atau tidak! Tentu saja iya!" Jawab Fairel yang sudah kembali mengambil ancang-ancang dan sepertinya hendak mencium Beth lagi.
Astaga! Kok Fairel malah jadi mesum begini?
"Kau mau apa?" Beth segera mengangkat tangannya untuk menahan bibir Fairel yang hendak nyosor ke arahnya.
"Mau menciummu lagi. Bibirmu manis seperti permen," jawab Fairel blak-blakan yang langsung membuat Beth menggeram marah.
"Tidak boleh! Dasar mesum!"
"Kenapa tidak boleh? Kita kan sudah berstatus pacar sekarang," cecar Fairel yang tentu saja langsung membuay Beth membelalak tak percaya.
Sejak kapan juga Beth dan Fairel berstatus sebagai pacar? Tadi saja mereka masih ribut dan adu debat.
"Sejak kapan kita pacaran?" Tanya Beth seraya garuk-garuk kepala karena bingung.
"Sejak beberapa menit yang lalu. Saat kau mengatakan kalau kau ada something--"
"Aku tak ada something padamu!" Sergah Beth mengoreksi kalimat Fairel yang keliru. Agaknya Fairel sedikit salah paham atau salah dengar.
"Tapi aku ada!" Tukas Fairel blak-blakan.
"Iya, terus?" Beth memutar bola matanya.
"Iya kau juga harus ada!" Ujar Fairel memaksa.
"Pemaksaan sekali!" Gerutu Beth seraya bersedekap.
"Sudah aku cium juga harusnya kan sudah ada!" Sambung Fairel lagi.
"Tadi itu ciuman pertamamu, kan?" Tanya Fairel lagi memastikan. Pria itu juga sudah merangkul pundak Beth sekarang.
Beth tak langsung menjawab jawab dan gadis itu malah diam cukup lama.
"Katakan iya, Beth!"
"Aku benar-benar tak rela kalau ciuman pertamamu sudah kau berikan pada pria buaya brengsek berinisial R itu!" Suara Fairel sudah terdengar penuh emosi sekarang.
"Kalau kenyataannya begitu, lalu kau mau apa?" Ujar Beth yang langsung membuat Fairel menatap marah pada Beth.
"Jadi bukan aku yang pertama?" Tanya Fairel dengan wajah merah padam menahan amarah.
Ini benar-benar diluar prediksi Beth!
Lagipula, kenapa Fairel jadi semarah ini?
"Katakan, Beth! Aku yang pertama atau--"
"Beth!" Suara Abang Timmy dari pintu depan langsung menyela emosi Fairel yang sudah siap meledak.
"Iya, Bang! Masuk saja!" Jawab Beth sedikit tergagap, seraya gadis itu melirik ke arah Fairel yang wajahmya masih dipenuhi emosi.
Ya ampun!
Padahal Beth tadi hanya iseng memancing!
Kenapa Fairel jadi marah besar begini?
Dan yang sebenarnya, ciuman pertama Beth baru tadi bersama Fairel!
"Aku ke toilet dulu!" Ucap Fairel yang buru-buru pergi ke arah dapur, meninggalkan Beth dan juga Abang Timmy yang baru datang.
"Abang membawakan ponsel baru! Kata mama ponsel kamu rusak," ujar Abang Timmy seraya memberikan paperbag di tangannya pada Beth yang langsung tampak terkejut. Ingatan Beth seketika melayang ke kejadian semalam saat ia meminjam ponsel Mama Tere.....
"Ponsel kamu kemana memangnya?" Tanya Mama Tere saat Beth minta izin untuk memakai sementara ponsel sang mama yang memang jarang dipakai. Tph masih ada telepon rumah, misalnya nanti Mama Tere perlu menelepon Papa Will atau Abang Timmy.
Beth bukannya tak mau memakai ponsel pemberian Fairel, hanya saja, Beth merasa perlu menjaga jarak dari Fairel mulai sekarang. Dan mungkin Beth juga akan menjauhi Fairel....
"Beth!"
"Eee! Ponsel Beth rusak, Ma! Tadi jatuh saat di toko!" Ujar Beth seraya menunjukkan ponselnya yang tadi dibanting oleh Fairel.
"Astaga! Kenapa sampai hancur begitu? Kamu melemparnya?" Tanya Mama Tere seraya geleng-geleng kepala. Sedangkan Beth hanya meringis.
"Beth pinjam ponsel Mama dulu sampai Beth beli yang baru, ya, Ma!" Ujar Beth kemudian sedikit merayu sang mama.
"Iya! Pakai saja!" Jawab Mama Tere yang langsung membuat Beth memeluk mama kandungnya tersebut.
"Terima kasih Ma!"
"Beth! Kok malah melamun?" Teguran Abang Timmy langsung membuyarkan lamunan Beth.
"Eh! Enggak, kok, Bang!" Sanggah Beth cepat.
"Tapi ngomong-ngomong, kapan Mama ngasih tahu Abang Timmy kalau ponsel Beth rusak?" Tanya Beth kemudian.
"Tadi pagi! Malanya tadi Abang langsung membelikan yang baru buat kamu!" Tukas Abang Timmy seraya mengacak rambut Beth.
"Kamu periksa dulu ponselnya! Sesuai tidak dengan kebutuhan kamu," titah Abang Timmy selanjutnya.
"Memang bisa ditukar tambah kalau tidak sesuai, Bang?" Seloroh Beth seraya tangannya membuka dus ponsel yang dibawa Abang Timmy.
"Bisa! Gampang itu!" Jawab Abang Timmy santai.
"Ungu?" Decak Beth saat mendapati tampilan ponsel barunya yang berwarna ungu muda.
"Warna kesukaan kamu, kan?" Kekeh Abang Timmy yang langsung membuat Beth berdecak.
Beth lalu memeriksa setiap detail ponsel tersebut, dan juga fitur-fitur di dalamnya.
"Bagaimana?" Tanya Abang Timmy lagi meminta pendapat Beth.
"Beth suka, Bang!"
"Terima kasih!" Ucap Beth yang langsung membuat Beth memeluk sang abang dengan tulus.
Dan semua pemandangan tersebut tak luput dari tatapan Fairel yang mengintip dari kaca di pintu dapur. Emosi Fairel yang yadi sydah semoat reda, kini kembali naik ke ubun-ubun dan siap meledak seperti bom atom!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.