Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
BOLEH MENGINAP?


"Aaarrgghhh!! Auuuww!!"


"Kenapa kau mencakar tanganku, Beth?" Protes Fairel setelah tadi Beth melesakkan kukunya ke punggung tangan Fairel.


Salah Fairel yang tak kunjung mau melepaskan genggaman tangannya pada tangan Beth!


"Mana ada mencakar? Hanya satu kuku!" Sergah Beth sembari menunjuk ke punggung tangan Fairel yang kini terdapat bekas kuku Beth yang ternyata lumayan dalam.


"Hah? Berdarah, ya?" Beth langsung memeriksa dengan seksama untuk memastikan.


"Iya! Ini berdarah, jadi kau harus merawatnya agar tak infeksi!" Ucap Fairel berapi-api.


Beth hanya mencibir, lalu gadis itu segera mengusap sekaligus meniup-niup sebentar bekas lesakan kukunya tadi di punggung tangan Fairel.


"Sudah tidak usah lebay! Nanti juga sembuh," ucap Beth kemudian sembari mengusap-usap lagi punggung tangan Fairel.


"Bukan lebay! Tapi memang sakit seperti--"


"Digigit harimau!" Sergah Beth menyela sekaligus melanjutkan kalimat Fairel yang langsung mengerucutkan bibir.


"Digigit tyrex," gumam Fairel kemudian masih sambil merengut yang sontak langsung membuat Beth tergelak.


"Kau akan membiarkan lukanya terbuka begini, Beth?" Tanya Fairel lagu yang masih berekspresi lebay.


"Iya, lalu aku harus bagaimana? Membalutnya dengan perban?"


"Ini hanya luka kecil, Iel!" Beth benar-benar geregetan sekarang.


"Tapi sakit!" Fairel kembali merengek seperti bayi.


"Ck!" Beth hanya berdecak, sebelum kemudian gadis itu meniup-niup punggung tangan Fairel lagi.


"Sudah sembuh!" Tukas Beth kemudian.


"Nanti infeksi," Fairel masih merengut lebay.


"Tidak akan!"


"Sana pulang!" Usir Beth kemudian yang sudah ganti merengkuh kedua pundak kekar Fairel dari belakang, lalu mendorongnya ke arah pagar.


Mobil Fairel memang terparkir di luar pagar tadi.


"Tidak menawariku menginap?" Tanya Fairel sembari menengok ke belakang karena Beth masih terus mendorongnya.


"Tidak!"


"Tidak ada kamar yang kosong!" Jawab Beth tegas, bersamaan dengan mobil Papa Will yang sudah sampai di depan gerbang.


Oh, Beth baru sadar kalau Abang Timmy tadi pergi membawa mobil Papa.


Beth buru-buru membuka pagar depan agar mobil Papa Will yang dikemudikan Abang Timmy bisa masuk ke garasi.


"Abangmu bersama seorang wanita," ujar Fairel yang sudah menghampiri Beth yang masih berdiri di dekat pagar.


"Masa?" Pertanyaan Beth baru selesai, saat tiba-tiba Yvone sudah keluar dari pintu depan.


"Kan, aku benar!" Decak Fairel yang kini sudah ganti bersedekap .


"Itu calon istri Abang Timmy!" Beth menyikut perut Fairel sebelum kemudian gadis itu lanjut menghampiri Yvone.


Ternyata kekhawatiran Beth tadi sama sekali tak terbukti. Urusan penting Abang Timmy tadi rupanya adalah menjemput Yvone.


Syukurlah, kalau Abang Timmy sudah benar-benar move on dari Kath!


"Sudah mau pulang, Iel?" Tanya Abang Timmy yang baru turun dari mobil.


"Sebenarnya belum, Bang! Tapi sudah diusir oleh Beth," jawab Fairel yang tak jadi keluar dari pagar dan sekarang malah sudah menghampiri Abang Timmy.


Ya ampun!


"Mama dan Papa sudah tidur, Beth?" Abang Timmy ganti bertanya pada Beth.


"Belum!"


"Kenapa tak memanggilnya Kak?" Celetuk Fairel menyela kalimat Beth.


"Eh, iya juga, ya!" Beth sontak terkikik karena baru sadar tentang panggilannya terhadap Yvone.


"Kau kesini untuk mengapeli Beth, Iel? Kaloan jadinya sudah berkencan?" Cecar Yvone kemudian pada Fairel.


"Bukan berkencan lagi, Kak!"


"Kami akan segera menikah!" Jawab Fairel blak-blakan yang langsung membuat Yvone tampak terkejut.


"Serius?"


"Ya!"


"Kita akan jadi saudara ipar nanti!" Tukas Fairel lagi dengan nada lebay yang hanya membuat Beth mencibir.


"Kau akan menikah dengan pria itu?" Yvone ganti berbisik-bisik pada Beth.


"Tidak tahu! Sepertinya aku tadi sedikit mabuk saat menjawab ajakannya untuk menikah," jawab Beth sembari berbisik-bisik juga yang sontak langsung membuat Yvone tergelak.


"Masuk dan ngobrol di dalam sana, Beth!" Ujar abang Timmy kemudian memberikan kode agar Beth mengajak Yvone masuk.


"Kak Yvone jadinya menginap, Bang," tanya Beth memastikan.


"Iya! Nanti dia tidur bersama kamu," jawab Abang Timmy yang langsung membuat Beth bersorak.


Beth kemudian langsung mengajak Yvone masuk ke rumah, meninggalkan Fairel dan Abang Timmy yang masih berdiri di halaman.


"Beth! Tanganku bagaiamana? Aku tidak kau suruh menginap juga?" Cerocos Fairel merasa iri pada Yvone yang tadi dirangkul-rangkul oleh Beth.


Haish!


Padahal mereka sama-sama perempuan! Tapi kenapa Fairel tetap merasa cemburu?


"Kau mau menginap juga?" Tanya Abang Timmy kemudian pada Fairel yang kedua matanya langsung berbinat.


"Boleh, Bang? Nanti Iel tidur bersama Abang Timmy juga tak masalah!"


"Kamarnya bersebelahan dengan kamar Beth, kan?" Cecar Fairel panjang lebar yang langsung membuat Abang Timmy terkekeh.


"Tidak!"


"Kamarku di belakang," jawab Abang Timmy yang masih saja terkekeh.


"Yah!" Fairel langsung mendengus kecewa.


"Jadinya, kau mau pulang atau?"


"Iel pulang saja, Bang! Tadi juga sudah pamit pada Mama dan Papa," ujar Fairel yang sudah percaya diri sekali memanggil Mama dan Papa pada Mama Tere dan Papa Will.


Hahaha!


Kan sebentar lagi juga akan sah!


"Baiklah kalau begitu! Hati-hati mengemudi!" Pesan Abang Timmy seraya menepuk punggung Fairel.


Fairel melongok sekali lagi ke arah pintu depan tang sudah tertutup. Beth juga sudah tak terlihat dan sepertinya gadis itu sudah sibuk bersama Yvone di kamar.


Huh! Fairel akan menghubungi Beth via video call saja nanti!


"Iel pulang dulu, Bang!" Pamit Fairel sekali lagi pada Abang Timmy yang kini berdiri di dekat pagar.


Abang Timmy hanya melambaikan tangan, sebelum mobil Fairel melaju pergi menembus malam yang mulai larut.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.