Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
PERHATIAN?


"Apa salep ini juga bisa untuk lebam karena cengkeraman?" Tanya Fairel saat dokter meresepkan salep untuk mengurangi lebam di kelopak mata Fairel.


Tadi Fairel juga sudah melakukan serangkaian pemeriksaan pada matanya, dan kata dokter tak ada cedera serius. Lebam yang ada di sekitar mata Fairel semata hanya akibat dari pukulan Timmy yang tidak beradab.


Apa boleh kalau Fairel balik memukul abang Beth itu?


"Maksudnya bagaimana? Ada bagian lain tubuhmu yang lebam juga? Biar alu periksa sekalian," tawar dokter yang langsung membuat Fairel menggeleng.


"Bukan aku tapi adikku," jawab Fairel seraya meringis.


Adik hasil nemu apa, ya?


Lagipula, sejak kapan juga Beth jadi adiknya Fairel?


"Jadi adikku pundaknya biru-biru kemarin karena temannya yang usil merem*snya dengan kuat," tutur Fairel lagi sedikit mengarang indah.


Temannya yang usil? Maksudnya ya Fairel sendiri!


Tapi Fairel kan tidak sengaja waktu itu dan itu juga semacam gerakan refleks.


Sudahlah!


"Begitu!"


"Bisa saja! Tapi nanti kalau biru-biru di pundak adikmu belum hilang setelah dioleh salep atau adikmu mengeluh nyeri berkepanjangan, sebaiknya langsung kau bawa ke rumah sakit, ya!" Pesan dokter yang langsung membuat Fairel mengangguk paham.


"Siap, Dokter! Terima kasih sekali lagi," ucap Fairel sebelum lanjut berpamitan dan keluar dari ruang periksa. Fairel lalu segera pergi ke apotek untuk mengambil salep yang tadi diresepkan oleh dokter.


Telepon dari Ryan sudah langsung menyambut Fairel saat ia baru sampai di tempat parkir.


"Halo!" Sambut Fairel mengangkat telepon Ryan.


"Kau tidak ke kantor hari ini? Uncle Liam juga tak datang."


"Dad mungkin masih di rumah karena tadi Reina mendadak pingsan. Aku juga baru saja akan ke kantor," jawab Fairel sembari masuk ke dalam mobil.


"Reina kenapa?"


"Sakit, demam, tapi kata Mom sudah ada dokter yang datang untuk memeriksa," jelas Fairel pada sang sepupu.


"Oh, mungkin kecapekan setelah acara semalam. Dulu Nona juga langsung sakit setelah acara pernikahan kami."


"Kau sedang curhat? Atau sedang pamer padaku yang masih jomblo ini, hah?" Fairel langsung menyalak pada Ryan yang malah terkekeh di ujung telepon.


Dasar sepupu tak pengertian!


"Tukang kue bercelana kodok--"


"Aku tak mau dengar!" Teriak Fairel seraya menutup sepihak telepon dari Ryan. Fairel lalu membanting ponselnya ke jok samping karena emosi.


"Tukang kue bercelana kodok! Apa susahnya bilang Beth, Beth Beth!"


"Marybeth!" Fairel menggerutu sendiri hingga salah menyebut nama Beth.


"Bethany, ya? Kenapa jadi Marybeth? Siapa Marybeth?" Fairel kembali bergumam dan berbicara sendiri hingga lebih mirip orang gila.


Ah, terserah!


Fairel lanjut melajukan mobilnya ke arah Sweety Cake. Fairel akan mengantar salep untuk Beth dulu sebelum lanjut ke Halley Development.


****


Ping!


Beth sedikit tersentak saat mendengar suara ponselnya yang menandakan ada pesan masuk. Rupanya memang ada pesan masuk dari Yvone!


[Kondisi Timmy bagaimana, Beth? Apa sudah membaik?] -Yvone-


Beth segera melepaskan sarung tangan yang ia kenakan, dan mencuci tangan juga sebelum lanjut mengetik pesan balasan untuk Yvone.


[Ya! Sudah lebih baik. Atau kau bisa menjenguknya kalau kau khawatir] -Beth-


Pesan terkirim!


Beth lanjut keluar dari dapur toko lalu memanggil Shanty yang berjaga di belakang meja kasir.


"Shanty! Tolong kau lanjutkan rollcake-nya tadi , lalu nanti kau susun di showcase kalau sudah selesai!" Titah Beth pada sang karyawan.


"Baik, Kak!" Jawab Shanty sembari masuk ke dapur toko dan meninggalkan Beth yang kini ganti duduk di belakang meja kasir. Pesan dari Yvone sudah masuk lagi ke ponsel Beth.


[Menjenguk kemana? Kalau ke kost-nya aku tidak tahu alamatnya] -Yvone-


[Ke rumah! Bang Timmy pulang ke rumah semalam dan sekarang masih di rumah juga] -Beth-


Beth langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara lonceng di atas pintu masuk. Ada pelanggan datang dan ternyata adalah....


Fairel!


Tapi kenapa Fairel memakai kacamata hitam siang-siang begini?


Ping!


Suara pesan masuk di ponselnya, langsung membuat Beth mengalihkan perhatiannya dari Fairel ke ponsel lagi.


[Nanti aku akan mampir] -Yvone-


Beth tidak membalas lagi pesan Yvone dan gadis itu menatap pada Fairel yang sydah berjalan ke arah meja kasir.


Beth baru saja akan menyapa, saat Fairel tiba-tiba sudah menyodorkan sebuah salep di atas meja kasir.


Maksudnya apa?


"Ini apa?" Tanya Beth akhirnya karena bingung.


"Untuk pundakmu yang biru!" Jawab Fairel langsung pada intinya.


"Pundakku sudah baikan," sergah Beth cepat.


"Mana? Biar kulihat!" Fairel sedikit memaksa. Beth langsung menggeleng sembari merengut.


"Pakai kalau begitu!" Ucap Fairel akhirnya sambil kembali mendorong salep tadi agar lebih dekat ke arah Beth.


"Matamu sendiri bagaimana? Sudah periksa ke dokter?" Gantian Beth yang bertanya sembari mengendikkan dagu ke arah mata Fairel.


"Membuatku jadi mirip zombie!" Jawab Fairel seraya membuka sedikit kacamata hitamnya, demi menunjukkan pada Beth kondisi terbaru matanya.


Beth sontak menahan tawa.


"Kenapa malah tertawa? Sedang meledekku, hah?" Gertak Fairel galak.


"Tidak!" Sanggah Beth yang buru-buru menghentikan tawanya.


"Lalu salepnya kenapa tidak kau pakai saja?" Tanya Beth selanjutnya seraya mengambil salep yang tadi dibawakan oleh Fairel.


Bisa perhatian juga ternyata si tuan galak ini!


"Aku sudah punya dan itu adalah salep resep dari dokter," jawab Fairel memberitahu Beth.


"Oh, berarti kau sudah ke dokter? Tadinya kalau belum--"


"Mau mengantarku begitu? Memangnya kau mau memboncengku naik motor usangmu itu?" Cecar Fairel sok tahu.


"Barangkali kau mau," Beth mengendikkan kedua bahunya seraya tertawa kecil.


"Lain kali bilang ke abangmu itu kalau mau memukul orang itu cari tahu dulu kebenarannya dan jangan asal pukul saja!"


"Masih bagus aku tidak gegar otak!" Cerocos Fairel panjang lebar yang langsung membuat Beth meringis.


"Iya, nanti aku sampaikan," janji Beth kemudian.


"Kak Beth, ini kuenya mau disusun di dalam showcase semua?" Tanya Shanty yang sudah keluar dari dapur toko seraya membawa satu nampan rollcake aneka rasa yang tentu saja langsung membuat kedua mata Fairel berbinar.


Ini alasan lain Fairel tadi datang ke toko kue Beth!


"Iya, Shan! Susun saja semuanya!" Titah Beth sambil kembali menatap pada Fairel yang kini sedang menelan ludah, karena melihat rollcake buatan Beth.


"Bungkuskan juga untuk Pak Iel, Shan--"


"Kenapa bukan kau yang membungkus? Karyawanmu kan sedang sibuk!" Sergah Fairel menyela kalimat instruksi Beth pada Shanty.


"Baiklah!" Beth akhirnya bangkit berdiri dan meraih satu kotak kue untuk membungkus rollcake.


"Kau mau rasa apa?" Tanya Beth pada Fairel.


"Semuanya!" Jawab Fairel yang langsung membuat Beth memutar bola mata.


Dasar tukang makan!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.