Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
KENAPA?


"Kuenya sudah selesai?" Tanya sang tuan rumah saat Beth hendak meninggalkan gedung acara malam ini.


Ya, tugas Beth untuk menghias kue pengantin memang sudah selesai.


"Sudah. Dan semuanya juga sudah beres, Nyonya."


"Saya bisa langsung pamit, kan?" Tanya Beth memastikan.


"Ya! Silahkan!" Jawab sang tuan rumah yang langsung membuat Beth mengangguk. Beth lalu mengayunkan langkahnya ke arah pintu utama, saat tiba-tiba seorang gadis bergaun hitam menyapanya dari kejauhan.


"Beth!"


"Yvone?" Beth sedikit mengucek matanya untuk memastikan apa yang memanggilnya tadi benar-benar adalah Yvone. Penampilan Yvone sedikit berbeda malam ini. Gadis itu terlihat begitu glamour sama seperti tamu undangan lain.


"Iya, ini aku! Apa kau amnesia?" Cecar Yvone sedikit gemas karena melihat Beth yang tadi mengucek-ngucek matanya.


"Kau sedikit berbeda!" Kedua telunjuk Beth membentuk tanda kutip.


"Mungkin karena aku jarang dandan," tukas Yvone beralasan. Beth akhirnya hanya manggut-manggut


"Jadi, kau dapat undangan ke acara ini?" Tanya Beth selanjutnya merasa kepo.


"Ya! Kau juga, kan?" Yvone balik bertanya dan memastikan.


"Aku?" Beth langsung tertawa renyah.


"Aku jadi tukang kue saja," ujar Beth lagi sembari mengendikkan dagunya ke arah kue pengantin yang menjulang.


Oh, tapi itu bukan seluruhnya kue karena tingkat kedua sampai yang paling atas hanya sebatas dummy. Yang kue asli ya hanya yang bagian bawah!


"Oh, aku kira kau dapat undangan juga," gumam Yvone yang rupanya sudah salah terka.


"Ngomong-ngomong, apa Reandra datang juga? Yang nikahan teman kantormu dan Reandra, ya?" Cecar Beth lagi pada Yvone yang masih tampak bergumam sendiri.


"Apa?" Tanya Yvone yang tadi tak fokus dengan pertama Beth.


"Reandra dapat undangan juga tidak? Kalian kan satu kantor." Beth mengulangi pertanyaannya dan Yvone langsung mengedarkan pandangannya ke beberapa sudut ruangan, seolah sedang nencari keberadaan seseorang.


"Itu!" Ujar Yvone akhirnya sembari menunjuk ke arah seorang pria yang Beth cari-cari.


Ya ampun! Ya ampun!


Akhirnya Beth bertemu lagi dengan Reandra.


"Reandra!" Panggil Beth sedikit lebay sembari melambaikan tangannya ke arah Reandra yang kini berdiri tak jauh dari stand minuman.


"Reandra!" Beth kembali memanggil dengan girang, kali ini sambil menghampiri Reandra yang sedikit bingung.


"Hai, Beth!" Sapa Reandra akhirnya.


"Hai! Kau datang juga?" Beth sedikit berbasa-basi pada Reandra yang malam ini begitu tampan mengenakan setelan jas seperti tamu-tamu pria yang lain.


"Iya, kebetulan dapat undangan."


"Kau? Kenal juga dengan pengantin malam ini?" Gantian Reandra yang bertanya pada Beth.


"Tidak!"


"Tapi aku kenal dengan ibunya si pengantin. Kebetulan beliau langganan di Sweety Cake, jadi--"


"Beth yang mendekor kue pengantin malam ini," potong Yvone yang turut menjelaskan pada Reandra yang langsung membulatkan kedua bibirnya. Reandra lalu ganti menatap pada kue pengantin hasil karya Beth.


"Cantik sekali kue buatanmu," puji Reandra kemudian.


"Terima kasih. Nanti kalau kita menikah--"


"Apa?" Potong Reandra yang sedikit kaget mendengar kalimat blak-blakan dari Beth.


"Maksudku kalau kau menikah, aku akan dengan senang hati mendekor kue pengantinmu juga," ujar Beth mengoreksi kalimatnya.


"Ooh!"


"Tapi aku masih belum ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat," tutur Reandra membuat pengakuan.


"Kenapa? Belum ada calonnya? Aku siap, kok!" Sergah Beth cepat yang langsung membuat Yvone berdehem.


"Kenapa, Yv?" Beth langsung menoleh ke arah sahabatnya tersebut dan menatap tak mengerti pada Yvone.


"Tidak kenapa-kenapa, Beth!" Jawab Yvone cepat.


"Tapi kau tadi berdehem." Beth sedikit bergumam dan merasa aneh dengan sikap Yvone.


"Ayo kita pergi." Yvone sudah ganti menarik tangan Beth, saat kemudian Beth menolak.


"Aku masih mau ngobrol bersama Rean, Yv!" Tukas Beth keras kepala.


"Rean?" Yvone tertawa aneh saat Beth memanggil Rean pada Reandra.


"Iya itu panggilanku pada Reandra!"


"Bukan begitu, Rean?" Beth tiba-tiba sudah menggamit lengan Reandra tanpa sungkan, hingga membuat Reandra sedikit tersentak. Namun kemudian Reandra langsung ganti merangkul Beth.


"Iya!" Ujar Reandra menanggapi pernyataan Beth tadi.


"Ngomong-ngomong, aku haus. Kau haus juga, Rean?" Tanya Beth seraya berlalu ke meja berisi minuman. Seorang pria yang sejak tadi berdiri di dekat meja minuman mendadak langsung pergi begitu Beth ingin mengambil minum.


Aneh!


Tapi Beth seperti kenal dengan pria tadi.


Tapi siapa?


"Ambilkan satu juga untukku, Beth!" Seru Reandra yang langsung membuyarkan lamunan Beth tentang pria asing yang baru saja pergi tadi.


"Oke!" Jawab Beth yang bergeags mengambil dua minuman. Satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk Reandra.


"Jangan mempermainkannya!"


Beth sekilas masih bisa mendengar ucapan Yvone pada Reandra, sebelum gadis itu berlalu pergi.


Jangan menpermainkannya?


Maksud Yvone apa, ya?


"Yvone kenapa, Rean?" Tanya Beth yang sudah menghampiri Reandra sekaligus mengangsurkan gelas berisi minuman pada pria tersebut.


"Aku juga tidak tahu!" Jawab Reandra seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Jangan sampai Yvone cemburu--" Beth sedikit bergumam dan mendadak ingatannya tertuju pada prsan Yvone tempo hari yang langsung dihapus.


[Aku masih di hotel]


"Kau tadi bicara apa, Beth?" Pertanyaan Reandra langsung membuyarkan lamunan Beth.


"Yvone mungkin cemburu pada kedekatan kita." Beth menatap pada Reandra yang malah balik melempar tatapan aneh ke arah Beth.


Apa Beth salah bicara?


"Maksudnya cemburu?" Reandra mengernyit heran.


"Kau dan Yvone barangkali punya hubungan khusus--"


"Kami sepupu!" Sergah Reandra cepat.


"Sepupu jauh atau..." Beth sedikit menerka-nerka.


"Mamanya Yvone adalah kakak kandung Papaku," jelas Reandra yang langsung membuat Beth membulatkan kedua bibirnya.


"Kalian satu kantor juga?" Tanya Beth kepo.


"Kantor?" Reandra kembali mengernyit.


"Iya, kau dan Yvone bekerja di kantor yang sama, kan? Dulu kata Yvone begitu. Tapi anehnya Yvone selalu bilang tidak tahu saat aku tanya mendetail tentang dirimu," cerocos Beth panjang lebar yang langsung membuat Reandra kembali mengernyit.


"Kami tidak bekerja di kantor pada umumnya," jelas Reandra kemudian yang kali ini ganti membuat Beth mengernyit.


"Maksudnya bagaimana?" Tanya Beth bingung.


"Sudah lupakan saja dan ayo kita berdansa!" Ajak Reandra mengalihkan pembicaraan sembari menarik tangan Beth ke tengah-tengah ruangan untuk bergabung bersama beberapa tamu yang sudah berdansa.


"Tapi aku tak bisa berdansa, Re!" Cicit Beth yang sesikit salah langkah, lalu tersandung dan menabrak dada Reandra.


Ya ampun, kesempatan sekali!


"Maaf!" Ucap Beth sedikit tersipu.


"Tidak apa-apa!" Kau baik-baik saja, kan? Kita lanjut berdansa, ya!" Ujar Reandra yang tangannya sudah berada di pinggang Beth sekarang.


"Aku tidak bisa. Bagaimana kalau nanti aku menginjak kakimu?" Tanya Beth ragu saat Reandra membimbing tangannya agar berada di dada pria itu.


"Pelan-pelan saja dan jangan gugup!" Ujar Reandra sembari menatap wajah Beth. Terang saja hal tersebut langsung membuat wajah Beth terasa memanas.


"Tidak ada yang marah kalau kita berdansa begini?" Tanya Beth yang akhirnya sedikit demi sedikit mulai bisa mengikuti gerakan dansa Reandra.


"Tidak ada!"


"Aku belum punya pacar," jawab Reandra bersungguh-sungguh.


"Aku tak keberatan jadi pacarmu," gumam Beth penuh percaya diri yang entah didengar Reandra atau tidak.


"Apa, Beth?" Tanya Reandra yang rupanya tak mendengar gumaman Beth.


Sayang sekali!


"Tidak apa-apa!" Jawab Beth cepat sambil terus menikmati dansanya bersama Reandra.


Kalau jodoh memang tak kemana, ya!


****


"Reandra!" Fairel berdecak sendiri saat pria itu melihat dari kejauhan, si tukang kue yang kini berdansa dengan pria yang bernama Reandra tadi.


"Seperti tak ada nama lain saja!" Dengkus Fairel kemudian seraya berlalu ke arah balkon yang lebih sepi.


Fairel lalu membuka ponselnya yang sejak pulang dari airport belum ia buka. Bagaimana mau membuka ponsel, jika Fairel saja langsung disuruh Dad Liam pergi ke gedung menyebalkan ini sesaat setelah ia tiba di rumah. Fairel bahkan belum sempat memeriksa pesannya pada Rossie kemarin dan kemarinnya lagi yang....


"Belum dibaca?" Dengkus Fairel saat mendapati pesannya pada Rossie yang hanya sekedar terkirim dan belum dibuka oleh gadis itu.


"Mungkin Rossie sedang sibuk!" Fairel bermonolog sendiri dan berusaha berpikir positif.


"Toh aku juga tak punya saingan sekarang! Keano sudah punya Mawar dan Rossie pasti akan menerima cintaku cepat atau lambat. Rossie hanya masih jual mahal saja sekarang!" Gumam Fairel lagi sembari pria itu menyesap minumannya.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.