
"Ieel!!" Beth masih menatap geram pada Fairel yang kini tetap tersenyum tanpa dosa seraya menindihnya di atas panggung pelaminan. Padahal kemarin saat janji pernikahan hal ini sudah terjadi dan penyebabnya juga sama-sama karena ciuman Fairel pada Beth. Lalu krnapa sekarang hal ini harus terulang lagi di acara resepsi pernikahan?
Mungkin suami Beth ini perlu diruwat!
"Mau lanjut ke kamar, Beth?" Tawaran dari Fairel langsung membuyarkan lamunan Beth.
"Apa?"
"Mau lanjut ke kamar? Kau suka sekali jatuh saat aku cium. Jatuhnya telentang lagi," kekeh Fairel sembari bangkit berdiri, lalu ganti membantu Beth untuk berdiri. Mom Yumi, Mama Tere, lalu Alice dan juga Aunty Audrey juga suda ikut menghampiri Bety dan membantu wanita itu bangun juga. Gaun Beth yang lumayan besar, memang sedikit membuat Beth kesulitan saat berdiri.
"Kenapa bisa jatuh, Beth?" Tegur Mama Tere yang langsung menatap geram pada sang putri yang kini merengut
"Mungkin bukan salah Beth, Bu Tere! Kemarin juga saat Beth jatuh kan juga karena di dorong oleh Fairel!" Mom Yumi langsung angkat suara dan menatao geram pada Fairel yang malah meringis tanpa dosa.
"Kau yang mendorong istrimu, Iel?" Aunty Audrey langsung menengahi dan bertanya langsung pada Fairel.
"Iel hanya menciumnya, Aunty! Beth langsung hilang keseimbangan--"
"Makanya ciumnya pelan-pelan dan jangan sambil didorong!" Sergah Beth bersungut pada Fairel yang langsung bergerak cepat untuk merangkul istrinya tersebut. Sementara Alice yang tadi sempat pergi setelah membantu Beth bangun, sudah kembali lagi seraya membawakan segelas air minum untuk Beth.
"Minum dulu, Beth!"
"Dan annti kalau mau mencium pelan-pelan saja, Iel! Sambil kau tahan punggung Beth agar istrimu tak hilang keseimbangan lagi--"
"Dia memang hobi jatuh, Alice!" Sergah Fairel menyela yang langsung berhadiah tinjuan di dada oleh Beth.
"Tetap harus hati-hati! Takutnya Beth sedang hamil sekarang--"
"Kau hamil, Beth?" Tanya Mama Tere dan Mom Yumi serempak. Beth tentu saja langsung membelalak, sebelum kemudian wanita itu menatap tajam pada Alice yang asal membuat pernyataan.
"Aku hanya menerka-nerka. Kan kalian sudah hampir satu bulan menikah," ringis Alice sembari mengendikkan kedua bahunya. Sementara Aunty Audrey langsung tertawa kecil dan menepuk pundak Alice.
"Sebenarnya yang dikatakan Alice ada benarnya. Sebaiknya kau berhati-hati menjaga Beth, Iel! Kalau sudah tahu istrimu mudah jatuh atau hilang keseimbangan, ya jangan dibuat jatuh!" Nasehat Aunty Audrey akhirnya setelah wanita paruh baya tersebut angkat bicara.
"Iya Aunty!"
"Jadi, kau sudah hamil, Beth?" Tanya Mama Tere sekali lagi pada sang putri.
"Belum tahu, Ma! Baru satu oekan lalu Beth selesai dapat tamu bulanan," jeoas Beth yang masih sedikit merengut.
"Kenapa kau cemas? Beth dan Fairel kan sudah menikah hampir satu bulan, Tere! Kalaupun Beth hamil itu hal yang wajar," bisik Aunty Audrey sembari mengusap punggung Mama Tere yang raut wajahnya memang terlihat cemas.
"Aku cemas karena tadi Beth jatuh dan misalnya dia hamil--"
"Tuhan akan menjaga calon cucumu, misalnya Beth memang sudah hamil," tukas Aunty Audrey cepat menenangkan Mama Tere.
"Kau sudah punya cucu, Audrey?" Tanya Mama Tere kemudian berbasa-basi pada Aunty Audrey. Namun kemudian wanita paruh baya itu malah menepuk keningnya sendiri.
"Ah iya! Putrinya Alice, ya!" Ujar Mama Tere kemudian menjawab pertanyaan sendiri. Aunty Audrey sontak tertawa kecil.
"Ada juga yang sedang OTW," tukas Aunty Audrey kemudian.
"Putri sulungmu, ya!" Tebak Mama Tere cepat.
"Iya, itu! Semoga kau juga secepatnya menyusul, Tere!" Ucap Aunty Audrey kemudian seraya mengusap punggung Mama Tere.
"Aamiin!"
Disaat bersamaan, lampu ruangan sudah meredup dan musik lembut mulai mengalun.
"Audrey!" Panggil Uncle Kyle seraya merangkul mesra pundak Aunty Audrey.
"Aku sedang bekerja, Kyle!"
"Ada Alice! Ayo dansa dulu!" Uncle Kyle lalu langsung membimbing Aunty Audrey ke tengah ruangan, bergabung bersama tamu lain dan juga Fairel dan Beth yang sudah memulai dansa mereka.
"Tere, aku duluan!" Pamit Aunty Audrey yang hanya dudengar samar oleh Mama Tere yang mengulas senyum tipis.
"Ayo ikut juga!" Bisik Papa Will yang entah sejak kapan sudah berada di balik punggung Mama Tere.
"Aku sudah lupa caranya!" Tukas Mama Tere beralasan.
"Tidak apa! Nanti aku ajari!" Papa Will lalu langsung membimbing Mama Tere untuk bergabung bersama tamu lain.
****
"Pelan-pelan dan jangan mendorongku!" Ucap Beth entah sudah yang keberapa kali pada Fairel yang kini sedang berada di depannya, seraya menggenggam tangan kanan Beth dan merangkul pinggang Beth juga.
Ya, pasangan suami istri itu memang tengah berdansa.
"Iya! Siapa juga yang tadi mendorongmu," sanggah Fairel yang masih tak mau mengakui perbuatannya.
"Kau!" Sergah Beth sembari bersungut. Fairel sontak terkekeh dan langsung mencium bibir Beth.
"Ngomong-ngomong, kenapa Abang Timmy dan Kak Yvone tak berdansa? Mereka marahan?" Tanya Fairel yang langsung membuat Beth buru-buru menatap ke arah Abang Timmy dan Kak Yvone yang memang hanya duduk di sudut ruangan dan saling diam.
"Mereka saling mencintai!" Sergah Beth cepat menyangkal kalimat Fairel.
"Mungkin mereka hanya sedang lelah saja," gumam Beth yang masih tak mengalihkan tatapannya ke arah Abang Timmy dan kak Yvone.
"Kalau kita berdua tak pernah lelah, kan. Nanti setelah ini kita lanjut lembur sampai pagi!" Ucap Fairel penuh semangat yang tak terlalu digubris oleh Beth.
Beth masih sibuk menatap ke arah abang Timmy dannjuga Yvone. Kenapa juga Abang Timmy tak ada inisiatif untuk mengajak Kak Yvone berdansa. Tidak mungkin Abang Timmy masih memikirkan wanita bernama Kath itu, kan? Abang Timmy saja sudah tidur sekamar bersama Yvone setiap malam di rumah Mama dan papa. Jadi pasti sudah terjadi something di antara mereka.
"Beth!" Teguran Fairel langsung membuyarkan lamunan Beth.
"Apa?"
"Ada Keano dan istrinya!" Jaeab Fairel sedikit ketus sembari mengendikkan dagu ke balik punggung Beth.
Beth segera berbalik dan mengulas senyum pada Rossie dan Keano.
"Oh, hai! Baru datang?" Beth sedikit berbasa-basi pada pasangan di depannya tersebut, lalu melirik Fairel yang raut wajahnya tampak ketus dan tak bersahabat.
Ketemu mantan kok malah ketus begitu!
"Iya, kami sedikit terlambat karena--"
"Bukan sedikit lagi, tapi sudah amat sangat terlambat!" Sergah Fairel berapi-api.
"Kami tadi ada acara, Bang!" Sergah Keano beralasan.
"Penting kan mereka sudah datang, Iel!" Beth segera menyenggolundak Fairel yang wajahnya masih ketus.
"Sekali lagi kami minta maaf karena terlambat, Kak Beth dan abang Iel." Gantian Rossie yang berucap.
"Kak Beth?" Beth sontak tertawa kecil dan melirik lagi ke arah Fairel.
"Keano memanggilnya begitu juga," ujar Rossie beralasan.
"Abang Iel memang lebih tua--"
"Kau itu yang lebih tua dari aku! Lahirnya saja duluan kau!" Sergah Fairel yang merasa tak terima dianggap tua oleh Keano.
"Tapi kan Uncle Liam lebih tua dari Mama, Bang---"
"Sssshhhh!!" Fairel langsung mengibaskan tangannya di depan wajah Keano.
"Berhenti memanggil Bang mulai sekarang! Toh kau juga tak memanggil Bang pada Ryan atau Kak pada Lea!"
"Iya, mereka kan memang lebih muda--"
"Tapi kan Aunty Thalita lebih tua dari Mami kamu!" Sergah Fairel cepat.
"Tapi kan Keano tetap memanggil Kak pada Kak Zeline dan Bang pada Abang Sakya!" Ujar Keano kembali beralasan.
"Aku tak bertanya yang itu!" Cibir Fairel cepat.
"Jadi kesimpulannya bagaimana?" Tanya Beth menengahi.
"Aku tak amu kau panggil Abang mulai sekarang! Panggil Iel saja!" Ujar Fairel sembari menatap tajam pada Keano.
"Siap, Bang--"
Fairel langsung mendelik pada Keano.
"Maaf, Iel!"
"Astaga, aku lancang sekali!" Keano berbisik pada Rossie, lalu mencium belakang telinga istrinya itu juga. Fairel sontak berdecak melihat adegan tersebut.
"Maaf, Iel!" UcaUcap o Keano sekali lagi.
"Ya! Aku maafkan dan pergi sana!" Usir Fairel kemudian yang langsung berhadiah senggolan di lengan dari Beth.
"Sana! Jauh-jauh kalau mau dansa, ya!" Usir Fairel lagi yang hanya membuat Keano dan Rossie terkekeh. Pasangan suami istri itu lalu segera berlalu dari hadapan Fairel dan Beth.
"Masih cemburu?" Cibir Beth sembari melepaskan rangkulan Fairel.
"Beth, mau kemana?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.