Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
PASSWORD


"Makan semuanya!" Ucap Fairel seraya memindahkan beberapa lauk dari kotak makannya ke kotak makan Beth.


Ya, meskipun tadi Beth sempat enggan ikut makan bersama Fairel, namun paksaan dari pria itu akhirnya membuat Beth keluar juga dari dapur, lalu duduk bersama Fairel dan menikmati makan malam yang sudah dipesan oleh Fairel.


"Apa maksudnya ini? Kenapa semua makananmu kamu pindahkan ke kotakku?" Protes Beth merasa tak terima.


"Agar kamu tak kurang gizi!" Jawab Fairel seraya menatap pada Beth yang langsung merengut.


"Siapa juga yang kurang gizi," gumam Beth dengan bibir yang mengerucut.


Sesaat suasana hening karena Beth dan Fairel sama-sama fokus pada makanan mereka.


"Kau akan pulang setelah ini, kan?" Tanya Beth yang akhirnya buka suara.


"Pekerjaanku belum selesai--"


"Selesaikan saja di kantor kalau begitu!" Sergah Beth menyela.


"Kantor sudah tutup," ujar Fairel lagi seraya pria itu memasukkan potongan ayam ke dalam mulutnya.


"Selesaikan di rumah besarmu kalau begitu! Aku juga ingin pulang dan istirahat!" Sungut Beth kemudian yang langsung membuat Fairel berdecak.


"Istirahat ya tinggal istirahat! Aku tak akan mengganggu!" Tukas Fairel santai. Fairel sudah menghabiskan malan malamnya, dan pria itu kembali fokus ke laptopnya.


Beth yang sudah benar-benar kesal, akhirnya memilih untuk membawa makanannya ke dapur saja.


"Halo, Mom!"


Beth menghentikan langkahnya sejenak, saat mendengar Fairel yang sepertinya sedang menelepon sang Mom.


Kesempatan bagus.


"Iel masih lembur, Mom! Mungkin sampai jam sembilan." Ucap Fairel lagi.


Beth segera bergerak dalam diam untuk kembali menghampiri Fairel. Beth punya satu misi penting sekarang....


"Bukan! Bukan Dad yang menyuruh!"


"Iel--"


"Dapat!" Beth tiba-tiba sudah merebut ponsel yang tadi masih ditempelkan Fairel di telinganya.


Apa?


"Halo, Tante Yumi!" Beth langsung meletakkan ponsel Fairel di telinganya dan buru-buru bicara pada Tante Yumi sembari menjauh dari Fairel.


"Halo?"


"Tante, ini Beth!" Ucap Bethany to the point.


"Beth? Kau bersama Fairel?"


"Beth kembalikan ponselku!" Fairel mengejar Beth yang terus berputar-putar di toko untuk menghindari Fairel. Beth juga berusaha fokus pada pembicaraannya di telepon bersama Tante Yumi.


"Iya, Tante! Fairel sebenarnya tak di kantor tapi sedang di--"


"Auuuwww!" Beth yang tak memperhatikan langkahnya, tiba-tiba langsung jatuh tersungkur ke depan karena tersandung sesuatu, dan ponsel Fairel yang tadi Beth genggam ikut terlempar entah kemana.


Hah!


Apa yang barusan menjegal kaki Beth dan membuatnya tersungkur?


"Bagus sekali! Lihat perbuatanmu!"


Beth baru saja bangun saat ia sudah diperlihatkan layar ponsel Fairel yang pecah.


"Hah?" Beth sontak membelalak dan ternganga tak percaya.


"Tapi aku tak sengaja menjatuhkannya tadi karena ada...."


"Ada apa?" Fairel mendelik-delik pada Beth.


"Ada kaki misterius yang menjegalku," cicit Beth kemudian yang langsung membuat Fairel berdecak.


Beth juga bingung ia tadi tersandung apa sebenarnya apa.


"Kaki misterius!" Cibir Fairel tak percaya.


"Tapi pasti masih bisa diperbaiki!" Beth sudah mengambil ponsel Fairel dan berusaha menyalakannya.


"Ayo menyala, ponsel!"


"Astaga! Aku sedang tak punya uang untuk ganti rugi!" Wajah Beth mulai panik sekarang dan gadis itu ingin menangis saja.


"Ayo menyala! Menyala!"


"Kenapa ponselmu tak mau menyala?" Tanya Beth kemudian pada Fairel dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kau baru saja membantingnya. Bagaimana dia mau menyala?" Jawab Fairel seraya mendelik pada Beth yang langsung merengut.


"Tapi aku benar-benar tak sengaja, Iel!" Beth mulai menangis sekarang.


"Dan aku tak punya uang untuk mengganti ponsel mahalmu itu," ujar Beth lagi sembari berusaha menyeka airmatanya.


"Iya sudah, tak perlu menangis!" Fairel yang akhirnya merasa tak tega dengan wajah melas Beth, langsung meraih beberapa lembar tisu dari atas meja, lalu menyodorkannya pada Beth.


"Aku minta maaf," cicit Beth lagi.


"Aku maafkan tapi kau harus--"


"Aku sedang tak punya uang, Iel!" Sergah Beth cepat kembali menatap melas pada Fairel.


"Atau kau pakai ponselku saja!" Beth mengambil ponselnya yang ia simpan di saku, lalu menyodorkannya pada Fairel.


"Ponselmu butut!" Komentar Fairel berterus terang karena ponsel Beth yang memang begitu adanya.


"Masih berfungsi dengan baik, kok! Modelnya saja yang jadul karena aku sudah terlanjur nyaman," ujar Beth beralasan dan Fairel sontak mencibir.


"Sudah terlanjur nyaman!" Fairel langsung menyambar ponsel Beth dan menyalakannya. Namun teenyata ponsel memakai password.


"Sini aku ketikkan!" Beth hendak mengambil kembali ponselnya, namun dicegah oleh Fairel.


"Bilang saja password-nya apa! Aku yang ketik!" Ucap Fairel tegas.


"Password-nya...."


"Apa?" Tanya Fairel tak sabar.


"Aku ketikkan saja! Aku lupa belum mengganti password-nya!" Beth berusaha mengambil lagi ponselnya. Namun masih gagal.


"Belum mengganti password?"


"Jangan bilang kalau password-nya Reandra!" Fairel langsung mengetikkan nama Reandra di ponsel namun ternyata salah.


"Sini aku ketikkan saja!" Pinta Beth bersikeras dan tatapan Fairel kembali menajam padanya.


"Sebutkan, Beth!" Perintah Fairel lebih tegas.


"Bethrean pakai huruf kecil semua," ucap Beth akhirnya yang langsung membuat Fairel mengetikkan password sesuai yang dikatakan Beth.


Ponsel langsung terbuka!


"Dasar bucin!" Cibir Fairel seraya mengembalikan ponsel Beth dengan kasar.


Pria itu lalu segera kembali ke meja dan membereskan laptop serta peralatannya.


"Aku akan pulang!" Ucap Fairel yang sepertinya sedang kesal.


Kesal kenapa, coba? Perihal password saja sampai segitunya!


"Tidak jadi membawa ponselku?" Tanya Beth kembali menawarkan.


"Tidak usah!" Jawab Fairel galak.


"Malas sekali menulis password apa tadi?"


"Bethrean?" Fairel sudah bersungut-sungut tak jelas.


"Sudah aku ganti password-nya!" Beth menyodorkan ponselnya ke arah Fairel.


"Ganti apa? Jadi Reandra? Atau tanggal lahir Reandra jangan-jangan!" Fairel terus bercerocos panjang kali lebar.


"Bukan!" Sanggah Beth cepat.


"Sudah tidak ada hubungannya dengan Reandra lagi!" Ujat Beth bersungguh-sungguh.


"Tidak usah!"


"Aku mau pulang!" Tandas Fairel yang sudah nenyampirkan tas laptopnya di pundak. Pria itu lalu menyambar totebag berisi rollcake dan segera keluar dari toko Beth.


"Ya sudah! Pulang saja!"


"Dasar menyebalkan!" Cibir Beth yang akhirnya kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Aku juga mau pulang dan tidur!" Beth masih menggerutu, sembari gadis itu pergi ke dapur untuk memeriksa semua peralatan apa sudah ia matikan atau belum.


Setelah memastikan semuanya beres, Beth langsung menuju ke pintu depan. Namun alangkah terkejutnya Beth saat ia melihat Fairel yang rupanya masih berdiri di depan pintu dan belum pulang.


"Hah! Kau mengagetkanku!" Jerit Beth yang jantungnya nyaris copot tadi.


"Memangnya kau pikir aku hantu?" Sungut Fairel sembari bersedekap pada Beth.


"Lalu sedang apa disini? Katanya tadi mau pulang?" Cecar Beth kemudian ikut-ikutan bersedekap.


"Menunggumu!" Jawab Fairel ketus.


"Menungguku? Aku bisa pulang sendiri!"


"Aku bawa motor," ucap Beth ikut-ikutan ketus. Beth lalu hendak keluar, namun Fairel menghalangi.


"Tinggalkan saja motormu disini dan aku akan mengantarmu!"


"Tidak usah!" Tolak Beth cepat.


"Rumahku tidak jauh!" Imbuh Beth lagi.


"Tetap saja ini sudah malam!"


"Mana kunci motormu? Biar aku yang memasukkan!" Fairel sudah mengambil kunci yang tadi dipegang Beth, lalu pria itu segera memasukkan motor Beth ke dalam toko.


"Ish! Aku bisa pulang sendiri, Iel! Kenapa harus--"


"Ssshhhh! Diam!" Fairel mengibaskan tangannya ke arah Beth, memberikan isyarat agar gadis itu tak protes lagi. Fairel lalu lanjut menutup pintu beserta rolling door toko Beth juga.


"Ck!" Beth akhirnya hanya berdecak dan gadus itu segera menuju ke mobil Fairel, lalu membuka pintu belakang. Namun rupanya jok belakang sudah penuh dengan tas laptop serta rollcake Fairel tadi serta ada beberapa barang yang entah apa.


Ya ampun!


"Naik di depan, Beth!" Ucap Fairel yang sudah menyusul ke mobil. Beth akhirnya hanya mendengus dan masuk ke jok depan tepatvdi sebelah kursi pengemudi.


"Padahal aku sangat bisa pulang sendiri!" Beth masih menggerutu setelah masuk ke dalam mobil.


"Iya, bisa pulang sendiri! Tapi nanti kalau bertemu pria tampan di jalan bisa-bisa kau lupa jalan pulang!" Sahut Fairel dengan ekspresi mencibir.


"Apa maksudmu?" Beth menatap tak mengerti pada Fairel.


"Bukan apa-apa! Pakai sabuk pengamanmu!" Perintah Fairel sebelum pria itu melajukan mobilnya dan meninggalkan Sweety Cake.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.