Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
LABIL


Fairel yang sedang fokus mengemudi, sesekali melirik ke arah Beth yang kini sibuk memindahkan kartu SIM dari ponsel entah milik siapa ke ponsel baru warna ungu yang tadi dibawakan abang Timmy.


"Ck!" Fairel berdecak karena Beth yang kini fokus ke ponselnya dan seperti tak menggubris keberadaan Fairel di sampingnya.


"Abang Timmy yang tiba-tiba membelikannya tadi. Padahal aku juga tak minta," ujar Beth kemudian padahal Fairel juga tak bertanya.


"Lalu itu! Ponsel siapa?" Fairel ganti mengendikkan dagunya ke arah ponsel Beth yang satunya.


"Ponsel Mama. Semalam aku pinjam karena kau membanting--"


Ciit!


Beth langsung kaget, saat tiba-tiba Fairel sudah banting stir ke sisi jalan, lalu menginjak rem secara mendadak.


Gila!


"Aku membanting ponselmu karena kau tak mau memakai ponsel baru yang aku belikan!"


"Padahal ponsel itu fiturnya lebih lengkap dan kameranya juga lebih jernih misalnya kau mau memfoto kue-kue buatanmu!"


"Aku bukannya tak mau memakai, hanya saja--"


"Warnanya tak sesuai dengan warna kesukaanmu?" Tebak Fairel menyela.


"Bukan itu!" Sanggah Beth lagi.


"Lalu kenapa? Kenapa kau tak menghargai barang pembelianku?" Cecar Fairel kemudian berapi-api.


"Bukan aku tak menghargai, Iel! Tapi aku hanya...." Beth merasa bingung harus beralasan apa.


Kemarin ia memang tak mau memakai ponsel itu karena Beth mau menghindari Fairel.


Namun yang terjadi, hari ini malah Fairel meng-klaim kalau ia dan Beth sudah jadian. Entahlah! Hari Beth sedikit aneh hari ini.


"Hanya apa?" Tanya Fairel menunggu jawaban dari Beth.


"Hanya...." Beth memainkan kedua telunjuknya dan tak kinjung menjawab karena Beth juga bingung harus menjawab apa.


"Hanya apa, Beth? Cepat katakan!"


"Ponsel pemberianku kurang bagus?" Fairel akhirnya menerka-nerka.


"Bukan itu!" Sanggah Beth cepat.


"Lalu apa?" Tanya Fairel lagi tak sabar.


"Aku tak bisa memakainya," ujar Beth akhirnya sedikit meringis.


"Maksudnya tidak bisa? Kan ada buku petunjuknya! Atau kau bisa bertanya padaku kalau bingung!" Ujar Fairel memberikan solusi.


"Itulah...." Beth kembali meringis.


"Itulah kenapa lagi? Jangan berputar-putar dan membuatku bingung!"


"Katakan alasannya to the point!" Perintah Fairel tegas.


"Iya aku tak bisa memakai barang pemberianmu, Iel?" Tukas Beth akhirnya.


"Alasannya?" Tanya Fairel meminta penjelasan.


"Tak ada alasannya!" Jawab Beth kemudian sedikit frustasi.


"Tak mungkin tak ada alasan! Semua hal sudah pasti ada alasan, termasuk kenapa kau tak mau memakai ponsel pemberianku dan malah minta ponsel baru ke abangmu!" Fairel berdecak tak senang.


"Karena aku ingin menjauh darimu!" Jawab Beth akhirnya berkata jujur dan blak-blakan.


"Maksudnya menjauh? Kita bahkan baru jadian dan kau malah mau menjauhiku! Mau kembali pada mantan pacarmu yang buaya itu?" Cecar Fairel yang langsung membuat Beth berdecak tak percaya.


"Bisakah kau berhenti membawa-bawa buaya berinisial R itu? Berapa kali harus kukatakan kalau aku tak lagi ada perasaan apapun padanya!" Ujar Beth mulai jengah.


"Tapi kau pernah tergila-gila padanya! Jadi barangkali sekarang kau masih berharap!" Sergah Fairel yang benar-benar membuat Beth tak habis pikir.


Beth pikir yang suka berprasangka buruk itu hanya Reina saja!


Namun nyatanya, Fairel juga sebelas dia belas dengan adiknya itu!


"Kau juga masih berteman dengan Yvone yang notabene adalah sepupu Reandra! Jadi mungkin--"


"Pertemananku dengan Yvone sama sekali tak ada hubungannya dengan status sepupu Yvone dan Reandra, Iel!" Sergah Beth memotong tuduhan buta Fairel.


"Lagipula, Yvone juga tidak suka dengan Reandra dan dia selalu memperingatkan aku agar tak lagi menjalin hubungan dengan Reandra!" Imbuh Beth lagi seraya menatap tajam pada Fairel.


"Baguslah kalau Yvone selalu memperingatkanmu dan tak malah menjerumuskanmu!"


"Sepupunya itu memang baj*ngan dan kau gadis bodoh yang pernah tergila-gila pada seorang baj*ngan!" Tukas Fairel yang sudah menoyor kepala Beth.


Beth sontak merengut.


"Itu kan hanya masa lalu," cicit Beth mencari pembenaran.


"Iya! Masa lalu dan tak perlu diulangi, apalagi dibahas-bahas lagi!" Tukas Fairel seraya menjalankan lagi kobilnya yang tadi sempat berhenti di tengah perjalanan.


"Kau itu yang tadi memulai pembahasan mengenai Reandra!" Cibir Beth seraya bersedekap.


Mungkin sebaiknya Beth memang diam saja sepanjang perjalanan ketimbang Fairel akan mencak-mencak lagi. Dasar pria labil!


****


"Kok sepi? Mommy kamu kemana?" Tanya Beth saat ia dan Fairel baru masuk ke dalam kediaman Halley yang tampak sepi.


Rumah sebesar ini masa iya tak ada satupun orang di dalamnya?


"Mungkin sedang ada acara," jawab Fairel malas, seraya pria itu mendaratkan bokongnya di sofa ruang tengah. Fairel lalu bersandar pada punggung sofa dan merentangkan kedua tangannya.


"Ambilkan dulu rollcake-nya di dapur, Beth!" Perintah Fairel kemudian pada Beth yang masoh celingukan sekaligus bingung.


Sepertinya ini kalo pertama Beth masuk ke rumah Fairel.


Atau kali kedua?


Yang pertama kan saat Beth menghadiri acara pernikahan Angga dan Reina. Tapi waktu itu bentuknya berbeda karena rumahnya didekor ala-ala venue pernikahan.


"Beth! Kenapa bengong?" Tegur Fairel yang langsung menyentak lamunan Beth.


"Apa?" Beth menatap bingung pada Fairel.


"Ambilkan rollcake di dapur!" Fairel mengulangi perintahnya.


"Dapur di sebelah mana?" Tanya Beth lagi masih bingung.


"Disana!"


"Mbaaak!" Fairel ganti berteriak memanggil maid yang kemudian tergopoh-gopoh datang.


"Iya, Pak Fairel!"


"Antar Beth ke dapur! Dia mau mengambil rollcake di kulkas," ucap Fairel yang langsung membuat maid mengangguk patuh.


"Mari Nona Beth!" Ajak maid kemudian pada Beth yang langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal. Beth sedikit bingung dengan sikap Fairel.


Kalau memang ada maid di rumah,kenapa Fairel harus menyuruh Beth yang mengambil rollcake? Kenapa tidak langsung menyuruh maid saja?


Benar-benar aneh dan membingungkan.


"Ambilkan semua rasa, ya, Beth!" Pesan Fairel yang hanya ditanggapi Beth dengan cibiran.


Paling enak memang jadi tukang perintah!


****


Beth yang sudah selesai mengambil rollcake, kembali menghampiri Fairel lagi yang ternyata sudah....


Tidur!


Apa Fairel benar-benar sudah tidur? Kok cepat sekali?


"Iel!" Panggil Beth seraya mengibaskan tangannya di depan wajah Fairel. Tak ada tanggapan maupun reaksi apapun dari Fairel!


"Iel, kau tidur?" Beth ganti mencolek sedikit tangn Fairel, dan pria itu hanya bergerak sedikit, lalu kembali menyamankan diri dan sepertinya juga tak terganggu.


"Ish! Malah tidur!" Gerutu Beth yang kemudian duduk di samping Fairel. Beth lalu memeriksa tangan Fairel yang masih dalam posisi terentang.


"Aku ganti sekarang saja perbannya agar aku bisa kembali ke toko," cetus Beth berinisiatif.


Beth lalu segera ke dapur lagi untuk menemui maid sekaligus minta kotak P3K yang tersedia di rumah. Setelah mendapatkan kotak P3K, Beth lanjut mengganti perban di tangan Fairel dan membersihkan lukanya juga.


Fairel tetap tak bangun sepanjang Beth melakukan perawatan pada luka Fairel tersebut.


Dasar tukang tidur!


"Baiklah, sudah beres! Aku akan pulang," gumam Beth kemudian seraya merapikan kembali kotak P3K. Setelah semuanya beres, Beth lanjut bangkit berdiri dan hendak pergi.


Namun kemudian Beth diam sebentar dan menatap pada Fairel yang masih tertidur pulas. Beth tak jadi keluar dan kembali ke dapur untuk menemui maid.


"Mbak, apa ada selimut?" Tanya Beth pada maid di kediaman Halley tersebut.


"Selimut untuk apa, Nona?"


"Untuk Fairel," ujar Beth seraya mengendikkan dagu ke arah Fairel.


"Oh, biar saya ambilkan dulu," ujar maid yang lalu masuk ke salah satu kamar. Tak berselang lama, maid sudah membawa selimut yang kemudian diberikan pada Beth.


"Terima kasih!" Ucap Beth seraya mengulas senyum. Beth lalu bergegas membentangkan selimut tadi untuk menyelimuti Fairel yang tetap pulas dalam tidurnya.


"Baiklah, sudah beres! Aku akan pulang," gumam Beth sekali lagi seraya mengayunkan langkah ke arah pintu depan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.