
"Tadi Aunty Audrey jadi datang ke rumah?" Tanya Dad Fairel setelah anak dan bapak itu keluar dari sebuah resto. Merting bersama klien sudah selesai dan akhirnya Fairel bisa bersantai.
"Jadi, Dad!"
"Foto prewedding-nya Reina besok di Halley Development," jawab Fairel lengkap.
"Kau yang meminta?" Tebak Dad Liam tepat sasaran.
"Agar posenya tidak aneh-aneh, Dad!" Ujar Fairel beralasan.
"Toh gedung Halley Development juga terlihat lebih klasik dan aesthetic!" Imbuh Fairel lagi yang hanya membuat Dad Liam berdecak.
"Kau pulang bersama Dad?" Tanya Dad Liam kemudian.
"Iel bawa mobil sendiri, Dad!" Jawab Fairel seraya nyengir.
"Mau kelayapan pasti!" Tebak Dad Liam lagi.
"Cari angin, Dad!"
"Iel juga bukan bocah kemarin sore dan sudah dewasa! Masa iya Dad larang-larang!" Sergah Fairel yang langsung membuat Dad Liam berdecak.
"Memangnya kapan Dad melarangmu?" Cibir Dad Liam kemudian dan Fairel hanya nyengir.
"Jangan mabuk!" Ujar Dad Liam mengingatkan sang putra.
"Kapan Iel pernah mabuk, Dad? Paling pulang pagi saja!" Tukas Fairel cengengesan yang langsung membuat Dad Liam mendelik.
"Bercanda, Dad!" Ringis Fairel seraya jarinya membentuk tanda V.
Dad Liam tak berkomentar lagi dan langsung masuk ke salam mobil. Tak berselang lama, mobil Dad Liam sudah melaju pergi meninggalkan Fairel yang kini mencibir-cibir.
"Jangan mabuk!"
"Memangnya aku Riley yang masih bocah!" Fairel menggerutu sendiri seraya masuk ke dalam mobil. Pria itu lalu masuk ke mobil, namun tak langsung melaju pergi. Fairel masih berpikir ia mau cari angin kemana.
"Kemana, ya?" Tanya Fairel pada dirinya sendiri.
"Ah, jalan dulu saja sambil mikir!" Putus Fairel akhirnya seraya melajukan mobilnya keluar dari halaman parkir Resto.
Fairel mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, hingga kemudian saat ia melewati alun-alun kota, Fairel mendadak ingat pada angkringan bertenda biru yang pernah disinggahi oleh Timmy, si malam setelah pria itu memberikan bogem mentah pada Fairel.
"Oh, iya! Gorengan dan nasi bungkusnya warung gerobak itu kan enak!"
"Mampir sebentar, ah!" Putus Fairel akhirnya saat dirinya sudah melihat angkringan yang ia maksud dari kejauhan. Warna tenda yang begitu mencolok dari warungvdi sekitarnya membiat Fairel mudah mengingat.
"Apa itu! Kenapa ramai sekali?" Gumam Fairel saat mobilnya lewat di salah satu toko yang lampunya begitu terang benderang dengan banyak banner bertuliskan serba tiga puluh lima ribu. Suasana di depan toko tersebut juga terlihat padat.
"Wow! Bisnis yang menjanjikan!" Komentar Fairel sambil kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat parkir untuk mobilnya.
"Ah, iya! Disana!" Gumam Fairel kemudian setelah menemukan tempat parkir untuk mobil. Letaknya tepat di depan toko serba tiga lima ribu tadi dan sedikit jauh dari angkringan tenda biru. Namun tidak masalah, karena Fairel akan berjalan kaki saja. Sekalian menikmati keindahan alun-alun kota.
"Beth!"
Fairel baru turun dari mobilnya, saat telinga pria itu sudah mendengar seseorang menyebut nama yang tak asing.
Beth?
Apa itu artinya Beth ada di sekitar sini?
Fairel langsung mengedarkan pandangannya ke asal suara tadu dan benar saja!
Beth terlihat berada di depan toko serba tiga lima tadi sembari mengobrol bersama seorang pria...
Brengsek itu Reandra!
Dan apa Reandra baru saja memberikan sesuatu pada Beth yang bahkan terlihat senang saat menerimanya.
"Ck! Dasar keras kepala!"
"Sudah diperingatkan padahal!" Fairel menggerutu sendiri sembari pria itu berlalu menuju ke angkringan biru. Hati Fairel mendadak merasa dongkol pada Beth yang bodoh dan keras kepala karena masih saja luluh oleh gombalan Reandra brengsek.
"Dasar gadis bodoh!"
"Buta!" Fairel terus menggerutu hingga pria itu mendaratkan bokongnya di bangku panjang di dalam tenda angkringan.
"Mau pesan apa, Mas?" Tanya pemilik angkringan.
"Es teh!"
"Tapi esnya yang banyak!" Jawab Fairel seraya bersungut. Tapi kepala Fairel memang sedang terasa panas sekarang dan Fairel butuh minuman dingin!
Tangan Fairel sudah mencomot satu buah risol sayur, lalu pria itu melahapnya dengan barbar dan dalam satu gigitan besar.
"Hah! Pedas!" Fairel mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulut saat ia menyadari kalau ia baru saja mengunyah sebuah cabe.
"Loh! Cabenya terselip di dalam risol, Mas! Nggak lihat, ya?" Tanya pemilik angka seraya menyodorkan es teh Fairel.
"Kenapa tidak ditaruh di luar saja? Mau membuat jebakan batman?" Gerutu Fairel pada pemilik angkringan yang hanya menahan tawa.
"Malam, Pak!" Seorang wanita paruh baya tiba-tiba masuk ke dalam tenda dan menyapa pemilik angkringan dengan ramah.
Segera Fairel bergeser untuk memberikan ruang pada wanita yang mungkin seumuran dengan Aunty Audrey tersebut. Wanita paruh baya itu lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Fairel yang langsung balas tersenyum ramah.
"Teh hangat satu, ya, Pak!" Ucap wanita paruh baya itu kemudian.
"Siap, Bu!"
Fairel baru saja akan menyesap estehnya lagi, saat seseorang ikut masuk ke dalam tenda dan membuat Fairel lumayan kaget.
Pun dengan orang tadi yang juga ikut kaget dan menatap Fairel layaknya tatapan pada hantu.
Rasa dongkol kembali membuncah di dada Fairel saat melihat paperbag kecil yang dibawa gadis itu yang kini duduk di sebelah wanita paruh baya yang tadi tersenyum pada Fairel.
"Mama sudah memesan?" Tanya Beth pada Mama Tere yang langsung mengangguk.
"Tapi kamu belum mama pesenin," tukas Mama Tere.
"Oh!"
"Saya es teh satu, Pak!" Ucap Beth kemudian pada pemilik angkringan.
"Saya minta ganti es jeruk, Pak! Es tehnya tidak ada rasa!" Ucap Fairel tiba-tiba seraya menyodorkan gelasnya yang berisi es teh dan tinggal setengah.
"Baik, Mas!"
Fairel lalu meraih satu nasi bungkus sembari matanya mendelik pada Beth yang bahkan tak menatapnya sama sekali. Fairel bahkan tak menyadari kalau ia mengambil nasi bungkus yang hendak diambil oleh Mama Tere.
"Eh!"
"Maaf, Tante!" Ucap Fairel salah tingkah.
"Tidak apa!"
"Untuk kamu saja!" Ucap Mama Tere seraya tersenyum ramah.
"Tapi tante memegangnya duluan. Jadi..." Fairel mengambil nasi bungkus tadi lalu membukanya dan meletakkanmya di depan mama Tere.
"Silahkan, Tante!"
"Ini sendoknya!" Ucap Fairel yang lanjut mengangsurkan sendok pada Mama Tere.
"Terima kasih, ya!"
"Sopan sekali!" Puji Mama Tere seraya menerima sendok dari Fairel. Sementara Beth hanya melirik apa yang dilakukan Fairel pada Mama Tere, sebelum kembali menyesal es tehnya dan menikmati gorengan di depannya.
"Beth, kau mau nasi bungkus?" Tanya Mama Tere pada sang putri.
"Tidak, Ma!" Jawab Beth sembari menggeleng.
"Itu putrinya, Tan?" Tanya Fairel kemudian setelah es jeruknya datang.
"Iya!"
"Jangan boleh pacaran dulu, Tan! Masih kecil begitu dan laki-laki jaman sekarang juga tidak ada yang benar!"
"Kebanyakan brengsek!" Ucap Fairel sambil sesekali melirik pada Beth yang terlihat cuek.
"Loh! Masnya kan laki-laki juga! Berarti brengsek juga?" Seloroh pemilik angkringan yang langsung membuat Mama Tere terkekeh.
"Enggaklah, Pak!"
"Saya pria baik-baik!" Jawab Fairel dengan nada pongah.
"Ooh! Mungkin masnya naksir sama putri ibunya!" Tebak pemilik angkringan lagi yang langsung disanggah oleh Fairel.
"Enggaklah! Masih kecil begitu! Nanti saya dikira pedofil, Pak!" Tukas Fairel yang sekali lagi sukses membuat Mama Tere terkekeh. Sementara Beth tetap diam membisu dan mungkin saja sedang memikirkan Reandra playboy, kadal, brengsek itu!
"Halo, Pa!" Beth tiba-tiba sudah bicara di telepon entah dengan siapa.
"Kami di angkringan tenda biru, Pa! Mama masih makan."
"Papa kesini saja!" Ujar Beth sembari menyibak sisi tenda. Tak berselang lama, seorang pria paruh baya ikut masuk ke dalam tenda dan langsung mengacak rambut Beth. Pria paruh baya itu wajahnya mirip sekali dengan Beth dan kini sudah duduk di sebelah sang putri.
Mama Tere lalu menyodorkan sebuah nasi bungkus pada pria paruh baya tadi dan ketiganya langsung terlibat obrolan ringan.
Sementara Fairel memilih untuk berpindah ke pojokan, sambil sesekali menatap pada Beth yang lebih banyak menundukkan wajahnya dan sama sekali tak membalas tatapan Fairel.
Menyebalkan!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.