Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Menikmati Akhir Pekan


Akhir pekan ini menjadi akhir pekan yang tidak ada jadwal untuk mengerjakan skripsi. Rasanya begitu lega rasanya, tinggal menunggu waktu ujian tiba. Di rumahnya, Andin juga tampak bersantai. Wanita itu memilih menikmati apel merah di pagi hari dan meminum susu khusus Ibu hamil yang kaya akan asam folat yang bagus untuk tumbuh kembang janinnya.


“Nyantai ya Nyonya,” ucap Evan dengan tiba-tiba. Pria itu baru saja keluar dari ruangan kerjanya dan melihat Andin yang tampak begitu santai dengan mengunyah apel merah dan sesekali meminum susu dengan rasa cokelat itu.


“Iya, Mr. Vice President … nyantai dulu. Pusing,” balasnya dengan tersenyum menatap suaminya.


Evan pun segera mengambil duduk di samping istrinya itu, “Akhir pekan paling santai nih. Biasanya kamu selalu duduk di meja belajar dengan laptop dan buku-buku begitu usai sarapan,” balasnya.


Ya, pemandangan sehari-hari yang Evan lihat di akhir pekan adalah Andin yang duduk dengan serius di meja belajarnya. Mengetik bisa nyaris sepanjang hari, hingga suara di dalam kamarnya hanya suara tuts di papan ketik milik Andin. Kini, Andin tampak menikmati akhir pekan dengan menikmati apel merah dan segelas susu cokelat di tangannya.


“Tidak ada salahnya menikmati hari, ya kan Hubby … menyenangkan dedek bayi. Kasihan dalam tiga bulan belakangan, dia diajak Mommy-nya untuk mikir skripsi. Otaknya jauh lebih berkembang,” balas Andin dengan tertawa.


Evan pun merangkul istrinya itu, “Jadi, maunya dipanggil Mommy?” tanyanya kemudian.


Andin pun menatap suaminya, “Iya … pengennya. Mommy sama Daddy. Gimana, mau enggak Mas? Atau yang wajar saja, Mama dan Papa?” tanyanya kemudian.


“Oke, gak apa-apa. Katamu kan aku cakep, dipanggil Daddy pantes juga kan?” tanya dengan menyugar rambutnya sendiri.


“Ishhs, narsis. Iya, kamu cakep banget sih. Kalau anaknya cowok dan secakep kamu, keren banget pasti,” balas Andin.


Evan pun juga tertawa di sana, “Sedikasihnya saja, Nyonya … cowok atau cewek tidak masalah, dia tetap buah hati kita. Kesayangan kita berdua,” balas Evan.


“Iya Mas … cuma sayang aja kalau wajah tampanmu ini tidak diwariskan ke putramu,” balas Andin dengan tertawa.


“Kamu bisa saja, sekarang mumpung akhir pekan, kamu pengen ngapain? Yuk, sepesial untuk Bumil dan juga si Debay,” ucap Evan kemudian.


Andin kemudian mengamati suaminya itu, dan tertawa di sana, “Ngedate yuk Mas … nonton bioskop, mau enggak? Ada salah satu film india terbaru yang diputer di bioskop. Mau enggak nonton barengan?”


Evan menatap istrinya, kenapa hamil pun seleranya masih film india. Bahkan sekarang, Andin mengajaknya untuk bisa menonton film India. Sebenarnya, ngedate dan nonton di bioskop sih tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah film India yang akan ditonton itu. Sebab, Evan tidak terlalu suka film India, sementara Andin justru menggilai berbagai film bahkan lagu-lagu dari tanah Hindustan itu.


“Kamu diem, artinya enggak mau,” balas Andin dengan menaruh gelas susu cokelat yang semula dia pegang.


“Bukan gitu … aku enggak terlalu suka film Bollywood. Aku enggak paham dengan ceritanya dan ada tari-tarian aneh,” balas Evan dengan jujur.


Walau jujur itu sulit, tetapi Evan akan berusaha untuk jujur. Sebab, yang dinamakan pernikahan adalah pasangan yang bisa jujur, walau sulit, tetapi berani untuk berkata jujur. Itu juga yang membuat Evan berani untuk berkata jujur.


Bukan menangis, Andin pun juga memahami memang dalam pernikahan ini Evan juga yang sudah banyak mengalah untuknya. Evan yang dewasa, sementara dirinya yang masih labil. Untuk itu, Andin memilih diam, supaya tidak memicu pertengkaran.


Kemudian Andin menggelengkan kepalanya, “Enggak … enggak usah. Aku mau tidur saja. Mumpung libur dan enggak mengerjakan skripsi, lebih baik aku segera tidur,” balasnya.


Wanita hamil itu, akhirnya memilih untuk naik ke atas ranjang. Bukan marah, tetapi juga apa yang paling dia inginkan tidak bisa dilakukan, jadinya Andin memilih untuk tidur saja. Mengistirahatkan badan dan juga otaknya. Evan sendiri tahu, pasti Andin marah atau sebel, atau kecewa sekarang.


“Ya sudah yuk … nonton film India aja. Siap-siap yah … jangan ngambek,” ucap Evan pada akhirnya.


Akan tetapi, juga namanya Ibu hamil dan mengalami mood swing dan terkadang perasaan yang lebih mendominasi, Andin menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak tertarik lagi untuk menonton film India di bioskop.


“Enggak … sudah di rumah saja. Toh, kita juga tidak harus terus-menerus menuruti keinginan pasangan kita. Tenang aja Mas … aku enggak apa-apa kok,” balas Andin.


Dari suara dan perkataan Andin, di telinga Evan terdengar jelas bahwa istrinya itu tengah ngambek dan kecewa sekarang. Evan pun menyusul untuk menaiki ranjang dan duduk bersandar di headboard, dekat dengan istrinya.


“Ngambek yah?” tanyanya kemudian.


“Enggak,” jawab Andin singkat.


“Sebel?”


“Enggak.”


“Lalu kenapa, akhir pekan malahan tidur?” tanya Evan lagi.


Andin menggelengkan kepalanya, “Ya, kan santai Mas … aku juga kurang tidur beberapa malam ini. Melakukan apa yang aku inginkan juga tidak masalah,” balasnya.


“Ya sudah … tidur saja. Yang penting jangan ngambek. Kamu pasti marah kan, aku tadi menolak untuk nonton bioskop yang film India?” tanya Evan lagi.


“Enggak … kan aku sudah bilang enggak. Toh, kamu juga enggak suka film India. Mencintai bukan berarti mengorbankan diri untuk turut menyukai apa yang menjadi kesukaan pasangannya kok … so, i am alright,” balas Andin.


Evan menghela nafas kasar di sana. Seketika rasanya frustasi dengan istrinya itu. Semua dipicu dengan dirinya yang menolak untuk menemani Andin menonton film India di bioskop. Padahal Evan hanya berniat untuk berbicara jujur saja kalau memang dirinya tidak suka dengan film India. Namun, reaksi yang ditunjukkan Andin adalah seperti ini. Walau Andin mengatakan dirinya baik-baik saja, tetapi terlihat jelas bahwa istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.


“Ya sudah … intinya tidak boleh ngambek. Nikmati hari liburmu, sebelum nanti bersiap untuk ujian skripsi. Bobok saja, aku temenin di sini,” balas Evan.


Andin memilih tidur, ya kali ini dia benar-benar tidur. Menikmati akhir pekan, walau apa yang dia inginkan tidak bisa dituruti dan sudah terlanjur sebal, tetapi Andin akan menghiraukannya. Sepenuhnya Andin tahu bahwa memaksakan diri untuk menjadi sama seperti pasangan kita hasilnya juga tidak baik. Walau kecewa, tetapi Evan juga sudah berkata jujur perihal seleranya yang tidak suka film India. Ketika matanya terpejam, satu titik air mata lolos begitu saja di sudut mata Andin.


“Rasanya ditolak dan tidak dituruti apa yang menjadi keinginan kita rasanya sesebal ini … sabar. Lain kali nonton bioskop India sendiri, tanpa Mas Evan,” gumamnya sendiri dalam hati.