Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Lembur Skripsi


Menyelesaikan mandi dan makan malam, kini Andin sudah bersiap dengan berbagai buku yang akan dia gunakan sebagai sumber pustaka untuk menyusun skripsinya, juga macbook miliknya yang siap menemani untuk mengerjakan skripsinya. Kali ini, Andin tidak mengerjakan di meja belajarnya, tetapi dia memilih duduk melantai, bersandar pada sofa dan menempatkan macbook di meja yang ada di depan sofa, sementara Evan pun duduk di samping Andin.


Pria itu memilih untuk membaca sebuah buku, dan tidak banyak berbicara sehingga tidak mengganggu Andin yang memang sedang fokus skripsi. Bab 2 dalam skripsi berisikan landasan teori, sehingga penulis perlu mencantumkan sumber pustaka dari setiap teori yang dia ambil. Pun demikian, Andin mencoba menjelaskan studi rancang bangun dan juga konsep ekologis. Semoga saja kali ini dalam melakukan konsultasi nanti, semuanya akan berjalan lancar.


Sudah cukup lama, Andin mengerjakan landasan teori dengan sangat serius. Terlebih ada Evan yang walau tidak banyak membantu, tetapi mau menemaninya saja sudah membuat Andin begitu bersemangat. Hingga akhirnya Andin mengambil jeda sejenak, wanita itu tampak melakukan sedikit stretching dengan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, dan menggerakkan pinggangnya ke kanan dan juga ke kiri.


“Capek?” tanya Evan kemudian.


Andin pun menganggukkan kepalanya, “Iya, lumayan … sudah satu jam, udah capek,” balasnya.


“Mau aku bantuin ketik? Kamu yang baca, gini-gini aku bisa juga kok mengetik dengan sepuluh jari,” balas Evan.


Ini adalah keahlian seorang Evan Agastya yang tidak banyak orang tahu yaitu dia bisa mengetik dengan menggunakan sepuluh jarinya. Sehingga untuk mengetik satu halaman satu, Evan hanya membutuhkan waktu singkat. Sementara untuk kecerdasan, tak perlu diragukan lagi, pria lulusan luar negeri itu sangat pandai. Dulu, ketika di bangku Sekolah Dasar hingga SMA, dia selalu menjadi juara kelas. Mungkin genetik dari Papa Belva turun dengan sangat dominan kepada sosok Evan.


“Wah, kamu luar biasa banget ya Mas … udah cakep, pinter, perkasa, luar biasa suamiku ini,” kekeh Andin dengan menyandarkan kepalanya sejenak di lengan suaminya itu.


“Biasa saja, Sayang,” sahut Evan dengan tertawa. “Jadi dibantuin enggak?” tanya Evan lagi.


Akan tetapi, Andin segera menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku akan mengerjakan semuanya sendiri. Bu Arsyilla itu pernah cerita katanya dulu suaminya itu menjadi mahasiswanya, dan pas skripsi, Bu Arsyilla enggak bantuin loh. Padahal juga di Teknik Arsitektur. Bahkan waktu suaminya dapat Dosen Pembimbing Bu Arsyilla, suaminya minta ganti Dosen Pembimbing, karena kan ada etika profesi yang mengatur kode etik Dosen dan mahasiswa. Jadi, aku akan kerjakan semuanya sendiri. Kamu temenin aku gini aja, aku udah semangat banget kok. Jangan ditinggal tidur duluan kayak semalam,” balas Andin kemudian.


Evan pun tersenyum, “Enggak … ngak akan ninggal kamu bobok, aman. Aku temenin sampai kamu capek,” balasnya.


Andin pun kembali mengerjakan skripsinya. Kali ini rasanya menjadi lebih semangat karena ada Evan yang menjadi garda terdepan untuk menemaninya. Tidak terasa jam sudah berjalan dan hampir jam 00.00 malam, Andin menyimpan semua file yang sudah dia ketik. Beristirahat dulu di malam ini, dan esok dia akan melanjutkan lagi untuk mengerjakan skripsinya. Memang butuh waktu untuk mengerjakan, tidak akan selesai dalam satu malam. Sehingga memang sebaiknya istirahat dulu dan dilanjutkan esok lagi.


“Bobok yuk Mas,” ajak Andin yang sudah menguap dan beberapa kali mengucek matanya.


“Sudah … lanjut besok lagi,” balas Andin.


Evan pun segera berdiri terlebih dahulu, tanpa banyak berbicara, pria itu membopong tubuh Andin ala bridal style, hingga Andin pun memekik dan melingkarkan tangannya di leher Evan.


“Mas,” ucapnya dengan lirih.


Evan tersenyum tipis di sana, dan juga menuju ke ranjang mereka dengan perlahan. Lantas, Evan menidurkan istrinya itu dengan hati-hati di ranjang mereka. Tidak lupa menarik selimut untuk menyelimuti tubuh keduanya. Kemudian barulah Evan naik ke atas ranjang itu.


Tidak perlu menunggu komando, Andin sudah bergerak dan memposisinya tidur di dalam dekapan Evan. Wanita itu tersenyum dengan satu tangannya melingkari pinggang suaminya itu. Jika Evan begitu manis seperti ini, rasanya Andin begitu meleleh.


“Makasih Mas Evan … makasih sudah menemani lembur skripsi,” balasnya.


“Iya, sama-sama Sayang … besok malam lembur lagi? Aku temenin, semoga bisa cepet selesai yah skripsinya. Kasihan banget, pasti kamu kecapekan,” balas Evan.


Andin pun menggelengkan kepalanya perlahan, “Capek tapi puas karena bisa ngerjain sendiri dan usaha sendiri. Rasanya itu seneng aja,” balasnya.


Evan kemudian mengecup kening istrinya itu, “Nanti selesai skripsi dan tinggal nunggu wisuda kita jalan-jalan Sayang, biar sekalian refreshing. Semangat yah skripsinya … semangat juga untuk menjadi istri yang lebih peka,” goda Evan. Itu adalah kalimat yang sebatas menggoda saja, supaya di lain waktu istrinya bisa menjadi pribadi yang lebih peka dengan kebutuhannya. Sebab, sebagai suami, Evan juga akan merasa begitu pusing jika ladang batinnya tidak disirami.


Andin kemudian terkekeh geli di sana, “Iya Mas Evan … udah yuk, bobok … udah tengah malam malahan masih bercanda. Besok aku masih harus ngerjain skripsi lagi. Semoga saja tidak butuh waktu lama, Bab 2 sudah selesai dan bisa lanjut ke Bab 3. Aku harus semangat terus dan tidak boleh menyerah, tinggal beberapa Bab lagi,” ucapnya.


“Semangat Nyonya!”


Malam itu, akhirnya keduanya tidur dengan saling memeluk satu sama lain. Ada Evan yang mendekap tubuh Andin, memberikan kehangat dalam pelukannya kepada istrinya itu. Evan justru senang karena Andin benar-benar semangat dan totalitas mengerjakan skripsinya. Semoga saja istrinya itu bisa menyelesaikan semua dan tinggal menunggu wisuda saja.