Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Curhat dengan Mama


Malam ini, usai pulang dari Agastya Properti, Evan tampak berdiri di depan kolam renang di rumahnya. Evan membawa kedua tangannya bersidekap di dada, dan kemudian menatap pada air yang berkilauan karena sorot lampu yang ada di depannya. Seolah memang ada banyak pikiran yang sedang dipikirkan Evan sekarang ini. Sampai Evan tidak menyadari, rupanya Mamanya sudah berdiri di belakang Putra sulungnya itu.


“Hei, ngapain sendirian di sini?” tanya Mama Sara sembari menepuk punggung Evan.


“Eh, Mama … kenapa Ma? Mama tidak menemani Papa?” tanya Evan yang juga tampak bingung.


Sebab, biasanya di malam hari seperti ini, Mamanya lebih banyak menemani Papanya. Sekadar menonton film berdua, menikmati Teh hangat atau camilan yang dibuat oleh Mama sendiri, dan juga ngobrol bersama. Bagi Evan, kehidupan suami istri yang dijalani oleh Mama dan Papanya membuat Evan juga menginginkan hal yang serupa.


“Papa kamu masih ada kerjaan … melihat laporan yang tadi kamu berikan untuk lanjutan proyek dengan Jaya Corps. Kenapa kamu sendirian di sini? Galau nih anak Mama ceritanya,” tanya Sara.


Evan pun tersenyum, ya pemuda tampan yang terkesan dingin di luar itu, sesungguhnya adalah seorang anak yang hangat dan begitu menyayangi Mamanya dan juga adik-adiknya. “Enggak galau sih Ma … cuma Evan kepikiran sama seseorang,” ucap Evan kemudian.


“Biar Mama yang tebak … Andini kan?” tebakan sang Mama.


Evan pun tak berusaha mengelak, tetapi Evan justru tertawa kecil karenanya. Mungkinkah memang seorang Mama begitu paham akan dirinya, sehingga Mamanya bisa dengan mudahnya menebak apa yang ada di dalam pikirannya.


“Ma, Evan mau seriusan sama Andin,” ucap Evan dengan tiba-tiba.


“Seriusan seperti apa? Coba kamu jelaskan kepada Mama,” pinta sang Mama.


“Mau menikahi Andin … ya, walaupun perasaan Evan belum jelas. Cuma, dari awal kenapa Evan ada rasa tertarik padanya. Evan bahkan sudah bilang secara langsung kepada Andin ingin mengajaknya seriusan,” balas Evan.


“Lalu, bagaimana respons Andin?” tanya Mama Sara lagi.


“Ya, tentu menolak lah Ma … kan kami baru satu bulan kerja bersama. Cuma, akhir-akhir ini Andin agaknya mau deh. Dia akan bilang kepada Mama dan Papanya terlebih dahulu dan nanti Evan akan melamarnya Ma,” balas Evan.


Mama Sara geleng kepala saja melihat putra sulungnya itu, “Menikah itu bukan mainan Evan … kamu yakin ingin menikah tanpa cinta?” tanya Mamanya.


“Cuma cinta bisa hadir karena terbiasa, Ma … Evan enggak mau pacaran. Pacaran itu hanya penuh naf-su, Evan gak suka. Ya, kalau mau nikahan saja,” balas Evan.


“Andin mau tuh mencoba hidup bersama denganmu dalam pernikahan, dan jika cinta tidak tumbuh bagaimana?” tanya Mama Sara lagi.


“Namun, Evan mau mencoba Ma … jangan bilang kepada Papa dulu ya Ma … ini rahasia antara Evan dan Mama. Oke?”


Mama Sara pun tertawa dan menganggukkan kepalanya, “Oke … Mama akan simpan rahasia kamu,” balas Mamanya.


“Kapan Mama jatuh cinta kepada Papa?” tanya Evan dengan tiba-tiba. Rasanya Evan sungguh ingin mendengar bagaimana Mamanya yang baik dan cantik itu mulai jatuh cinta kepada Papanya. Terlebih Evan tahu bahwa Mama dan Papanya juga memiliki rentang usia kurang lebih tujuh tahun. Itu artinya, Mamanya masih sangat muda kala menikah dengan Papanya.


“Mama jatuh cinta kepada Papamu ya karena kami terbiasa bersama … bunga cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Namun, ada satu titik di mana Mama pergi dari sisi Papamu, di saat itulah Mama benar-benar merasa Mama jatuh cinta, Mama sangat mencintai Papamu,” balas Mama Sara dengan jujur.


Evan yang mendengar jawaban dari Mamanya pun berusaha untuk memahami cerita Mamanya. Berarti Evan bisa menarik satu kesimpulan bahwa cinta memang bisa tumbuh karena terbiasa. Sama seperti Mamanya yang merasakan cinta karena sudah terbiasa dengan Papanya. Mungkin memang ada kalanya cinta itu tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi cinta bisa datang karena terbiasa bersama, hingga bunga-bunga cinta itu bermekaran dengan sendirinya.


“Doakan Evan ya Ma … dalam hidup Evan, kayaknya baru kali ini deh Evan benar-benar tertarik kepada seorang gadis. Selisih enam tahun tidak terlalu jauh juga kan Ma?” tanya Evan kepada Mamanya.


Evan masih menggunakan kata tertarik, karena memang dia tertarik kepada Andin. Berawal dari rasa kesal, justru berakhir menjadi rasa tertarik. Bahkan kepada Andin, Evan bisa terang-terangan mengatakan ingin serius dengan gadis yang kini menjadi sekretarisnya itu.


“Enggak lah … Mama dan Papamu selisih tujuh tahun malahan. Justru kami terlihat serasi kala bersama bukan?” balas Mama Sara.


“Benar banget Ma … itu karena Papa terlihat masih muda. Mama juga sangat cantik, seolah tidak menua.”


Mendengar apa yang disampaikan Evan, Mama Sara pun tertawa, “Kamu bisa saja … mirip seperti Papa kamu. Yang penting ingat pesan Mama ya Evan … jika kamu sudah jatuh cinta dan mencintai seseorang … berjuanglah. Sebab, cinta adalah perjuangan. Cobalah segala daya dan upaya untuk terus berjuang,” balas Mama Sara.


“Siap Mama … Evan akan berjuang. Apa pun akan Evan lakukan untuk membuat Andin menjadi milik Evan,” balasnya.


“Baiklah Van … oh, iya … bulan depan Mama dan Papa akan ke Australia untuk mengunjungi Adikmu, Eiffel. Jaga rumah dan perusahaan yah. Mungkin nanti akan banyak pekerjaan yang dikerjakan Papa akan dilimpahkan kepada kamu terlebih dahulu,” ucap Mama Sara.


“Oke Ma … siap. Evan sudah tahu, Mama dan Papa tidak perlu khawatir. Evan bisa menjaga diri dengan baik. Have fun Ma … sampaikan salam dari Evan untuk Eiffel,” balasnya.


Mama Sara tersenyum dan kembali menepuk bahu putra sulungnya itu, “Siap Nak … selamat berjuang yah. Jika terjadi apa-apa, selalu kabari Mama. Ingat, di dunia ini Mama selalu akan berdiri untuk mendukungmu. Mama sangat sayang sama kamu, Kak Evan,” balas sang Mama.


Evan pun menganggukkan kepalanya, sungguh Mamanya adalah figur Mama yang baik. Dari kecil, Mamanya selalu melimpahkan kasih sayang dan mengajarkan semua yang baik kepadanya. Mamanyalah yang selalu berada di sampingnya. Bahkan saat nilai ujiannya pernah buruk, Mama Sara lah yang menyediakan waktu khusus untuk menemaninya belajar. Benar yang Mama Sara katakan bahwa Mamanya adalah orang pertama yang akan selalu mendukungnya.