
Memanfaatkan waktu bekerja secara profesional dan juga menjelang pernikahan agaknya memang harus dijalani dan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Evan dan Andin. Kendati demikian, di kantor keduanya bersifat profesional untuk tidak menimbulkan gosip miring tentang keduanya.
Akan tetapi, malam ini agaknya Evan memiliki rencana untuk mengajak Andin ke suatu tempat. Sehingga si Bos itu memanggil Andin dengan interkom dan meminta Andin untuk ke ruangannya.
"Andin, tolong ke ruanganku sebentar," panggil Evan kepada sekretarisnya itu.
Tidak banyak bicara, Andin pun segera berdiri dan kemudian memasuki ruangan atasannya itu.
"Ya Pak Evan, ada yang perlu saya bantu?" balas Andin.
Kalimat yang terkesan formal layaknya para sekretaris. Namun, sekretaris memang orang terdepan yang siap untuk membantu atasannya.
"Nanti malam ikut aku yah?" Evan berbicara dengan menatap wajah Andin di sana.
"Kemana Pak?" tanyanya.
"Ada, ikut saja. Yang pasti aku tidak akan menculikmu," balas Evan.
Andin pun tersenyum di sana, "Baik Pak," balasnya.
***
Malam harinya ....
Kurang lebih jam 19.00, Evan menjemput Andin ke rumahnya dan kini pemuda tampan itu mengajak Andin menuju ke sebuah hotel yang menawarkan Dinner in the sky. Ruangan di lantai paling atas dengan panorama Ibukota di malam hari.
"Mas ngajak ke hotel?" tanya Andin dengan bingung. Tentu saja Andin bingung karena saat ini mobil milik Evan mengambil parkir di basement salah satu hotel bintang lima di kota itu. Sontak saja Andin menjadi takut, mungkinkah Evan akan melakukan sesuatu kepadanya di saat keduanya sama-sama belum halal sebagai pasangan suami dan istri.
"Iya," balas Evan dengan singkat.
"Aku gak mau, aku di sini saja," balas Andin yang merasa tidak nyaman dengan tempat yang dituju oleh Evan.
"Kenapa?" tanya Evan.
Dengan cepat Andin menggelengkan kepalanya, "Enggak mau," balasnya.
Evan kemudian keluar terlebih dahulu dari mobilnya, kemudian dia membukakan pintu untuk Andin di sana. "Ayo," ucapnya.
Andin menggelengkan kepalanya, "Jangan di hotel, aku gak mau," balas Andin lagi.
"Jangan salah sangka, aku tidak akan melakukan hal seperti itu," balas Evan.
Andin memilih diam sejenak. Sementara Evan masih berdiri dan membukakan pintu untuk Andin. Haruskah Andin mempercayai Evan sekarang? Jujur saja, Andin merasa hotel bisa menjadi kawasan terlarang bagi pasangan yang ingin uji coba bermain sebelum menikah. Sementara Andin sendiri inginnya melakukan hubungan yang sah dan halal di dalam pernikahan.
"Percayai aku, Andin ... aku bukan pria seperti itu," balas Evan lagi.
Akhirnya setelah dibujuk oleh Evan, Andin pun mau keluar dari mobil. Terlihat Andin yang memilih mengekori di belakang Evan. Evan menaiki lift yang langsung membawanya ke lantai teratas. Tombol R yang Evan pilih sekarang ini, menunjukkan Rooftop. Sontak saja Andin melihat lift yang terus melaju naik ke atas.
Keluar dari lift, mereka tiba di tempat tertinggi dari hotel berbintang lima itu. Angin dingin menyapa keduanya. Andin yang kalau itu mengenakan dress pun sampai membawa kedua tangannya untuk mengusapi lengannya. Udara malam di ketinggian dengan anginnya terasa begitu menusuk tulang.
"Dingin?" tanya Evan lagi.
"Hmm, iya ... anginnya kencang," balas Andin.
Tanpa banyak bicara Evan segera melepas jaket yang dia kenakan, lantas memakainya kepada Andin.
"Pakailah, jangan sampai masuk angin," ucap Evan.
Kemudian Evan mengulurkan tangannya, meminta Andin untuk menautkan tangannya di sana. "Ayo ikuti aku," ajak Evan lagi kali ini.
Andin pun menautkan tangannya di dalam genggaman Evan. Rupanya tempat yang mereka datangi sekarang ini adalah sebuah lounge in the sky. Sebuah tempat yang menawarkan dinner kepada pengunjung di ketinggian dengan Panorama Ibukota.
"Kita naik Telescopic Boom Crane yang bisa mengangkat restoran ini ke udara. Di bawah itu tadi Jalan Gatot Soebroto," jelas Evan.
"Aku takut, Mas," jawab Andin dengan jujur.
"Ada aku," balas Evan.
Kini mereka sudah berada di ketinggian. Benar saja menikmati makan malam di ketinggian memang menjadi sensasi yang berbeda. Ini menjadi kali pertama bagi Andin untuk menikmati pengalaman seperti ini. Kemudian pelayan mulai menyajikan makanan untuk Evan dan Andin. Dimulai dari Appetizer yaitu makan pembuka, Main Course yaitu makanan utama, dan Dessert yaitu makanan penutup.
"Silakan dinikmati .... "
Evan dan Andin pun menatap makanan yang bukan hanya indah, tetapi juga lezat itu. Keduanya tampak menikmati sajian tersebut.
"Enak?" tanya Evan.
"Iya, enak," balasnya. "Walaupun lebih enak nasi goreng buatan Tante Sara," balasnya.
Evan tersenyum tipis di sana, "Kamu bisa saja."
"Serius, nasi gorengnya Tante Sara sangat enak," balas Andin.
“Nanti kalau sudah jadi menantunya Mama, bisa bakalan sering makan nasi goreng buatanya Mama,” balas Evan.
Andin lantas menatap kepada Evan yang duduk tidak jauh dari sisinya, “Mas kalau sudah menikah masih mau tinggal bersama Mama dan Papanya yah?” tanyanya.
Evan kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak dong … tinggal berdua saja sama kamu. Cuma kan akhir pekan atau apa gitu bisa nginap di rumah Mama dan Papa,” balasnya.
Andin pun menganggukkan kepalanya, “Bukannya dia tidak mau serumah dengan mertua. Akan tetapi, rasanya sungkan untuk tinggal bersama mertua. Selain itu, Andin juga sadar dirinya masih belia, usai magang ini pun Andin harus kembali kuliah dan menyelesaikan skripsi. Sudah pasti dia tidak bisa menjadi istri yang handal untuk mengurus rumah.
“Mas seriusan mau nikahin aku? Soalnya usai magang selesai, aku kembali ke kampus lagi dan menyelesaikan skripsi,” ucapnya.
Evan pun dengan cepat menganggukkan kepalanya, “Iya … niat baik tidak usah ditunda-tunda. Sebelum nanti Papa kamu berubah pikiran dan kita justru bisa enggak jadi nikah. Jadi, lebih baik disegerakan saja,” balas Evan.
“Cuma aku gak jago memasak,” ucapnya.
“Iya, enggak apa-apa,” balasnya.
“Walau aku masih harus sibuk kuliah dan menyelesaikan skripsi setelahnya?” tanya Andin lagi.
“Iya. enggak apa-apa,” balas Evan lagi.
Andin pun untuk beberapa saat terdiam. Kemudian menatap Evan di sana. “Baiklah, aku hanya mencoba mengatakan kekuranganku. Sebab, aku hanya wanita biasa. Jauh dari kata sempurna. Sementara Mas Evan kan pemuda tampan, kaya raya, dan penuh pesona di seantero Ibukota,” balas Andin.
“Enggak juga. Aku juga cuma pemuda biasa saja,” balas Evan.
Tidak berselang lama, Evan kemudian mengeluarkan sebuah kotak merah beludru dari saku celananya, kemudian Evan membuka kotak kecil itu di hadapan Andin.
“Andini, ini adalah cincin, berbentuk lingkaran yang menandakan sebuah hubungan sebuah ikatan yang tidak akan pernah terputus. Maukah kamu menikah denganku? Menyegerakan niat baik yang ada supaya tidak terjadi fitnah di antara kita?”
Sungguh, Andin tidak mengira bahwa Dine in the Sky ini sudah direncanakan Evan sebelumnya untuk melamarnya secara langsung. Tidak mengira juga bahwa Evan akan memintanya untuk menikah dengan pemuda tampan dan penuh pesona itu.
“Mungkin aku tidak romantis, tidak juga puitis, tetapi perasaan ini nyata, niat baik yang aku miliki juga adalah nyata. Will you marry me, Andin?” ucap dengan menghela nafas dan menunggu jawaban yang diberikan oleh Andin di sana.