
Keesokan harinya, Evan bersiap untuk berangkat ke kantor. Sementara Andin akan berada di rumah, karena baru nanti siang dia akan berangkat ke kampus. Evan terlihat murung, walau wajahnya terlihat biasa saja, tetapi sebenarnya di dalam hatinya ada rasa kehilangan.
"Aku berangkat ke kantor dulu ya Nyonya. Rasanya aneh, kali pertama ke kantor tanpa kamu," pamit Evan yang seakan enggan untuk berangkat ke kantor pagi itu.
Andin pun tersenyum di sana, "Kan nanti sore kita masih bertemu di rumah, Mas. Santai aja. Masak iya aku harus ikut ke kantor?"
Evan kemudian mendekat dan segera memeluk Andin di sana. "Pasti ada yang berbeda di kantor hari ini. Tidak ada sekretarisku yang cantik dan bisa diandalkan ini. Tombol interkomku akan kembali off," balas Evan dengan masih memeluk Andin di sana.
Sungguh, Evan merasa bahwa suasana di ruangannya tidak akan lagi sama. Ada kalanya, Evan mencuri pandang dari jauh. Diam-diam mengamati Andin, tetapi hari ini tempat sekretaris akan kosong. Tentu Evan akan beradaptasi dengan suasana di ruangannya tanpa sosok Andin di sana.
"Apa sebaiknya aku ikut ke kantor?" balas Andin kemudian.
Evan menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak. Tidak usah. Baiklah, aku berangkat yah. Hati-hati di rumah. Nanti siang aku antar ke kampus yah," balas Evan.
Sebenarnya Andin bisa berangkat ke kampus sendiri dengan mengemudikan mobilnya, tetapi Evan yang memaksa untuk bisa mengantarkan Andin ke kampus. Dia ingin bisa melakukan banyak hal untuk istrinya itu.
"Hati-hati di jalan ya Mas Evan. Semangat ya bekerjanya My Hubby," balas Andin.
Evan kembali tersenyum, pria itu sedikit menundukkan kepalanya dan mengecup kening istrinya itu dengan penuh cinta.
"Bye, I Love U," pamit Evan.
Evan bergegas masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikan mobilnya sendiri. Teringat dengan Papanya yang selalu berangkat ke kantor dan Mama Sara akan mengantarkannya sampai ke depan pintu. Sekarang Andin pun juga demikian, terlihat Andin masih berdiri di depan pintu dan menunggu sampai mobil Evan menjauh.
Mengemudikan mobilnya sendiri, tentu ada yang berbeda. Biasanya ada Andin yang mengajaknya mengobrol, kini mobilnya pun kembali sepi. Sudah terbayang bagaimana nanti suasana di ruangannya tanpa Andin.
Beberapa saat berkendara, kini Evan sudah tiba di Agastya Properti. Pria itu segera memasuki ruangannya dan menganggukkan kepalanya ketika beberapa karyawan menyapanya. Setibanya di ruangannya, Evan mende-sah dan menatap kursi sekretaris yang biasa ditempati Andin dari jauh.
"Tetap berbeda Andin. Kenapa aku menjadi tidak bersemangat seperti ini?"
Tepat seperti yang Evan bayangkan bahwa ruangannya menjadi sepi. Jarak pandangannya terbatas dan tidak ada sosok Andin yang bisa ditangkap oleh retina matanya.
"Baru beberapa menit saja, sudah hilang semangatku, Yang."
Lagi Evan menggerutu, hingga Emelaporkan kaget ketika karyawannya mengetuk pintu ruangannya dan hendak melaporkan hasil pekerjaannya.
"Bos," sapa karyawannya itu.
"Eh, Rav … masuk, Rav," balas Evan.
"Sibuk enggan Bos?" tanya Ravendra kemudian.
Terlihat Evan menggelengkan kepalanya, "Free. Ada apa?" tanyanya.
"Ini tawaran kerja sama dari Saputra Grup, Bos. Tolong dicek dulu. Biasanya aku memberikannya kepada Nyonya Andin, berhubung Nyonya sudah selesai kemarin, jadi aku berikan langsung dengan Mr. Evan," goda Ravendra.
Evan dengan wajah datarnya hanya mengulurkan tangannya dan menerima file yang diberikan Ravendra kepadanya. Melakukan review sesaat dan juga menilik apakah kerja sama ini akan menguntungkan.
"Butuh sekretaris baru tidak Bos?" tanya Ravendra kemudian.
"Enggak butuh. Kenapa aku jadi gak bersemangat kayak gini yah?"
Ravendra yang mendengar ucapan Bosnya pun menahan tawa di sana. "Tanda-tanda bucin menyerang itu, Bos. Pengennya sama Nyonya terus. Santai saja Bos, kan di rumah bisa sama Nyonya dan gak kepisah," balas Ravendra.
Evan hanya menggelengkan kepalanya, "Susah yah kembali beradaptasi, padahal sudah nyaman dengan kehadiran seseorang," curhatnya.
Itulah Evan, ada kalanya dengan orang yang sudah akrab dengannya, Evan bisa curhat colongan dengan orang tersebut. Ravendra yang mendengarkan justru kembali terkekeh perlahan.
"Kenapa Nyonya tidak part time di sini aja Bos? Kan Bos atasannya, anak pemilik perusahaan ini. Daripada Bos makin galau," balas Ravendra.
"Menggunakan wewenang untuk keperluan pribadi itu tidak tepat, Rav," balas Evan.
"Daripada Bos galau. Toh kan Nyonya di sini juga bekerja, bukan main-main atau yang aneh-aneh," balas Ravendra.
"Dia juga kuliah, Rav … semester akhir dan mau skripsi. Agaknya aku terlalu jahat jika membuatnya tidak fokus dengan kuliahnya," balas Evan lagi.
Sebenarnya Evan merasa dilema. Ingin dengan Andin, tetapi istrinya itu masih kuliah. Namun, tidak melihat Andin saja rasanya juga ada yang kurang.
Fixed, bagi Ravendra ini adalah tanda-tanda bucin melanda. Bosnya yang tampan, menawan, dan mapan itu akhirnya bucin juga dengan istrinya. Namun, Ravendra memahami memang begitulah cinta, semua akan bucin pada waktunya.
"Ya sabar, Bos. Penyesuaian memang butuh waktu. Mungkin Bos perlu satu hingga dua hari untuk menyesuaikan diri, setelahnya akan lebih mudah beradaptasi. Itu Pak Belva saja bisa kok, padahal Papanya Bos juga sayang dan cinta banget sama Nyonya Sara kan?" balas Ravendra.
Evan menganggukkan kepalanya, yang dikatakan Ravendra sepenuhnya benar. Papanya juga begitu mencintai Mamanya, tetapi Papanya bisa berhasil dalam bisnisnya. Agaknya Evan harus mencontoh teladan Papanya, supaya bisa bekerja fokus, maksimal, dan juga tidak mengurangi kompetensinya sebagai Wakil Presiden Direktur.
Boleh galau, tetapi semangat untuk bekerja harus dijaga. Lagian benar yang dikatakan Ravendra, Papanya sangat mencintai Mamanya, tetapi Papanya juga bisa fokus bekerja dan mencapai kesuksesannya.