Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Video Call!


Di luar ruang operasi mendengarkan tangisan bayi, membuat Mama Tika menangis di sana. Sungguh, tidak menyangka bahwa Arine akan melahirkan bayinya. Putrinya yang dia sayangi dengan sepenuh hati, hari ini telah resmi menjadi seorang Ibu. Sementara Papa Miko memilih duduk dan juga merasan tegang.


“Kelihatannya bayinya sudah lahir,” ucap Papa Miko kepada istrinya.


“Iya, Mama mendengarkan tangisan seorang bayi,” balas Mama Tika.


Di dalam hatinya, Mama Tika berharap bahwa Arine dan juga bayi kecil yang baru saja dilahirkan akan lahir dalam kondisi sehat, lengkap, dan juga sempurna. Sembari menunggu operasi di dalam selesai.


Sementara di dalam sana, Arine dan Rendra sama-sama menangis. Ya, begitu senang dan tentunya terharu. Terutama kala Dokter mengangkat bayinya. Terlihat bayi dengan kulitnya yang putih, pipi yang kemerah-merahan, dan ada lendir juga darah di dekat hidungnya, bayi itu menangis dengan begitu kerasnya.


Ketika bayi kecil itu menangis, rasanya seluruh tubuh Arine merasakan merinding karena perasaannya begitu senang dan haru. Tangisan pertama bayi mungil itu benar-benar mengubah dunianya. Tangisan pertama bayi mungil itu menjadi momen puncak dia benar-benar telah menjadi seorang Ibu.


“Selamat Sayang … bayi kita,” ucap Rendra dengan menggenggam tangan Arine dan juga mengecupi kening istrinya itu.


Proses pun berlangsung dengan bayi kecil yang diberi nama Raline itu melakukan Inisiasi Menyusui Dini. Ada Rendra yang terus meneteskan air matanya melihat bayi kecil itu mencari sumber ASI sebagai nutrisi pertama kehidupannya. Sementara di bawah sana, Dokter dan Tim Medis mengeluarkan plasenta, dan juga menjahit kembali bekas sayatan di perut Arine.


“Secantik kamu,” ucap Rendra kemudian.


Ya, bayi kecil itu memang terlihat cantik. Kulitnya yang putih dengan pipinya yang kemerah-merahan, rambutnya juga hitam lega. Sungguh, dia adalah bayi tercantik di mata Rendra.


“Makasih,” balas Arine pada akhirnya.


“Kita sudah naik level sekarang menjadi orang tua bagi Raline,” balas Rendra.


Ya, semula mereka yang hanya menikah dan kini sudah menjadi orang tua untuk bayi kecil itu. Mengalami naik level dan juga berharap kehidupan pernikahan mereka akan kian bersemi dengan hadirnya Raline di tengah-tengah mereka.


***


Beberapa jam kemudian ….


Dampak dari obat bius epidural yang disuntikkan di tulang belakang Arine sudah membuat wanita itu sadar. Hal pertama yang dia cari ketika membuka mata tentu adalah bayi kecilnya.


“Mas, Raline di mana?” tanyanya lirih.


“Di inkubator, Sayang … observasi dulu selama enam jam,” balasnya.


Hingga ada Mama Tika dan Papa Miko di sana. Keduanya juga senang karena sekarang mereka sudah menjadi Eyang untuk cucu pertamanya. Mama Tika pun meneteskan air matanya begitu Arine sudah sadar.


“Selamat Arine … hari ini kamu sudah menjadi Mama. Selamat menjadi orang tua untuk bayi kecil kamu. Mama doakan kalian bertiga akan selalu berbahagia. Menjadi orang tua terbaik untuk Raline,” ucap Mama Tika.


“Makasih Ma,” balas Arine.


Baru beberapa saat berlalu, terdengar handphone milik Mama Tika berdering. Wanita paruh baya itu pun menunjukkan kepada Arine, “Adik kamu melakukan video call,” ucapnya.


Mama Tika lantas menggeser ikon warna hijau pada panggilan video kala itu. Terlihat wajah Andin dan Evan di layar handphone itu.


“Halo Mama … apa kabar? Kak Arine sudah melahirkan kan Ma? Bisakah Andin berbicara dengan Kak Arine?” tanyanya.


“Iya, sudah, Ndin … ini ada kakakmu,” balas Mama Tika.


Mama Tika menyerahkan handphone kepada Rendra, sehingga Rendra yang menggenggam handphone itu dan menunjukkan wajah Arine di sana. Melihat Kakaknya yang sudah menjadi seorang Ibu, Andin pun menitikkan air matanya.


“Selamat Kak … akhirnya hari bahagia ini tiba,” ucapnya.


“Makasih Ndin, semoga kamu segera nyusul yah,” balas Arine. Ya, Arine berharap adiknya itu juga bisa segera mendapatkan momongan.


Di Jakarta sana, Andin pun tersenyum, “Doakan saja Kak … mana baby nya?” tanya Andin yang tampak ingin melihat di mana keponakan kecilnya berada.


“Masih di inkubator, Andin … masih harus diobservasi katanya,” balas Rendra yang kali ini menjawab pertanyaan Andin.


“Oh, jadi kapan Om dan Ontynya bisa melihat dedek bayi yang super cantik?” balas Andin lagi.


Ketika Andin menanyakan itu, rupanya ada perawat yang datang dan memberikan baby Raline kepada Arine. Perawat itu mengatakan bahwa si bayi waktunya untuk mendapatkan ASI, sehingga meminta Arine untuk memberikan ASI kepada bayinya. Juga, perawat itu menjelaskan bahwa Baby Raline sudah buang urine dan juga pup pertamanya. Sehingga sistem pencernaan bayi kecil itu juga aman dan juga sehat.


“Ini ponakan kalian,” tunjuk Rendra, dan kemudian menggeser kamera ke arah Raline yang kini dalam gendongan Arine di sana.


“Ya ampun … cute banget. Cantik banget,” balas Andin dengan begitu gemas melihat bayi kecil itu. Hanya sebatas melihat saja, rasanya Andin begitu gemas dan juga ingin memiliki bayi perempuan yang cute, dan cantik seperti itu.


“Cantik banget Kak Arine … siapa nih namanya keponakan Onty?” tanya Andin lagi.


“Namanya Raline, Onty,” balas Arine dengan tersenyum.


“Wah, cantik … namanya juga cantik. Nanti kapan-kapan main sama Onty yah. Diajak jalan-jalan sama Om Evan yah,” balasnya.


Evan yang sedari tadi diam, akhirnya turut berbicara, “Selamat ya Rine dan Rendra. Sehat dan bahagia selalu,” ucapnya.


Walau memang mereka adalah saudara ipar, tetapi memang Evan yang merasa usianya lebih tua memanggil Arine dan Rendra langsung saja dengan namanya. Arine dan Rendra sendiri juga tidak keberatan.


“Makasih Van,” balas Arine dan Rendra bersamaan.


“Ya sudah Kak … speedy recovery ya Kak. Semoga sehat selalu dan juga salam sayang untuk keponakan kecil yang super cantik dari Om Evan dan Onty Andin,” balasnya.


Sekadar turut merayakan kebahagiaan dan menyambut anggota baru terkecil di dalam keluarganya Evan dan Andin juga merasa senang dan bahagia. Semoga juga mereka juga akan segera dikarunia buah hati yang lucu dan menggemaskan seperti Arine.


Sementara di Sydney, Australia sana keluarga itu begitu bahagia. Semua atensi tertuju kepada Raline. Rasanya kebahagiaan yang berlimpah begitu menyapa keluarga Sukmajaya. Hingga hati benar-benar meluap dengan syukur dan juga kegembiraan.