
Sudah beberapa jam berlalu, Evan dan Andin masih sama-sama duduk di pesisir pantai itu. Kali ini tidak banyak yang mereka obrolkan. Hanya saja, memang Evan dan Andin merasa begitu banyak hal dalam hubungan mereka. Bukan hanya perkenalannya yang baru seumur jagung, tetapi juga masalah pernikahan kontrak yang benar-benar menyiksa batin. Diam menjadi pilihan terbaik bagi mereka berdua.
"Ada yang ingin kamu kunjungi lagi Ndin?" tanya Evan.
"Tidak ada Pak ... bisa ke pantai dan sedikit melepaskan kepenatan sudah lebih dari cukup," balas Andin.
"Sayangnya kepenatan itu hilang hanya untuk sesaat, karena begitu kita sudah kembali ke rumah yang tersisa hanyalah kepenatan-kepenatan baru yang justru membuat otak semakin penuh," balas Evan.
Apa yang dikatakan oleh Evan sepenuhnya benar. Memang demikian. Hanya saja sedikit merasakan angin yang berhembus, menatap birunya pantai berpadu dengan langit yang juga membiru setidaknya bisa mencharge kembali energi positif di dalam tubuh.
"Baiklah Pak Evan ... ini sudah hampir sore. Jadi, bisakah kita pulang?" tanya Andin kepada Evan.
"Tentu," sahut Evan.
Evan dan Andin pun kembali ke tempat parkir dan sekarang Evan akan kembali mengantarkan Andin pulang. Sepanjang perjalanan, keduanya juga tidak banyak terlibat dalam obrolan. Hanya saja, memang Andin merasa bahwa sekarang Evan adalah Kakak Iparnya. Entah itu menikah kontrak atau bukan yang pasti Evan sekarang adalah Kakak Iparnya. Bukankah takdir sungguh kejam untuk Andin? Sedari kecil hanya mendapatkan perhatian secara finansial dan materi, tetapi tidak pernah mendapatkan kasih sayang secara tulus. Sedangkan sekarang, pria yang duduk di sampingnya justru menjadi Kakak Iparnya.
Jikalau ingin berbicara jujur, Andin begitu tersakiti di sini. Namun, ingin memberontak pun semuanya sia-sia karena memang semuanya terlanjur terjadi. Tak bisa untuk diperbaiki lagi yang bisa hanyalah menjalani.
Beberapa saat berkendara, kini Evan sudah tiba di rumah Andin. Pemuda itu pun turut turun dan mengantarkan Andin sampai ke dalam pekarangan rumahnya. Akan tetapi, rupanya di sana ada Papa Miko yang sedang membaca koran di kursi yang berada di depan rumah. Melihat kedatangan Evan dan Andin, Papa Miko pun langsung menyambut menantu kontraknya itu.
"Sudah selesai pekerjaannya Nak Evan?" sapa Papa Miko dengan ramah.
"Iya Om, sudah selesai," balas Evan dengan bersikap datar dan biasa-biasa saja.
"Mampir dulu ... sekalian makan malam di sini saja," balas Papa Miko yang rupanya kali ini juga tetap menginginkan Evan untuk bisa makan malam di rumahnya.
"Tidak usah, Om ... Mama sudah menunggu saya di rumah," balas Evan.
Sebenarnya juga bukan Mama Sara menunggunya di rumah. Hanya saja memang Evan enggan saja untuk masuk ke dalam rumah dan bertemu lagi dengan Papa Miko. Perasaan mengatakan ada yang tidak benar dengan perangai pria paruh baya ini.
"Ayolah ... sekarang kamu bukan lagi orang luar buat kami. Kamu adalah menantu kami," balas Papa Miko.
"Menantu kontrak, Pa," sahut Andin.
Seakan Andin menegaskan kepada Papanya bahwa Evan hanya seorang menantu kontrak saja. Tidak lebih. Lagipula, pernikahan yang terjadi jelas-jelas kontrak, sehingga posisi dan kedudukan Evan pun hanya sebatas menantu kontrak saja.
"Apa pun itu yang penting dia kan menantu," balas Papa Miko dengan tersenyum. "Ya sudah, tidak makan malam tidak apa-apa. Masuklah untuk minum teh dulu," tawar Papa Miko selanjutnya.
Evan menghela nafas, kenapa pria paruh baya ini begitu gencar untuk bersikap baik padanya. Padahal Evan sudah menegaskan bahwa dirinya bersifat datar dan justru sering menolak tawaran dari Papa Miko. Namun, kali ini Evan mengiyakan saja.
Begitu masuk ke dalam rumah, di sana ada Mama Tika dan Arine yang sedang mengobrol bersama di ruang tamu. Melihat kedatangan Evan dan Andin, Mama Tika pun segera menyambut menantunya itu.
"Sudah datang Nak Evan?" sapa Mama Tika.
"Iya, sudah Tante," balasnya.
Di sini pun Evan masih memanggil kedua orang tua Andin dengan sebutan Om dan Tante. Memang Evan membuat peraturan sendiri dengan hatinya bahwa dia akan menyebut mereka Mama dan Papa saat Evan benar-benar telah menikahi Andin.
"Panggilnya Mama dan Papa, kan kamu sudah menantu di rumah ini. Masak masih memanggilnya Om dan Tante," balas Papa Miko lagi.
Evan memilih diam dan sama sekali tidak berkomentar. Arine yang duduk di sudut sofa pun merasa terintimidasi dengan kehadiran Evan. Sebenarnya Evan ini beraura dingin. Bagi siapa pun yang melihatnya untuk kali pertama pasti akan merasakan bahwa Evan ini adalah seorang pria yang dingin dan seolah begitu tegas dengan prinsip-prinsip yang dia pegang.
"Jadi, bagaimana profit Agastya Properti tahun ini Nak Evan?" tanya Papa Miko yang kini bertanya perihal keuntungan Agastya Properti.
"Wah, saya kurang paham Om ... semua itu yang tahu Direktur Utamanya, sementara saya hanya pegawai biasa di sana," balas Evan.
"Pegawai biasa bagaimana? Bukannya kamu putra CEO Agastya Properti, Pak Belva yang terkenal itu?" tanya Papa Miko lagi.
"Ya di rumah saya putranya, di perusahaan, saya hanya seorang pekerja saja. Tidak ada hak istimewa untuk putra seorang CEO sekalipun," balas Evan.
Itu adalah nyata, karena memang Evan begitu memutuskan bekerja di Agastya Properti dia dipekerjakan di divisi yang sesuai dengan ilmu, skill, dan ijazah yang dia miliki. Merintis karir dari bawah walau itu adalah perusahaan milik Papanya sendiri. Evan pun menjadi wakil direktur juga setelah beberapa tahun bekerja di Agastya Properti. Bukan sesuatu yang dia dapatkan secara instans. Sebab, Papanya adalah orang yang berorientasi pada proses. Proses yang dilakukan dengan baik dan bersungguh-sungguh tidak akan pernah mengkhianati hasil. Sementara jika sudah berproses sedemikian rupa dan belum berhasil, itu berarti kita harus bekerja dengan lebih keras supaya hasilnya maksimal.
"Ada yang seperti itu?" tanya Papa Miko.
"Ada, di Agastya Properti contohnya. Atau adik saya yang mengelola bisnis milik Mama, ketika senggang dan orderan full, Adik saya akan turun ke kitchen dan membuat kopi di sana," balas Evan.
Untuk bekerja, Mama dan Papanya memang menuntut anak-anak untuk bisa turun langsung. Melihat secara nyata bagian operasional. Bukan sekadar duduk di belakang meja dan tidak tahu apa-apa mengenai apa yang terjadi di lapangan.
Merasa sudah kurang lebih sepuluh menit berlalu, maka Evan pun berniat untuk pamit. Lagipula, dirinya juga butuh beristirahat juga dan Senin akan kembali ke kantor dengan berbagai pekerjaannya yang benar-benar banyak.
"Baiklah, saya pamit dulu Om dan Tante," pamit Evan dengan berdiri.
"Tidak menginap di sini Nak Evan. Menginap di sini juga boleh?" tawar Papa Miko lagi.
Evan kemudian tersenyum kecil dan menatap Papa Miko di sana, "Ingat perjanjian kita Om ... tidak akan pernah ada tinggal seatap. Permisi, saya pamit," balasnya.
Sungguh, rasanya Evan semakin merasa bahwa Papa Miko memiliki niatan lain atasnya, dan juga terlihat tidak ada bentuk hubungan yang dekat antara seorang Ayah dengan anaknya layaknya Papa Belva dan Eiffel yang terlihat erat dan justru tak terpisahkan. Di sini, Evan bisa melihat bahwa Papa Miko memang terlihat tidak begitu respek dengan Andin. Entah apa yang membuatnya demikian, hanya saja Evan merasa ada yang tidak beres dalam keluarga Sukmajaya ini.