
"Sebentar ya Sayang ... ada telepon yang masuk," ucap Evan yang kala itu masih berdiri di belakang istrinya yang masih mengerjakan skripsinya.
"Siapa Mas?" tanya Andin.
"Arsitek sih, mau lihat lahan di rumah kita. Aku kan mau membuat kolam renang di rumah. Jadi, dia minta mau survei tanah kita dulu lihat kontur tanahnya," balas Evan.
Setelahnya Evan agak menjauh dan menerima telepon yang tidak lain dari Aksara itu. Di sana Aksara mengatakan bahwa akan menemui Evan sekarang, mumpung Aksara sedang di jalan dan bisa singgah sebentar untuk melihat lahan yang tersisa dan juga kontur tanah di sana. Tentu Evan tidak masalah, justru jika dikerjakan lebih cepat, artinya lebih bagus karena dia akan segera memiliki kolam renang seperti yang dia idam-idamkan.
"Kepala arsiteknya mau ke sini, Yang ... jadi, nanti kita temuin dulu yah. Sambut tamu dengan baik," ucap Evan kepada istrinya itu.
Begitu terlihat bahwa dia adalah orang yang sopan dan menyambut tamu dengan baik. Seperti Papanya, Belva Agastya yang selalu menyambut tamu dan koleganya dengan baik. Evan pun menuruni banyak sifat-sifat dari Papanya.
"Tentu Mas Evan ... kita sambut Arsiteknya dulu," balas Andin yang sudah berdiri dan merapikan rambutnya sekali lagi dan melihat kaos yang dia kenakan apakah masih rapi dan layak ketika ada tamu yang datang ke rumah.
Kurang lebih hampir lima belas menit, terdengar bel pintu rumah berbunyi, Evan dan Andin pun turun bersama dan membukakan pintu bagi tamu yang akan datang.
"Selamat datang Pak Aksara," sambut Evan dengan begitu ramah.
Andin pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia melihat ke sosok wanita cantik yang berdiri di samping pria bernama Aksara itu.
"Bu Arsyilla kan?" tanya Andin dengan bingung.
"Andini kan?" balasnya.
Andin kemudian tersenyum dan menatap suaminya yang berdiri di sampingnya, "Mas Evan ... beliau dosen aku di kampus. Dosen Rancang Bangun yang tadi aku ceritakan," ucap Andin dengan terlihat senang dan sekaligus gugup. Sungguh, Andin tidak mengira bahwa dosennya itu datang ke rumahnya. Baru beberapa menit yang lalu, Andin menceritakan perihal dosennya itu kepada Evan, dan sekarang dosennya sudah berdiri di hadapannya.
"Dosen kamu yang tadi kamu ceritakan tadi?" tanya Evan.
"Iya, Bu Arsyilla Kirana," balas Andin dengan begitu excited.
Kali ini Aksara dan istrinya yaitu Arsyilla pun sama-sama tersenyum. Hingga Aksara berbisik lirih kepada istrinya itu, "Mahasiswi kamu ya Honey?" tanyanya.
"Iya, mahasiswi aku ... sekarang baru skripsi," balas Arsyilla.
Evan pun kemudian mempersilakan keduanya untuk masuk dan duduk di ruang tamu, "Silakan masuk ... duduk Pak Aksara dan Bu Arsyilla," ucap Evan.
Andin pun menuju ke dapur dan segera membuatkan minum untuk tamunya yang tidak lain adalah dosennya itu. Tentu Andin senang dan grogi juga di saat yang bersamaan.
"Tidak menyangka yah ... Pak Aksara ini suaminya Bu Dosennya istri saya," ucap Evan.
"Kebetulan saja Pak Evan," sahut Aksara.
"Makasih Andin," balas Arsyilla. "Saya panggil kamu seperti biasa, Andin tidak masalah kan?" tanya Arsyilla kali ini kepada Andin.
"Iya, tidak apa-apa Bu Arsyilla. Tidak masalah kok," jawabnya.
"Sudah lama menikahnya ya Pak Aksara? Lalu, di mana nih Duo Princess?" tanya Evan kepada Aksara.
"Ara dan Anna di rumah Omanya, Pak Evan ... biasa kalau Sabtu ada Oma dan Opanya yang ingin bermain sama cucunya. Kami sudah hampir 4 tahun menikah, Pak Evan ... masih baru," balas Aksara.
Evan pun tersenyum, "Masih baru itu Pak Aksara, Papa saya yang sudah lebih dari 25 tahun menikah saja masih merasa baru, begitu cinta sama Mama saya. Pasangan idola saya, Mama dan Papa saya," balas Evan dengan bangga. "Oh, iya ... dulu saya dan adik saya yang cowok itu kan selisih usia hampir 5 tahun, Mama dan Papa sering memanggil kami Duo E, karena nama kami sama-sama berawalan huruf E. Saya Evan, dan adik saya Elkan. Sebenarnya ada yang bungsu, cewek, namanya juga E, Eiffel," cerita Evan.
"Berarti nanti kalau Pak Evan memiliki baby akan diawali huruf E jugakah?" tanya Aksara dnegn tertawa.
Evan pun tertawa di sana, "Nanti diskusi dulu sama istri," balas Evan.
Cukup lama mereka berbincang-bincang, hingga Aksara sampai pada tujuannya untuk melihat lahan di sana. Sehingga mereka berjalan ke samping rumah. Aksara dan Arsyilla mengamati tanah yang luasnya kurang lebih 100 meter persegi itu.
"Masih begitu luas ini Pak Evan ... apakah Pak Evan mau membeli pasir putih itu, biar kesannya kayak di Dubai?" tanya Aksara.
"Kalau bisa tidak masalah Pak Aksara," balasnya.
Arsyilla kemudian melihat tanah di sana, dan berbicara sekilas kepada suaminya, "Kalau kontur tanahnya bagus sih tidak masalah Kak ... takutnya kan tanah bergerak itu, bikin bisa bangunan menjadi retak," ucap Arsyilla.
"Coba kamu lihat Honey ... ini tanahnya gimana?" balas Aksara.
Kemudian Arsyilla melihat lagi tanah di sana, memperhatikan bangunan di sekeliling rumah Evan itu, dan Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, "Bagus kok Kak ... tanahnya bagus dan tidak bergerak," balas Arsyilla.
"Yang memprediksi justru istrinya ya Pak Aksara?" tanya Evan kemudian.
"Istri lebih berpengalaman dan sering menerima konsultasi, Pak ... jadi dikaryakan," balas Aksara.
"Tanahnya bagus Pak Evan, jadi nanti saya akan buatkan desain gambarnya dan saya selaraskan dengan rumah ini yah ... supaya selaras dan unsur Timur Tengah, Dubai-nya tidak hilang," ucap Aksara.
"Baik Pak," balas Evan.
"Bu Arsyilla ... bisa tidak saya bertanya perihal skrispi," ucap Andin kemudian.
Agaknya Andin ingin sekaligus bertanya tentang skripsinya. Mumpung sang Dosen ada di sini, jadi memanfaatkan waktu yang ada tentu lebih baik bukan?