Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Dosen Pembimbing


Selang tiga hari berlalu, kini Andin pun bersiap kuliah. Lantaran Andin hendak kuliah. Evan pun memilih pulang ketika makan siang dan mengantarkan istrinya itu ke fakultasnya. Bukankah terlihat begitu tanggung jawabnya Evan ketika dia mau pulang dan juga mengantarkan istrinya untuk ke kampus.


"Ayo Sayang ... jadi berangkat ke kampus?" tanya Evan begitu masuk ke dalam rumah dan mencari istrinya itu.


"Ya Mas ... sebentar," balas Andin yang masih berhias di depan cermin.


Evan pun menggelengkan kepalanya, melihat Andin yang masih memantaskan diri dan menguncir rambutnya yang lebih dari sebahu itu. Lantas Evan menunggu dengan duduk sejenak di tepian ranjang.


"Gak usah cantik-cantik ... nanti kamu dilirik mahasiswa loh," balas Evan.


"Enggak ada ... lihat ini Mas," ucap Andin.


Evan mengernyitkan keningnya. Andin lantas mengangkat telapak tangannya dan memperlihatkan cincin pernikahan yang tersemat dengan indah di jari manisnya.


"Melihat ini saja, orang-orang akan tahu kalau aku sudah menikah," ucap Andin.


"Tidak semua orang juga, Yang ... kamu masih terlihat seperti mahasiswi gitu. Mana cantik lagi, sudah pasti banyak yang naksir kamu," balas Evan.


Andin pun terkekeh geli melihat suaminya itu, "Enggak juga Mas Evan ... santai saja. Mendengar siapa suamiku, mereka akan lari tunggang lanjang. Siapa sih yang enggak kenal sama Evander Agastya yang tampan dan rupawan ini," balas Andin.


Kali ini giliran Evan yang terkekeh geli karenanya, "Tidak semua orang itu kenal aku juga, Yang. Aku hanya pria biasa saja."


Kurang lebih lima menit berlalu, barulah mereka keluar dari rumah, dan Evan akan mengantarkan istrinya itu ke kampus.


"Berkas skripsi sudah semua?" tanya Evan kepada istrinya.


"Iya, sudah ... doakan juga ya Mas ... hari ini aku akan bertemu dengan Biro Skripsi. Aku juga akan mengajukan untuk mendapat Dosen Pembimbingnya Bu Arsyilla, semoga sih disetujui," balasnya.


Evan pun menganggukkan kepalanya, "Iya, semoga saja ... kalau dapatnya Bu Arsyilla disuruh konsultasi ke rumahnya loh, Yang ... kamu mau emangnya?" tanya Evan.


Andin pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Mau saja sih ... anterin ya Mas," balasnya.


"Iya, aku anterin .. cuma kalau tidak pas aku jadwal bekerja yah. Soalnya aku juga harus bekerja Sayang. Nanti aku diremehin sebagai seorang suksesor yang enggak kompeten," balasnya.


Andin pun sgeera menganggukkan kepalanya, "Iya Mr. Vice President. Tenang saja kok, aku akan menjadwalkannya sesuai jam kosong kamu kok. Kalau tidak kan aku bisa naik taksi online atau menyetir sendiri kan tidak masalah," balasnya.


Mobil yang dikendarai Evan pun akhirnya sampai di Fakultas Teknik Arsitektur. Bahkan Evan sengaja turun dari mobilnya dan membukakan pintu bagi istrinya itu.


"Kuliah yang rajin yah ... semoga judulnya diterima yah."


Andin pun memanyunkan wajahnya, karena kehadiran suaminya itu membuat atensi seluruh mahasiswa yang lalu lalang langsung memperhatikan suaminya yang tampan itu.


"Sebenarnya, gak usah keluar dari mobil. Aku gak suka mereka melihat kamu semua," balas Andin.


"Cemburu?"


"Ya sudah ... udah sana masuk. Nanti sore aku jemput sekalian aku pulang dari kantor yah," balas Evan kemudian.


Andin pun memasuki fakultas Teknik Arsitketur, dan menemui Biro Skripsi terlebih dahulu. Dia memberikan judulnya dan juga Bab 1 dari skripsi yang akan dia buat. Walau deg-degan. Hanya semua harus dijalani dengan sebaik mungkin.


"Silakan Saudari Andin," ucap kepala Biro Skripsi.


"Ya, saya Pak ... saya mau mengajukan untuk Skripsi," ucapnya.


Kepala Biro Skripsi pun mulai melihat judul yang dipilih oleh Andin, dan juga menanyakan alasannya kenapa memilih Studi Rancang Bangun.


"Kenapa memilih Studi Rancang Bangun?"


"Karena saya ingi memberikan penggambaran, perencanaan, dan pembuatan sketsa dalam sebuah bangunan secara utuh," jawabnya.


Terlihat Biro Skripsi itu menganggukkan kepalanya, "Kalau Studi Rancang Bangun itu yang expert adalah Ibu Arsyilla. Maukah Andin dibimbing Bu Arsyilla?" tanyanya.


Sebenarnya tidak perlu ditanya, karena memang Andin menginginkan untuk dibimbing Dosen favoritnya itu. Sudah pasti jawaban Andin adalah iya.


"Mau Pak," jawabnya.


"Baiklah ... saya berikan form-nya yah. Dosen Pembimbing 1 adalah Bu Arsyilla dan Dosen Pembimbing 2 untuk bagian metodologi adalah Bu Ratna," jawab Biro Skripsi itu.


Sungguh, kali ini Andin merasa lega, tenang, dan semakin percaya diri. Semoga saja skripsinya bisa dikerjakan dengan baik, terlebih ketika mengetahui bahwa dia mendapatkan Dosen Pembimbing yang ekspert. Rasanya Andin dipacu untuk terus bersemangat menyelesaikan skripsinya.


"Silakan langsung menemui Bu Arsyilla yah," pesan dari Kepala Biro tersebut.


Dengan perasaan senang, Andin pun menuju ke ruangan Dosen Bu Arsyilla dan melakukan bimbingan perdana. Wanita itu mengetuk pintu ruangan Bu Arsyilla dengan perlahan.


"Permisi Bu Arsyilla," sapanya.


"Ya, silakan masuk," jawab Bu Arsyilla dari dalam ruangannya.


Melihat Andin yang datang, Arsyilla pun tersenyum di sana. Agaknya memang Andin berhasil mendapatkan dirinya sebagai Dosen Pembimbing.


"Saya ingin konsultasi skripsi, Bu Arsyilla," ucapnya dengan tersenyum.


"Silakan duduk dulu. Jadi, membuat judul apa Andin?" tanyanya.


"Studi Rancang Bangun di Hotel Paradise, Bu Arsyilla," jawabnya.


Mendengar jawaban dari Andin, Arsyilla kembali tersenyum di sana. Hotel Paradise adalah hotel yang kini sedang dibangun dan dikembangkan Saputra Grup dan Agastya Properti, sehingga sebagai objek penelitian, tentu Andin akan diuntungkan karena Evan yang memimpin proyek tersebut.