Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Alibi Bekerja


Sore hari itu, Evan dan Andin masih menikmati jalan-jalan mereka di kawasan Opera House dan juga melihat pemandangan Darling Harbour. Beberapa kali mereka juga mengambil foto bersama. Mengabadikan moment mumpung keduanya sama-sama berada di Australia.


"Aku seneng banget lihat kapal-kapal yang keluar masuk dari pelabuhan," ucap Andin.


Evan yang berdiri di samping Andin pun tersenyum, "Aku lebih senang melihatmu, Nyonya," balas Evan dengan tiba-tiba.


Rasanya aneh, tetapi Evan nyatanya sering memanggil Andin dengan panggilan 'Nyonya'.


Bukan sekadar nyonya rumah, tetapi juga nyonya pemilik hatinya. Sedikit panggilan sayang yang Evan berikan bagi istrinya itu.


"Kamu bisa saja sih Mas Evan. Kamu itu kalau berbicara wajahnya datar, tapi suka bikin hatiku deg-degan," aku Andin dengan tertawa.


Ya, memang Evan yang menunjukkan ekspresi wajah yang datar, ucapannya juga tegas, bahkan nyaris tak ada senyuman di sudut bibirnya. Akan tetapi, Evan yang seperti inilah yang sering membuatnya deg-degan.


Dulu kala awal pernikahan, Andin sempat meminta kepada Evan untuk sedikit berubah. Akan tetapi, sekarang Andin bisa beradaptasi dan menerima Evan sepenuhnya. Lagipula, memang karakter Evan seperti itu. Yang pasti, Evan sekarang jika bersamanya menjadi orang yang lebih terbuka, banyak berbicara, walau memang belum banyak bercanda.


"Kenapa sih Mas, hobi banget bikin aku deg-degan?" tanya Andin sekarang kepada suaminya.


Evan menggelengkan kepalanya perlahan, "Entahlah, mungkin kamu yang merasakan itu secara alamiah. Mau di sini dulu, atau sambil beli kopi di sana?" tanya Evan kemudian.


"Cappuccino hangat kelihatannya enak ya Mas. Mau dong," balas Andin.


Evan mengulurkan tangannya di sana, "Ayo Nyonya, kita nikmati Cappuccino yang hangat," balasnya.


Akhirnya Evan mengajak Andin untuk mengunjungi kedai kopi yang berada di dekat pelabuhan. Dari kedai kopi ini mereka bisa melihat Darling Harbour bahkan Harbour Brigde. Pemandangan yang begitu indah. Bahkan beberapa kali Andin untuk mengabadikan pemandangan yang indah itu dengan kamera handphonenya.


"Minum dulu mumpung masih hangat," ucap Evan.


Andin pun segera meminum Cappuccino yang masih hangat itu dan kembali menatap Evan.


"Kamu pesan apa tadi Mas Evan?" tanyanya.


"Americano, Sayang. Biar aku tidak mengantuk. Malam ini aku ada pekerjaan," ucap Evan dengan tiba-tiba.


Mendengar bahwa di Sydney pun suaminya masih bekerja, Andin menggelengkan kepalanya secara samar. Mungkinkah suaminya itu adalah tipe workaholic hingga tidak bisa menikmati liburan ekspress yang hanya tiga hari ini dan memilih untuk bekerja.


"No, gak boleh. Bagaimanapun, mereka pengantin baru, Yang. Butuh waktu untuk bersama. Menikmati malam pengantin. Jadi, di dalam kamar saja yah," balas Evan.


Andin hanya bisa menghela nafas. Memang lebih baik berada di dalam kamar dan menunggui suaminya yang akan bekerja itu. Cukup lama keduanya berada di kedai kopi itu hingga akhirnya hari sudah berganti malam dan keduanya memutuskan untuk kembali ke hotel. Di hotel, rupanya Mama Tika mengajak Andin mengobrol terlebih dahulu. Sementara Evan memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang memang harus dia kerjakan sekarang.


Hampir 45 menit, Andin bersama Mama Tika, sementara Evan memilih di kamar. Duduk di sofa dengan membawa tablet di tangannya dan sesekali melihat Darling Harbour yang terlihat dari kamarnya. Darling Harbour dengan Harbour Bridge yang kian memukau di malam hari dengan semua lampu yang menyala. Sangat indah untuk menikmati malam di area The Rocks.


“Mas, masih kerja?” tanya Andin yang baru saja balik ke kamarnya.


“Iya, masih … mandi dulu sana. Masak mau enggak mandi sih,” ucap Evan yang menatap sekilas kepada Andin.


Andin pun menurut saja untuk menuju ke dalam kamar mandi. Hanya butuh waktu lima belas menit baginya untuk mandi dan ketika Andin keluar, Evan masih begitu serius di sana.


“Kerja sampai jam berapa Mas?” tanya Andin kemudian.


“Hmm, sebentar lagi, Yang … ada apa?” balasnya.


“Aku bobok dulu boleh dong? Masak iya, aku harus nungguin kamu kerja?” tanya Andin kemudian.


Di sana Evan tersenyum, “Tidur saja, nanti aku susul. Sebentar lagi,” balas Evan.


Andin benar-benar masuk ke dalam selimut dan memilih memunggungi Evan dan berselancar dengan handphonenya. Melihat foto-foto pernikahan Arine dan juga foto yang mereka ambil bersama saat berada di Opera House. Hingga akhirnya ada pergerakan yang terasa ketika Evan naik ke tempat tidur dan mengecup pipi Andin di sana.


“Katanya tidur, ternyata belum tidur,” ucap Evan.


“Ishhs, cium-cium sih,” balas Andin.


“Iya … kan nyium Nyonya sendiri. Boleh dong,” balas Evan. “Kamu beneran sudah ngantuk?” tanya Evan kemudian.


Andin menggelengkan kepalanya, “Belum sih … cuma kalau kamu kerja terus, ya aku tidur aja,” balasnya.


Evan tersenyum, “Kali ini enggak kerja Sayang … cuma mau ngerjain kamu. Boleh kan?” tanya Evan yang sudah mengusapi kepala Andin dan juga menelisipkan rambut Andin ke belakang telinganya.


Sungguh, jika sudah begini rasanya hilang sudah kesadaran Andin. Evan terlalu mempesona untuk dia tolak. Hingga ketika Evan berkata untuk mengajaknya tercinta, Andin seolah terhipnotis dan hanyut dalam pesona Evander Agastya.