
Dua hari di hotel benar-benar dihabiskan Evan dan Andin untuk mengenal lebih dekat, selain itu tentu kegiatan mereka tidak jauh dari ranjang pengantin. Bahkan Evan yang semula gugup, kini justru tampak begitu profesional untuk bisa mengajak Andin memadu cinta yang berbalut kenikmatan. Agaknya, kali ini Evan benar-benar telah lulus untuk bisa membawa Andin terbang sampai ke langit yang ketujuh.
"Hari ini kita cek out ya Andin," ajak Evan kepada istrinya itu.
"Iya, Mas ... gak mungkin juga kan kita akan berada di hotel ini," balas Andin.
Evan kemudian tersenyum dan merangkul bahu istrinya itu, "Mungkin Sayang ... mau kamar khusus di hotel yang baru dibangun Agastya Properti?" tanya Evan kemudian.
Tampak Andin menggelengkan kepalanya, "Enggak ... enggak suka. Jangan," balasnya dengan cepat.
Evan yang melihat ekspresi Andin ketika menolak pun justru tersenyum tipis. Agaknya sekarang Evander Agastya mulai murah senyum, walaupun hanya senyuman tipis, tetapi wajah Evan tampak berseri-seri usai menikah dengan Andin.
"Aku sudah menyiapkan tempat yang nyaman untuk kamu," balas Evan kemudian.
"Hmm, di mana?" tanya Andin kemudian.
"Rumah ... rumah kita. Rumah di mana kamu akan menjadi Nyonya-nya," balas Evan.
Andin yang mendengarkan ucapan Evan hanya tersenyum di sana. Mungkin yang dibenak Andin sekarang adalah apartemen, mengingat apartemen menjadi pilihan untuk para pengantin memulai hidup bersama. Sehingga kali ini, Andin juga tidak bertanya banyak. Memilih mengikuti Evan saja.
Tidak berselang lama, keduanya memilih cek out dari hotel, dan Evan sendiri yang mengemudikan mobilnya. Kali ini Evan akan mengajak Andin menempati rumah yang sudah Evan sediakan sebelumnya untuk Andin. Tempat mereka akan memadu kasih dan juga menjadikan Andin sebagai satu-satunya Nyonya di rumah itu.
Hampir 45 menit berkendara, dan sekarang mereka memasuki cluster perumahan. Andin cukup terkejut, karena semula dia berpikir bahwa mungkin saja yang dimaksud oleh Evan adalah apartemen, tetapi sekarang Evan mengajaknya ke perumahan elite. Rumah yang ada di sana pun begitu besar dan juga megah. Kemudian Evan menghentikan mobilnya di rumah berlantai dua dengan pintu gerbangnya yang begitu tinggi.
"Masuk Nyonya ... ini akan menjadi istana kita," ucap Evan.
Andin tampak terkagum-kagum dengan rumah berlantai dua dengan model Mediterania yang indah itu. Dicat warna putih sehingga terlihat bersih dan kemewahannya juga terlihat di sana.
"Rumah kita?" tanya Andin kemudian.
"Iya, rumah kita ... sejak awal kan aku bilang rumah," balas Evan yang sudah mengatakan sejak awal bahwa dia mengatakan rumah, bukan apartemen.
"Bagus banget ... Rumah Papa saja bagus, ini jauh lebih bagus menurutku," balas Andin.
Evan lagi-lagi tersenyum tipis, "Tidak ... kamu berlebihan. Tetap bagus dan luas rumah keluarga kamu," balasnya.
Evan mengajak Andin untuk masuk ke dalam dan rumah itu memang begitu luar biasa. Lantainya saja dari marmer, semua desain interiornya juga dipikirkan dengan begitu bagus dan terkonsep. Banyak ornamen berwarna biru di sana. Royal biru yang menghiasi ruangan itu.
"Enggak begitu ... hanya saja aku teringat dengan kamar hotel di Burj Al-Arab, Dubai dan pernah aku datangi. Di sana menggunakan warna emas dan navy biru terlihat begitu mewah. Jadi, aku ingin menghadirkan kemewahan itu di hunian kita," balas Evan.
Andin sebenarnya cukup dari dari salah satu Youtuber yang mengunggah liburan di Burj Al-Arab, Dubai, dan seolah kini dia melihat semua itu di rumah baru ini. Warna cokelat, navu biru, dan dikombinasikan dengan warna emas. Benar-benar indah hunian itu.
"Sekarang ke lantai dua yah ... kamar kita di sana," ajak Evan.
Keduanya pun menaiki anak tangga dan menuju ke lantai dua, dan Evan membuka pintu kamar utama yang dia tempati dengan Andin. Dengan bangga, Evan mempersembahkan kamar itu untuk Andin.
"Kamar kita ... kamar pengantin baru," balasnya.
Lagi-lagi Andin terpesona dengan kamar itu. Benar-benar desain interiornya mirip Burj Al-Arab. Evan tidak main-main untuk mendekorasi rumah itu menjadi mewah dan nyaman.
Belum kamar mandinya yang luas dengan bath up dan shower di sana. Masih mengombinasikan warna biru muda dan royal blue di kamar mandinya. Rasanya Andin begitu takjub.
"Bagus banget ... tidak perlu jauh-jauh ke Dubai, karena ada di sini," balasnya.
"Kamu bisa saja ... nanti kalau senggang, aku akan mengajakmu ke Dubai," balas Evan kemudian.
"Kalau bisa saja, soalnya aku usai magang nanti juga kuliah lagi dan menyelesaikan skripsi. Ingat Mas, kamu menikahi mahasiswi," balas Andin.
Ah, barulah Evan tersadar memang Andin masih mahasiswi dan dia menjadi sekretaris di Agastya Properti juga karena magang saja. Sejenak, Evan sampai lupa jika Andin adalah mahasiswi dan menganggap Andin sebagai sekretaris pribadinya.
"Aku sampai lupa kalau kamu masih mahasiswi. Baiklah, kuliah yang rajin ya Nyonya," balas Evan.
Andin tampak diam dan menatap suaminya itu, "Nyonya apaan sih Mas? Dapur Nyonya itu?" tanya Andin kemudian.
Evan menggelengkan kepalanya, "Enggak dong ... kan kamu sudah resmi menjadi Nyonya Evan Agastya," balasnya.
"Bisa-bisanya," sahut Andin.
Evan lantas melirik kepada Andin, "Ini akan menjadi hunian untuk kita, dan untuk rumah tidak perlu bingung, ada bibi yang akan membantu memasak setiap harinya, ada tukang kebun dan bersih-bersih rumah nanti. Yang pasti kamu nyaman saja. Kita akan memulai hidup kita bersama di rumah ini, istana kita berdua," balas Evan.
Sebab, ketika Evan memutuskan untuk serius dengan seorang gadis, saat itu juga Evan sudah mempersiapkan rumah ini untuk pasangannya kelak. Sekarang, Nyonya rumah sudah menghuni rumah ini, tentu Evan merasa senang. Semoga banyak kisah indah yang akan terangkai di dalam rumah ini.