
Pasangan pengantin yang sudah disudah resmi dalam ikatan pernikahan yang sah itu, kini sama-sama memasuki kamar hotel mereka. Sungkan? Sudah pasti. Gugup? Pasti iya. Akan tetapi, Evan yang memang seseorang yang tenang merasa bisa mengendalikan keadaan. Dia pun juga tidak ingin membuat Andin tidak nyaman di sisi. Terlebih Andin yang masih muda, tentu banyak perhitungan dalam hidupnya. Evan mengambil prinsip bahwa semuanya bisa dijalani dengan perlahan-lahan. Juga akan memberikan waktu secara penuh untuk Andin. Yang pasti sekarang, dia sudah mengakhiri masa lajangnya.
"Kamar kita," ucap Evan. Sesungguhnya Evan kesusahan untuk meneguk ludahnya sendiri kala membuka kamar pengantin yang akan mereka tempati di hotel itu.
"Hmm, iya Mas," balas Andin yang tak kalah gugup.
"Kalau mau istirahat silakan," balas Evan lagi.
"Aku bersih-bersih dulu," balas Andin.
Tanpa berani menatap kepada Evan, Andin berlari ke dalam kamar mandi dan menguncinya. Badannya gerah usai melampaui akad dan juga resepsi yang dilangsung secara bersamaan. Kita dirinya membutuhkan waktu untuk membersihkan diri. Lebih dari setengah jam Andin berada di dalam kamar mandi dan sekarang Andin keluar dengan rambut yang setengah basah, dan mengenakan piyama yang begitu halus berwarna maroon.
"Enggak bersih-bersih dulu Mas?" tanya Andin yang melihat Evan tengah berkutat dengan tabletnya. Sudah pasti bahwa sekarang Evan sedang bekerja di sana.
"Iya, sebentar," balas Evan.
Selang lima menit berlalu, barulah Evan masuk ke dalam kamar mandi. Evan pun demikian merasa gerah, bukan hanya karena menikmati akad dan resepsi, serta berdiri sekian waktu lamanya, tetapi juga bersama seorang Andin dalam satu ruangan juga membuat Evan merasa gerah. Hampir setengah jam juga, Evan berada di dalam kamar mandi, dan pria itu keluar juga mengenakan piyama berwarna maroon yang senada dengan Andin.
Sekarang tidak terasa, hari sudah petang. Malam pertama bagi keduanya usai sama-sama menyandang status baru sebagai suami dan istri. Sebelumnya di dalam kamar mandi, Evan berpikir apakah harus malam ini melakukan hubungan suami istri. Evan menyadari dirinya tak berpengalaman sama sekali. Kalau pun ada pengalaman itu juga keisengannya dulu menonton film biru kala SMA, tetapi Evan tak pernah melakukan hal seperti itu. Berciuman dengan seorang gadis pun belum pernah Evan lakukan. Ah, Evan merutuki dirinya sendiri karena merasa dirinya adalah orang yang begitu amatir.
Lantas Evan keluar dari kamar mandi, pria itu mengedarkan pandangannya dan mencari sosok Andin. Rupanya Andin tengah duduk di ranjang dan tersenyum menatap layar handphonenya. Evan rasanya ingin tahu apa yang membuat istrinya yang masih muda, bahkan seusai adiknya sendiri, Eiffel itu terlihat tersenyum sekarang.
Memberanikan diri, Evan kemudian duduk di samping Andin.
"Baru ngapain?" tanya Evan.
"Oh, ini ... ada ucapan selamat dari teman-teman yang tadi datang," balas Andin.
"Oh ... kirain kenapa," balas Evan.
Evan tampak menghela nafas, sebagai seorang pemuda yang sehat tentu tidak munafik jika dirinya menginginkan Andin, terlebih sekarang mereka adalah pasangan suami dan istri. Namun, Evan begitu gugup, dia pun tidak tahu ketika harus memulai harus memulainya dari mana.
Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Evan sambil beranjak dari sisi Andin kemudian dia menelpon Adiknya terlebih dahulu dan dirasanya lebih hebat darinya untuk urusan bercinta.
Elkan
"Halo, El ... sudah sampai di rumah?" tanya Evan melalui sambungan telepon itu. Bahkan kini Evan memilih menjauh dari Andin dan duduk di sofa yang ada di dalam kamar pengantinnya.
"Ya Kak ... kenapa Kak?" Di seberang sana Elkan yang menerima telepon dari Kakaknya pun merasa bingung ada apakah gerangan yang membuat Kakaknya itu menelponnya.
"Begini El, bagaimana untuk memulainya?" tanya Evan secara jujur kepada adiknya sendiri.
Terdengar kekehan kecil Elkan melalui panggilan telepon itu. Banyak Elkan menepuk keningnya sendiri karena Kakaknya yang tampan, menawan, dan hebat itu kini justru menelponnya di malam pertamanya. Rasanya begitu menggelikan.
"Yakin saja Kak ... pasti bisa. Kendalikan suasana, lakukan bertahap step by step, pasti bisa Kak," balas Elkan yang seakan menjadi tutor untuk Kakaknya.
"Emang dulu kamu seperti itu?" tanya Evan.
Lagi justru terdengar gelakan tawa dari Elkan, "Santai saja Kak ... semua pria itu memiliki insting untuk memulai dan mengendalikan. Pasti Kakak bisa lah, tidak perlu aku jelaskan detailnya. Hahahah."
Tawa Elkan terdengar begitu membahana di telinga Evan. Tampak Evan yang diam dan mengusap wajahnya. "Aku bertanya serius El, kamu malahan ketawa. Awas ya nanti," balasnya.
"Aku juga memberitahunya serius, Kak. Jangan hanya pandai bernegosiasi dengan mitra dan memenangkan tender, Kak. Menangkan juga malam ini," ucap Elkan di sana.
Elkan tertawa geli di sana, kemudian Elkan kembali berbicara kepada kakaknya itu. "Tips tipis-tipis nih Kak, cium Kakak Ipar dulu, ciptakan atmosfer yang hangat, baru memulai. Semua pasti bisa, insting dan naluri Kakak yang akan menuntun kakak selanjutnya," balas Elkan di sana.
Rasanya Evan ingin bertanya lagi, tetapi Elkan buru-buru hendak menutup telepon itu, "Oke deh Kakakku ... kalau bingung nanti Whatsapp aja yah, Honeyku sudah menunggu," sahut Elkan dan mengakhiri telepon dari Kakaknya.
Usai menelpon Elkan, Evan kembali menghela nafas dan kemudian kembali mengambil tempat di sisi Andin. Pria itu kemudian menghela nafas kembali, dan berbicara kepada Andin.
"Kamu ingin makan dulu atau apa, Andin?"
Sekadar pertanyaan basa-basi untuk mencairkan suasana.
"Tadi sudah makan Mas ... istirahat saja," balasnya.
Kini Evan menggerakkan tangannya dan kemudian menggenggam tangan Andin di sana, "Andin, haruskah kita melalui malam pertama kita sekarang?" tanya Evan dengan menatap wajah Andin di sana.
Andin pun juga tidak mengira bahwa sekarang, di hadapannya, suaminya tengah menanyakan kepadanya untuk menjalani malam pertama mereka sebagai pengantin baru, menyatu padu untuk menguatkan akad yang sudah terucap dengan penyatuan dua ragu dalam pusara cinta.