Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Teman Satu Frekuensi


Tidak terasa bulan demi bulan sudah berlalu, tidak terasa kehamilan Andin kini sudah menginjak enam bulan. Andin yang sudah menunggu waktu untuk wisuda pun lebih banyak berdiam di rumah. Akan tetapi, Andin tidak kesepian, karena dia memiliki tetangga yang tidak lain adalah istri dari Ravendra, salah satu staf di Agastya Properti yang baik dan juga agak menyukai film India. Sehingga di kala senggang, keduanya menghabiskan waktu bersama untuk menonton film India.


“Kamu sudah lama nonton film India?” tanya Medhina kepada Andin.


“Lumayan sih Kak … dari SMP atau SD kalau enggak salah, dan itu gara-gara King Khan, yang membuat aku jadi suka banget sama film India. Kuch-Kuch Hotahae itu, bikin aku nangis bombay,” balas Andin dengan terlihat begitu excited.


Medhina pun tertawa, “Itu dulu ditonton Bunda aku. Cuma aku sukanya nonton Sinetron India di salah satu stasiun televisi. Beintehaa,” balas Medhina.


Andin pun langsung excited seketika, “Oh … Aliyah dan Zain yah?” tebaknya.


Medhina pun menganggukkan kepalanya, “Iya, aku ngikutin drama itu banget. Si cewek yang dari kelas menengah dan berhasil membuat Zain jatuh cinta kepadanya. Aku terharu. Berbalut konflik dan intrik berebut harta warisan,” balas Medhina.


“Ya ampun Kak … itu aku juga nonton. Suka banget sama aktris ceweknya yang cantik. Aku kalau lihat cowok cakep biasa saja sih Kak … enggak histeris gitu, tetapi seneng lihat cewek cantik,” balas Andin dengan tertawa.


Medhina pun tertawa, tidak mengira bahwa istri Bos suaminya itu adalah tipe yang banyak bicara dan juga ekspresif. Mungkin karena Andin juga masih begitu muda, sehingga pembawaannya begitu easy going.


“Kalau K-Pop suka enggak?” tanya Medhina kepada Andin.


Terlihat Andin menggelengkan kepalanya, “Kalau K-Pop gak tahu Kak … aku bukan seorang fans girling yang mengidolakan para idol. Paling juga suka nonton drama korea saja sih, satu atau dua gitu sih yang bagus,” balas Andin.


"Sama ... aku juga bukan fans girling, tetapi aku punya teman Pramugari dulu, dia itu Army, jadi waktu kami terbang ke Batam dan nginap di Batam, temanku ini menyeberang ke Singapura untuk lihat konser BTS di sana," balas Medhina.


Andin pun tersenyum, "Kalau sudah suka, menyeberangi pulau saja dilakuin ya Kak ... kalau aku pengen ke India sih, cuma Mas Evan bilang kalau India tidak seindah yang terlihat di filmnya, aku pengen ke Mumbai, foto saja tuh di depan rumahnya SRK, di Mannath. Gila yah aku," balas Andin.


Medhina pun tertawa, tidak mengira bahwa Andin sampai memiliki impian sekadar berfoto di depan rumah Superstar Bollywood yang memang menjadi tujuan wisata di Mumbai itu. Sekadar berfoto saja di depan pintu gerbang rumah sang Superstar.


"Segitunya yah," balas Medhina dengan menggelengkan kepalanya.


"Iya Kak Dhina ... aneh kan aku," balas Andin dengan tertawa.


"Bukan aneh sih, kalau ngefans kan seperti itu. Fanatisme," balas Medhina dengan tertawa.


Andin pun tertawa, "Benar ... fanatisme berlebih. Makasih ya Kak ... punya temen seserver itu bahagia banget," balasnya.


Medhina pun seolah menemukan sosok adik di dalam diri Andin. Memang Medhina adalah anak tunggal, tidak pernah merasakan rasanya memiliki adik, dan di dalam diri Andin ini ada kepolosan, kekocakan, dan juga fans girling aktor Bollywood yang luar biasa.


"Iya sama-sama, aku juga seneng. Ada teman di rumah, tidak begitu sepi," balas Medhina.


Kali ini Medhina pun menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak ... kami dijodohkan kok. Suamiku itu dulu mantan pacarnya sahabat karib aku. Lucu kan," balas Medhina kemudian.


Terlihat Andin mengernyitkan keningnya, terkejut juga dengan jawaban yang diberikan Medhina bahwa suaminya itu adalah mantan pacar sahabat karibnya. Kenapa bisa demikian? Bukankah aneh menikahi mantan pacar sahabatnya sendiri.


"Mantan pacar sahabatnya Kak Dhina? Sahabat dekat?" tanya Andin.


"Iya, sahabatku itu adalah Dosen kamu, Arsyilla," balasnya.


Kedua mata Andin kian terbelalak tidak menyangka bahwa suaminya itu adalah mantan pacar sahabatnya Medhina yang tidak lain adalah Dosennya sendiri. Kenapa bisa demikian? Andin kian bertanya-tanya rasanya.


"Bu Arsyilla Kirana?" tanya Andin lagi.


"Iya, Arsyilla Kirana," balas Medhina dengan tertawa.


"Kok bisa sih Kak?" tanya Andin dengan begitu penasaran.


"Ya, bisa ... cuma bersyukur kisah mereka telah usai dan justru mereka bisa berteman juga kok," balas Medhina.


Andin pun perlahan menganggukkan kepalanya, "Luar biasa ya Kak ... ketika masa lalu telah usai dan justru bisa saling berdamai. Kayaknya sekarang jarang deh, kalau sama mantan saja sekarang biasanya musuhan dan tidak mau menyapa," balas Andin.


Kenyataan di lapangan memang seperti itu. Biasanya tidak akan menjalin pertemanan lagi dengan mantan. Bahkan ada istilah, 'buanglah mantan pada tempatnya,' itu yang membuat mantan pacar tidak akan berhubungan lagi dengan mantannya. Gengsi, marah, dan ada perasaan sebagainya.


"Iya, cuma aku bersyukur banget memiliki suamiku. Dia pria yang sabar banget. Bahkan untuk apa yang aku suka dan dia tidak suka, dia bisa beradaptasi. Aku yang keras, dia begitu lembut dan sabar," balas Medhina.


Andin pun tersenyum, "Selalu ada hal yang bisa kita syukuri ya Kak Dhina ... aku juga begitu Mas Evan tidak begitu suka Film India, tetapi ngasih solusi dan aku bisa berteman dengan Kak Dhina, serasa memiliki kakak kandung dan sahabat," balas Andin dengan tulus.


Ya, itu adalah perasaannya bersama dengan Medhina, dia merasa memiliki seorang kakak dan juga seorang sahabat. Medhina pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya, aku juga serasa punya adik," balas Medhina.


"Seneng ya Kak ... bisa seserver begini. Lain kali nyalon yuk Kak ... Bumil kan nyalon, happy-happy juga tidak masalah," ajak Andin kemudian.


Medhina pun menganggukkan kepalanya, "Boleh, tapi pamit suami dulu yah ... jangan sampai nanti kita dicariin. Izin dari suami itu wajib," balas Medhina.


"Benar Kak ... boleh deh," sahutnya.


Dengan dekat satu sama lain, intensitas pertemuan Medhina dan Andin juga lebih sering. Dengan demikian para istri pun tidak kesepian lagi. Ketika para suami bekerja, ada kalanya keduanya saling mengunjungi rumah satu sama lain dan menonton film India sembari mengobrol dan membagi cerita.