
Kehamilan adalah kabar bahagia yang harus dibagikan kepada keluarga besar. Untuk itu, Evan dan Andin pun juga berencana untuk membagikan kabar bahagia ini kepada keluarga Agastya dan juga keluarga Sukmajaya.
“Memberitahu orang tua kita ya Sayang,” ucap Evan kemudian.
“Iya Mas … boleh, tapi peluk aku dulu, Mas. Aku masih gemetar,” ucapnya.
Itu memang usai melakukan testpack, justru badan Andin menjadi gemetaran. Evan sampai bingung sendiri dengan istrinya itu. Kenapa justru Andin seolah takut dan gemetaran seperti ini. Apakah istrinya itu baik-baik saja? Evan sampai berpikir untuk mengajak Andin ke Dokter untuk melakukan medical cek up secara menyeluruh.
"Nanti ke Dokter ya Yang ... badan kamu dingin dan gemetaran seperti ini," lagi Evan merasa panik dengan istrinya itu.
"Gak usah, Mas ... aku masih terkejut aja kok. Enggak nyangka ternyangka positif. Aku takut tadi kalau negatif dan kamu sudah berharap banyak. Takut kamu kecewa," balas Andin dengan jujur.
Itu adalah pengakuan yang begitu jujur dari Andin. Di dalam kamar mandi, dia mondar-mandir sembari menunggu hasil dari testpack itu. Yang Andin takutkan justru ketika hasilnya negatif dan Evan akan kecewa karenanya. Sampai gemetaran tubuh Andin usai memberikan kabar kepada suaminya pasti dia positif.
"Enggaklah Sayang ... kana negatif kan juga tidak apa-apa, kita bisa berdoa dan berusaha lebih giat lagi. Mau aku ambilkan minum dulu?" tanya Evan kemudian.
"Iya mau," balas Andin.
Akhirnya Evan mengambilkan minum untuk istrinya terlebih dahulu, sapa tahu dengan minum air putih, Andin bisa lebih tenang. Dalam hatinya, Evan juga bingung, sekadar panik dan takut jika sampai dirinya kecewa, Andin sampai berkeringat dingin dan juga gemetaran.
"Ini Sayang ... diminum dulu," balas Evan.
"Makasih Mas Evan," balasnya dengan menerima air minum dari suaminya itu. Setelahnya, Andin langsung menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Agaknya memang dirinya suka untuk dekat dan menempel seperti ini dengan suaminya itu.
"Aku telepon Mama dulu ya Sayang ... telepon Mama Sara dulu, setelahnya telepon Mama Tika," ucapnya.
"Iya Mas ... di sini aja ya Mas, duduk di samping aku," pinta Andin.
Evan pun mengulas senyuman di wajahnya, "Siap Nyonya ... aku ambil handphone dulu," balasnya.
Evan kemudian mengambil handphonenya yang ada di atas nakas, kemudian dia menghubungi nomor Mamanya. Membagi kabar baik ini kepada Mama dan Papanya terlebih dahulu.
Mama Sara
Berdering ....
"Halo Mama," sapa Evan begitu panggilan teleponnya berdering.
"Ya, Van ... ada apa?" tanya Mama Sara di seberang sana.
"Baru sarapan sama Papa kamu. Kamu dan Andin sudah sarapan belum?" tanya Mama Sara kemudian.
"Belum Ma ... abis ini baru mau sarapan," balas Evan.
Kemudian Mama Sara kembali berbicara di sana, "Tumben, Van ... sepagi ini kamu sudah telepon Mama. Ada apa?"
"Oh, ini Ma ... kami mau menyampaikan kabar baik kepada Mama dan Papa," balas Evan.
"Kabar apa Van?" tanya Mama Sara dengan terdengar begitu penasaran.
"Hmm, ini Ma ... Mama dan Papa akan menjadi Oma dan Opa. Andin barusan positif hamil," balas Evan.
Di seberang sana Mama Sara justru menangis. Tidak mengira bahwa dirinya akan menjadi Oma dan Opa, mereka akan mendapatkan cucu dari Evan dan juga Andin. Papa Belva yang ada di sana juga khawatir kenapa istrinya itu menjadi menangis tiba-tiba. Sementara Evan masih berbicara di handphonenya.
"Ma, Mama pasti menangis yah ... jangan menangis Ma ... kan ini kabar bahagia."
"Mama bahagia, Van ... akhirnya kamu dan Andin diberikan berkah dan tanggung jawab sama Allah. Nanti siang Mama ke sana yah. Mau dibawain apa?" tanya Mama Sara.
"Ma, Evan mau Beef Bulgogi dong Ma," pinta Evan kepada Mamanya.
"Oke, nanti Mama akan bawakan untuk kamu dan Andin. Sehat-sehat yah ... nanti Mama dan Papa kesana," balas Mama Sara sembari menutup panggilan videonya.
Setelah menghubungi Mama Sara, lantas Evan juga memberitahukan positifnya Andin kepada Mama Tika. Lantaran sambungan internasional, sehingga telepon Evan tidak berlangsung lama. Yang pasti Mama Tika dan keluarga Arine yang ada di Sydney juga merasa senang dengan kabar kehamilan Andin. Mereka juga berharap Andin selalu sehat.
"Sudah dikabarin semua, Yang ... dua keluarga. Terus kamu mau apa sekarang?" tanya Evan kemudian.
"Peluk dulu aja Mas ... masih pengen nempelin kamu," balas Andin.
Evan tersenyum dan segera memeluk istrinya itu, "Manjanya Bumilku ... besok kita periksa ke Dokter ya Sayang ... biar tahu sudah berapa minggu, selain itu kan adik bayinya juga membutuhkan vitamin dari Dokter kandungan."
Andin pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... hamil kok badanku kayak masuk angin gini ya Mas ... lemes," balasnya.
Evan mengusapi kepala istrinya itu dengan lembut, "Sabar ... orang hamil bawaannya kan beda-beda Sayang. Mau bobok lagi?" tanyanya.
"Enggak ... enggak ngantuk kok. Cuma lemes aja," balas Andin dengan kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya itu.