Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Salon Kecantikan


Selang beberapa waktu berlalu, Andin benar-benar merencakan ke salon dengan Medhina. Bagi Ibu hamil, ke salon kecantikan akan dimanfaatkannya untuk merawat diri, dan juga membuat dirinya lebih fresh. Evan pun tidak keberatan. Justru Evan sendiri tidak keberatan untuk mengantar istrinya itu ke salon kecantikan.


"Sudah sampai ... nikmati relaksasi, Sayang," ucap Evan.


"Iya, Mas ... kami lama loh. Kan mau perawatan, sesekali memanjakan diri," balas Andin kepada suaminya.


Evan pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, santai saja. Para Bumil memanjakan diri, para suami menikmati kopi. Gak usah tergesa-gesa. Santai saja," balas Evan.


Sama sekali Evan tidak memberikan durasi waktu khusus untuk istrinya. Melainkan dia akan membiarkan Andin untuk memanjakan diri. Menikmati jeda, dan menyegarkan tubuhnya kembali.


"Makasih Mas Evan ... saat seorang istri diberi waktu tenang kayak gini seneng banget deh," balasnya.


"Gak gratis Sayang, nanti malam yah," balas Evan dengan berbisik kepada Andin.


"Udah tahu apa yang kamu mau. Nanti malam boleh deh," jawab Andin.


"Oke, ya sudah. Hati-hati yah. Kabarin kalau sudah selesai, nanti aku jemput," balas Evan.


Andin pun memasuki salon kecantikan itu, dan ada Medhina yang sudah menunggu di sana. Tampak Andin tersenyum lebar ketika melihat Medhina.


"Sudah lama Kak?" sapanya.


"Baru saja kok, lima menitan," balas Medhina.


"Ya sudah, yuk Kak. Creambath dan meni pedi seru kayaknya deh," balas Andin.


Tampak Medhina menganggukkan kepalanya, "Boleh yuk, senengnya kapan lagi punya waktu ke salon kayak gini," balas Medhina.


Andin pun terkekeh perlahan, "Seru kan Kak. Bumil juga bisa ke salon kok, walau gak tiap hari," sahutnya.


Usai itu Medhina dan Andin sama-sama melakukan creambath. Aroma Avocado yang diberikan di rambutnya, pijatan yang cukup lembut di kulit kepala hingga tengkuknya membuat keduanya benar-benar merasa rileks. Sembari kepala mereka di-steam, keduanya melanjutkan dengan merapikan kuku-kuku di tangan dan kaki mereka.


"Mau diwarnai sekalian enggak Kak?" tanya pegawai salon itu kepada Medhina.


Sebab, Medhina mengingat sebuah artikel yang dia baca bahwa ada dua kandungan berbahaya dalam cat kuku atau penghapus kuku yaitu formaldehyde dan toluene yang sebaiknya dihindari oleh Ibu hamil. Kedua kandungan ini jika terhirup terlalu lama bisa menyebabkan iritasi pada hidung, mata, dan tenggorokan. Formaldehyde yang dipakai terlalu lama, paparannya juga bisa membuat kita terpapar kanker.


"Ada Kak ... kami memiliki cat kuku aman untuk Ibu hamil," jawab petugas salon itu.


Perlahan, Medhina menganggukkan kepalanya, "Oke deh Mbak, yang aman untuk Ibu hamil saja. Biar kami dan janinnya lebih aman," balasnya.


Andin pun tersenyum melihat Medhina di sana, "Bahkan untuk memakai cat kuku saja harus hati-hati ya Kak," ucapnya.


"Iya, harus dong. Bumil harus lebih jeli," balas Medhina.


Lebih dari satu jam Bumil itu menikmati perawatan di salon. Hingga akhirnya, Andin pun meminta suaminya untuk menjemputnya. Menunggu beberapa saat, suaminya pun sudah tiba.


"Sudah selesai?" tanya Evan kepada istrinya.


"Sudah, Mas," balas Andin.


Pun dengan Ravendra yang bertanya kepada istrinya, "Sudah Sayang?"


"Iya, sudah Mas," balas Medhina.


Setelahnya Andin menatap kepada suaminya, "Makasih ya Mas, udah diizinkan nyalon cantik sama Kak Medhina," ucapnya.


"Kalau sama istrinya Ravendra, aku percaya, Yang. Justru aku seneng, kamu bisa berteman," balas Evan dengan jujur.


"Makasih, berarti sering-sering nyalon sama Kak Dhina boleh dong?" tanya Andin lagi.


"Boleh aja. Penting izin dan kami harus mengantar, walau setelahnya menunggu di warung kopi," balas Evan.


Ya, bagi Evan tidak masalah jika Andin menikmati waktu senggang ke salon dengan Medhina. Justru Evan merasa senang karena istrinya itu memiliki teman, atau lebih tepatnya figur Kakak. Selain itu, yang terpenting adalah istrinya meminta izin terlebih dahulu. Toh, Evan tidak keberatan untuk mengantarkan Andin ke tempat mana pun.


Sementara bagi Andin, dipercaya dan juga diberi kesempatan untuk diri sendiri oleh suaminya membuatnya begitu senang. Menurutnya, memang ada kalanya seorang istri diberikan jeda sejenak dalam tugas rumah tangga yang selalu berulang dan tidak pernah ada habisnya.