Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Saling Menenangkan


Sementara itu, Evan mengajak Andin untuk masuk ke dalam kamarnya, di kediaman Mama dan Papanya. Sebab, tidak mungkin juga Evan ingin memeluk istrinya itu dalam keadaan di rumah tamu. Bisa saja kelihatan oleh beberapa ART yang bekerja di rumah Mama dan Papanya.


“Ikut ke kamarku sebentar yah,” ucap Evan.


Tidak menolak, Andin mengikuti saja kala tangan suaminya itu menggandeng tangannya dan membawanya menaiki anak tangga menuju ke lantai dua dan masuk ke salah satu ruangan yang ada di sana. Tentu itu adalah kamar milik Evan. Kamar yang ditempati Evan sejak Evan remaja hingga dewasa.


“Ini kamarku, Andin,” ucapnya.


Andin pun menganggukkan kepalanya, “Iya, aku tahu … begitu simpel dan rapi. Sama seperti dirimu,” balas Andin.


Dengan cepat Evan menutup pintu kamar itu dan kemudian memeluk istrinya dengan begitu eratnya. Andin yang dipeluk dengan tiba-tiba pun merasa begitu kaget, terlebih tangan Evan yang melingkari tubuhnya terasa membelit sampai Andin yang tubuhnya lebih kecil merasa sesak karenanya.


“Mas,” ucapnya lirih. “Jangan terlalu kencang, aku bisa sesak nafas,” ucapnya.


Evan melonggarkan sedikit pelukannya dan memejamkan matanya. Sungguh, perasaannya sendiri sangat sakit. Evan sejujurnya tidak suka dan tidak rela jika ada orang yang menghina keluarganya. Namun, bagaimana lagi jika yang menghina adalah mertuanya sendiri.


“Aku sebenarnya kesal, Andin,” ucap Evan kemudian.


Andin menganggukkan kepalanya, wanita itu memberikan usapan yang lembut di rambut, bahu, dan punggung suaminya itu. Usapan dari telapan tangannya yang lembut dan juga gerakan naik turun yang seolah tengah berusaha menenangkan Evan.


“Aku tahu, Mas … sangat tahu. Terlebih karena yang melakukannya adalah Papaku sendiri. Apa yang dilakukan Papa tidak benar, Mas,” balas Andin.


Dalam hati nuraninya sendiri pun, Andin menilai bahwa apa yang dilakukan Papanya itu tidak benar. Bagaimana bisa seorang besan datang ke kediaman besannya dan menuduh yang demikian. Lebih menyakitkan kala Andin mendengar bahwa Papanya itu meminta Evan untuk bisa menjadi CEO Agastya Properti dan juga mengalihkan warisan Evan atas nama Andin. Sungguh, semua ini begitu kelewat batas untuk Andin.


“Sebenarnya Andin … aku tidak suka ketika ada orang yang menghina orang tuanya dan itu dilakukan di depan mataku sendiri. Aku dari kecil sudah diberitahu Papa, perihal pernikahan Papa dan Mama sebelumnya sampai ada aku. Ketika pertama mengetahuinya, aku tidak bersedih, tetapi itu adalah upaya Papa untuk bisa memiliki keturunan. Jika, Papa tidak menikahi Mama dan melakukan sewa rahim, mungkin saja sekarang tidak pernah ada seorang Evander Agastya,” ceritanya kepada Andin.


Cara kita memandang masalah, cara kita memandang masa lalu memang berbeda satu orang dengan yang lain. Namun, kala itu Evan tidak merasa sedih. Dia lahir di dalam pernikahan yang sah. Dia lahir karena Mama dan Papanya saling cinta, walau memang perasaan itu tidak terucapkan. Kasih sayang Mama dan Papanya untuknya dan kedua adiknya juga sama besarnya, walau Evan tahu ada kalanya Mama dan Papanya memberikan perhatian lebih untuk adiknya. Akan tetapi, Evan tidak pernah dibedakan. Untuk pendidikan dan semua kebutuhannya, Mama dan Papanya juga selalu memberikan yang terbaik.


“Aku tahu Mas Evan … tidak apa-apa,” balas Andin.


“Tidak apa-apa dengan asal-usulku ini?” tanya Evan.


“Iya, tidak apa-apa. Sama seperti kamu yang menerima dan mencintaiku apa adanya. Demikian juga aku juga menerima dan mencintai kamu apa adanya. Aku tadi juga berkata jujur, walau kamu bukan ahli waris dan kita hidup sederhana pun tidak masalah, karena aku tahu bahwa kamu akan bekerja keras untuk aku dan anak-anak kita nanti. Kamu adalah pria yang memiliki skill dan kompetensi mumpuni. Aku sangat yakin, di mana pun kamu bekerja kamu akan selalu menjadi permata,” balas Andin.


Apa yang disampaikan Andin barusan benar-benar menguatkan dan membesarkan hati Evan. Pilihan tidak salah untuk mengajak Andin serius dan membina rumah tangga. Walau masih muda, ternyata Andin bisa menyingkapi masalah dengan baik dan juga melakukan pilihan yang tepat.


“Terima kasih sudah mau bertahan di sisiku, menemaniku,” ucap Evan kemudian.


Evan tersenyum, “Begitulah Mama dan Papa, Sayang … bahkan Mama dan Papa tidak pernah bertengkar. Seingatku sebagai seorang anak, tidak pernah melihat Papa dan Mama yang bertengkar. Ya, mungkin bertengkar, cuma tidak menunjukkannya kepada anak-anaknya. Walau Mama ada kalanya bersedih, Papa juga menjadi orang yang berdiri di garda terdepan untuk menenangkan dan menghibur Mama,” cerita Evan kepada istrinya.


“Semoga pernikahan kita dan hubungan kita bisa seperti Mama dan Papa ya Mas … aku juga mau memiliki kehidupan rumah tangga yang seperti Mama dan Papa,” balas Andin.


“Iya Sayang … sama-sama belajar. Cepat lulus kuliahnya juga yah,” balas Evan.


Evan lantas mengikis pelukannya, pria itu kini dengan cepat mengecupi bibir Andin di sana. Menundukkan sedikit wajahnya dan mendaratkan kecupan demi kecupan di bibir Andin. Rasanya semua pening di kepalanya akan sirna, ketika bisa menghisap manisnya nektar yang tersembunyi di dua belah bibir Andin itu. Mengecupnya perlahan.


Chup! Chup! Chup!


Akan tetapi, pada kecupan yang terakhir, Evan membuka sedikit bibirnya dan mulai menyapa bibir Andin di sana. Menghisapnya perlahan, menghisap lipatan bawahnya. Evan tersenyum melihat kedua mata Andin yang masih membuka di sana. Lantas Evan membawa satu telapak tangannya dan menutup mata Andin di sana. Hingga Evan mengikis wajahnya, dan tersenyum menatap Andin.


“Kalau dicium, pejamkan mata dong,” ucap Evan dengan tiba-tiba.


Andin tersenyum, wanita itu dengan cepat menghambur masuk dalam pelukan suaminya. “Apa sih Mas,” ucapnya dengan wajah yang merona merah di sana.


“Lagi?” tanya Evan.


Andin diam, Evan kembali menundukkan wajahnya dan mulai mendaratkan bibirnya dengan begitu hati-hati di tengah-tengah dua lipatan bibir Andin yang begitu merekah. Evan menunggu, dan dia perlahan mulai mengecupnya, memagutnya dengan begitu lembut. Sungguh sebatas berciuman seperti ini saja membuat Evan melupakan sedikit rasa kesal di dalam hatinya. Hingga di dalam, ketika Evan ingin memperdalam ciumannya, dan tangannya hendak memberikan rabaan di area dada milik istrinya terdengar ketukan di pintu kamarnya.


“Evan … Andin, kita makan malam sekarang yah,” suara Mama Sara yang memanggil kala itu.


Evan menarik kembali wajahnya, pria itu tertawa dengan sedikit menengadahkan wajahnya. Lantas menjawab suara Mamanya.


“Oke Ma,” balasnya.


Andin pun tersenyum dan memukul dada suaminya itu. “Tahan … sabar, kita di rumah Mama dan Papa,” ucapnya.


Evan pun menganggukkan kepalanya, “Oke … nanti di rumah ya Sayang. Can you handle it?” tanyanya.


Andin menggelengkan kepalanya, “No, aku tidak akan bisa.”


“You can do it. I know,” balas Evan dengan begitu yakin.


Agaknya memang kali ini, Evan dan Andin harus segera turun karena Mama Sara dan Papa Belva sudah menunggu. Setidaknya sekarang keduanya sudah saling menguatkan satu sama lain. Saling menenangkan, dan juga semakin dikuatkan ikatan keduanya dalam mengarungi samudra luas yang bernama rumah tangga.