Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Konsekuensi


Keesokan harinya, Andin berniat berangkat ke Agastya Property lebih pagi. Semua itu karena Andin ingat dengan berkas-berkas yang masih harus dia input. Juga, Andin memang berjanji akan datang lebih pagi dan menyelesaikan ekstra pekerjaan yang diberikan oleh atasannya itu kepadanya. Sehingga jam 07.00, Andin sudah tiba di kantor.


Setiba di ruangannya, Andin segera menyalakan personal komputer yang ada di mejanya. Tiga buah berkas yang kemarin Evan berikan sudah masih ada di sana. Sehingga, pagi hari itu Andin sudah berjibaku dengan berkas-berkas itu, dan berharap bahwa ketika jam 08.00 saat atasannya tiba, beberapa berkas itu sudah nyaris selesai.


"Ya Tuhan, benar-benar kerja keras bagai kuda benaran deh ... kalau engga demi nilai PPL yang bagus, enggak akan juga aku bekerja seberat ini. Udah bosnya jutek, galak, udah gitu diktator juga. Pak Evan, Anda tuh cakep banget ... cuma kenapa kadar jutek dan galaknya Anda juga berlebihan sih," gerutu Andin dalam hati.


Rupanya baru saja Andin mengerjakan laporan itu, kurang dari jam 08.00, atasnnya sudah tiba di kantor. Ya, maskot Agastya Property itu sudah tiba dengan mengenakan setelan jas berwarna biru gelap, aroma musk bercampur dengan Sandal Wood seolah menyeruak memenuhi ruangan Wakil Presiden Direktur ini. Mendengar langkah kaki dari sang atasan, Andin juga segera berdiri dan menyambut atasannya itu.


"Selamat pagi, Pak," sapa Andin.


Sayangnya, sapaan selamat pagi tak terjawab. Ya, Evan memilih berlalu begitu saja, dan segera masuk ke dalam ruangannya. Merasa sapaannya tak terbalas, Andin pun mencebik kesal di dalam hati. Bisa-bisanya atasannya itu menghiraukannya dan memberikan balasan singkat pun tidak. Apakah semua ini karena kemarin Andin yang memilih pulang dan tidak mau lembur? Pagi hari yang sudah membuat Andin bad mood.


Walau perasaan tidak enak, tetapi kerja harus profesional. Untuk itu, Andin segera pergi ke pantry yang memang berada di lantai itu, dan membuatkan secangkir kopi untuk atasannya. Andin sudah paham sesuai arahan dari Personalia hanya Pak Evan menyukai kopi hitam dengan dua sendok gula setiap paginya. Untuk itu, Andin segera membuatkan kopi untuk atasannya itu, sekaligus Andin akan meminta maaf. Bagaimana pun, kemarin itu adalah kesalahannya.


Ketika mengaduk perpaduan kopi, gula, dan air panas dalam cangkir itu, beberapa kali Andin menghela nafas karena memang pagi harinya kembali berat. Semoga saja, Pak Evan bisa memaafkannya kali ini. Bahkan Andin juga memejamkan matanya sesaat karenanya. Menaruh cangkir porselin putih itu ke atas nampan, kemudian Andin berniat untuk memasuki ruangan atasannya.


"Permisi Pak Evan," sapa Andin lagi sembari membuka pintu perlahan-lahan.


Evan yang sudah duduk di kursi kerjanya, hanya menatap Andin dengan sekilas. Akan tetapi, pemuda itu sama sekali tak bersuara. Hanya pandangan matanya yang tajam yang terlihat jelas. Sungguh, sekarang ini Andin seolah terintimidasi oleh sorot mata tajam Evan.


"Kopinya Pak Evan ... silakan," ucap Andin lagi.


Evan tanpa bersuara hanya menganggukkan kepalanya saja, pemuda itu menggunakan dagunya untuk menunjuk bahwa kopi yang dibuatkan oleh Andin harus ditaruh di atas meja makan. Kemudian Evan melirik sekilas kepada Andin. Rupanya, Andin juga tidak langsung pergi ... melainkan Andin masih berdiri di depan meja kerja Pak Evan.


Lagi-lagi Evan masih diam, hanya melirik saja sekilas kepada Andin. Sementara Andin sendiri merasa begitu kesal. Andin paling tidak suka jika didiamkan seperti ini, tetapi nyatanya Evan justru bersikap keterlaluan kepada Andin karena hanya diam sedari tadi.


"Lanjutkan pekerjaanmu, usahakan hari ini sudah selesai," sahut Evan pada akhirnya.


Andin yang sedari tadi menundukkan wajahnya, perlahan memberikan anggukan secara samar. Kemudian dia keluar dari ruangan atasannya itu dengan menutup kembali pintu, menaruh nampan kecil ke pantry, dan setelahnya Andin kembali ke meja kerjanya dan menginput data demi data yang ada. Ya Tuhan, menginput data bukan perkara mudah, tetapi harus dilakukan dengan konsentrasi tinggi supaya tidak terjadi kesalahan saat menginput sebuah data.


"Kenapa sih Pak Evan ... jutek banget. Padahal kalau ramah sedikit saja, pasti sudah bisa membuat orang lain nyaman. Kenapa sih Pak, hobi banget membuat orang lain merasa bersalah," ucap Andin dalam hati.


Ya, itu adalah ucapannya dalam hati saja. Sebab, pada kenyataannya Andin juga tidak akan berani untuk bersuara secara langsung kepada Evan. Entah, sudah berapa jam lamanya Andin mengerjakan pemberkasan itu. Sampai matanya begitu lelah, terlebih sekarang sudah mendekati makan siang, tetapi agaknya Andin juga tidak bisa keluar hanya sekadar untuk makan siang karena kerjaannya dari Pak Bos belum selesai.


Tepat ketika waktunya makan siang, Evan keluar dari ruangannya dengan menenteng jasnya di satu tangannya. Pemuda itu berlalu begitu saja melewati meja kerja sekretarisnya. Tidak pamit juga kepada Andin. Mungkinkah ini adalah konsekuensi dari pembangkangan Andin kemarin?


Jujur, didiamkan diperlakukan seperti ini membuat Andin sakit hati. Tidak pernah sebelumnya ada orang yang mendiamkannya seperti ini. Akan tetapi, karena sekarang di lingkungan kerja dan Evan adalah atasannya, Andin juga tidak bisa terlalu banyak melakukan protes.


"Katanya ngajak seriusan, cuma sekarang ngambeknya nggak ketulungan. Gimana aku bisa mau, kalau Pak Evan saja sejutek dan sekaku ini kepadaku. Ini mah namanya bukan seriusan, tetapi terlalu serius marahnya," gerut Andin lagi-lagi dalam hati.


Melupakan sejenaknya Bosnya yang memang jutek itu, Andin memilih melewatkan makan siangnya dan juga mengerjakan penginputan data. Hasil kerja kerasnya membuahkan hasil, karena tidak sedikit lagi semua data sudah berhasil dia input. Namun, di saat bersamaan, Andin merasakan perutnya yang terasa sakit. Wanita itu tetap berusaha mengetik dengan papan ketik dengan satu tangannya saja, dan tangan yang lainnya memegangi perutnya.


“Shhhss, kok sakit banget sih perutku … apa gara-gara aku melewatkan sarapan dan sekarang juga melewatkan makan siang. Apa mungkin maag-ku kambuh. Ya ampun, jangan kambuh sekarang dong … tunggu sampai di rumah nanti sore saja, biar pekerjaan ini beres dulu. Ayolah perut dan lambungku, bersahabatlah hari ini,” gumam Andin dengan lirih, sembari mendesis memegangi perutnya.


Jika tahu bahwa atasannya akan semarah ini, Andin memilih untuk lembur kemarin malam. Jika tahu bahwa maagnya akan kambuh, Andin juga pasti akan memilih untuk lembur semalam saja. Sayangnya, maagnya yang kambuh terjadi secara mendadak. Namun, Andin tak ingin menunda pekerjaan lagi yang membuatnya akan mendapatkan marah besar dari atasannya, Evander Agastya.