Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Untuk Pertama Kali


Walau ragu dan merasa tidak memiliki pengalaman sama sekali, tetapi Evan sepenuhnya setuju dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Elkan bahwa dia harus berani untuk memulai. Sebab, mungkin saja pengantin wanitanya juga menunggu dan mendamba sepertinya.


Evan memberanikan diri duduk di samping Andin, menggenggam tangan gadis itu, dan memberikan usapan di punggung tangan gadisnya itu. "Andin, haruskah kita melalui malam pertama kita?" tanya Evan.


Itu adalah pertanyaan yang terkesan menggelikan, tetapi Evan pun menginginkan bahwa apa yang akan terjadi di antara mereka berdua adalah kesepakatan bersama. Tidak ada penyesalan setelahnya. Evan hanya ingin bahwa Andin juga menyepakati apa yang hendak dia lakukan.


"Haruskah?" tanya Andin dengan menundukkan wajahnya.


"Kita bisa melakukannya bersama-sama. Walau aku sama sekali tidak ahli dalam masalah ini," ucap Evan.


Kali ini Evan pun dengan jujur mengatakan bahwa dia sama sekali tidak ahli dalam masalah bercinta. Memorinya mungkin hanya sekilas tentang film biru yang dulu pernah dia tonton. Akan tetapi, bercinta secara langsung benar-benar tidak diketahui oleh Evan. Hanya saja, Evan masih ingat bahwa adiknya mengatakan supaya dia bisa melakukannya bertahap, step by step.


Dengan sama-sama duduk dan bersandar di headboard, Andin pun menganggukkan kepalanya. Baginya, siap atau tidak siap, malam ini tentu juga didambakan oleh pria yang sekarang menjadi suaminya itu.


"Silakan saja Mas," ucapnya yang sudah memberikan lampu hijau kepada Evan.


"Kamu ingin lampunya menyala atau dipadamkan?" tanya Evan lagi.


Andin meneguk salivanya dengan susah payah, lantas dia pun memberikan jawabannya, "Dipadamkan saja ... aku ... malu," jawabnya.


Evan menganggukkan kepalanya di sana, tangannya lantas bergeser dan mematikan lampu utama di dalam kamar pengantin itu dan hanya menyalakan lampu tidur yang redup. Suasana menjadi temaram. Evan bahkan kesusahan menelan salivanya sendiri. Rasanya gugup yang lebih mendominasi. Hingga akhirnya, Evan beringsut, duduk lebih dekat dengan Andin, tangannya yang setengah dingin memberikan belaian di sisi wajah Andin.


Evan memangkas jarak wajahnya, lantas dia mendaratkan kecupan di pipi Andin yang lembut dan juga halus. Andin mengedikkan bahunya kala Evan mengecup pipinya. Kali pertama juga, dia merasakan kecupan di pipinya dari pria lain.


Dari pipi, dengan begitu tidak profesionalnya, Evan lantas meraih dagu Andin di sana. Dia mencoba memberikan kelembutan, dan mengecupi bibir Andin. Satu kali kecupan yang membuat Andin dan Evan sama-sama menahan nafas. Dua kali kecupan di kulit yang memiliki permukaan kenyal dan tipis ini membuat tubuh keduanya seakan menerima sinyal yang hadir melalui sentuhan. Tiga kali kecupan, dan Evan kali ini membiarkan bibirnya untuk bertengger sesaat di bibir Andin.


Satu detik berlalu … lima detik berlalu … sepuluh detik berlalu …


Bibir yang sama-sama menempel, mata Andin yang terbuka dan perlahan terpejam laksana bola lampu pijar yang dipadamkan, dan Evan yang benar-benar gugup. Akhirnya, Evan menguatkan dirinya untuk membuka sedikit bibirnya, memagut bibir Andin di sana. Sensasi lembut, manis, dan sedikit basah adalah rasa pertama yang Evan dapatkan kala mencium bibir Andin.


Sejurus kemudian, Evan menenglengkan wajahnya, memberikan tekanan pada ciumannya, dan pria itu sedikit menjulurkan lidahnya, memberikan usapan di bibir Andin yang begitu ranum disertai dengan de-sahan yang seolah tertahan di pangkal tenggorakannya.


“Hhh ….”


Evan berdebar, suara itu terdengar memalukan di telinganya. Akan tetapi, kala dia mencium, mengecup, memagut, bahkan melu-mat bibir Andin, nyatanya erangan itu lolos begitu saja dari mulutnya. Erangan yang membuat Evan tersulut untuk bisa melakukan yang hal lain. Pengalaman pertama yang begitu mendebarkan.


Erangan yang dibarengai dengan decakan, tangan Andin yang masih dalam genggamannya, perlahan Evan bawa untuk mengalung sempurna di lehernya. Evan lebih mendekat, dadanya hingga berhimpit dengan dada Andin di sana. Bahkan dalam keputusan yang dia ambil, kali ini Evan tidak akan mundur. Kali ini Evan akan terus maju. Tangannya mulai berani membelai sisi wajah Andin, membelai telinga Andin, bahkan tangan yang lain mulai memberikan belaian naik dan turun di punggung Andin.


Evan menahan nafas, hingga akhirnya, tangan itu seolah bergerak dengan sendirinya dan memberikan rabaan di dada Andin yang tidak seberapa itu. Sensasi kenyal membuat Evan memperdalam ciumannya. Sungguh gila rasanya.


Menarik sejenak wajahnya, Evan lantas menatap wajah Andin di sana. Pria itu menatap wajah Andin yang merah merona dan bibir yang merekah dan basah.


Tangan Evan dengan sendiri membuka kancing demi kancing di piyama yang Andin kenakan. Andin memejamkan matanya. Sungguh malu dan risau, tetapi bukankah malam ini harus mereka lalui sebagai suami dan istri? Bahkan ketika seluruh kancing piyamanya telah terlepas, Andin pun menurut saja, kala Evan melepaskan piyama itu dari tubuh Andin. Evan menatap tubuh yang mulus dan putih, dengan penutup renda berwarna hitam di sana.


Setelahnya, Evan melepaskan kancingnya sendiri. Dalam cahaya yang begitu remang, Evan bisa melihat Andin yang menundukkan wajahnya. Terlihat bagaimana Andin merasa malu, terutama ketika melihat tubuh Evan yang liat dengan terlihat kokoh di sana. Evan pun melemparkan piyamanya begitu saja. Kini, tanpa banyak bicara, Evan sedikit mendorong tubuh Andin untuk rebah, dan pria itu menempatkan diri di atasnya, sedikit menindihnya, tapi Evan masih bertahan dengan siku untuk tidak menekan Andin yang kecil dan langsing itu.


"Jangan takut," ucap Evan dengan sorot mata yang sepenuhnya hanya menatap Andin.


Gadis itu menganggukkan kepalanya, "Iya Mas," balasnya.


Lantas Evan membawa wajahnya kian turun dan mengecup sembulan buah persik yang ranum itu. Oh, Tuhan ... Evan sungguh berdebar-debar. Evan yakin ini adalah pengalaman paling berani yang dia lakukan. Evan memejamkan matanya, sedikit bangkit dan tangannya menelusup di balik punggung Andin, melepaskan pengait di sana, dan melepas penutup itu hingga mempertontonkan buah dada yang begitu ranum, di dalam keremangan saja terlihat jelas puncak yang pink kecoklatan di sana.


Tangan Evan memberanikan diri meremasnya perlahan, memutar dalam remasan yang seirama, bahkan Evan membawa ibu jari dan jari telunjuknya untuk memilin puncak yang begitu kecil itu, hingga perlahan puncak itu menegang. Andin memejamkan matanya, wanita itu pun mende-sah, kala merasakan jari-jari Evan yang mempermainkan area dadanya.


"Mas Evan ... Mas," de-sahnya dengan bergerak di gelisah. Akan tetapi, gerakan dan suara Andin yang mengalun dengan begitu indah itu membuat Evan bersemangat, pria itu menurunkan wajahnya dan merasakan buah persik yang ranum itu dalam rongga mulutnya. Menghisapnya, menyapunya dengan lidah yang basah, dan juga menggigit-gigit puncaknya hingga Andin kian membenamkan wajah Evan di sana.


Petualang Evan tidak hanya sampai di sana, tetapi Evan pun tanpa kata terus bergerak. Bahkan kini pemuda itu melucuti semua busana yang tersisa, membuat keduanya sama-sama polos mutlak layaknya Adam dan Hawa di dalam taman surgawi.


Evan menghela nafas dan lantas menginvansi lembah di bawah sana. Memberikan usapan dengan lidahnya, menghisapnya, dan menggoda dengan lidah dan bibirnya.


"Hhh Mas ...."


Andin merasa sensasi asing yang membakar dirinya. Tubuhnya menggeliat dengan bibir yang terus memanggil nama suaminya itu. Evan tersenyum dalam hati, mungkinkah ini yang dinamakan bertahap. Merasakan milik Andin sudah lembab dan basah, Evan lantas mengarahkan pusakanya sebatas menempelkannya di bibir cawan surgawi milik Andin.


Evan menghela nafas, oh sungguh luar biasa. Sebatas menempel saja sudah terasa begitu hangat. Evan semakin gelap mata di sana.


Pria itu lantas, memegangi pinggang Andin, dan lantas mengarahkan pusakanya memberikan tusukan untuk menembus tirai selaput yang ada di sana.


"Akhh ...."


Evan mendorong perlahan, nyatanya pertahanan di sana sukar untuk ditembus. Satu kali dorongan gagal. Evan menatap Andin yang tampak merintih di sana. Dua kali dorongan dan juga masih gagal. Evan kemudian memejamkan matanya perlahan, dan kemudian mencoba beberapa kali dorongan, hingga ujung pusakanya berhasil mengoyak selaput di sana di sertai dengan darah yang terpercik.


"Andin ... Andin ... oh Andin ...."


Evan benar-benar tidak mengira kenikmatan bercinta seperti ini. Kala pusakanya merangsek masuk, Andin meneteskan air matanya di sana. Ada rasa kehilangan kala cawan surgawinya terkoyak.


"Sakit?" tanya Evan perlahan.


"Ii ... iya," jawabnya dengan menghela nafas.


"Tahan sebentar yah," balas Evan.


Pria itu menghujam perlahan, memberikan tusukan dengan pusakanya di sana, dan menggerakkan pinggulnya. Oh, gerakan seduktif keluar dan masuk, menghujam dan menusuk dilakukan Evan begitu lembut. Sampai akhirnya beberapa kali hujaman Evan menggeram.


Isakan Andin telah berhenti, tetapi Andin merasa kewarasannya hilang kali ini. Evan melakukannya semuanya dengan indah, hingga tubuh Andin menggeliat sensual di sana, tangannya meraih tubuh Evan dan memeluknya erat.


"Mas ... aku ...."


"Sabar ... barengan yah ...."


Evan mencium bibir Andin, menghisapnya dengan begitu kuat. Evan tahu kali ini adalah ambang batasnya. Evan menggeram, dengan peluh yang bercucuran. Hingga akhirnya larva pijar yang hangat dan basah berhasil dia keluarkan ke dalam cawan surgawi milik istrinya itu.


"I Love U Andin ... Andin ...."


Sensasi yang indah dan nikmat. Evan rubuh di atas tubuh Andin dengan perasaan yang indah. Dia pecah berkeping-keping melihat aneka warna cinta yang untuk kali pertama terlihat oleh indera penglihatannya.