
“Mama dan Papa kamu masih lama ya Andin?” tanya Evan yang merasa sudah lebih dari lima menit, tetapi Mama dan Papanya Andin juga belum turun dari kamarnya. Sehingga Evan pun langsung bertanya kepada Andin.
“Tadi, katanya Mama dan Papa akan turun. Apa perlu saya panggilkan lagi ya Pak?” tanya Andin.
Itu semua juga karena Andin yang merasa tidak enak dengan Evan. Bagi mereka yang berprofesi sebagai pengusaha, waktu itu sangat berharga. Mungkin saja, usai ini Evan masih ada pekerjaan lain yang harus diurus. Sehingga, Andin berinisiatif untuk memanggil orang tuanya lagi.
“Tidak usah … nanti kesannya saya justru tidak sopan,” balas Evan.
“Baiklah, Pak Evan … mohon ditunggu,” balas Andin.
Evan pun menganggukkan kepalanya, ya lebih baik dia juga menunggu. Semoga saja, niat baiknya untuk datang dan benar-benar mengajak Andin untuk serius akan tercapai dan berhasil dengan baik. Sebab, tidak mungkin juga Evan akan bermain-main dengan Andin.
“Kamu anak tunggal di rumah ini ya Ndin?” tanya Evan. Setidaknya mereka harus tetap mengobrol supaya bisa mengalir, dan tidak canggung. Lagian jika sama-sama diam, yang ada justru waktu akan bergerak semakin lama.
“Tidak Pak … saya anak bungsu. Saya dua bersaudara saja, yang sulung Kakak saya. Mungkin saja Pak Evan mengenalnya karena senegeri ini mengenal Kakak saya.” balas Andin.
Akan tetapi, dengan cepat Evan menggelengkan kepalanya, “Tidak, saya tidak mengenalnya. Memangnya dia siapa?” tanya Evan yang memang tidak mengenal sosok kakaknya Andin yang konon dikenal di seluruh negeri itu.
“Arine Sukmawati, Pak … bintang sinetron yang naik daun sekarang ini,” balas Andin.
Dengan popularitas yang dimiliki Kakaknya sekarang ini, mustahil jika orang tidak mengenal Kakaknya. Terlebih juga di beberapa baliho di Ibukota saja selalu memasang sinetron yang dibintangi Arine yang mendapatkan rating pemirsa dengan tinggi itu.
“Tidak … saya tidak kenal siapa dia,” balas Evan dengan serius.
Mendengar jawaban dari Evan, Andin pun membelalakkan kedua matanya, “Masak sih Pak? Balihonya saja terpampang nyata di beberapa sudut di Ibukota, sinetronnya yang sedang tayang di salah satu televisi swasta itu,” balas Andin lagi.
“Serius … saya tidak kenal. Lagian, juga tidak harus saya mengenalnya bukan?” tanya Evan.
Wah, agaknya Evan ini memang orang yang unik dan juga berpikiran bahwa mungkin dia tidak perlu untuk mengenal sosok artis yang memang populer itu. Sebab, Evan sendiri juga jarang untuk melihat sinetron tanah air. Sementara di rumah, Mamanya lebih suka melihat Drama Korea, karena itulah memang tidak pernah ada yang melihat sinetron di rumahnya.
“Mungkin Pak Evan adalah orang pertama yang mengatakan bahwa tidak mengenal Kakak saya. Padahal dia sangat populer. Cantik, sexy, dan juga berbakat,” balas Anin lagi.
“Ya mungkin saja, saya lebih suka mengenal kamu,” balas Evan.
Lagi-lagi pria itu menunjukkan raut wajah yang datar ketika berbicara, tetapi perkataannya terasa sungguh-sungguh. Sikap Evan yang seperti inilah yang bisa membuat Andin acap kali berdebar-debar karenanya. Evan yang dingin, tegas, serius, tetapi ucapannya yang sederhana itu rasanya mampu mengirimkan beribu sinyal di dalam hati Andin.
Selang beberapa menit berlalu, barulah pasangan paruh baya yaitu Mama Tika dan Papa Miko yang turun dari anak tangga. Evan pun menghela nafas, bukannya tidak grogi, jelas saja Evan merasa grogi. Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya untuk bisa datang ke rumah gadis dan mengutarakan niatnya secara langsung. Begitu sudah di ruang tamu pun, Evan segera berdiri dan menyalami kedua orang tua Andin itu.
“Selamat malam Om dan Tante,” sapanya dengan sedikit menundukkan badannya. Untuk urusan tata krama Evan memang adalah orang yang sopan. Dari kecil Papa dan Mamanya selalu mengajarkannya dalam hal tata krama.
“Ya ya ya, selamat malam,” balas Papa Miko yang seolah tak mengamati pemuda yang kini duduk di hadapannya itu.
“Ini Tante, sedikit oleh-oleh,” ucapnya yang menyodorkan paper bag dengan logo Coffee Bay itu kepada Mama Tika.
“Terima kasih banyak yah,” balas Mama Tika dengan mengulas sedikit senyuman di wajahnya.
“Bisa kenalkan siapa kamu?” tanya Papa Miko secara to the point.
Evan pun menganggukkan kepalanya, tidak menyangka layaknya dia sedang mengikuti audisi dan harus mengenalkan dirinya, “Perkenalkan Om dan Tante … saya Evan, bekerja di Agastya Property. Tujuan saya kemari adalah untuk meminta kepada Om dan Tante untuk serius dengan Andini. Jikalau Om dan Tante berkenan, saya ingin menikahi Andini,” ucap Evan.
Begitu terlihat bahwa Evan pun bukan seorang pria yang bertele-tele. Pemuda itu langsung mengutarakan niatnya. Ditolak atau tidak itu urusan belakangan, yang pasti baginya ini jauh lebih baik daripada dia harus menghamili anak orang dan tidak bertanggung jawab. Niatnya baik, Evan pun berani menerima tantangan dan juga meminta dengan baik-baik kepada kedua orang tua Andin.
“Apa kamu bisa menghidupi anak saya?” tanya Papa Miko.
“Insyaallah, bisa,” jawabnya tegas.
“Apa kamu bisa memberikan kebahagiaan untuk anak saya?” tanya Papa Miko lagi.
“Insyaallah, bisa,” jawab Evan lagi dengan penuh percaya diri.
Papa Miko tampak menghela nafasnya, dan kemudian melirik sekilas kepada Andin yang sedari tadi hanya menundukkan wajahnya. Sebab, dia pun berdebar-debar kala Evan mengatakan niatannya secara langsung kepada Papa dan Mamanya. Sosok pria gentleman yang baru pertama kali Andin temui, yaitu Evander Agastya. Dalam benak Andin, dengan sosok Evan yang begitu tegas dan sungguh-sungguh seperti ini justru membuatnya ingin semakin mengenal sosok Evan dengan lebih dekat.
“Begini Nak Evan … saya menerima baik niatan kamu. Hanya saja … bisakah kamu menikahi putri saya yang lain, Kakaknya Andin yaitu Arine untuk satu tahun saja, selepas itu kamu boleh menceraikannya dan menikahi Andin. Bagaimana?”
Astaga! Sungguh, ini bukan hal yang dipikirkan oleh Evan. Dia datang untuk meminta Andin yang menjadi istrinya, tetapi Papa Miko justru mengajukan penawaran lain supaya Evan menikahi Arine untuk satu tahun saja.
“Menikahlah kontrak dengan Arine untuk satu tahun saja,” ucap Papa Miko lagi.