Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Retak?


Sungguh, Papa Belva dan Mama Sara sangat tidak mengira dengan kedatangan besannya sekarang. Lebih mengejutkan karena terungkap fakta bahwa Evan hanya sebatas anak yang lahir karena rahim sewaan saja. Walau, sebenarnya Evan tetap adalah anak yang lahir di dalam pernikahan, bukan di luar pernikahan. Akan tetapi, di kala dulu, menyewa rahim disebut tabu sehingga anak yang lahir karenanya pun dinilai buruk di masyarakat.


"Dengarkan kami dulu, Pak Miko ... semua ini tidak seperti yang Pak Miko tuduhkan. Evan adalah anak kami yang sah. Anak yang lahir dalam pernikahan, dan karena cinta. Kala itu, memang saya telah menikah dengan istri pertama saya yang menderita Endometriosis dan Tokophobia sehingga dia tidak bisa memiliki anak dan trauma dengan sakit bersalin. Sampai pada akhirnya, saya bertemu dengan istri saya. Saya memperistrinya untuk melahirkan seorang anak bagi saya. Kami menikah dengan sah," tegas Belva kepada Pak Miko.


"Tetap saja kala itu Evan hanya anak yang lahir dari rahim sewaan dan juga yang pernah menjadi ahli waris adalah kedua adiknya. Dengan demikian, masa depan putri saya akan terancam," balas Papa Miko.


Terlihat Papa Belva yang menggelengkan kepalanya, "Ketiga anak saya semuanya adalah ahli waris. Tidak ada yang menjadi ahli waris utama, ketiganya sama di mata saya. Sebab, ketiganya adalah anak saya, buah cinta saya dengan istri," balas Papa Belva.


ini sudah menjadi keputusan Papa Belva bersama dengan Mama Sara bahwa mereka tidak akan memilih satu ahli waris utama. Ketiga anak-anaknya memiliki hak yang sama di mata mereka. Evan, Elkan, dan Eiffel, ketiga berhak menjadi ahli waris. Walaupun, sebagai anak pertama yang didapatkan Evan adalah lebih banyak.


"Omong kosong, tentu Anda lebih sayang dengan kedua adiknya Evan ... sejak awal saya memang sudah ragu dengan Evan. Mana mungkin ada anak yang merasa hanya sebagai seorang pekerjaan di perusahaan milik Papanya sendiri. Ternyata ini adalah alasannya," tuding Papa Miko sekarang ini.


Ya Tuhan, mendengar apa yang dituduhkan Pak Miko jujur saja membuat Papa Belva menjadi emosi. Hanya saja, dia masih berusaha bersabar.


"Seorang anak yang sudah dipersiapkan menjadi suksesor dia tidak serta merta mewarisi begitu saja. Akan tetapi, dia harus ditempa dan memiliki skill yang mumpuni, sehingga di masa depan dia benar-benar layak untuk menjadi seorang pemimpin yang handal. Itu tujuan saya menempan Evan, dan tentu Evan pun tahu bahwa saya sudah mempersiapkannya sebagai suksesor saya," balas Papa Belva.


Jika Evan sudah dipersiapkan menjadi suksesor di Agastya Properti, maka Elkan sudah dipersiapkan menjadi suksesor di Coffee Bay, sementara Eiffell akan ditempatkan untuk bisnis skincare yang juga dimiliki Mama Sara. Setiap anak sudah dipersiapkan masing-masing dengan aset perusahaan yang mereka miliki.


"Pa, jangan seperti ini, Pa ... Andin tahu sendiri bahwa Mas Evan memang pemimpin yang baik dan sangat kompeten. Mas Evan layak menempati posisinya sekarang karena kerja kerasnya," balas Andin.


"Tidak, itu hanya karena Evan hanya sebatas anak yang lahir dari rahim sewaan," balas Papa Miko dengan membuang mukanya dari Evan.


Evan yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Maaf Pa ... kenapa Papa mempermasalahkan anak yang lahir dari rahim sewaan dan bukan. Faktanya saya tumbuh menjadi anak yang bahagia bersama Mama dan Papa saya. Mama dan Papa membesarkan kami bertiga dengan penuh cinta, tidak membeda-bedakan kami bertiga. Kalau pun dibedakan karena kebutuhan kami yang bertiga. Evan yang SD, Elkan yang TK, atau Eiffell yang masih bayi. Akan tetapi, Evan bisa merasakan kasih sayang Mama dan Papa sangat tulus. Selain itu, dari kecil Evan sudah tahu bahwa Evan memiliki dua orang Mama. Mama Anin yang mengasuh Evan saat kecil, dan Mama Sara yang melahirkan Evan. Lalu, di mana salahnya?" tanya Evan kemudian.


Kali ini Papa Miko tampak diam. Namun, benarkah Evan tidak dibedakan dengan kedua adiknya.


"Evan harus membuktikan diri seperti apa lagi Pa? Biar Evan layak untuk Andin?" tanyanya kini kepada Papa Mertuanya.


"Jadilah CEO Agastya Properti dan berikan harta warisan kamu untuk Andin, barulah Papa yakin kamu layak untuk Andin dan masa depan anak saya terjamin," ucap Papa Miko.


Evan menggelengkan kepalanya di sana, "Apa yang Papa minta terlalu berlebihan. Rumah tangga bukan sekadar untuk memiliki harta yang melimpah ruah, tetapi cinta, Pa. Tidak selamanya materi memberikan kepuasan dalam hidup berumahtangga. Cinta itu yang membuat semuanya menjadi lebih bermakna," balas Evan.


"Cinta saja tidak ada logikanya. Orang tidak akan kenyang hanya dengan cinta," balasnya.


"Pa, Andin dan Mas Evan sama-sama mencintai," ucapnya.


"Diam kamu Andin ... jadi, pria seperti ini yang ingin serius dengan kamu. Bagaimana mau serius jika, dia tidak bisa mengalihkan semua hartanya untuk kamu?" balas Papa Miko.


Andin sudah menangis di sana, dan menatap Papanya, "Andin tidak butuh semua harta Mas Evan. Andin bahagia hidup bersama Mas Evan, hidup sederhana pun asalkan bersama Mas Evan, Andin tidak keberatan," balasnya.


"Wanita bodoh," balas Papa Miko.


"Iya Pa ... Andin memang bodoh. Sejak dulu, di mata Papa memang Andin hanya anak yang bodoh dan tidak pernah mendapat kasih sayang dari Papa. Andin selalu dinomor dua kan dari Kak Arine. Sekarang kenapa Pa ... kenapa Papa mengungkit masa lalu keluarga Agastya? Papa apa lupa, Andin sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Agastya," balas Andin.


Tangisan Andin kian kencang dan dia menggelengkan kepalanya, "Tidak ... Andin tidak akan meninggalkan Mas Evan," balasnya.


"Tidak elok melakukan semua ini Pak Miko," sahut Papa Belva.


"Keputusan di tangan Anda Pak Belva ... berikan apa yang saya mau. Jadikan Evan sebagai CEO dan ubah warisan Evan untuk Andin," pintanya sekarang ini.


"Andin tidak menginginkan warisan, Pa," balas Andin.


"Anak tidak tahu diuntung," balas Papa Miko.


"Iya Pa ... memang. Sebab, anak Papa yang paling Papa cintai hanya Kak Arine dan bukan Andin. Biarkan Andin bahagia dengan Mas Evan. Apa pun yang terjadi, Andin tidak akan pernah meninggalkan Mas Evan," balasnya.


Papa Miko pun menghela nafas di kasar, "Tidak mengira, orang terpandang dan terhormat seperti Belva Agastya hanya mengambil wanita yang ditemuinya di bar," ucap Papa Miko.


Kali ini Papa Belva benar-benar tidak bisa mentolerir lagi. Apa yang diucapkan besannya itu sudah begitu keterlaluan.


"Katakan siapa yang memberitahu Anda semuanya ini? Katakan!"


Papa Belva sudah begitu emosi, kedua tangannya mengepal. Jika tidak memperhitungkan bahwa Miko Sukmajaya adalah besannya, sudah pasti Papa Belva akan menghajar pria itu sampai babak belur.


Evan pun juga begitu geram di sana, "Papa sudah keterlaluan!"


"Katakan, siapa yang memberitahumu semua ini?" Papa Belva kian emosi dan berteriak di sana.


"Anthony ... ya, semua saya dengar dari Anthony bahwa pria terhormat hanya mengambil wanita dari bar. Wanita kelas rendah yang melayani pria berduit di sana," balas Papa Miko.


"Semua orang memiliki masa lalu, bekerja di tempat yang tidak terhormat bukan berarti membuat Anda menjadi tidak terhormat juga. Istri saya sudah membuktikan bahwa dia tetap seorang wanita yang terhormat. Mamanya Evan adalah seorang wanita yang terhormat," balas Papa Belva.


"Sudah Mas ... tidak apa-apa," balas Mama Sara.


"Tidak bisa Ma ... dia mencoba merendahkan Mama. Jangan tanya nama besar Agastya, jika aku tidak bisa menghancurkan perusahaan Anthony sialan itu! Apa Anda ingin juga Sukmajaya Corp habis? Ha!"


Kali ini Papa Belva menggertak. Sungguh, akan habis kesabarannya jika ada yang merendahkan istrinya.


"Ayo Andin pergi!"


Sekarang Papa Miko menarik tangan Andin dan ingin memisahkan Andin dari Evan, suaminya.


"Tidak Pa ... kehormatan seorang istri adalah di rumah suaminya. Andin adalah bagian dari keluarga ini," tegasnya.


Dengan dada yang penuh amarah dan merasa terancam dengan gertakan Papa Belva akhirnya Papa Miko meninggalkan kediaman Crazy rich itu tanpa pamit. Lebih kesal karena Andin lebih memilih berada di kediaman mertuanya, daripada ikut Papanya sendiri.