Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Berbagai Sudut Pandang


"Papa, Evan mau bicara," ucap Evan yang kali didampingi Mamanya untuk berbicara dengan Papa Belva.


Bukannya Evan takut, hanya saja memang apa yang disampaikan Mamanya benar, bahwa setidaknya Papa Belva harus memberikan nasihat terlebih dahulu. Lagipula, memang Papa Belva adalah orang yang terbuka, bijaksana, dan berpandangan luas, sehingga memang untuk masalah ini lebih baik meminta saran dari Papa Belva saja.


"Ya, Van ... ada apa?" tanya Papa Belva.


"Begini Pa ... sebelumnya maafkan Evan terlebih dahulu. Hanya saja, bagaimana pandangan Papa mengenai pernikahan kontrak?" tanya Evan.


Jika berbicara dengan Papanya, Evan memang tipikal yang berbicara secara langsung. Lagipula, Papanya juga seorang yang suka to the point sehingga lebih suka untuk melihat suatu masalah dengan langsung, dan segera mencari solusinya. Mendengar apa yang disampaikan oleh Evan, pandangan mata Papa Belva justru jatuh kepada Mama Sara. Ya, ada kenangan lama yang seolah dibuka kembali. Bagaimana tidak, sebab dulu Papa Belva dan Mama Sara juga pernah terlibat dalam sebuah pernikahan kontrak. Pernikahan mut'ah yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan seorang keturunan. Sekarang, putra sulung mereka bertanya mengenai sebuah pernikahan kontrak.


"Kenapa Van ... kamu ingin menikah kontrak?" tanya Papa Belva.


Tentu saja ini adalah sebuah pertanyaan yang sifatnya pancingan. Sebab, Papa Belva ingin supaya Evan juga menjelaskan duduk perkaranya terlebih dahulu. Papa Belva yakin bahwa Evan bertanya demikian karena ada masalah yang terjadi.


"Evan tertarik dengan seorang gadis, Pa ... hanya saja untuk menikahi gadis itu, Evan harus menikahi Kakaknya terlebih dahulu. Nikah di bawah tangan selama satu tahun, karena Kakak si gadis itu hamil dengan pria lain, tetapi entah kenapa pihak keluarga perempuan tidak mengizinkan cowok itu untuk bertanggung jawab katanya rival perusahaannya," cerita Evan dengan lugas kepada Papanya.


"Evan, kamu tahu ... sebaiknya menikah itu jangan untuk mainan. Lagipula, gadis mana yang kamu cintai? Haruskah Papa yang datang dan menemui orang tua si gadis?" tanya Papa Belva.


"Andini, Pa ... sekretaris magang di tempat Evan. Evan ... tertarik padanya," balas Evan secara langsung.


Mendengar apa yang disampaikan Evan, sampai sejauh ini Papa Belva tahu bahwa Evan memang tertarik dengan sekretarisnya yang bernama Andini itu. Ini juga menjadi kali pertama bagi Evan mengakui perasaannya secara langsung kepada kedua orang tuanya bahwa dia menyukai seorang gadis. Namun, yang menjadi masalah mengapa justru harus menikahi si Kakak dulu untuk mendapatkan Adiknya.


"Jika kamu menolaknya?" tanya Papa Belva.


"Ya, Evan bisa saja, Pa ... hanya saja bagaimana dengan perasaan Evan? Untuk kali pertama, Evan merasa tertarik dengan seorang gadis. Evan juga bingung Pa," lanjut Evan lagi.


"Van, ini adalah sudut pandang Papa. Yang namanya pernikahan itu mengikat. Pun demikian dengan pernikahan kontrak. Berarti kan ada hitam di atas putih yang harus kalian sepakati bersama. Lalu, bisakah kedua belah pihak menyepakatinya? Jika, dalam perjalanan itu kamu justru jatuh cinta dengan Kakak si Andin bagaimana?" tanya Papa Belva.


Evan tampak diam. Kali ini, Evan berpikir dengan keras dan berusaha untuk mencerna keadaan. Bagaimana pun yang disampaikan Papanya ada benarnya juga. Namun, Evan agaknya kali ini yakin dengan perasaannya kepada Andin. Kali ini, Evan memang baru sekadar tertarik, tetapi Evan pastikan bahwa pada akhirnya yang akan menjadi pendamping hidupnya yang sah di mata hukum negara adalah Andin.


"Penjelasannya dari Om Miko, pernikahan ini tidak mengikat. Bahkan tidak mengharuskan kami tinggal bersama. Hanya Evan harus ke sana di waktu tertentu saja. Jadi, Evan yakin akan menjaga hati Evan untuk Andin. Bagaimana pun yang Evan suka itu Andin, Pa ... bukan Arine," balas Evan.


"Kontrak untuk pernikahan kalian apa saja?" tanya Papa Belva lagi.


"Hanya menikah di bawah tangan saja untuk jangka waktu 12 bulan, dan Evan juga tidak perlu melakukan kewajiban Evan sebagai seorang suami. Begitu masa 12 bulan berakhir, luruh sudah ikatan pernikahan ini dan Papa Miko akan memberikan Andin kepada Evan," balasnya.


"Jika, mereka ingkar janji ... Evan bisa membawa lari Andin dan menikahinya," balas Evan.


Astaga, mendengar apa yang disampaikan Evan, membuat Papa Belva seketika menyorot tajam pada putranya itu. Pun demikian dengan Mama Sara yang tampak kaget juga dengan jawaban yang diberikan oleh Evan. Mengapa di saat putranya itu jatuh cinta, tetapi jalannya sudah sesulit ini. Jikalau tidak bersama Andin, mungkinkah Evan bisa membuka hatinya untuk wanita lain.


"Van, begini ... kamu mau mengambil atau tidak sepenuhnya Papa serahkan kepadamu. Hanya saja, perlu kamu pertimbangkan semuanya. Andin setuju atau tidak, lalu bagaimana ke depannya. Bagaimana juga kamu memastikan bahwa keluarga Andin tidak akan ingkar janji," balas Papa Belva.


Memang berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang perlu dibahas dan dipikirkan sekarang juga. Apa yang dilakukan di hari ini akan sangat berdampak untuk masa yang akan datang. Untuk mengantisipasi apa yang terjadi, maka Papa Belva untuk memutuskan semuanya itu.


"Baru pertama Evan tertarik dengan seorang gadis, haruskah Evan menyerah Pa?" tanya Evan lagi.


Mama Sara sendiri yang sedari tadi memilih diam dan lebih mendengarkan percakapan Evan dengan Papanya pun kali ini bersikap pasif dan juga memberikan ruang untuk suaminya dan anaknya untuk saling berdiskusi. Lagipula, jika wanita akan condong mementingkan perasaan hati mereka. Sementara pria bisa berpikiran logis, sehingga memang Papa Belva bisa membantu Evan dan mengajak Evan untuk berpikir dengan logika mereka.


"Papa tahu, Van ... hanya saja, kalau kamu ingin mendapatkan Andin, berarti jalan yang kamu ambil harus menikahi Arine terlebih dahulu. Ikuti saja rules (aturan) yang sudah disepakati kedua belah pihak. Pastikan kamu setia dan hanya Andin saja yang ada di hatimu," balas Papa Belva.


Evan menganggukkan kepalanya, dan kemudian menatap kedua orang tuanya dengan bergantian. "Jadi, bolehkah Evan menjalani pernikahan kontrak ini supaya Evan bisa mendapatkan Andin?" tanya Evan.


Lagi-lagi Papa Belva dan Mama Sara saling berpandangan. Jujur saja, sebagai orang tua rasanya juga berat. Sebab, perjuangan cinta dan hati Evan hanya Evan saja yang tahu. Seberapa besar kesetiaannya juga hanya dia sendiri yang tahu. Namun, mendengar apa yang disampaikan oleh Evan, seolah-olah memang Evan akan berjuang untuk mendapatkan Andin.


"Kamu serahkan semua padamu. Dengan demikian, itu hanya di bawah tangan saja kan? Kamu masih akan tetap tinggal bersama kami bukan?" tanya Papa Belva.


"Tentu Pa ... kemana lagi Evan akan tinggal. Evan lebih suka tinggal bersama Mama dan Papa di sini. Bahkan kalau bisa, jika sudah sungguh-sungguh menikah nanti Evan ingin mengajak Andin tinggal di sini untuk sementara biar dia bisa dekat dengan Mama, Papa, dan adik-adik Evan," balasnya.


Mendengar apa yang Evan baru saja sampaikan, Mama Sara justru merasa apa yang dipikirkan Evan itu aneh. "Kamu itu Van ... pria jika sudah berani menikah, berani bertanggung jawab, dan berani untuk keluar dari rumah. Masak kamu justru akan mengajak istrimu tinggal bersama kami?" tanya Mama Sara.


"Iya Ma ... biar kenal dan dekat dengan keluarga kita. Jadi, dia akan menerima keluarga Evan juga. Menjadi sebuah keluarga, karena pernikahan juga harus menerima keluarganya bukan?" tanya Evan.


"Benar Van ... jadi, kamu akan melakukan kontrak itu?" tanya Mama Sara.


Evan belum menjawab, tetapi melihat kepada sang Papa, "Papa, jika Evan melakukannya dan kontrak itu memiliki jaminan hukum yang kuat bagaimana?" tanya Evan.


"Bawa pengacara Van, sebagai saksi hukum. Tanda tangan di atas meterai. Kamu pun bisa melakukan kesepakatan bahwa jika masa 12 bulan saat keluarga perempuan masih mengikatmu, maka kamu bisa menggugatnya secara perdata," balas Papa Belva.


Evan pun menganggukkan kepalanya, "Baik Pa ... Evan akan konsultasi dengan pengacara terlebih dahulu. Yang Papa sampaikan benar, walau hanya kontrak, tetapi Evan tidak mau jika sampai dijerat. Evan melakukan semuanya ini hanya untuk mendapatkan Andin. Yang Evan sukai itu Andin bukan Arine," tegas Evan kali ini.