Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Kencan Istimewa di Sydney


Usai menikmati makan siang bersama keluarga Sukmajaya, seluruh keluarga pun menginap di hotel mewah yang ada di kawasan Rocks, Sydney. Dengan pemandangan Harbour Bridge yang menawan, setiap kamar di sini akan menatap pada Darling Harbour. Bahkan Sydney Opera House terlihat dari hotel yang ditempati oleh keluarga Sukmajaya ini.


Saat berada di Sydney, Evan pun mengajak Andin untuk jalan-jalan menuju Sydney Opera House yang jaraknya hanya lima menit dengan berjalan kaki dari hotel.


"Jalan-jalan yuk, Sayang ... mumpung berada di Sydney. Mengingat waktu kita juga tidak banyak. Kamu mau jalan-jalan atau kita honeymoon sekalian di kamar?" tanya Evan dengan berbisik kepada istrinya itu.


Andin tampak melirik Evan. Hari masih siang dan suaminya itu sudah memberikan mengenai honeymoon. Padahal mereka sendiri saja usai menikah tidak menikmati masa Honeymoon.


"Mau jalan-jalan, Yang ... itu Sydney Opera House kelihatan dari sini. Mau enggak jalan-jalan ke sana?"


"Boleh deh," sahut Anaya.


Kemudian keduanya memilih untuk berjalan-jalan menuju Sydney Opera House. Evan tampak banyak bertanya segera menggandeng tangan Andin, dan berjalan perlahan, menyesuaikan dengan langkah kaki Andin.


"Kawasan The Rocks ini kawasan yang strategis dan bersejarah di Australia loh Yang," ucap Evan dengan sedikit melirik Anaya yang berjalan di sampingnya.


"Serius Mas Evan? Emangnya kenapa?" tanya Andin.


"Dulu ini orang-orang Eropa pertama kali bermukim di Australia ya di kawasan ini. Kemudian ikon negara Australia aja ada di sini tuh Opera House, juga di sini dekat dengan Museum of Contemporary Art (MCA)," jelas Evan kepada istrinya.


"Kamu tahu banyak banget sih, Mas ... aku kira kamu cuma tahu masalah bisnis," balas Andin.


Evan menggelengkan kepalanya, "Enggak ... dulu sama Mama dan Papa itu harus belajar. Banyak membaca," balas Evan.


Musim semi di Australia kala itu memang membuat matahari bersinar tidak terlalu terik, tetapi angin yang bertiup nyatanya cukup basah. Sehingga sangat tepat untuk berjalan-jalan bersama. Pesisir pelabuhan dengan Darling Harbour yang terlihat begitu indah siang itu.


"Pernah ke Australia sebelumnya Mas?" tanya Andin kemudian.


Evan menganggukkan kepalanya, "Pernah dong ... Elkan itu kuliah di Sydney kok dulu. Jadi, kadang kami mengunjungi dia ke Sydney," jawab Evan.


"Kuliah di Sydney? Seriusan?" tanya Andin kemudian.


"Iya, Elkan kuliah di Sydney kok. Di University of Sydney, mengambil bisnis juga. Makanya dia dipercaya untuk mengelola bisnisnya Mama. Elkan juga berhasil untuk mengembangkan Coffee Bay menjadi kopi shop yang lebih kekinian."


Andin merespons cerita suaminya itu dengan menganggukkan kepalanya, kemudian Andin merespons ucapan suaminya itu. "Kalian lulusan luar negeri semua ya Mas? Adik kamu yang perempuan di London kan sekarang? Kamu juga kuliah di luar negeri?" tanya Andin kemudian.


Evan kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya ... itu karena cita-citanya Mama itu ingin anaknya lulusan luar negeri dari kampus terbaik kalau bisa," balas Evan.


"Kamu kuliah di mana Mas?" tanya Andin lagi.


Rupanya begitu banyak kisah yang bisa Evan bagikan kepada Andin. Begitu terlihat jika hanya berdua saja dengan Andin, Evan adalah sosok yang menyenangkan. Evan pun mulai membuka dirinya dan menceritakan apa pun kepada Andin. Namun, jika sudah bersama orang lain agaknya Evan menjadi dingin dan irit bicara. Namun, jika sudah bersama Andin, Evan bisa benar-benar berubah.


"Seru yah keluarga kalian. Aku seumur-umur hanya ke Jakarta. Ke luar negeri waktu liburan itu ke Disneyland Hongkong saja. Ke Australia baru kali ini," sahut Andin pada akhirnya.


Evan kemudian tersenyum di sana, "Next time, mau jalan-jalan bersama. Ada negeri yang ingin kamu kunjungi? Aku bisa mengambil cuti dari jauh-jauh hari dan juga menyempatkan bulan madu bersama kamu," balas Evan.


"Kapan-kapan aja Mas ... usai skripsi saja. Kan begitu magang selesai langsung membuat laporan dan kemudian pengajuan judul Skripsi. Jadi, aku fokus ke kuliahku dulu. Kalau skripsi kelar, pengen deh jalan-jalan ke Jepang atau ke India," balas Andin kemudian.


"Kamu serius pengen ke India?" tanya Evan dengan menyelidik.


"Iya, pengen ke rumahnya Shah Rukh Khan di Mannat itu. Foto aja di sana terus pulang," balas Andin dengan tertawa.


Evan sedikit tertawa di sana, "Kamu SRK Lover ya Yang? Sampai segitu loh. Mending kamu foto di depan Opera House aja. Nanti aku editkan latar belakangnya jadi rumahnya SRK itu. India tidak seindah yang kelihatan di dalam film Bollywood Sayang. Bahkan Mumbai saja menjadi kota dengan polusi udara dan polusi suara yang cukup tinggi."


"Ya, iya ... aku tahu. Hanya saja, pengen kesana. Debu halus di sana juga tinggi Mas," balas Andin.


"Nah itu tahu," sahut Evan dengan jelas.


"Coba dulu ke Little India di Singapura saja Yang ... mau? Kita bisa weekend ke Little India kalau kamu mau," balas Evan.


"Emang ada apa di sana?" tanya Andin lagi.


"Banyak kain Saree aja, parfum khas India, makanan khas India dari Parata sampai Nasi Briyani juga ada. Kalau mau, aku ajak deh ke Little India di Singapura," balas Evan.


"Satu lain, di stasiun MRT menuju Little India banyak foto-foto artis India. Kamu bisa foto di sana," balas Evan lagi.


Andin kemudian tertawa, "Ah, kamu bisa-bisa Mas. Mana kamu pernah ke sana," balas Andin.


"Pernah dong ... Opa dan Omaku kan tinggal di Singapura. Jadi, sudah pasti aku pernah ke sana. Ke Singapura, kamu cari Little India sampai Chinatown juga ada," balas Evan.


Obrolan yang mereka lakukan sampai membuat keduanya sudah sampai di Opera House, Kapal yang melewati dari Darling Harbour membuat pemandangan yang indah di siang hari itu. Angin yang bertiup sepoi-sepoi dan birunya lautan seakan memberikan pesona sendiri untuk Evan dan juga Andin.


"Ini Operas House, Sayang," ucap Evan. "Mau difotoin enggak?"


Andin menganggukkan kepalanya, "Boleh ... buat kenang-kenangan. Habis ini Wefie (foto berdua) ya Mas Evan. Kamu kalau diajak foto bersama wajahnya selalu datar. Senyum yah, sama istri sendiri juga," balas Andin.


Lagi-lagi Evan tersenyum tipis di sana, "Wajahku yang penuh ekspresi hanya kutunjukkan kepadamu, Yang. Pesona wajahku ini mahal. Jadi, ya kamu saja yang tahu kalau aku sudah berubah menjadi sosok yang manis," balas Evan dengan mengangkat satu alisnya kepada Andin.