Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Istri Mulai Skripsi


Lantaran Andin sudah memasuki semester akhir dari kuliahnya, sehingga sebagai mahasiswi Andin pun diperhadapkan dengan skripsi. Akan tetapi, Andin sendiri masih bingung masalah apa yang akan dia angkat dalam skripsinya kali ini. Yang lebih membuat Andin bingung karena selama magang yang lebih banyak diketahuinya adalah perihal management dalam perusahaan. Sejak pagi Andin sudah berpikir untuk membuat kerangka berpikir, tetapi terasa masih mentah.


Evan yang melihat istrinya itu serius di meja belajarnya pun tertawa, "Serius banget Yang," ucap Evan yang menghampiri istrinya dan memberikan pijatan di bahu Andin.


"Pusing Mas," aku Andin kali ini.


Mendengar keluhan sang istri, Evan justru masih tertawa di sana dan memperhatikan coretan di buku milik Andin itu. "Pusing kenapa?" tanya Evan lagi.


"Skripsi ... aku gak tau mau mengangkat masalah apa. Yang aku pelajari kenapa enggak masuk di otak aku. Terus kemarin waktu magang juga lebih ke administrasi dan manajemen," balas Andin dengan memejamkan matanya.


Di saat seperti ini sebenarnya Evan merasa bersalah, tetapi Evan yakin bahwa istrinya itu sebenarnya bisa mengerjakan hanya saja belum menemukan masalah yang tepat saja untuk diangkat dalam skripsinya.


"Coba kamu buat skripsi dari apa yang kamu sukai dan kuasai, sehingga saat sidang nanti kamu juga menguasai materinya. Kalau kamu membuat sesuatu dari yang tidak kamu sukai, justru berat," balas Evan kemudian.


"Apa ya Mas? Kenapa otakku buntu kayak gini ... dulu, aku bisa berpikir cepat dan jernih, setelah menikah kelihatannya kemampuan berpikirku makin turun deh," aku Andin dengan memejamkan matanya.


Bukan simpati, Evan justru tertawa di sana, "Kamu bisa saja sih ... sih, hilangin pusingnya dulu. Sapa tahu abis ini bisa lancar mikirnya," balas Evan.


Evan memutar kursi belajar yang diduduki Andin, membuat istrinya itu berhadap-hadapan dengannya lantas Evan sedikit menunduk dan mulai mendaratkan ciuman di bibir Andin. Evan membuka sedikit bibirnya dan mulai memberikan hisapan demi hisapan di lipatan bawah bibir Andin, mencumbunya, memagutnya, dan Evan kian menahan tengkuk Andin untuk memperdalam ciumannya di sana.


Bukan hanya sekadar itu, tangan Evan yang lain sengaja meraba dan memberikan remasan di buah persik milik Andin, meremasnya dalam tekanan yang serupa hingga tidak butuh waktu lama Andin pun melenguh di sana. Mendengar Andin yang melenguh, justru kian gencar Evan melakukan serangannya. Tangan yang semula hanya meraba buah persik dari luar kaosnya, sekarang justru dengan begitu beraninya menelusup di balik kaos yang dikenakan Andin, meraba buah persik itu, merasakan sensasi kenyal dan hangat buah persik itu dalam genggaman tangannya.


Andin menghela nafas, tetapi tangan Evan di sana justru kian gencar memberikan remasan, memberikan pilinan, bahkan memberikan cubitan-cubitan kecil di puncaknya.


Meninggalkan sejenak bibir Andin, Evan kian menunduk dan menyingkap kaos yang dikenakan Andin, mengangkat ke atas dan mengeluarkan buah persik dari wadahnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Evan menenggelamkan satu buah persik itu dalam rongga mulutnya yang hangat, menghisapnya, mencecapnya, dan juga menggigitnya.


Astaga, sekarang Andin benar-benar kehilangan nafasnya. Hanya bisa merasakan godaan yang tidak bisa dia definisikan dari suaminya itu. Evan dengan semangat membuat puncak buah persik itu menegang, mengkilat, dan sedikit bengkak di sana.


Setelahnya, Evan tersenyum menatap wajah istrinya yang sudah diselimuti gairah itu. Namun, Evan kembali memperbaiki kaos yang dikenakan Andin.


"Sudah, kamu keenakan," ucap Evan kemudian.


Evan kemudian mengecup kening Andin di sana.


Chup!


"Nakal banget sih," gerutu Andin dengan merapikan rambutnya dan juga menatap Evan yang tersenyum di sana.


"Sudah, kerjakan dulu ... nanti kalau sudah selesai, aku berikan gangguan yang lebih dari ini," balas Evan.


"Jahat," balas Andin kemudian.


"Jahat gimana coba? Mau lanjut?" tanya Evan kepada istrinya.


Terlihat Andin mengerucutkan bibirnya di sana, "Jangan manyun-manyun gitu Sayang ... nanti aku cium loh," ucap Evan dengan frontal.


Evan kemudian memutar kursi belajar yang diduduki Andin dan memijat bahu istrinya itu, "Kerjakan lagi yah ... cepat lulus kan bagus. Biar kita bisa memberikan cucu untuk Oma dan Opanya," ucap Evan lagi.


Andin pun akhirnya menganggukkan kepalanya, "Hmm, iya ... cuma apa ya Mas ... ada ide enggak?" tanya Andin kemudian.


Evan kemudian mengambil handphonenya dan mencari beberapa masalah dalam Teknik Arsitektur dan menyebutkannya siapa tahu bisa memberikan gambaran kepada Andin, "Evaluasi Sistem Proteksi, Evaluasi Aspek Keselamatan, Asitektur Metafora, Sustainable Tourism, Arsitektur Vernakular, Arsitektur Post Modern, atau Perancangan sebuah bangunan."


Ada beberapa topik yang bisa diangkat menjadi masalah yang dikembangkan menjadi latar belakang masalah, rumusan masalah, dan kemudian menyusun hipotesisnya. Andin yang mendengarkannya pun seakan berpikir apa yang hendak disusunnya nanti.


"Coba kamu pikirkan dari hal-hal itu mana yang kamu kuasai. Kalau sudah coba kembangkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, dan nanti susun hipotesisnya," ucap Evan kemudian.


Tampak Andin menganggukkan kepalanya, "Hmm, iya ... sebenarnya aku suka Rancang Bangun ... tapi itu karena Dosennya yang keren sih, ngajarnya juga keren, jadinya aku mengusai mata kuliah itu," balas Andin.


"Kenapa enggak Studi Rancang Bangun aja?" tanya Evan kemudian.


"Iya, itu saja kelihatannya deh Mas. Semoga juga dapat Dosen Pembimbing yang aku sukai itu," balas Andin.


Mendengar nama Dosen Pembimbing, Evan lantas mengernyitkan keningnya, "Kamu suka Dosen siapa emangnya? Cowok?" tanyanya.


"Bukan, cewek. Pintar Dosennya, masih muda, jadinya aku ngefans deh," balas Andin.


Begitu mendengar bahwa Dosen itu adalah cewek, Evan pun merasa lega. Itu berarti aman lah. Sebab, biasanya mahasiswa juga menyukai Dosennya sendiri, sehingga Evan merasa was-was jika sampai istrinya itu sampai ngefans dengan Dosen pria.