Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Next Step!


Tidak ingin menunggu lama, Evan segera memanggil pengacaranya untuk datang ke kediaman Sukmajaya dan membatalkan kontrak pernikahannya dengan Arine. Tentu Evan tidak ingin menunggu terlalu lama, lebih cepat membatalkan kontrak tentu lebih baik.


"Jadi, kontrak ini batal karena kesepakatan dua pihak?" tanya sang pengacara.


"Iya," Arine menjawab dengan begitu mantap.


"Baiklah, silakan ditandatangani di bagian yang bermeterai," jelas sang pengacara lagi dengan menunjuk bagian yang harus ditandatangani.


Evan, Arine, dan Papa Miko menjadi pihak yang menandatangani kontrak itu. Andin yang turut menyaksikannya pun terasa begitu lega. Dalam hatinya, Andin merasa beruntung karena tidak harus menunggu sampai 12 bulan lamanya. Andin pikir dia akan menghabiskan waktu lama selama 12 bulan lamanya, dan juga dengan hatinya yang masih mencari arti apakah perasaannya untuk Evan Agastya adalah cinta.


"Jadi, sudah jelas yah ... kontrak pernikahan antara Saudara Evander Agastya dan Saudari Arine Sukmawati sudah berakhir dengan ditandatanganinya kesepakatan ini," ucap sang pengacara.


Merasa sudah menyelesaikan bagian dengan pernikahan kontrak yang terasa menjeratnya. Kini Evan harus berpikir apa yang hendak dia lakukan. Evan tidak ingin menunda-nunda waktu. Dia harus sampai pada tujuannya.


"Baiklah Om Miko ... jika demikian, bolehkah saya meminang Andin?" tanya Andin secara langsung dan sekali lagi pemuda itu terlihat begitu tegas.


Tampak Papa Miko menatap Andin di sana, kemudian Papa Miko menganggukkan kepalanya di sana, "Baiklah," jawabnya dengan menghela nafas yang begitu berat.


"Nak Evan ... bukannya saya menghalangi, hanya saja berikan waktu satu bulan untuk mempersiapkan pernikahan," balas Papa Miko.


"Baiklah ... jika satu bulan, saya tidak keberatan. Lagipula, saya akan menyampaikan kepada Mama dan Papa terlebih dahulu. Saya akan melamar Andin dengan baik dan dengan prosedur yang baik," balas Evan.


"Tentu, silakan saja," balas Papa Miko.


Tidak ingin berlama-lama, Evan pun berpamitan dengan keluarga Sukmajaya. Jujur saja, masih ada sesuatu yang membuat Evan merasa kurang sreg dengan Papa Miko. Izin yang diberikan Papa Miko pun terasa begitu hambar, sekadar formalitas saja.


"Baik Pak Evan," balas Andin.


"Apakah ini yang kamu harapkan?" tanya Evan lagi.


"Iya, hanya saja aku tidak mengira bahwa pernikahan kontrak itu begitu cepat selesai. Lalu, aku masih bingung kenapa Kak Arine berubah pikiran secepat itu," balas Andin.


Evan pun menganggukkan kepalanya, "Ya, dari masa 12 bulan, dan hanya dijalani 3 bulan. Dalam waktu tiga bulan itu juga aku tidak pernah menjalankan tugasku sebagai suami karena memang aku menganggap pernikahan ini hanya sebatas kontrak tidak lebih."


"Iya Pak Evan," balas Andin.


Evan kemudian menghela nafas dan melihat kepada Andin, "Jadi, Andin ... maukah berpacaran denganku sampai waktu aku meminangmu nanti?" tanya Evan.


Sungguh, Andin tidak mengira bahwa malam itu juga Evan akan mengajaknya berpacaran terlebih dahulu sebelum pernikahan yang akan digelari satu bulan lagi.


"Maukah berpacaran denganku supaya kita bisa sama-sama mengenal satu sama lain dan kala menikah nanti kita berdua tidak akan terlalu canggung?" tanya Evan.


Andin menatap Evan di sana, dan kemudian wanita itu menganggukkan kepalanya, "Baiklah Pak Evan," jawabnya.


Evan tersenyum di sana. Kali ini Andin menerima ajakannya untuk berpacaran terlebih dahulu. Langkah ini memang ditempuh Evan supaya dia bisa kian dekat dengan Andin dan supaya tidak begitu canggung ketika keduanya akan menikah nanti.


Tidak mengira, putra CEO yang begitu tampan dan mapan itu akhirnya hendak melepas masa lajang secara serius. Bahkan untuk kali pertama, Evan berpacaran dengan seorang gadis. Mungkin permintaannya terkesan tidak romantis, tetapi itulah gaya. Seorang pemuda yang alih-alih bermulut manis, tetapi lebih sudah berbicara jujur, tegas, dan juga lugas.