Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Kekesalan Andin


Jika di kediaman Agastya saat ini Evan sedang berupaya berunding dengan Mama dan Papanya, sementara itu di rumahnya Andin yang seolah meminta penjelasan dari Mama Tika dan juga Papa Miko. Apa yang sebenarnya terjadi, sampai yang terjadi sekarang justru atasannya harus menikahi Arine terlebih dahulu.


“Mama jelaskan semuanya yang terjadi Ma,” pinta Andin kala ini dengan air mata yang berlinangan membasahi wajah ayunya.


“Semuanya sudah sesuai dengan tebakan atasanmu itu, Andin. Sebab, Mama tahu bahwa atasanmu bernama Pak Evan adalah seorang yang cerdas, buktinya ketika Papa kamu mengatakan bahwa hanya sebatas pernikahan kontrak dan tidak boleh menyentuh Kakakmu, Arine. Atasannya bisa membaca arah perbincangan kita tadi. Ya, benar Andin … kakakmu sedang hamil sekarang. Dua bulan,” balas Mama Tika.


“Lalu kenapa meminta Pak Evan untuk menikahi Kak Arine? Bukankah pria yang menghamilinya yang seharusnya bertanggung jawab. Ini tidak adil, Ma,” balas Andin.


Di sini seolah Andin diharuskan untuk mengalah demi Kakaknya. Dia yang mengenal Evan, dia yang memberikan tantangan kepada Evan untuk datang dan memintanya kepada orang tuanya. Akan tetapi, kini dia harus mencabut sendiri bunga di hatinya yang mulai menguncup. Ya, hanya sebatas menguncup, berlum bermekaran. Hanya saja, Andin sudah merasa kecewa dan sangat menyesal dengan tindakan orang tuanya.


“Pria yang menghamili kakak kamu itu adalah putra dari rival bisnis Papa. Itu tidak baik untuk kestabilan Sukmajaya Grup,” balas Mama Tika.


“Kenapa yang Papa pikirkan hanya bisnis dan bisnis. Kenapa Papa tidak pernah melihat dari sudut pandang Andin. Bahkan baru saja, Andin akan meraih kebahagiaan, Andin harus kembali terluka,” balasnya.


Dada Andin rasanya begitu sesak. Ini bukan satu atau dua kali, Andin harus mengalah kepada Kakaknya. Di waktu kecil dulu, hanya perkara gaun ulang tahun, Andin harus merelakan gaunnya yang dibelikan oleh Eyangnya dipakai lebih dulu untuk Arine. Juga kala, Andin memilih boneka Barbie, di saat itu juga dia harus merelakan Barbienya untuk Arine. Kini, peristiwa serupa terulang. Dia harus merelakan pria yang mulai mencuri perhatiannya dan membuatnya merasa bahagia untuk beberapa pekan terakhir. Akan tetapi, semua itu harus kembali pupus.


Mama Tika hanya bisa menangis dan tidak bisa berkata-kata lagi. Sebab, Mama Tika tahu bahwa memang tidak mudah berada di posisi Andin. Mama Tika tahu bahwa Andin pun sangat terluka sekarang. Walau pun Andin memang tidak mengatakan bahwa dia mencintai Evan, tetapi Mama Tika dapat merasakan bahwa Andin mulai suka dan menaruh hati kepada atasannya itu.


“Maafkan kami, Andin … maafkan Mama dan Papa,” balas Mama Tika.


“Mama dan Papa selalu saja memperlakukan Andin dengan tidak adil. Dari Andin kecil sampai sekarang, Andin yang harus selalu mengalah. Ini sangat tidak adil, Ma,” debatnya kali ini.


Ya, Andin benar-benar mendebat untuk keputusan yang diambil Mama dan Papanya secara sepihak tanpa menanyakan terlebih dahulu keputusannya dan bagaimana perasaannya. Di mata Andin, selalu dibela dan didahulukan adalah selalu tentang Arine.


***


Di masa kecil Arine dan Andin …


“Andin, gaun berwarna ungu ini untuk aku yah … aku pinjam satu kali lagi,” pinta Arine yang sudah merengek dan meminta untuk meminjam dress berwarna ungu itu.


“Jangan Kak … ini punya Andin. Eyang Putri yang membelikannya buat Andin, lagian kan Kakak juga diberikan dress berwarna biru dan sudah Kakak pakai, kenapa sekarang Kak Arine ingin memakai dress milik Andin?” sergah Andin yang masih berusaha mempertahankan apa yang menjadi miliknya.


“Kan cuma pinjam, Ndin … buat pemotretan, ada foto fashion show di SD. Cuma pinjem sekali saja boleh yah,” balas Arine yang sudah membawa dress berwarna ungu milik Andin.


“No, enggak bisa … gak mau. Kakak kalau sama Andin saja pelit, tetapi kenapa Kakak selalu ambil dan memakai barang-barang Andin. Kak Arine jahat … Andin benci Kakak,” balas Andin.


Kala itu, baik Arine dan Andin masih sama-sama duduk di Sekolah Dasar. Arine duduk di kelas 5 SD, sementara Andin duduk di kelas 3 SD.


***


Andin merasa sedih mengingat semua masa lalunya dengan Arine. Keduanya sama-sama anak kandung Papa dan Mamanya, tetapi kepada keduanya diperlakukan berdua. Hanya saja, Andin diminta mengalah karena Arine yang sejak kecil sudah menjadi model dan juga memilih jalan untuk menjadi seorang artis. Sementara, Andin memilih untuk menjadi gadis biasa. Sekolah dengan normal, kuliah dengan normal, bahkan Andin memiliki cita-cita menjadi seorang arsitek. Memang jauh berbeda dengan harapan Papanya yang mengharapkannya belajar Manajemen dan Bisnis, Andin justru memilih untuk menjadi seorang Arsitek.


“Kali ini, apa Andin harus mengalah Ma? Kenapa Mama dan Papa tak pernah sekalipun memberikan Andin kebahagiaan. Sudah pasti Mama dan Papa memaksa Andin untuk mengalah dari Kak Arine,” ucapnya dengan menangis kali ini.


“Maafkan Mama, Din … maafkan Mama,” balas Mama Tika.


Sebab, tak ada kata lagi selain maaf yang bisa diucapkan oleh Mama Tika. Mama Tika sepenuhnya tahu bagaimana perasaan Andin, tetapi keputusan sudah diambil. Kini hanya tinggal menunggu keputusan dari Evan saja.


***


Dear All,


Mohon maaf sebelumnya yah … judulnya memang Pernikahan Kontrak, jadi memang konfliknya terkait Pernikahan Kontrak. Hanya saja, Author pastikan akan happy ending nanti.


Lagipula jika Bestie baca di novel lain pernikahan kontrak biasanya dipicu:


- Ayah yang menjual anaknya untuk utang atau apa pun itu.


- Gadis yang membutuhkan uang untuk keluarganya.


- Sewa Rahim dengan berbagai alasannya.


- Karena One Night Stand yang sengaja terjadi.


Yuk, kita kulik dengan sudut pandang yang berbeda. Tidak ada kesenjangan sosial di kisah ini. Akan tetapi, melihat bagaimana Evan yang tetap akan teguh pada hatinya. Jika, pernikahan kontrak pihak wanita yang dirugikan, tetapi di sini justru Evan dan Andin akan menemukan cinta ketika pernikahan kontrak itu berlangsung.


Selalu dukung yah … :”)


Love U All,


Kirana