Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Kecurigaan Evan


"Papa Evan berani sekali kepada Papa saya," ucap Andin begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil milik Evan.


Evan pun menghela nafasnya dan menatap kepada Andin, "Apakah dia setiap hari seperti itu?" tanya Evan.


"Kami jarang berinteraksi, Pak ... sama seperti yang pernah saya ceritakan bahwa Papa begitu sibuk untuk mengurusi bisnisnya, sampai saya begitu jarang melihat Papa di rumah. Bahkan setelah sekian lama, baru kali ini kami sarapan bersama. Akan tetapi, justru seperti ini yang terjadi," balas Andin.


Dengan mengemudikan mobilnya perlahan, Evan menatap kepada Andin, "Kenapa kamu diam saja saat Papamu menyudutkanmu? Kenapa kamu tidak melawannya?" tanya Evan.


Andin yang mendengar pertanyaan dari Evan pun hanya bisa tersenyum kecut. Dia juga tidak tahu harus memberikan jawaban apa, tetapi yang pasti memang Andin tidak setaat itu kepada Papanya. Bahkan Andin mengakui ada jiwa memberontak di dalam hatinya karena dia merasa tidak puas dengan kasih sayang Papanya yang selalu saja berat sebelah.


"Saya melawan Pak ... hanya saja, tentu saya malu jika harus melawannya di hadapan Pak Evan," balas Andin dengan sedikit tersenyum.


"Andin, jika memang rumah itu tidak memberikan kenyamanan dan kedamaian untukmu, kenapa tidak keluar saja dari rumah itu?" tanya Evan.


Andin pun kembali tersenyum, "Haruskah saya keluar rumah? Lantas, saya akan tinggal di mana?" tanya Andin kemudian.


"Mau tinggal di rumah saya? Ada banyak kamar di rumah saya. Kali saja Papa dan Mama saya mengizinkan kamu untuk tinggal di sana," balasnya.


Seketika Andin pun terkekeh mendengar jawaban dari Andin. Tidak elok tinggal di rumah pria yang bukan mahromnya. Lagipula, di sini Andin masih bisa berpikir jernih bahwa di saat seperti justru Evan adalah Kakak Iparnya, entah kontrak itu berhasil atau tidak, tetapi Andin bisa berpikir dengan jernih dengan akal dan logikanya.


"Tidak elok Pak Evan ... lagipula, nanti malahan saya semakin digunjingkan oleh mereka yang tidak suka," balas Andin.


"Lantas, untuk apa bertahan di rumah jika rumah itu sama sekali tidak lagi memberikan kenyamanan. Untuk apa berada di rumah jika kasih sayang yang kamu dapatkan saja tidak adil. Ya, tetap ada anak kesayangan di rumah, tetapi orang tua bisa membagi porsinya," balas Evan.


"Benarkah? Di rumah Pak Evan juga ada anak kesayangan? Siapa Pak?" tanya Andin.


"Aku tidak tahu, di dalam hati Mama dan Papa, mana kau tahu. Akan tetapi, orang tua tetap memiliki anak kesayangan walau pun itu tidak terucapkan. Hanya saja, Mama dan Papa menunjukkan kasihnya secara adil dan sama rata kepadaku, Elkan, dan Eiffel. Hanya saja tetap ada salah satu anak yang kadang kala manja, dan itu sudah biasa," balas Evan.


Ah, sungguh bahagianya bisa tinggal di dalam keluarga Evan. Rasanya Andin juga ingin mendapatkan kasih sayang yang seperti itu. Namun, Andin hanya bisa turut tersenyum untuk kebahagiaan itu. Semoga saja suatu saat nanti Andin bisa mendapatkan kasih sayang secara utuh dan penuh dari orang tuanya.


"Andin, jika terjadi sesuatu kepadamu tolong kabari aku yah ... aku rasanya tidak rela membiarkan kamu tinggal di rumahmu sendiri," balas Evan.


Firasatnya mengatakan bahwa Andin memang tidak aman berada di rumahnya sendiri. Terlebih dengan Papa Miko yang menunjukkan sikap seperti itu. Agaknya kali ini Evan harus menyelidiki seperti apa Papa Miko itu. Mungkinkah ada rahasia yang tersembunyi antara Papa Miko dengan Andin.


Namun, Evan akan melakukannya dengan diam-diam. Tidak akan mengungkapkan apa yang dia dapatkan kepada Andin. Evan yakin perlahan waktu akan mengungkapkan semua kebenaran yang mungkin selama ini disembunyikan oleh keluarga Sukmajaya itu.


"Andin, saya mau ke ruangan Papa dulu. Jika ada yang ingin menemui saya, tolong sampaikan saya ke ruangan Direktur Utama terlebih dahulu," ucap Evan.


"Baik Pak Evan," balas Andin.


Evan melangkah dengan tenang menaiki lift dan membawanya ke ruangan Papanya yang berada satu lantai saja di atasnya. Pria itu membawa surat yang masuk yang ditujukan khusus kepada Direktur Utama Agastya Properti.


"Papa, boleh Evan masuk?" tanyanya begitu memasuki ruangan sang Papa.


"Ya Van ... ada apa?"


"Begini Pa ... ada tawaran proyek kerja sama dari Sukmajaya Grup," balas Evan.


Mendengar nama Sukmajaya, kemudian Papa Belva menatap pada wajah putranya itu, "Sukmajaya Grup, dia kan ...."


Belum Papa Belva melanjutkan ucapannya, Evan sudah menganggukkan kepalanya terlebih dahulu, "Benar Pa ... milik Papa Andin," balasnya.


"Bagaimana pendapatmu?" tanya Papa Belva.


"Evan merasa ada yang janggal, Pa ... kenapa mereka melakukan penawaran kerja sama di saat Evan ada hubungan kontrak dengan putrinya," balasnya.


Evan kemudian menatap wajah Papanya, "Papa, bolehkah Evan meminta bantuan Papa kali ini?" tanyanya.


"Ada apa, Van? Tumben sekali kamu meminta bantuan Papa," jawab Papa Belva.


"Begini Pa ... Evan melihat keluarga Sukmajaya itu rasanya tidak utuh. Terlebih Om Miko yang terlebih tidak memberikan perhatian dan kasih sayang kepada dua anaknya dengan sama ratanya. Di kacamata Evan, terlihat jelas bahwa Om Miko lebih sayang kepada Arine, dibandingkan Andin. Mungkinkah ada yang mereka sembunyikan perihal hubungan Arine dan Andin? Sebab, keduanya bersaudara, tetapi dari fisik, fitur wajah mereka berbeda sekali. Mungkinkah benar yang Evan pikirkan selama ini. Apakah Papa bisa membantu Evan kali ini?" tanyanya.


Papa Belva tersenyum menatap putranya itu, "Semua keluarga miliki rahasia Evan. Tidak sayang bukan berarti Andin bukan darah dagingnya kan? Lalu, untuk apa kamu menyelidiki semua itu?" tanya Papa Belva.


"Evan hanya yakin ada kebenaran besar yang sedang disembunyikan Om Miko. Jika memang Om Miko macam-macam sama Evan, Evan tak segan memberikannya pelajaran," balasnya.


"Sabar Van ... jangan main hakim sendiri. Papa selalu memberitahu kamu untuk menghadapi masalah dengan kepala dingin. Jadi, kumpulkan bukti terlebih dahulu. Baiklah, Papa akan bantu. Akan tetapi, jangan gegabah dalam bertindak. Lakukan yang baik, tetapi jangan main hakim sendiri," nasihat dari Papa Belva kepada putranya itu.