Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Disambut Istri Tercinta


Mendengar keinginan dan motivasi dari putra sulungnya, tentu saja Papa Belva merasa senang dan juga bangga. Memang itulah yang dia harapkan dari Evan.


Pemimpin juga hanya sekadar suksesor, tetapi bisa membawa Agastya Properti lebih tinggi lagi. Walau bisnis terkadang juga fluktuatif, tetapi pemimpin yang handal dan mau berjuang akan sangat menjaga kestabilan bisnis yang dikerjakan.


"Nah, gitu … kalau kamu makin matang, kayaknya Papa juga sudah waktunya pensiun," balas Papa Belva.


Evan pun tersenyum di sana, "Janganlah Pa, Evan belum bisa memegang sendiri. Evan belum sehandal Papa," balasnya.


"Papa juga ingin pensiun dan keliling dunia dengan Mamamu, Van. Menikmati hari tua, mengasuh cucu tercinta, tidak ada kebahagiaan selain itu untuk Papa."


Lagi, cita-cita dan impian Papa Belva masih sama. Ya, dia ingin menikmati hari tua bersama istri tercinta dan hidup dikelilingi anak cucu. Melihat keturunannya tumbuh dan bahagia. Memang itu cita-cita yang terdengar kuno, tetapi itulah mimpi dan cita-cita Papa Belva sejak dulu. Menikmati hari tua bersama istri dan keturunannya.


“Cita-cita Papa tidak pernah berubah,” balas Evan.


“Iya, itu menjadi cita-cita Papa di hari tua. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menikmati hari bersama Mamamu dan melihat anak dan cucu Papa hidup, tumbuh, sehat, dan bahagia,” balas Papa Belva dengan begitu yakin.


Begitu lift sudah turun sampai ke Lobby, Papa Belva pun menepuk bahu putranya itu sekali lagi, “Baiklah Van … Papa duluan yah. Sering-seringlah main ke rumah. Ajak Andin main ke rumah. Biar lebih dekat dengan Mama dan adik-adikmu juga,” pesan Papa Belva.


“Siap Pa, nanti lain kali Evan akan main ke rumah.”


Usai berpamitan, Evan masih menunggu sampai Papanya itu pulang dan mobilnya kian menjauh. Sementara Evan barulah mengambil mobilnya dan mulai pulang. Walau hari ini berat, tetapi bisa dilaluinya dengan baik. Sekarang Evan hanya perlu pulang dan siap bertemu dengan wanita yang sudah dirindukannya sejak pagi.


Sayangnya, lalu lintas begitu macet sehingga perjalanan pulang pun menjadi terhambat. Perjalanan yang biasanya bisa ditempuh dalam setengah jam, kini harus ditempuh Evan dalam waktu lebih dari satu jam.


Baru mendengar suara mobil Evan saja, Andin sudah turun dari kamarnya dan membukakan pintu untuk suaminya itu.


“Sudah pulang Mas Evan?” sapanya dengan memberikan senyuman termanisnya untuk suaminya itu.


“Sudah … gimana di rumah sendirian kesepian enggak?” balas Evan lagi.


“Enggak … aku sambil menyusun laporan magang kok, Mas. Mas Evan sendiri gimana seharian ini di kantor?” tanyanya.


“Tentu aku rindu kamu, Sayang … tidak ada yang duduk di tempat sekretaris itu. Ada yang kurang di ruanganku,” balas Evan.


Andin pun tersenyum di sana, “Mandi dulu ya Mas … habis ini makan bersama,” balas Andin.


“Kamu masak?” tanya Evan.


“Iya, aku masak kok. Cuma aku enggak tahu kamu suka enggak dengan makanannya. Aku buat masakan dari Salmon,” balas Andin.


Itu memang benar, karena menjelang suaminya pulang Andin bergelut di dapur dan membuat masakan. Hanya saja, dia tidak tahu apakah makanan yang dia buat sesuai dengan selera dari suaminya.


“Apa pun yang kamu buat, akan aku makan kok Sayang,” balas Evan.


Pria itu lantas naik ke kamarnya, diikuti oleh Andin di belakangnya, “Kamu tidak ikut mandi?” tanya Evan kemudian.


“Aku sudah mandi, rambutku saja masih basah,” balas Andin.


Evan kembali tersenyum di sana, “Mandi lagi yuk,” ajak Evan kepada istrinya.


Akan tetapi, dengan cepat Andin menggelengkan kepalanya, “Enggak … dingin. Sana, buruan mandi Mas … bau. Biar cepet bersih dan wangi,” balasnya dengan mendorong punggung suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi.


“Andin,” sapa Evan begitu keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya baru masuk ke kamar.


“Ya, Mas Evan … ada apa?” tanyanya.


“Kamu dari mana?”


“Buatin teh buat Mas Evan … minum dulu, Mas … masih hangat,” balas Andin dengan menyerahkan secangkir teh itu kepada suaminya.


Evan menerimanya dan menaruhnya terlebih dahulu di atas nakas. Kini Evan hendak duduk di sofa yang berada di sudut kamar, pria itu menarik tangan Andin, hingga Andin jatuh dalam pangkuannya.


“Aku kangen kamu … seharian aku galau di kantor. Cuma aku sadar, aku tidak boleh galau. Aku harus bekerja keras untuk kamu dan anak kita nanti,” ucap Evan dengan menatap lekat wajah Andin yang berada hanya sejengkal dari wajahnya.


Andin tersenyum, rupanya suaminya pun bisa dengan mudah mengutarakan perasaannya. Mengakui kangen itu hal yang sukar untuk Evan. Akan tetapi, sekarang Evan bisa mengatakannya kepada Andin.


“Kamu tidak kangen aku Yang?” tanya Evan.


“Kangen … cuma kan kamu pergi untuk bekerja. Jadi, aku tidak masalah. Asalkan kamu masih berjalan di jalan yang lurus, aku sepenuhnya tidak masalah kok Mas,” balas Andin.


“Tentu jalanku akan selalu lurus. Peluk aku, Yang … aku kangen,” pinta Evan kemudian.


Andin pun merengkuh tubuh suaminya itu, memeluknya. Begitu hangat. Pelukan seperti ini yang menjadi waktu terbaik bagi Andin. Walau sesaat, tetapi pelukan itu memberikan ketenangan dan rasa nyaman baginya.


“Tadi aku ketemu Papa di kantor. Lain waktu kita diminta pulang ke rumah. Mama kangen. Mau tidak akhir pekan ini menginap di rumah Mama dan Papa?” tanya Evan kepada istrinya.


“Iya, tentu boleh. Aku mau belajar masak nanti sama Mama Sara,” balas Andin.


“Tentu Sayang … sama aku akan membuat kolam renang. Kamu suka renang tidak? Aku suka sekali berenang. Masih ada lahan di samping rumah kita, aku akan memanggil arsitek terbaik untuk membangun pool infinity seperti di Dubai,” ucap Evan lagi.


“Kamu suka berenang Mas? Jago renang?” tanya Andin kemudian.


“Suka … dari usia empat tahun, Papa sudah mengajariku renang. Kamu bisa renang?” tanya Evan kemudian.


Terlihat Andin menggelengkan kepalanya, “Nggak … aku nggak bisa renang. Mandi angsa saja bisanya,” balas Andin dengan tertawa.


“Ya sudah, nanti aku ajarin berenang. Dulu Mamaku juga tidak bisa berenang, tetapi Papaku juga yang mengajarinya, hingga akhirnya pelan-pelan Mama bisa berenang juga. Jadi, nanti aku ajarin yah. Biar kegiatan kita di akhir pekan bervariasi Sayang. Cuman, kalau kamu maunya kegiatan di dalam kamar saja, aku juga tidak masalah. Aku juga suka kok,” balas Evan dengan menelisipkan untaian rambut Andin ke belakang telinganya.


Andin mendaratkan pukulan di dada suaminya itu. “Bisa saja sih … next time, akhir pekan aku juga mulai ngerjain skripsi, Mas … mana teknik arsitektur itu susah. Lagian aku kan kurang pengalaman. Kuliahku Teknik Arsitektur, magangnya jadi sekretaris. Gimana coba?”


Evan terkekeh geli di sana, “Kan nanti kamu jadi arsitektur pribadi aku saja. Pasti bisa. Nanti aku bantuin dikit-dikit, walau aku juga tidak tahu Teknik Arsitektur, soalnya aku orang Manajemen dan Bisnis,” balas Evan.


Andin menggelengkan kepalanya, “Kamu sih, enggak kasih aku kerjaan yang lain. Andai aku dulu minta tukar posisi dibolehin kan aku jadi tahu divisi apa saja di Agastya Properti. Sekarang jadi sekretarismu, aku cuma belajar satu hal,” balas Andin.


“Belajar apa?”


“Belajar mencintai kamu seumur hidupku ….”


Andin mengatakan itu dengan menahan tawa dan tersipu malu di hadapan Evan. Keduanya pun sama-sama tertawa dan Evan kian memeluk istrinya yang masih berada dalam pangkuannya itu.