
Keesokan harinya, Evan dan Andin datang ke perusahaan dengan perasaan yang beda. Setelah berakhirnya pernikahan kontrak, rasanya tidak ada beban bagi keduanya. Sudah bisa dipastikan usai semalam jadian secara resmi, kali ini menjadi hari pertama untuk mereka. Hari pertama berpacaran.
Sejak dari rumahnya, Andin berangkat dengan wajah yang begitu berseri-seri. Tidak mengira bahwa dirinya benar-benar berpacaran kali ini. Lucunya, ini adalah pacaran satu bulan sebelum Evan akan meminangnya nanti.
"Pagi Andin," sapa Evan yang kala itu baru saja datang.
Ada yang berbeda juga dari wajah Evan, walau biasanya pemuda itu terlihat tegas, tetapi kali ini Evan tersenyum tipis kepada Andin. Mungkin efek baru jatuh cinta, sekadar disapa selamat pagi saja rasanya membuat hati Andin berbunga-bunga karenanya.
"Pagi Pak Evan," balas Andin dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum di sana.
Tidak langsung ke dalam ruangannya, nyatanya Evan justru berhenti di depan meja kerja Andin. Pemuda itu menatap Andin di sana untuk sejenak, "Happy First Day," ucap Evan dengan tersenyum.
Ah, lagi-lagi pemuda tampan itu tersenyum tipis, walau senyumannya begitu tipis dan seolah senyuman yang terbit itu dikulum kembali sudah membuat Andin berdebar-debar karenanya.
"Nanti siang kita rayakan hari ini yah ... makan siang bersama," ajak Evan kepada Andin.
"Boleh Pak Evan ... Pak Evan ingin makan siang di mana? Saya bisa reservasi dulu," balas Andin.
"Tidak perlu reservasi, kita bisa makan di mana saja. Lagipula, makan di Angkringan pun saya tidak masalah," balas Evan.
Andin tampak mengernyitkan keningnya, mana pun pria tampan dan sekaya Evan mau makan di angkringan apakah itu mungkin?
"Jangan bercanda Pak ... tidak mungkin Pak Evan makan di angkringan," balas Andin.
"Serius ... lain kali kita ke angkringan deh. Makan Nasi kucing itu biasa untukku," balas Evan dengan serius.
"Hmm, sekelas Evander Agastya masak makan nasi kucing sih?" balas Andin tentu saja dia tidak percaya.
Evan kemudian tersenyum di sana, "Mama saja sering menggoreng bandeng dan membuat sambal. Serius. Bahkan kami sering makan di warung tenda yang menjual Pecel Lele kesukaannya Mama," balas Evan lagi.
Wah, agaknya kepribadian Evan yang seperti ini yang baru Andin ketahui. Tidak menyangka bahwa Evan tidak hidup mewah, tetapi pemuda itu juga begitu sederhana. Nilai seorang Evan Agastya di mata Andin langsung melambung tinggi. Ya, Andin memang menyukai pemuda biasa saja sebenarnya. Dulu, dia bermimpi hanya menikahi pemuda biasa, bukan kaya raya. Sebab, dia menginginkan keluarga yang bisa berkumpul bersama, bukan ditinggal Papanya terus yang adalah pengusaha.
"Baiklah ... selamat bekerja. Nanti siang kita makan siang bersama yah," balasnya.
Evan pun segera masuk ke dalam ruangannya. Hanya sebuah ruangan kaca yang memisahkannya dengan Andin, sehingga ada kalanya Evan bisa curi-curi pandang kepada gadis ayu yang duduk menghadap ke arahnya itu. Rasanya Evan ingin menunggu siang segera tiba dan ingin merayakan hari pertama pacaran mereka dengan mengajak Andin makan bersama.
Begitu waktunya makan siang tiba, Evan segera keluar dari ruangannya dan dia tentunya ingin mengajak Andin untuk makan siang bersama. Sebelumnya Evan sudah melihat restoran yang cukup cozy untuk bersantap siang bersama.
"Baik Pak," balasnya Andin.
Keduanya segera memasuki lift dan turun ke parkiran yang ada di basement untuk mengambil mobil Evan, dan kemudian mereka akan merayakan hari pertama pacaran mereka dengan makan bersama.
"Ke mana Pak Evan?" tanya Andin penasaran.
"Ke restoran Jepang. Saya pengen makan sushi," balas Evan.
Andin pun merespons dengan menganggukkan kepalanya. Makan apa pun tidak menjadi masalah untuk Andin. Begitu sampai di sebuah restoran Jepang yang ada di salah satu mall, Evan segera memesan Sushi porsi boat. Kurang lebih ada 32 pcs Sushi di sana. Andin sampai heran kenapa Evan memesan begitu banyak Sushi padahal mereka hanya berdua saja.
"Pak Evan habis semuanya?" tanya Andin.
"Enggak tahu juga. Hanya saja saya baru bahagia, jadi mungkin saya bisa makan lebih banyak," balas Evan.
"Oh ... ini 32 pcs Pak Evan ... jadi sudah pasti banyak sekali," balasnya.
Evan hanya diam dan dia menyantap Sushi dengan mengamati Andin yang tampak malu-malu di sana.
"Pernah pacaran sebelumnya Ndin?" tanya Evan kepada Andin.
"Pernah, Pak," balasnya.
"Kapan?"
"Waktu SMA, biasa ... cinta SMA," balasnya.
"Oh, kirain saya pacar pertama kamu," jawab Evan dengan menatap Andin.
"Cuma pacar mainan aja kok Pak ... enggak serius," balasnya.
"Kamu yang beruntung karena kamu pacar pertama saya," balas Evan tanpa ragu.
Ya, Andin memang pacar pertama baginya. Sebelumnya Evan hanya fokus untuk bekerja, belajar mengenai bisnis dan mengelola perusahaan dari Papanya. Sebab, memang Papa Belva memproyeksikan Evan yang akan meneruskan Agastya Properti, sehingga Evan menghabiskan waktu untuk membekali dirinya.