
Andin mengangguk dengan pasrah kala Evan menyarankan untuk melakukan testpack. Sebab, yang Evan tahu dari cerita Mamanya, waktu hamil Evan, Mama Sara sehat saja, Papa Belva yang terkena couvade syndrom, sementara ketika hamil Elkan, Mama Sara merasa tubuhnya demam dan menggigil, padahal sebelumnya sangat sehat. Oleh karena itu, Evan menyarankan kepada istrinya untuk bisa melakukan test memprediksi kehamilan terlebih dahulu.
Andin yang kini duduk di sofa itu masih terlihat begitu lemas. Keningnya juga beberapa kali mengeluarkan keringat, sehingga Evan menawarkan untuk mengajak Andin kembali ke tempat tidur.
"Mau tiduran lagi? Aku gendong," tawrnya.
"Bantu aku berjalan saja, Mas ... aku masih kuat berjalan kok," jawab Andin dengan perlahan bangkit dari duduknya.
Tanpa menunggu aba-aba, Evan segera merangkul bahu istrinya itu dan seolah menapahnya untuk berjalan menuju ke tempat tidurnya, "Pelan-pelan aja Yang," ucapnya mengingatkan Andin untuk bisa lebih pelan-pelan.
"Mas Evan jangan lupa makan juga," ucap Andin kemudian.
Sebab, Andin melihat hanya dirinya saja yang sarapan. Sementara suaminya itu, belum sarapan sama sekali. Untuk itu, Andin meminta Evan untuk sarapan juga.
"Belum ... kamu dulu saja, Yang. Habis ini aku baru makan."
Melihat Evan yang belum makan, Andin merasa sedih. Biasanya mereka akan menikmati sarapan bersama. Akan tetapi, sekarang suaminya itu justru belum makan. Sehingga, Andin meminta kepada suaminya untuk bisa segera makan,
"Bubur milik kamu dibawa ke sini saja Mas ... makan dulu. Aku enggak apa-apa, kok. Cuma tinggal lemes aja, cuma enggak demam dan kedinginan lagi," balas Andin.
Evan pun akhirnya mengikuti permintaan istrinya, dia turun mengambil Bubur Ayam miliknya dan segera memakannya. Sesekali Evan melirik ke Andin, Memastikan istrinya baik-baik saja.
Usai menyelesaikan makannya, Evan pun berpamitan untuk ke apotek sebentar. Sudah jelas tujuannya adalah membelikan test pack untuk istrinya itu. Di apotek, pria itu membeli beberapa test pack untuk mengetahui kehamilan dari yang mulai berharga murah hingga yang berharga mahal, tidak lupa dia membeli gelas takar yang akan digunakan untuk menampung urine dan melakukan test kehamilan.
Begitu dirasa sudah mendapatkan semua yang dia mau, pria itu kembali ke rumah dan segera menemui istrinya.
"Waktu aku keluar enggak demam atau dingin kan?" tanya Evan dengan khawatir.
"Enggak ... aku baik-baik saja kok," balas Andin.
Satu kantong plastik berukuran sedang di tangan suaminya sudah menjadi bukti bahwa yang dicari suaminya itu sudah didapatkan. Pria itu mengangkat sedikit kantong plastik itu, “Sudah dong … besok pagi dicek yah, aku temenin,” ucapnya dengan penuh semangat.
***
Keesokan harinya, seperti ucapannya kemarin, Evan bangun terlebih dahulu. Dengan tenang dia memandangi wajah istrinya yang masih terlelap. Lantaran hari ini pun masih hari libur, maka Evan membiarkan Andin untuk tidur lebih lama. Memandangi wajah Andin yang masih terlelap menjadi pemandangan yang indah buat Evan.
Hingga beberapa saat, Andin pun bergerak dan perlahan-lahan mulai membuka matanya. Wanita itu tersenyum, saat memandang Evan yang sudah bersandar di head board yang memandanginya.
“Morning Mas …” sapanya kepada suaminya itu dengan suara serak khas bangun tidur.
“Morning Sayang …” sapanya sembari mengusap puncak kepala Andin.
Membiarkan sejenak Andin untuk mengumpulkan kesadaran, kemudian Evan berdiri dan mengulurkan satu tangannya kepada Andin. “Ayo Sayang …,” ucap pria itu sembari tersenyum.
Evan pun tersenyum, “Ke kamar mandi, ayo cek urine. Aku temenin. Pagi ini kan.” ucap pria itu dengan tenang.
Barulah Andin teringat dengan ucapan suaminya kemarin, wanita itu pun mengangguk, merapikan sejenak rambutnya yang berantakan lantaran habis bangun tidur dan juga menyibak selimutnya. Andin lantas berdiri dan menerima uluran tangan suaminya itu, berjalan menuju kamar mandi.
“Sampai di sini saja Mas … aku bisa sendiri. Malu dong.” ucapnya sembari menundukkan wajahnya.
Evan pun tertawa, “Padahal aku juga sudah lihat semuanya. Masih malu-malu aja sih. Bikin gemes, kamu itu,” sahutnya dengan mengusap puncak kepala istrinya itu.
Setelahnya pria itu memberikan dua test pack dan sebuah gelas takar. “Tahu caranya kan? Gelas ini untuk urine, lalu masukkan test packnya. Tunggu sampai hasilnya keluar.” penjelasannya kepada istrinya itu.
Sebelum Andin melangkahkan kakinya ke kamar mandi, Evan pun mencegahnya sejenak, “Apa pun hasilnya jangan bersedih. Mau negatif atau positif tidak masalah. Kalau positif bersyukur, kalau negatif juga bersyukur berarti kita harus lebih giat ikhtiarnya,” ucapnya dengan tenang.
Dengan mengangguk samar, kemudian Andin masuk ke dalam kamar mandi. Mulailah kali ini Andin melakukan uji reaksi kimia layaknya masa SMA dulu sendirian di kamar mandi itu. Wanita beberapa kali terlihat cemas saat mulai membuka kemasan test pack dan memasukkannya ke dalam gelas takar yang sudah terisi urine itu.
“Ya Tuhan, apa pun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik dari-Mu untuk kami berdua,” gumamnya sembari menggigit bibir bagian dalamnya.
Detik-detik menunggu hasil pergerakan di test pack itu membuat Andin berjalan mondar-mandir, rasanya ada hal yang harus dia pertaruhkan saat menunggu hasil test pack itu. Perlahan test itu berakhir, satu garis merah. Andin menghela napasnya, “Satu garis merah artinya negatif, mungkin saja negatif,” batinnya dalam hati.
Namun beberapa saat kemudian, satu garis merah perlahan naik. Satu garis lagi berwarna agak pink, tidak sepenuhnya merah tebal. Dua garis. Wanita itu membelalak dan menutup wajahnya.
Merasa tidak yakin, mulailah dia mengetes dengan alat test pack yang lebih mahal, memasukkannya ke dalam gelas takar. Tidak perlu waktu lama, keluarlah bunyi layaknya sebuah jam weker.
Tttiiittt ….
Andin lantas mengerjap, dan memfokuskan pandangannya pada apa yang tertera di layar pada test pack digital itu. Semoga saja apa yang dia kali ini benar, dan dia tidak salah lihat.
“Gimana Sayang hasilnya? Ini sudah lebih dari 5 menit.” tampak tidak sabar, Evan pun mengetuk pintu kamar mandi itu.
Sementara di dalam Andin sudah mulai menangis, dia membilas terlebih dahulu test packnya dan memegang test pack yang digital itu. Perlahan dia keluar dari kamar mandi, dan yang langsung dia lakukan adalah memeluk suaminya itu dengan begitu eratnya. Membenamkan wajahnya ke dalam dada suaminya.
Merasa aneh dengan sikap istrinya, Evan pun mengusap punggung istrinya itu, “Udah jangan sedih … kalau negatif tidak apa-apa kok. Kan bisa usaha lagi, penting kamu jangan sedih, jangan menangis,” ucap Evan kepada Andin.
Merasa istrinya justru masih sesegukkan, kembali Evan bersuara untuk menenangkan istrinya itu, “Gagal enggak apa-apa, kan kita bisa coba lagi,” ucapnya kali ini kepada istrinya.
Hingga akhirnya, Andin dengan bibirnya yang bergetar sedikit berjinjit dan berbicara dengan lirih di sisi telinga suaminya itu, “Kamu akan menjadi Papa, Mas … aku akan menjadi Mama. Positif, Mas. Hasilnya positif,” ucap Andin dan kembali menangis dalam pelukan suaminya.
Tangisan bahagia tentunya, menyadari bahwa Tuhan sudah menjawab doa dan harapan mereka berdua. Air mata bahagia.
Mengurai pelukannya, Andin lantas memberikan test pack digital itu dari saku celananya, “Positif!” ucapnya dengan tersenyum di tengah derai tangisannya.
Wajah Evan pun terlihat merah, bahkan pria itu menitikkan air matanya, tak kuasa menahan haru. “Alhamdulillah … akhirnya doa kita didengarkan Allah,” ucap pria itu begitu melihat hasil dari test pack tersebut, lantas dia kembali memeluk istrinya dengan begitu eratnya.