Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Menambah Frekuensi


“Cantik banget ya Mas, Raline … namanya juga bagus,” ucap Andin dengan melihat foto si baby kecil, keponakannya yang baru saja dikirimkan oleh Arine.


“Iya, cantik … lucu,” balas Evan kemudian.


Andin pun menganggukkan kepalanya, “Jadi pengen punya baby juga deh. Sudah dua bulan juga kan sejak lepas implan,” balas Andin kemudian.


“Ya, sabar Sayang … kan kita juga harus berusaha. Kalau usahanya ogah-ogahan dan frekuensinya tidak teratur susah juga Sayang,” balas Evan.


Andin lantas menatap kepada suaminya itu, “Kamu kalau misal aku hamil, pengennya punya anak cewek atau cowok Mas?” tanyanya sekarang.


“Kamu dulu … kamu pengennya anak kita cewek atau cowok?” tanya Evan kepada Andin terlebih dahulu dan meminta istrinya itu untuk memberikan penjelasan.


“Lihat Raline yang cantik banget dan lucu, aku pengennya anak cewek juga sih. Biar bisa main bareng nanti. Cuma, kalau dikasihnya cowok, kalau secakep kamu, ya aku mau,” balas Andin dengan terkekeh geli.


Evan yang mendengarkan ucapan Andin pun turut tertawa dan mencubit hidung istrinya itu, "Mau cakep atau enggak, dia anak kita Yang ... jadi enggak berpengaruh juga," balasnya.


Andin pun mengusapi hidungnya yang sedikit memerah di sana karena dicubit oleh suaminya itu, "Kalau kamu pengennya anak pertama cowok atau cewek Mas?"


Evan tampak berpikir terlebih dahulu dan kemudian menjawab Andin di sana, "Aku pengennya cowok," balasnya kemudian.


"Kenapa pengennya cowok?"


"Kan Arine sudah punya anak cewek, ya kita yang punya anak cowok. Biar enggak rebutan mainan kayak kamu dan Arine dulu waktu kecil," balas Evan dengan tertawa.


Itu adalah jawaban spontans karena Evan ingat bahwa Andin pernah bercerita, di waktu kecil, semua yang dia miliki akan direbut oleh Arine. Rasanya Evan jadi berpikir menginginkan anak cowok saja, sehingga tidak berebut mainan dengan sepupunya sendiri.


"Emang kamu dan Elkan enggak pernah rebutan mainan Mas?" tanya Andin kemudian.


Evan pun menggelengkan kepalanya, "Enggak, aku mengalah kok kalau sama Elkan. Kan aku kakaknya, aku sudah besar dan punya mainan lebih banyak. Selisih kamu 4 tahun, jadi ya aku kasih saja kalau Elkan mau pinjem Lego, Hot Wheels, atau Robot. Enggak apa-apa. Sharing is caring," balasnya kepada Andin.


Andin yang mendengarkan cerita Evan pun merasa bahwa suaminya itu adalah sosok kakak yang keren bahkan sejak Evan masih kecil. Dia mau berbagi mainannya, dan juga mau mengalah.


"Kamu sosok Kakak yang keren banget sih Mas ... bahkan sejak kecil, kamu sudah begitu keren," balas Andin.


"Mama itu selalu memberitahu bahwa mainan itu bisa dibeli, kalau rusak ya tidak apa-apa, tetapi persaudaraanku dengan Elkan itu jauh lebih berharga dibandingkan dengan mainan. Mengalah sebentar tidak apa-apa, atau sharing mainan. Jadi ya, jarang banget sih kami berantem. Mungkin juga aku berpikiran lebih dewasa aja," balas Evan.


"Keren banget nasihatnya Mama Sara. Iya, ikatan persaudaraan itu lebih mahal dari mainan, tetapi terkadang justru orang ribut dan berantem hebat hanya karena mainan," balas Andin.


Sekarang ada hal yang dia kenang, dulu dia begitu sebal, marah, dan bahkan menangis histeris ketika Arine merebut mainannya. Ada rasa tidak mau berbagi. Sekarang, setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Evan, rasanya Andin menjadi sadar bahwa hubungan itu lebih mahal dan jauh bernilai dari sebuah mainan.


"Kelihatannya kamu juga sudah siap menjadi Papa ya Mas?" tanya Andin kemudian.


Evan pun menganggukkan kepalanya secara samar dan juga tersenyum tipis, "Ya sudah siap. Sejak menikah sama kamu, aku sudah siap menjadi seorang Papa," balas Evan dengan sangat yakin.


"Maaf yah, dulu malahan menunda dulu," ucap Andin.


"Tidak apa-apa, Yang ... stafku bilang rumah tangga itu tentang komunikasi. Jadi kan kita sudah komunikasikan bersama, jadi tidak apa-apa," balas Evan kemudian.


Andin kemudian memeluk suaminya itu, rasanya Evan yang dewasa seperti ini memang banyak membimbingnya. Mungkin juga selisih usia yang banyak, dan pola asuh yang diterapkan keluarga Agastya membuat Evan bisa berpikiran jauh lebih dewasa. Andin bersyukur sekali karena suaminya itu begitu dewasa, Andin menyadari dirinya kadang masih labil, dan sosok Evan yang tenang dan dewasa bisa menuntunnya.


"Kok kalau cerita-cerita gini, aku jadi merasa kalau aku bersyukur banget sih punya suami seperti kamu, Mas ... limited editions banget sih," balas Andin.


Andin pun dengan polosnya menganggukkan kepalanya, "Iya, pengen ... baby boy aja sih ... setampan Papanya kalau bisa," balas Andin dengan mengusapi perutnya itu.


Evan kemudian membelai sisi wajah Andin di sana, dan kemudian menelisipkan untaian rambut Andin ke belakang telinganya, "Buat baby yuk?" ajaknya kemudian.


"Sekarang?" tanya Andin dengan bingung.


"Iya, biar otw embrionya," balas Evan dengan menggerakkan satu alis matanya.


Andin hanya geleng-geleng kepala melihat suaminya yang sudah semangat 45. Terkadang tingkah suaminya itu begitu lucu hingga membuat Andin terkekeh geli. "Kalau urusan gitu aja semangat." ucapnya sembari memukul dada suaminya.


Evan hanya tersenyum tipis kemudian dia segera membawa istrinya untuk duduk di atas pangkuannya. Dengan satu tangan yang tengah mencoba merapikan juntaian rambut indah istrinya. Kemudian perlahan, Evan mencium bibir yang selalu menjadi candu baginya. Bibir yang selalu manis seperti cotton candy. Menciumnya, mencecap manisnya, dan membelai indah dengan lidahnya. Menyalurkan semua rasa dan gejolak dalam ciuman yang begitu lembut dan dalam.


Ciuman yang tidak pernah gagal. Ciuman yang justru membawakan gelombang bagi sepasang anak manusia tersebut untuk larut dalam sungai cinta yang memabukkan.


Tanpa tinggal diam, pria itu kemudian melepaskan satu per satu pakaian yang kedua kenakan dan jari jemarinya sibuk menyusuri epidermis selembut sutera yang dimiliki istrinya memberikan sentuhan yang membuat sang istrinya merengkuh pundaknya begitu kencang.


Puas menyusuri lembah nan bukit yang membuatnya seakan tidak pernah puas, pria itu kemudian menghujam begitu dalam. Menyatukan diri mereka mengarungi sungai yang bermuara pada cinta dan kasih sayang keduanya sembari berharap benih-benih yang dia tanam akan bersemai dalam rahim istrinya.


Sebuah hubungan yang bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan hubungan yang sungguh-sungguh mereka harapkan akan membuahkan keturunan yang mereka harapkan berdua.


Keduanya bergerak seirama, berpeluh, dan saling menumpahkan semua rasa yang begitu membuncah di dada. Usai petarungan yang begitu panjang, tetapi tiada pernah ada kata bosan, Andin mencerukkan kepalanya di dada suaminya. Menstabilkan kembali napasnya. Wanita itu memejamkan matanya dan membiarkan suaminya menciumi keningnya.


"Tahan dulu Sayang ... jangan bergerak dulu, sapa tahu benih-benih cinta kita berdua sedang berenang-renang di sini. Semoga si baby sudah on the way." ucapnya sembari mengusap perut istrinya yang masih rata.


"Hmm, iya Mas ... semoga, gak lama lagi benihnya mulai tumbuh di sini." balasnya dengan masih memejamkan matanya.


"Sering-sering disirami Sayang... Biar cepet tumbuh subur," ucapnya sembari terkekeh geli.


Andin yang semula memejamkan matanya tiba-tiba mengerjap dan matanya membola seketika. "Mulai deh siraman rohani. Emang kamu gak pernah bosen Mas?" tanya yang dengan memincingkan matanya.


Dengan segera Evan menggelengkan kepalanya. "Mana ada bosan Sayang ... yang ada itu justru aku gak akan nolak. Bersama kamu seperti ini itu mantap jiwa Sayang... Gak ada obatnya," ucapnya sembari tersenyum lebar.


Berbeda dengan Evan, Andin justru mengerucutkan bibirnya. "Modus...."


"Bukan modus ... tapi bener Sayang. Bersamamu seperti ini itu mantap jiwa. Bukan hanya pengungkapan rasa cintaku kepadamu, tetapi tidak dipungkiri seperti ini menjadi salah satu cara menjaga keharmonisan suami istri. Perbanyak frekuensinya, biar baby kita segera otw," lagi ucap Evan sembari memeluk tubuh polos istrinya.


Andin sekali lagi memincingkan matanya. "Pinter banget kalau modus. Aku sudah hafal. Sudah mengenalmu luar dalam." ucapnya.


Evan pun terkekeh geli. "Cuma kamu yang hafal aku luar dan dalam. Lagipula enggak ada yang aku tutup-tutupin dari kamu. Cuma kamu dan hanya kamu Sayang. Cuma berdua aja di sofa juga muat dan bisa ya Sayang. Tahu gitu enggak perlu beli tempat tidur ukuran super king size." gumamnya menggoda istrinya.


Andin yang kesal pun memukul dada suaminya itu dan Evan pura-pura mengaduh di sana, "Seminggu 5 kali ya Yang," balas Evan.


"Kenapa enggak 7 kali sekalian?" balasnya dengan memincingkan matanya.


Evan pun tersenyum tipis di sana, "Oke, fixed. Seminggu 7 kali, dan gak boleh protes."


Evan pun seolah mendapatkan jalan dan juga akan sering-sering menambah frekuensi hubungan keduanya. Bukan sekadar melampiaskan hasrat, tetapi juga ingin segera mendapatkan keturunan dengan istrinya itu.