
“Akhirnya mengambil Studi Rancang Bangun Arsitektur yah?” tanya Arsyilla kepada Andin.
Terlihat Andin pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum di sana, “Iya Bu … karena juga saya lebih mantap mengenai studi rancang bangun. Bu Arsyilla dulu mengajarnya keren banget, sehingga saya masih mengingat materi yang disampaikan,” balas Andin.
Mendengar apa yang disampaikan mahasiswinya, membuat Arsyilla pun terkekeh geli di sana, “Kamu bisa saja. Padahal banyak mata kuliah yang lain yang bisa kamu kembangkan untuk menyusun skripsi. Terlebih banyak bidang dan divisi di Agastya Properti yang bisa kamu pakai dan kembangkan.”
Ya, menurut Arsyilla, dengan menikahnya Andin dengan Evan yang adalah Wakil Direktur Utama di Agastya Properti sesungguhnya memberikan peluang dan kesempatan yang besar untuk Andin dalam menyusun tugas akhir kuliahnya. Bidang properti pun bisa dikembangkan dan dipakai sebagai objek penelitian.
“Ini sudah usaha maksimal saya, Bu,” jawab Andin dengan menghela nafas di sana.
“Pendekatannya Studi Rancang Bangun dengan konsep Ekologis, gimana … kamu bisa ridak?” tanya Arsyilla kini kepada Andin.
Kini, terlihat Andin yang mulai bingung. Jika mahasiswa yang cerdas bisa langsung konek dan sinapsis di otaknya cepat untuk terhubung, sementara Andin benar-benar merasakan kecerdasannya berkurang usai menikah. Untuk berpikir mengenai konsep ekologis pun Andin rasanya kesulitan.
“Pendekatan secara lingkungan ya Bu?” tanya Andin kemudian.
Arsyilla menganggukkan kepalanya, “Iya … karena dalam merancang sebuah bangunan, kita harus melihat ekologisnya. Memastikan bangunan tersebut tidak merusak lingkungan sekitar,” balas Arsyilla.
“Baik Bu Arsyilla, saya akan berusaha lagi dan melakukan yang terbaik,” balas Andin.
Melihat semangat Andin, agaknya Arsyilla bisa memberikan sedikit tekanan agar Andin bisa mengerjakan skripsinya dengan maksimal. Walau beberapa pekan sebelumnya sudah bertemu Andin dan tahu bahwa Andin dalam istri dari rekan suaminya, tidak serta merta membuat Arsyilla mempermudah langkah Andin. Selama seseorang masih bisa melakukan yang maksimal, maka Arsyilla akan mendorongnya, membuat orang itu untuk berlari sampai di batas kekuatannya.
“Oke … jadi, untuk judul saya revisi dan tambahkan konsep ekologisnya yah. Saya yakin kamu bisa kok,” motivasi dari sang Dosen untuk mahasiswinya.
“Iya Bu Arsyilla … saya akan berusaha,” balas Andin lagi.
Arsyilla lantas mengisi buku konsultasi dan membubuhkan paraf di sana. Lantas dia bertanya lagi kepada Andin, “Untuk merevisi Bab 1 kira-kira kamu bisa selesai berapa lama, Andin?”
Pertanyaan yang begitu mendebarkan. Justru Bu Arsyilla sudah menanyakan berapa waktu yang dia butuhkan untuk merevisi. Andin pun tampak berpikir, karena dia juga harus mencari materi mengenai konsep ekologis itu.
“Sepekan Bu Arsyilla,” jawabnya pada akhirnya.
“Oke, baiklah … minggu depan ketemu saya dan bawa perbaikan Bab 1 yah. Jika nanti Bab 1 sudah oke, kita lanjut ke Bab 2,” balas Arsyilla.
Andin menghela nafas di sana. Memang seolah terlihat mudah bisa menuju ke Bab 2, tetapi masih ada revisi yang harus Andin kerjakan. Andin sangat yakin bahwa merevisi Bab 1 saja membuatnya pusing tujuh keliling.
“Tanya sama Pak Evan … pasti nanti dibantu kok,” goda Arsyilla yang melihat kebingungan di wajah Andin.
“Mana mau, Bu … cuma temenin saja kok belajarnya, cuma enggak dibantuin,” balasnya dengan menghela nafas.
Arsyilla pun kembali terkekeh di sana, “Sabar … nanti pasti dibantuin. Dirayu dulu,” balas Arsyilla.
“Eh, Bu … dirayu bagaimana. Saya tidak tahu,” jawab Andin dengan tersipu malu.
Hingga akhirnya Arsyilla dan Andin sama-sama tertawa, “Sudah lah … masih ada yang ingin ditanyakan tidak?” tanya Arsyilla lagi.
“Tidak Bu … sudah cukup, nanti saya revisi terlebih dahulu. Mohon bimbingannya ya Bu,” balas Andin.
Usai bimbingan skripsi dengan Arsyilla, Andin pun menuju ke perpustakaan terlebih dahulu untuk mencari beberapa buku yang akan dia gunakan sebagai sumber Pustaka. Tidak lupa mencari buku-buku yang membahas tentang konsep ekologis. Kali ini Andin akan mengerjakan semuanya dengan lebih fokus. Waktunya hanya seminggu, semoga saja dia bisa merevisi Bab 1 yang sudah dia buat dengan maksimal, bahkan Andin berharap usai ini tidak akan ada revisi lagi.
[To: Hubby]
[Mas Evan, nanti kalau sidang pulang dari kantor minta tolong jemput aku di kampus yah.]
[Ini aku masih di perpustakaan.]
[Kalau sudah sampai kabarin yah.🧡]
[Aku tunggu ....]
Pesan-pesan itu terkirim dengan cepat ke dalam handphone suaminya. Sampai akhirnya setengah jam kemudian barulah Evan datang dan mengirimkan pesan bahwa dia sudah berada di parkiran fakultas Teknik Arsitektur.
Pria itu keluar dari mobilnya karena melihat sosok yang dia kenal ada di sana.
"Pak Aksara, menjemput istri yah?" sapa Evan begitu sudah melihat ada Aksara yang tampak menjemput istrinya.
"Iya, Pak Evan … sedang menjemput juga?" tanyanya.
"Iya, hari ini Andin mengajukan judul skripsi, tadi sih di rumah bilang pengennya dapat Dosen Pembimbing Bu Arsyilla," cerita Evan.
Aksara pun tersenyum, "Semoga dapat yah, walau istri saya itu perfeksionis kalau membimbing. Ada challenge tersendiri untuk mahasiswa yang dibimbingnya," balas Aksara.
Evan pun menganggukkan kepalanya, "Tidak masalah Pak, justru Andin biar berjuang," balasnya.
Evan sendiri adalah orang yang begitu menyukai proses. Sehingga dia sama sekali tidak keberatan jika Andin pun turut berproses dalam skripsi yang sekarang dia hadapi. Proses akan mendewasakan seseorang, proses akan menempa seseorang, pun demikian Evan berharap Andin pun akan berproses di dalamnya.
Kurang sepuluh menit keduanya menunggu, hingga Andin tampak keluar dan tersenyum ketika melihat suaminya di sana.
"Lama Mas? Aku ke perpustakaan dulu tadi soalnya disuruh Bu Arsyilla revisi," ungkapnya.
Andin sampai tak menyadari jika ada Aksara di sana. Lantas Evan pun tersenyum, "Ada suaminya Bu Arsyilla loh," balas Evan.
Andin pun tersenyum, "Pak, maaf … ini tadi diminta Bu Arsyilla untuk revisi," ucapnya.
"Iya, tidak apa-apa. Revisi saat mengerjakan skripsi itu menyenangkan. Jangan menyerah yah," balas Aksara.
Evan pun turut menganggukkan kepalanya, "Tuh, bagus kan motivasinya Sayang. Jangan menyerah," sahut Evan.
Hingga akhirnya Evan dan Andin berpamitan terlebih dahulu kepada Aksara. Mereka akan segera pulang. Tentu Aksara pun mempersilakan pasangan muda itu untuk pulang terlebih dahulu.
"Mas Evan, antar aku ke rumah sebentar ambil bukuku mau enggak? Aku perlu untuk merevisi skripsi. Sebentar aja kok," pinta Andin kali ini.
"Oke Sayang, aku antar," balas Evan.
Sungguh, Andin tak akan menyia-nyiakan waktu ini. Semakin cepat dia menyelesaikan semuanya akan semakin baik. Sebab, Andin juga sudah ingin memiliki buah hati bersama suaminya itu. Kian cepat menyelesaikan, semakin bagus rasanya.