Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Digunjingkan di Perusahaan


Tidak menunggu lama usai pesta pernikahan, Evan dan Andin kembali masuk ke perusahaan. Sama seperti yang pernah Evan katakan sebelumnya bahwa memang dirinya tidak membutuhkan bulan madu karena mengingat banyaknya proyek yang dikerjakan oleh Agastya Properti. Walaupun Papanya sudah menyuruhnya pergi berbulan madu, tetapi Evan menolak dan lebih memilih untuk bekerja.


Andin pun juga merasa sekarang belum tepat untuk bulan madu, lagipula mereka juga menempati rumah sendiri. Hanya berdua, untuk bisa lebih leluasa, walau pun semalam mereka sudah berbicara panjang dan lebar mengutara isi hati dan komitmen untuk berubah menjadi pasangan yang lebih baik untuk satu sama lain.


Pagi ini karena hendak kembali ke kantor, pagi-pagi Evan dan Andin sama-sama bangun lebih pagi dan bersiap untuk ke kantor.


"Mandi barengan yuk," ajak Evan kepada istrinya itu.


Akan tetapi, Andin dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak ... aku halangan og Mas ... jadi aku mandi sendiri aja nanti."


"Halangan apa?" tanya Evan yang tampak bingung.


"Haid, Mas ... sekarang baru haid. Jadi, aku mandi sendiri. Mas Evan duluan saja. Aku ke bawah dulu," balas Andin.


Evan pun mende-sah pasrah dan masuk ke dalam kamar mandi. Pikirnya bisa menikmati pagi hari dengan kehangatan bersama istrinya. Akan tetapi, gagal karena Andin yang berhalangan. Sehingga pagi itu, keduanya mandi bergantian. Akan tetapi, Evan seolah menunggu Andin. Pria itu hanya mengenakan men wear berupa kaos dalaman berwarna putih yang dia kenakan sebelum mengenakan kemeja.


"Tolongin aku dong, Yang ...."


Kali ini Evan berusaha meminta bantuan Andin. Jika, biasanya Evan memanggil Andin hanya dengan namanya. Sekarang Evan menyematkan kata 'sayang' dalam panggilannya. Andin kala itu sedang hendak membuka handuk kecil di kepalanya pun mengurungkan niatnya, dan membantu suaminya itu.


Terlihat Andin membantu mengancing kancing di kemeja berwarna putih yang dikenakan oleh Evan itu. Andin menundukkan wajahnya dan fokus dengan kancing-kancing baju di sana. Sementara Evan justru tersenyum mengamati wajah ayu Andin.


"Tugas kamu setiap hari, bantuin aku mengancingkan baju dan mengenakan dasi ya Sayang," ucap Evan kemudian.


Dipanggil Sayang rupanya dengan mudahnya membuat wajah Andin merona-rona di sana. Sejurus kemudian, Andin pun menganggukkan kepalanya, "Baik Mas Evan," balasnya.


Evan tersenyum dan tanpa permisi mengecup kening Andin, "Makasih Sayang."


"Hmm, iya ... sama-sama Mas Evan," balas Andin dengan menunduk malu.


Cepat-cepat Andin menyelesaikan untuk mengeringkan rambutnya dan berhias ala kadarnya saja. Setelah itu, dia turun ke bawah dan membuat roti dengan selai serta menyeduhkan kopi untuk Evan.


"Sarapan dulu Mas ... maaf yah cuma kopi dan roti saja," balas Andin.


Evan pun menganggukkan kepalanya, "Iya, sama-sama Sayang ... gini aja sudah enak kok. Kamu minum apa?" tanya Evan kemudian.


"Susu hangat, Mas ... tenang aja aku enggak minum kopi kok," balas Andin.


"Good. Bagus. Jangan pernah minum kopi, ingat kamu memiliki maag, asamnya kopi bisa membuat maag kamu kambuh," balas Evan.


Kurang lebih lima belas menit berlalu, dan keduanya sekarang bersiap untuk meninggalkan rumah dan juga berangkat ke kantor. Evan tersenyum, begitu senang menyambut hari dengan Andin di sisinya.


"Satu setengah bulan saja, Mas ... setelah ini aku ke kampus untuk menyelesaikan kuliah. Kenapa Mas?" tanya Andin kepada suaminya itu.


"Cepat yah ... aku bakalan susah cari sekretaris lagi," balas Evan.


Andin kemudian menatap kepada suaminya, "Apa aku kerja part time sama kamu aja Mas? Selesai kuliah aku jadi menjadi sekretarismu bagaimana? Takut kalau kamu rekrut sekretaris baru dan ada affair sama sekretaris," jawab Andin.


Ya, rupanya Andin pun cukup parno jika suaminya merekrut sekretaris baru dan bisa saja membuat suaminya memiliki affair dengan sekretaris barunya. Untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang terjadi, Andin bahkan rela untuk kerja part time usai kuliah. Evan sampai tertawa kecil karenanya.


"Aku enggak butuh sekretaris nanti, Andin ... aku selama ini juga tidak menggunakan sekretaris kok. Ada temanku dan juga staf di Agastya Properti yang bernama Ravendra. Kami biasa mengerjakan semuanya bersama. Jadi, tidak perlu khawatir," balas Evan.


"Ravendra?" tanya Andin kemudian.


"Iya, Ravendra Wardhana ... dia dulu putra pemilik Dasa Grup. Hanya saja kemudian dia memilih hengkang dan melamar di Agastya Properti. Kamu sudah berteman lama," balas Evan kemudian.


Andin kemudian menganggukkan kepalanya, "Baiklah ... hanya saja, jika membutuhkan bantuan. Aku akan membantumu, Mas Evan. Yang penting jangan rekrut sekretaris cewek," balasnya.


Hingga akhirnya, mobil yang dikemudikan Evan sudah tiba di Agastya Properti. Keduanya turun dari mobil dan memasuki perusahaan. Layaknya kumpulan banyak orang ada yang senang dengan kebersamaan Evan dan Andin. Akan tetapi, ada beberapa yang tidak menyangka bahwa Evan akan menikahi sekretarisnya sendiri.


"Lihat tuh, istrinya Bos Evan ... sekretarisnya dari mahasiswa magang."


"Hebat loh, Pak Evan yang tidak pernah terlibat dengan cewek akhirnya dapat istri juga."


"Pak Evan apa penyuka daun muda sih? Kok menikahi mahasiswi?"


Berjalan di samping Evan dan beberapa mata yang menatapnya, membuat Andin tidak nyaman. Ketika sudah memasuki lift, sampai Andin bertanya lirih kepada Evan.


"Kenapa mereka lihatin kita aneh sih Mas Evan?" tanyanya.


"Biarkan saja," balas Evan dengan singkat.


"Aneh kali ya karena aku sekretarismu dan kamu atasanku," balas Andin.


"Bagi mereka aneh, cuma bagi aku enggak kok. Aku cinta kamu, Andin," balas Evan.


Astaga, baru semalam Andin meminta supaya Evan bisa berubah. Sekarang di dalam lift bahkan Evan mengatakan kata cinta kepada Andin. Jujur saja Andin merasa senang dan malu di saat yang bersamaan. Inikah evolusi Evan yang sesungguhnya sudah dimulai?


"Tidak usah mendengar gunjingan dari orang lain. Yang pasti aku dan kamu sudah sah dan halal di mata agama dan hukum negara ini," ucap Evan kemudian.