Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Kembali ke Jakarta


Sudah tiga hari berlalu, dan hari ini Evan dan Andin akan kembali ke Jakarta. Sebenarnya Mama Tika menginginkan Andin dan Evan untuk bisa lebih lama di Sydney, berkumpul dengan keluarga Sukmajaya di sana. Akan tetapi, kesibukan Evan membuat keduanya memilih hanya tiga hari datang ke Sydney dan setelahnya kembali lagi ke Jakarta.


"Mama, kami pamit dulu yah," pamit Evan kali ini.


"Iya Nak Evan, walau sebenarnya kami masih ingin bertemu dengan kalian. Apa daya, kesibukan kamu membuat kalian harus kembali ke Jakarta terlebih dahulu," balas Mama Tika.


Evan hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya, "Lain kali bisa diagendakan untuk liburan bersama, Ma," balas Evan.


"Benar Ma, lain waktu bisa liburan bersama lagi. Kami ke airport dulu ya Ma," balas Andin yang juga berpamitan dengan Namanya.


Kemudian Andin dan Evan juga berpamitan dengan anggota keluarganya yang lain. Tidak lupa Andin menemui Arine sebentar untuk mengucapkan selamat dan doanya untuk kakaknya itu.


"Kak Arine, aku pamit dulu yah. Mau terbang dan balik ke Jakarta," pamitnya.


"Iya, Ndin. Sehat-sehat yah. Kapan nyusul biar nanti baby kita bisa main bersama?" tanya Arine.


Andin menggelengkan kepalanya, "Aku memakai kontrasepsi Kak, aku dan Mas Evan sepakat tidak akan memiliki anak sebelum aku lulus kuliah nanti," balasnya dengan setengah berbisik.


"Serius?" tanya Arine.


"Iya, Mas Evan setuju kok. Mama Sara dan Papa Belva juga tidak masalah. Mereka sangat baik dan mengembalikan semua keputusan rumah tangga kepada kami berdua," cerita Andin.


Mendengar cerita Andin bahwa mertuanya pun adalah sosok yang baik, Arine merasa sedih karena dia belum mengenal sosok mertuanya. Pernikahannya kemarin pun tak dihadiri orang tua karena seorang pria bisa menikah tanpa wali. Hanya saja, memang pernikahan Arine dan Rendra kali ini sah di mata agama dan hukum. Bukan sebuah pernikahan kontrak.


"Semoga Kak Arine dan Kak Rendra bahagia bersama yah. Semalam aku ingin ke mari, tapi tidak dibolehin sama Mas Evan karena bisa saja kalian sedang menjalankan ritual pengantin baru," ucapnya.


"Kami bukan pasangan lajang, Ndin. Aku sudah berbadan dua. Tidak mungkin menjalani ritual malam pengantin," balas Arine.


Ya, semalam hanya berjalan biasa saja bagi Arine dan Rendra. Walau sudah menikah, keduanya masih canggung. Sehingga memang Arine memilih tidur saja. Malam pertama telah lewat, lagipula perutnya juga sudah membesar dan seolah tak ada gairah untuk bercinta.


"Kenapa tidak Kak? Itu bukan sekadar ritual pengantin baru, tetapi juga menyatukan dua raga dalam hubungan ikatan pernikahan yang sesungguhnya," balas Andin.


Arine menggelengkan kepalanya, "Bagiku tidak Ndin, aku menikah hanya demi anakku. Tidak tahu kalau dia," balas Arine.


Hampir setengah jam Andin dan Arine mengobrol bersama hingga akhirnya Andin pun menyudahi obrolannya. Dia kemudian berpamitan kepada Kakaknya itu.


"Pamit ya Kak, di waktu yang baik nanti Andin akan ke sini dan mengunjungi Kakak lagi. Sehat-sehat sampai hari persalinan nanti Kak."


Setelahnya, Andin kembali ke kamarnya dan menemui Evan di sana. Mereka akan melakukan cek out dan menuju ke Airport untuk pulang ke Jakarta.


"Tidak apa-apa ya Yang, kita hanya liburan tiga hari," ucap Evan kemudian.


"Iya, sama-sama," balas Evan.


Begitu sudah di airport, Evan dan Andin memasukkan koper mereka ke bagasi dan menunggu di lounge. Masih ada lebih dari satu jam sebelum penerbangan, sehingga mereka memilih membeli minuman dan camilan di lounge.


"Next time, kalau Kak Arine mau melahirkan aku boleh ke mari enggak Mas?" tanya Arine dengan tiba-tiba.


Evan yang sedang meminum kopi di sana melirik kepada Andin sesaat, "Emang kapan hari perkiraan lahirnya?" tanyanya.


"Empat bulan lagi," balas Andin.


"Ya sudah, nanti kalau aku tidak sibuk, aku temenin. Aku schedule jadwal pekerjaan aku dulu yah," balas Evan.


“Kalau memang sedang sibuk tidak usah dipaksakan, Mas … kan kerjaan kamu juga banyak, dan satu bulan lagi aku juga sudah tidak menjadi sekretarismu. Jadi, aku nanti sendirian dan bareng sama Mama aja enggak apa-apa kok,” sahutnya.


Setidaknya Andin juga tidak ingin merepotkan Evan. Bagaimana posisi suaminya itu sangat penting di perusahaan. Papa Belva juga banyak mempercayakan proyek kepada Evan. Untuk itu, Andin sepenuhnya memahami bahwa pekerjaan Evan memanglah banyak. Sehingga, Andin pun tidak mengharuskan bahwa Evan harus menemaninya. Toh, dia ke Sydney bersama Mamanya saja bisa.


“Sudah tenang saja. Yuk, sudah ada pemberitahuan bisa naik ke pesawat. Kita akan melewati perjalanan udara belasan jam, kemudian transit di Changi dan baru ke Jakarta,” balas Evan yang sudah berdiri dan langsung menggandeng istrinya itu.


Keduanya berjalan dan memasuki pesawat. Hingga akhirnya, Evan dan Andin menikmati lagi perjalanan udara. Rasanya tiga hari kurang bagi Andin untuk menikmati keindahan alam negeri kangguru ini. Akan tetapi, sudah cukup juga asalkan bisa menghadiri pernikahan kakaknya.


***


Beberapa belas jam kemudian ….


Kini, Evan dan Andin sudah kembali ke Jakarta dan sudah tiba di rumah yang sudah seperti istana itu untuk mereka berdua. Hari masih begitu pagi dan keduanya baru sampai di rumah.


“Mas, bobok lagi sebentar boleh?” tanya Andin kemudian.


“Boleh … bobok saja, Yang … aku juga mau istirahat dulu. Siang nanti aku ke kantor sebentar ya Yang,” balas Evan kepada istrinya itu.


Begitu banyaknya pekerjaan Evan sampai baru tiba saja, dirinya sudah harus kembali ke perusahaannya. “Aku perlu ikut enggak Mas?” tanya Andin kemudian.


“Enggak, kamu istirahat dulu saja Sayangku. Pasti capek setelah penerbangan panjang lintas benua. Kalau ada apa-apa terkait dokumen, aku tinggal telepon kamu saja nanti,” balas Evan.


Andin tersenyum di sana, “Oke deh Mr. Vice President. Intinya kalau butuh segera hubungi aku saja. Nyonya Evan akan siap membantu,” balasnya.


Evan terkekeh geli, ada kalanya keduanya seperti atasan dan sekretaris. Ada kalanya hanya sebagai teman dekat, ada kalanya sebagai suami dan istri. Akan tetapi, yang Evan rasakan bahwa dia merasa nyaman hidup bersama dengan Andin. Mungkin saja, kenyamanannya akan kian bertambah jika Andin sudah lulus kuliah dan mereka akan memiliki buah hati yang lucu-lucu yang kian menambahkan kehidupan pernikahan mereka berdua.